
Anna dan Adit baru saja turun dari dalam mobil saat mobil Devan memasuki halaman rumah keduanya. Dengan percaya diri Devan turun dari dalam mobil dan segera mengikuti langkah Anna dan Adit masuk ke dalam rumah. Anna seolah tak melihat pemuda itu yang mengikutinya dari sekolah. Saat ketiganya sampai di depan pintu terdengar teriakan Ara dari dalam rumah.
"Kak Devan! ma... mama! lihat ada kak Devan!" seru Ara sambil berlonjak kegirangan karena idolanya datang ke rumahnya.
"Hai adik manis!" sapa Devan ramah.
"Ck... sama cewek aja ramah..." decih Adit yang sedari tadi tak diperhatikan oleh Devan.
Anna malah langsung melangkah ke arah kamarnya tanpa menghiraukan Devan.
"Siapa Ara?" tanya nyonya Sarah yang baru keluar dari dalam rumah.
"Kak Devan ma..." terang Ara.
"Oh... idola kamu itu?"
Ara mengangguk dengan antusias.
"Hemm... selamat siang tante..." sapa Devan.
"Siang... tapi dari mana kamu tahu rumah putri saya Ara?" tanya nyonya Sarah penasaran.
"Sebenarnya saya teman Anna tante... dan tadi ingin menjemput Anna di sekolah... tapi Anna bilang jika tante dan om tidak membiarkan orang yang tidak dikenal menjemputnya... jadi saya ikut kemari untuk berkenalan dengan tante dan keluarga..." terang Devan sopan.
"Lalu Anna nya sekarang di mana?" tanya nyonya Sarah yang tak melihat batang hidung putrinya.
"Kak Anna sudah masuk ke dalam kamar ma..." lapor Ara.
"Anak itu! ada temannya malah ditinggal pergi..." ucap nyonya Sarah heran dengan sikap putri sulungnya itu.
"Tidak apa-apa tante... mungkin Anna capek dan ingin segera beristirahat..." kata Devan membela Anna.
"Maafkan Anna ya nak Devan... dia memang kadang suka semaunya..."
"Tidak apa-apa tante... kalau begitu saya pamit pulang dulu... jadi jika besok saya menjemput Anna di sekolah bolehkah?" tanya Devan mencoba membujuk nyonya Sarah.
"Itu bukan wewenang saya nak Devan... lain kali saja jika nak Devan sudah bertemu dengan papa Anna... semua keputusan ada ditangannya..." sahut nyonya Sarah sambil tersenyum.
Sebagai orangtua ia tak mungkin begitu saja percaya pada Devan yang baru saja ditemuinya meski pun pemuda itu aktris terkenal. Dan tadi hanya alasan nyonya Sarah untuk lebih mengenal pribadi Devan.
"Kalau begitu saya permisi dulu tante..." pamit Devan yang tak mendapatkan apa yang diinginkannya saat itu juga.
"Ternyata sifatmu yang tak mudah terpesona dengan ketenaranku menurun dari kedua orangtuamu Ann..." batin Devan.
"Berarti pilihanku tidak salah... Anna dan keluarganya bukan orang yang gampang terpesona dengan harta dan ketenaran... semangat Devan... Anna memang gadis yang layak kau perjuangkan..." batin Devan lagi.
Nyonya Sarah mengantar Devan hingga ke depan rumah sebagai sebuah kesopanan. Setelah Devan pergi nyonya Sarah segera menemui Anna di dalam kamar. Saat nyonya Sarah masuk ke dalam kamar dilihatnya putrinya itu tengah sholat dhuhur. Nyonya Sarah pun menunggu di dalam kamar hingga putrinya itu selesai dengan ibadahnya.
"Kenapa kau meninggalkan temanmu diluar Anna?" tanya nyonya Sarah saat Anna tengah merapikan perangkat sholatnya.
"Dia bukan teman Anna ma..." sahut gadis itu cuek.
"Iya mama mengerti... tapi kau tetap harus sopan padanya sayang... dia sedang berusaha menjadi temanmu..."
"Anna malas berteman dengannya ma..."
"Kenapa?"
"Malas saja..." sahut Anna.
"Andai mama tahu kalau Devan itu terkenal playboy... apa mama masih mengijinkannya untuk berteman denganku?" batin Anna.
__ADS_1
"Baiklah... mama tidak akan ikut campur masalah kamu dalam memilih teman sayang..." kata nyonya Sarah.
"Terima kasih ma..." sahut Anna sambil memeluk mamanya.
"Sudah ayo turun... kau harus makan siang sayang... jangan sampai kau terlambat makan lagi..." ucap nyonya Sarah sambil mengurai pelukannya.
"Iya ma..." sahut Anna lalu mengikuti mamanya menuju meja makan.
Sore hari...
Anna yang merasa jika hari ini ia menghadapi banyak kejutan merasa ingin bersantai sejenak dengan berjalan-jalan sendirian. Tapi ia tahu jika kedua orangtuanya akan melarangnya untuk pergi sendirian apa lagi tanpa tujuan yang jelas. Dengan terpaksa gadis itu berbohong pada mamanya jika ia ingin membeli buku dan berjanji akan segera pulang ke rumah. Dengan diantarkan oleh sopir Anna pun akhirnya diizinkan oleh nyonya Sarah bahkan Anna juga berhasil untuk membujuk mamanya itu agar sang sopir tidak usah menunggunya karena ia ingin pulang dengan taksi online saja.
Sesampainya di toko buku Anna langsung mengedarkan pandangannya mencari buku yang sekiranya menarik perhatiannya. Setelah berkeliling sejenak ia pun mendapatkan apa yang ia inginkan. Segera Anna membayar buku yang dibelinya di kasir. Ia ingin memanfaatkan waktu sendirinya untuk menikmati sore. Setelah keluar dari dalam toko Anna pun berjalan menyusuri trotoar. Entah mengapa justru ia kembali teringat saat dulu ia bertemu dengan Raja ketika ia baru pulang dari latihan karate. Andai saja hal itu bisa kembali terjadi sekarang... batin Anna.
Tanpa ia sadari jika orang yang tengah ia fikirkan juga tengah melihatnya dari dalam mobilnya. Raja memang tidak sengaja lewat di daerah pertokoan itu saat akan kembali ke apartemennya. Ketika ia tengah menunggu di perempatan lampu merah tak sengaja pandangannya melihat Anna yang baru saja keluar dari dalam toko buku. Seketika ia pun mengikuti gadis itu dengan mobilnya saat lampu lalu lintas berubah hijau. Ketika dilihatnya Anna melangkahkan kakinya ke sebuah taman kota yang terletak tak jauh dari toko buku Raja pun mengikutinya setelah ia memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang tersedia.
Anna melihat seorang penjual es krim yang mangkal di tepi taman. Segera gadis itu menghampiri penjual itu untuk membeli es krim. Saat ia akan membayar es krimnya tiba-tiba seseorang sudah berdiri disampingnya dan mendahului untuk membayarnya. Anna pun langsung menoleh untuk melihat siapa orang tersebut.
"Om Raja!" pekik Anna lirih.
"Biar om saja yang bayar..." ucap Raja sambil tersenyum dan menyerahkan selembar uang kertas pada sang penjual.
"Terima kasih tuan... dan ini kembaliannya..."
"Tidak usah... untuk bapak saja..." sahut Raja.
Penjual es krim itu pun kembali mengucapkan terima kasih pada Raja karena pria itu sudah memberinya selembar uang merah untuk satu cup es krim yang Anna beli. Raja pun menarik tangan Anna dan membawanya ke bangku taman yang tak jauh dari tempat penjual es krim. Karena kaget dan gugup Anna pun menurut saja saat Raja menggandeng tangannya dengan lembut menuju bangku taman.
"Ayo duduk!" ajak Raja sambil menarik Anna untuk duduk disebelahnya.
"Om kok ada disini?" tanya Anna setelah duduk di samping Raja.
"Kenapa kau jalan sendirian Anna? apa kau tidak takut jika terjadi apa-apa denganmu hem?" tanya Raja lembut.
"Aku hanya sedang ingin sendirian om..." terang Anna.
"Apa kau sedang ada masalah?"
"Tidak... hanya bosan saja kemana-mana selalu dengan pak sopir..." sahut Anna sambil mulai memakan es krimnya.
"Apa kau ingin aku temani?" tanya Raja sambil menatap Anna yang sedang menjilati es krimnya.
Anna menghentikan kegiatannya dan menatap Raja.
"Memang om tidak capek? katanya mau pulang ke apartemen..." kata Anna dengan wajah yang sudah bersemu merah.
Ada rasa bahagia dihati Anna saat mendengar Raja menawarkan diri untuk menemaninya.
"Untuk kamu aku tidak akan pernah capek Anna" sahut Raja yang membuat jantung Anna kembali berdetak tak karuan ditambah kini wajah gadis itu sudah semakin memerah bak kepiting rebus.
Kulit Anna yang putih bersih membuat perubahan pada wajahnya terlihat jelas dimata Raja. Lelaki itu pun tersenyum menyadari jika gadis yang ada dihadapannya ini tengah merasa malu.
"Bagaimana? apa kau mau aku temani?" tanya Raja lagi.
Anna pun hanya bisa mengangguk pelan namun itu langsung membuat senyum Raja kembali mengembang sempurna.
"Kalau begitu biar aku meminta izin pada mamamu untuk mengajakmu jalan-jalan..." ucap Raja dan tanpa menunggu persetujuan Anna, Raja langsung menghubungi nyonya Sarah.
"Halo... Sarah... begini... aku baru saja bertemu dengan Anna di toko buku... bisakah aku mengajaknya ikut denganku untuk makan malam dengan klienku sebentar lagi?" tanya Raja setelah nyonya Sarah menjawab telfonnya.
"Bukannya makan malam dengan klien hanya akan ada orang dewasa?"
__ADS_1
"Karena itulah aku sengaja mengajak Anna... kau tahu kan... aku tidak bisa berlama-lama dengan acara seperti itu... dengan membawa Anna aku bisa beralasan agar bisa pulang lebih cepat" terang Raja.
"Kau ini... mengapa sekarang suka memanfaatkan putriku sih?"
"Aku tidak memanfaatkan Sarah... aku mohon... bantu aku sekali ini..." kata Raja berusaha untuk membujuk nyonya Sarah.
"Baiklah... aku tahu alasanmu membawa putriku ke acara itu..." kata nyonya Sarah membuat Raja terkesiap.
"Apa?" tanya Raja hati-hati.
"Pasti karena klienmu itu perempuan singgle yang sedang berusaha mengejarmu bukan? jadi kau memanfaatkan putriku untuk menjauhinya..." tebak nyonya Sarah.
Raja bernafas lega karena nyonya Sarah tidak menyebutkan jika dia memiliki rasa pada Anna.
"Itu kau tahu..." jawab Raja sekenanya.
"Baiklah... aku izinkan... tapi jangan sampai terlalu malam... besok dia harus berangkat sekolah..." kata nyonya Sarah akhirnya yang langsung membuat Raja lega.
"Terima kasih..." ucap Raja kemudian menutup panggilannya.
"Sudah... ayo kita ke apartemenku sebentar..." ajak Raja pada Anna.
"Ke apartemen untuk apa om?"
"Aku kan harus membersihkan diri dulu Anna... dan sebentar lagi maghrib..."
Anna mengangguk faham. Gadis itu pun lalu mengikuti Raja masuk ke dalam mobil. Setelah masuk ke dalam mobil Anna dengan sigap memasang sabuk pengamannya sendiri. Ia tak ingin kejadian Raja yang membantunya kembali terulang karena akan tidak baik bagi jantungnya. Namun apa yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Sebab kini Raja kembali mendekatkan tubuhnya pada Anna. Kembali tubuh gadis itu menegang saat wajah Raja berada dekat dengan wajahnya.
"Kau ini... kenapa masih saja ceroboh saat makan..." ucap Raja sambil mengusap ujung bibir Anna yang ternyata terdapat noda bekas es krim.
Deg!
Wajah Anna berubah memerah saat tangan jari Raja menyentuh ujung bibirnya dengan lembut. Dan tanpa rasa jijik Raja menjilat jarinya yang tadi ada bekas es krim yang menempel dibibir Anna. Anna tampak tertegun dengan perbuatan Raja.
"Om... itu..." ucap Anna tak sanggup melanjutkan kalimatnya karena canggung.
"Kenapa?" tanya Raja tanpa rasa bersalah.
"Ti... tidak apa-apa..." sahut Anna sambil memalingkan wajahnya.
Raja tersenyum melihat tingkah Anna yang sedang gugup. Gadis itu terlihat semakin cantik dimatanya. Kemudian Raja pun menyalakan mobilnya dan melajukannya menuju ke apartemennya. Sesampainya di depan apartemen keduanya pun langsung masuk ke dalam lift dan menuju lantai atas tempat apartemen Raja berada. Tak ada obrolan saat mereka menuju ke apartemen Raja. Saat keduanya tiba di depan apartemen terdengar sayup suara azan maghrib.
"Kau bisa sekalian sholat di dalam..." kata Raja sambil membuka pintu apartemennya.
"Apa om punya mukena?" tanya Anna penasaran.
"Sebentar lagi asistenku akan mengantarkan mukena untukmu kemari... jadi kita tunggu saja sebentar" sahut Raja.
Ternyata saat tengah mengikuti Anna tadi Raja sudah merencanakan segalanya sehingga ia langsung menghubungi asistennya untuk membeli mukena dan gaun untuk Anna tanpa sepengetahuan gadis itu. Ia tahu ukuran baju Anna karena saat berkunjung ke Indo ia selalu membawa banyak kado untuk semua keponakannya termasuk Anna. Dan terkadang ia juga membelikan mereka baju sebagai hadiah. Sehingga ia tahu ukuran baju setiap anak Amira dan juga Sarah.
Tak lama bel pintu apartemen Raja berbunyi. Raja pun langsung membukakan pintu. Dan benar itu asistennya yang membawakan pesanannya. Setelah menyerahkan pesanan tuannya sang asisten pun langsung undur diri. Raja pun langsung memberikan dua paper bag pada Anna.
"Ini mukena dan gaun yang bisa kau gunakan nanti" kata Raja.
"Gaun?" tanya Anna tak pengerti.
"Bukankah tadi aku beralasan pada mamamu mengajakmu untuk makan malam dengan klien? jika kau tetap memakai baju yang kau pakai sekarang saat pulang nanti kedua orangtuamu tidak akan percaya dengan alasan yang kuberikan tadi..." terang Raja membuat Anna mengangguk mengerti.
"Sudah sana... kau bisa gunakan kamar tamu untuk sholat dan berganti baju..." kata Raja sambil menunjukkan kamar tamu pada Anna.
Anna pun langsung menurut dan masuk ke kamar tamu untuk sholat dan berganti pakaian.
__ADS_1