
Mendapatkan restu dari kedua orangtua Anna membuat Raja sangat bahagia. Ia pun ingin segera menemui kekasih kecilnya itu untuk memberitahukan kabar gembira itu secara langsung. Namun karena ada banyak hal yang harus ia selesaikan dulu sebelum ia bisa meninggalkan perusahaannya itu maka dengan terpaksa Raja harus menunda niatnya untuk segera menyusul Anna. Sementara Anna juga semakin sibuk dengan kuliahnya. Demi bisa mempersingkat masa belajarnya Anna rela lebih sering menghabiskan waktunya dengan belajar dan belajar. Ia bahkan tak pernah keluar dari apartemennya selain untuk ke kampus dan membeli bahan kebutuhan yang habis.
Risa yang menjadi teman sekamarnya pun tak bisa membujuk gadis itu untuk sekedar refresing melepas penat saat libur kuliah. Anna malah memilih pergi ke perpustakaan demi menambah pengetahuannya di bidang kedokteran. Tak terasa musim dingin pun mulai tiba. Anna berjalan cepat sepulang dari kampusnya. Angin bertiup cukup kencang membuat gadis itu merapatkan syal yang menutupi lehernya. Hari ini ia dan Risa berbeda jam kuliah. Jika Risa mendapat jam kuliah pagi maka dia kuliah siang sehingga baru pulang saat sore menjelang. Suasana hati gadis itu pun sedikit buruk. Pasalnya ini hari ulang tahunnya... dan lagi... dia tidak mendapat ucapan selamat dari kekasihnya secara langsung karena hingga saat ini belum juga bisa menghubungi Raja.
Ini sudah kedua kalinya dia tidak mendapatkan ucapan selamat ulang tahun secara langsung dari kekasihnya itu. Dan kali ini bahkan Raja sama sekali belum mengucapkannya melalui bundanya. Ya setahun yang lalu meski tidak bisa menghubungi secara langsung namun Raja menitipkan pesannya pada Amira. Tapi kali ini Raja tidak melakukannya. Saat semua keluarganya dan Risa sudah mengucapkan selamat padanya sejak semalam namun ucapan selamat dari Raja yang ditunggunya tidak juga tiba.
Anna mendesah pelan...
Dalam hatinya ia mulai mencurigai Raja. Apakah kekasihnya itu sudah mulai melupakannya? Atau apakah sudah ada wanita lain yang kini menggantikan posisinya? Berbagai fikiran buruk mulai melintas difikiran gadis itu. Hingga ia tak lagi memperhatikan arah jalannya. Bahkan matanya mulai berkabut karena air mata sudah mulai menggenang di sudut matanya. Anna menghentikan langkahnya saat pandanganya mulai kabur karena air mata yang semakin tidak bisa ia tahan agar tidak keluar dari kedua kelopak matanya.
Didongakkannya kepalanya keatas. Mencoba menahan laju air mata yang tidak mau berkompromi. Saat itulah ia bisa merasakan salju pertama yang turun dan jatuh diujung hidungnya. Perlahan Anna membuka matanya dan terlihat olehnya titik-titik putih yang mulai turun dari langit. Salju... jika dulu ia sangat senang saat melihat salju maka kali ini tidak... hatinya terasa sakit karena merasa sendirian disaat seperti ini. Ia berharap dapat bertemu dengan Raja sekarang... Anna tersenyum kecut... bagaimana mungkin harapannya bisa terkabul jika orang yang diharapkannya saat ini sedang berada di tempat yang berjarak ribuan kilometer darinya.
Saat itulah ia mendengar suara yang selama ini sangat ia rindukan...
"Honey Bee..."
Anna langsung menoleh ke asal suara tersebut. Dan seketika kedua matanya membola saat melihat siapa yang kini berada dihadapannya.
"MB!" serunya dengan suara tertahan.
Seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya Anna mengucek kedua matanya dengan telapak tangannya. Raja berjalan mendekat ke arah Anna dan langsung memeluk gadis itu dengan erat. Anna tampak tertegun dan tidak langsung membalas pelukan dari kekasihnya itu. Namun perlahan akhirnya ia pun membalas pelukan Raja tak kalah erat. Keduanya saling berpelukan dibawah salju yang mulai turun secara perlahan. Raja mengecup puncak kepala Anna lembut dan mulai mengurai pelukannya.
"Happy birthday Honey Bee..." ucap Raja lembut kemudian mengecup kening kekasihnya itu.
"Bagaimana kau bisa datang MB?" tanya Anna yang penasaran bagaimana bisa Raja datang ke tempatnya.
Disamping itu ia juga khawatir jika para pengawal suruhan kedua orangtuanya tahu. Ya meski tak melakukan pengawalan secara terang-terangan tapi Anna tahu jika kedua orangtuanya pasti masih mengirimkan para pengawal untuk menjaganya. Apa lagi ia kini ada di negeri orang.
"Jangan khawatir Honey Bee... kedua orangtuamu juga sudah tahu jika aku kemari..." terang Raja sambil tersenyum.
"Maksudnya?"
"Ya... mereka sudah memberikan restunya untuk kita..." sambung Raja.
__ADS_1
Anna kembali terkejut. Mungkinkah ini mimpi? kedua orangtuanya sudah memberikan restu? wajah gadis itu masih menampakkan rupa tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Apa kau masih tidak percaya hem?" ujar Raja yang mengerti jika Anna masih terkejut.
Gadis itu mengangguk pelan. Sungguh ini seperti mimpi bagi Anna dan jika benar ia ingin agar ia tidak akan pernah terbangun lagi karena mimpi ini terlalu indah baginya. Perlahan Raja mendekatkan wajahnya pada Anna lalu kemudian ia pun mulai mengecup bibir gadis itu yang terlihat sedikit pucat karena cuaca dingin. Anna yang semula terdiam kini mulai membalas c**m*n Raja. C**m*n yang semula biasa pun berubah sedikit menuntut saat keduanya mulai hilang kendali karena rasa rindu yang membuncah. Kegiatan itu pun akhirnya terhenti saat keduanya sama-sama merasa kehabisan nafas.
"Apa kau sekarang sudah percaya Honey Bee? karena jika kedua orangtuamu belum memberikan restunya pasti saat ini aku sudah akan mendapatkan pukulan dari para pengawalmu itu..." terang Raja sambil mengusap bibir Anna yang terlihat sedikit bengkak akibat perbuatan mereka tadi.
Anna hanya bisa mengangguk setuju sambil menundukkan wajahnya. Bukan apa-apa... ia kini tengah malu karena tadi ia tidak bisa menahan dirinya dan membalas c**m*n Raja dengan panas. Apa lagi saat ini mereka berada di tempat umum. Untung saja suasana disana tengah sepi karena berada di tepi taman kota dan cuaca dingin dengan turun salju membuat orang-orang enggan berada di luar rumah. Raja yang mengerti perasaan Anna sekarang pun langsung menggandeng tangan Anna dan mengajak gadis itu ke sebuah kafe yang berada tak jauh dari tempat keduanya berdiri.
Setelah memasuki kafe keduanya langsung memesan coklat panas untuk menghangatkan tubuh mereka. Suasana kafe yang cukup sepi membuat keduanya dapat berbicara dengan leluasa. Apa lagi keduanya sengaja memilih tempat duduk di sudut kafe yang cukup tertutup. Raja menggenggam tangan Anna dengan erat seolah takut kehilangan gadis itu lagi. Setelah pesanan mereka datang keduanya langsung menikmati coklat panas itu untuk menghangatkan tubuh. Baru kemudian mereka bicara.
"Apa kau masih memakai kalung yang aku berikan padamu?" tanya Raja.
"Iya MB..." sahut Anna lalu mengeluarkan kalung itu dari dalam sweaternya.
Raja mendekat ke arah Anna dan melepaskan kalung itu dari leher Anna. Di keluarkannya cincin yang selama ini menjadi liontin dan mengenakannya pada jari manis Anna. Dan kini cincin itu langsung pas dijari gadis itu.
"Yes i do..." sahut gadis itu tanpa menunggu lama.
Raja langsung melabuhkan kembali kecupan di kening kekasihnya itu. Ia sangat bahagia gadis kecil yang dicintainya itu langsung menerima lamarannya. Keduanya pun menghabiskan waktu sore dengan saling bercerita melepas kerinduan selama lebih dari setahun terakhir keduanya tidak bertemu. Saat hari mulai gelap Raja pun mengantarkan Anna kembali ke apartemennya bersama Risa. Saat melihat Anna kembali bersama Raja, Risa merasa terkejut. Raja pun langsung pamit pulang ke hotel karena tahu jika kekasihnya butuh istirahat karena tadi baru pulang dari kampus.
Setelah kepergian Raja, Risa yang penasaran dengan apa yang baru saja terjadi langsung menginterogasi sahabatnya itu.
"Apa yang sudah terjadi Ann? apa kalian kembali bersama?" tanya Risa.
"Iya Ris... Raja bahkan sudah melamarku untuk menjadi istrinya..." terang Anna dengan wajah berbinar dan menunjukkan cincin pemberian Raja.
Risa menjerit senang saat melihat cincin mungil yang kini tersemat dijari manis Anna. Risa pun langsung memeluk Anna lalu keduanya saling berpelukan sambil melompat-lompat kegirangan.
"Ah... aku sangat bahagia melihat kalian akhirnya bersatu Anna..." ucap Risa saat keduanya sudah berhenti melompat karena kelelahan.
"Terima kasih Risa..."
__ADS_1
"Tapi bagaimana dengan kedua orangtuamu Anna? apa mereka akan memberikan restu pada kalian?"
"Mereka sudah memberikan restunya Ris... karena itulah Raja datang kemari dan melamarku..." terang Anna yang membuat Risa kembali heboh dengan berita yang didengarnya.
"Lalu apa kalian akan segera menikah? secara saat ini kau kan masih kuliah Anna..." kata Risa.
"Aku juga belum tahu Ris... kami belum sempat membicarakannya... tapi jika dia ingin menikahiku secepatnya aku siap... soal kuliah akan kami bicarakan nanti..." ucap Anna panjang lebar.
Risa mengangguk setuju dengan perkataan sahabatnya itu. Sebab tidak mungkin menunda pernikahan keduanya lebih lama karena usia Raja yang sudah sangat matang. Malam harinya Raja kembali datang ke apartemen Anna dan mengajak kekasihnya dan juga Risa untuk makan malam. Ia sengaja mengajak Risa karena tahu jika gadis itu sudah selalu menemani Anna selama mereka berada di sana. Bahkan Risa rela untuk tidak bersenang-senang saat libur kuliah demi menemani Anna. Karena itu kali ini ia ingin berterima kasih dengan mengajak gadis itu makan malam bersamanya dan Anna. Meski sempat menolak karena takut mengganggu Anna dan Raja namun akhirnya gadis itu pun setuju.
Dan disinilah mereka sekarang. Raja sengaja membawa kedua gadis itu ke salah satu restoran mewah yang ada di kota itu. Saat mereka tengah menyantap makanan mereka tiba-tiba seseorang memanggil nama Risa. Ternyata itu Zaeed pemuda asal Pakistan yang satu jurusan dengan Risa. Raja pun langsung mengajak pemuda itu untuk bergabung bersama mereka. Seketika Risa langsung merasa salah tingkah. Bukan tanpa alasan... tapi karena gadis itu tengah memendam rasa pada pemuda yang berparas tampan itu.
Suasana yang semula canggung karena Risa yang mencoba menutupi perasaannya yang tak karuan karena kehadiran Zaeed pun berangsur rileks setelah sifat humor Zaeed yang bisa mencairkan suasana. Meski begitu Anna yang sudah tahu tentang perasaan sahabatnya pun mencoba untuk mencari tahu perasaan pemuda itu pada sahabatnya. Anna berharap jika malam ini Risa juga beruntung mendapatkan cinta dari pemuda yang ditaksirnya. Dan dari hasil pengamatannya Anna yakin jika Zaeed juga memiliki perasaan yang sama dengan Risa. Kini Anna ingin memberikan kesempatan pada keduanya untuk saling mengungkapkan perasaan mereka masing-masing.
"Maaf aku ke toilet dulu sebentar..." pamit Anna.
Raja dan yang lainnya pun mengangguk mempersilahkan Anna. Saat sampai di depan pintu toilet gadis itu langsung mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Raja. Tadi saat Raja mengantarnya pulang ke apartemennya Raja sempat memberikan nomor ponselnya lagi pada Anna sebelum ia kembali ke hotel.
"MB... bisakah kau kemari?" pesannya melalui ponsel.
Raja yang mendapatkan pesan dari kekasihnya itu pun langsung beranjak dari duduknya beralasan harus menelfon rekannya yang baru mengirimkan pesan. Risa dan Zaeed pun tidak merasa curiga dan mempersilahkan Raja. Namun begitu Raja pergi keduanya langsung menjadi canggung. Sementara Raja tengah meminta penjelasan dari Anna. Dan tanpa menutup-nutupi Anna pun mengatakan semua rencananya pada Raja.
"Hem... ternyata kau berbakat jadi mak comblang juga ya..." goda Raja.
"Bukan begitu MB... aku hanya ingin Risa juga merasakan kebahagiaan yang sama sepertiku..." terang Anna.
"Baiklah... kita lihat apa pemuda itu cukup gentle untuk mengakui perasaannya pada Risa..." ucap Raja.
Kemudian keduanya sengaja mengamati Risa dan Zaeed dari tempat persembunyian mereka. Setelah saling diam selama beberapa saat akhirnya Zaeed mulai membuka percakapan. Meski tampak canggung pemuda itu sepertinya bertekad mengungkapkan perasaannya pada Risa malam ini juga. Setelah sedikit mengobrol akhirnya momen itu pun tiba...
"Risa... maukah kau menjadi kekasihku?" ungkap Zaeed dalam bahasa Inggris.
Risa tampak terkejut... tak menyangka jika pria yang ditaksirnya juga mencintainya. Dan dengan malu-malu Risa pun langsung menerimanya. Melihat kebahagiaan Risa membuat Anna reflek memeluk Raja yang ada disampingnya. Dan Raja tak menyia-nyiakan kesempatan itu.Pria itu langsung melabuhkan kecupan di kening Anna. Anna yang terkejut pun hanya bisa tertunduk malu. Raja lalu mengajak Anna kembali ke meja mereka dimana kini ada sepasang kekasih yang baru jadian.
__ADS_1