
Dering ponsel yang tak juga berhenti membuat Amira bangun dari tidurnya. Dengan mata yang masih lengket diraihnya hp itu lalu di dekatkannya di telingannya.
"Halo dengan mbak Amira?" terdengar suara wanita di sebrang.
"Iya benar...dengan siapa ini?" tanya Amira dengan kening berkerut.
"Ini Lusi mbak.... anak kos bu Wati"
"Iya ada apa ya?"
"Maaf mbak saya mau kasih kabar kalau baru saja bu Wati jatuh di kamar mandi dan tidak sadarkan diri, saya menghubungi mbak karena bu Wati tidak punya keluarga dan hanya mbak yang sering beliau ceritakan" terang Lusi.
"Sekarang bu Wati dimana?"
"Bu Wati baru saja di bawa ke rumah sakit P mbak".
"Baik saya akan segera kesana... terima kasih sebelumnya"
"Sama-sama mbak"
Dengan cepat Amira meraih kerudungnya dan memakainya. Sejenak ia berfikir dengan apa ia akan ke rumah sakit? Sedang hari masih terlalu pagi. Kemudian ia teringat dengan motor bututnya ... ya Amira akan memakai motor itu saja. Saat akan berpamitan pada nyonya Sarah ia ragu dan mengurungkan niatnya karena masih terlalu pagi. Dengan cepat Amira melangkah ke kamar bik Murni, ia fikir lebih baik berpamitan pada wanita paruh baya itu saja.
Setelah mengetuk pintu kamar bik Murni beberapa saat terdengar suara sahutan dari dalam.
"Iya... siapa?"
"Ini Amira bik... bisa bicara sebentar?"
Tak lama pintu kamar pun terbuka dan tampak wajah bik Murni habis tidur.
"Maaf bik ... sudah membangunkan bibik..." ucap Amira.
"Ada apa Ra?" tanyanya sambil mengusap wajahnya yang masih mengantuk.
Lalu Amira pun menceritakan semuanya dan meminta agar nanti jika nyonya Sarah bangun bik Murni bisa memberitahukan kepergiannya. Bik Murni pun mengerti dan berjanji akan memberitahukan pada nyonyanya. Setelah itu Amira pun bergegas mengeluarkan motornya yang terpakir di gudang belakang dan menaikinya. Sampai di depan gerbang ia pun menemui satpam yang berjaga agar dibukakan pintu gerbang. Kemudian ia pun melajukan motornya menuju rumah sakit. Walau pun ia baru tidur sebentar namun saat mendengar keadaan bu Wati membuat matanya langsung terbuka lebar. Tak dirasakannya angin dingin yang menerpa tubuhnya walau sudah mengenakan jaket.
Sesampainya di rumah sakit segera ia menuju meja resepsionis untuk menanyakan dimana bu Wati di rawat. Kemudian ia pun segera menuju ruang IGD tempat bu Wati yang sedang mendapatkan penanganan. Di depan ruang IGD tampak dua orang gadis yang menunggu. Keduanya ternyata anak kos bu Wati dan salah satunya adalah Lusi yang tadi menelponnya.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan bu Wati?" tanya Amira saat dirinya sampai di depan keduanya.
"Belum tahu mbak..." jawab seorang gadis bertubuh kecil dengan rambut ekor kuda.
"Kalian besok kerja atau kuliah kan?" tanya Amira. Kedua gadis itu pun mengangguk.
"Kalau begitu kalian pulang saja dulu biar saya saja yang menunggu disini" sambungnya.
"Baik mbak.... kami pamit dulu, nanti tolong kabari kami tentang keadaan bu Wati" kata Lusi lalu mereka berdua pun pulang ke kosan.
Tak lama berselang dari dalam ruang IGD keluar dokter yang nenangani bu Wati.
"Dengan keluarga bu Wati?" tanyanya.
"Iya pak" jawab Amira dengan dada yang berdebar. Kemudian dokter pun menjelaskan keadaan bu
Wati yang cukup mengkhawatirkan karena ternyata tulang panggulnya terluka dan ada kemungkinan jika beliau tidak dapat berjalan lagi. Namun karena itu masih diagnosa maka dokter menyuruh Amira untuk berdo'a agar kemungkinan yang terburuk itu tidak terjadi.
Mendengar penjelasan dokter tubuh Amira terasa lemas. Bu Wati adalah wanita yang selama ini sering membantunya tanpa pamrih dan bahkan sudah menganggapnya sebagai anak. Amira tak tahu apa yang akan terjadi jika nanti bu Wati tak lagi bisa berjalan. Terdengar sayup-sayup azan subuh berkumandang, Amira menghela nafas kasar. Segera ia melangkah ke arah musholla yqng ada di rumah sakit tersebut. Ia perlu mengadu pada Tuhannya berdo'a yang terbaik untuk bu Wati. Sepanjang pagi setelah menunaikan ibadahnya Amira tak beranjak dari depan kamar perawatan bu Wati setelah dipindahkan dari IGD.
Pikirannya yang kalut membuatnya tak berfikir untuk menghubungi nyonya Sarah lagi atau pun tuan Sam. Sementara itu hp Amira sudah berdering sejak tadi namun tak ada yang mengangkat sebab yang empunya tak sengaja meninggalkannya di dalam kamar. Di seberang sana tuan Sam tengah cemas karena sedari tadi Amira tak mengangkat hpnya. Padahal ia sengaja mengatur waktunya agar tak terlalu pagi menelpon Amira.
Setelah beberapa kali lagi ia mencoba namun lagi-lagi tak diangkat akhirnya ia pun berinisiatif untuk menghubungi adiknya. Dan setelah dua kali panggilan akhirnya diangkat juga oleh adiknya itu.
"Sar.... Amira dimana? kenapa dia tidak mengangkat hpnya?" tanya tuan Sam tanpa basa-basi.
Nyonya Sarah yang baru saja keluar dari kamar mandi dan mengangkat telpon dari kakaknya itu hanya bisa menggelengkan kepalanya walau ia tahu jika tuan Sam tak bisa melihatnya.
"Aku juga tidak tahu kak ... sebab aku belum keluar dari kamar. Sebentar aku ke kamarnya dulu" jawab nyonya Sarah lalu mematikan hpnya.
Tuan Sam yang disebrang pun hanya bisa mendengus kesal. Nyonya Sarah langsung memasukkan hpnya dalam kantung celana panjangnya. Dilihatnya suaminya yang masih tertidur. Ada perasaan hangat saat melihat wajah suaminya itu, memang kesalahan pria itu cukup fatal namun tak bisa dipungkiri jika ia masih menyimpan rasa cinta padanya. Apalagi jika mengingat kedua buah hatinya, ia merasa keputusannya menerima tuan Bram kembali sudah tepat. Dengan perlahan nyonya Sarah keluar kamar menuju kamar Amira. Diketuknya pintu kamar gadis itu beberapa saat. Tak ada jawaban disana, saat itulah bik Murni melihat majikannya itu dan menghampirinya.
"Nyonya... Amira pagi tadi pamit ke rumah sakit" lapornya.
"Ke rumah sakit?" tanya nyonya Sarah sambil mengernyitkan dahi.
"Iya nyonya, katanya bu Wati jatuh di kamar mandi" terang bik Murni.
__ADS_1
Dengan cepat diambilnya hp yang ada dikantung celananya dan berusaha untuk menghubungi Amira. Terdengar nada tersambung namun saat itu pula terdengar suara ponsel dari dalam kamar Amira.
"Ck... ternyata dia meninggalkan ponselnya" gumam nyonya Sarah lalu mematikan hpnya.
"Amira bilang di rumah sakit mana bik?" tanya nyonya Sarah pada bik Murni yang masih berdiri disampingnya.
"Di rumah sakit P nyonya..." jawab bik Murni yang juga ikut mencemaskan Amira saat tahu gadis itu tak membawa hpnya.
"Baiklah... bibik lanjutkan pekerjaan bibik nanti setelah mengantar anak-anak ke sekolah aku akan kesana. Juga tolong siapkan baju Amira untuk ganti" titahnya.
"Baik nyonya" jawab bik Murni yang langsung berlalu meneruskan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda.
Baru setelahnya ia pun ke kamar Amira untuk menyiapkan baju ganti gadis itu. Tak lupa ia juga memasukkan hp Amira dalam tas yang berisi baju ganti.
Tak lama setelah bicara dengan bik Murni, nyonya Sarah pun langsung menghubungi kakaknya. Mendengar penjelasan nyonya Sarah tuan Sam semakin cemas karena ia tahu jika bu Wati sangat dekat dengan Amira.
"Kakak jangan khawatir sebentar lagi aku akan menyusul ke rumah sakit..." ucap nyonya Sarah yang tahu akan kegundahan hati kakaknya.
"Hemmm..." jawab tuan Sam singkat sambil mengehembuskan nafasnya kasar.
Mau tidak mau ia memang harus menunggu adiknya menemui Amira terlebih dahulu karena gadis itu tak membawa hpnya. Setelah mengantar kedua anaknya berangkat sekolah, nyonya Sarah yang ditemani tuan Bram pun pergi ke rumah sakit tempat bu Wati dirawat. Setelah menanyakan ruang tempat bu Wati dirawat nyonya Sarah dan tuan Bram pun segera menuju ke ruangan bu Wati. Tampak oleh keduanya Amira yang duduk di samping tempat tidur bu Wati. Gadis itu tampak agak pucat karena mungkin tak tidur sejak tiba di rumah sakit.
"Ra..." panggil nyonya Sarah.
Amira yang mendengar suara nyonya Sarah langsung menoleh kearah nyonya Sarah.
"Kaaak..." jawabnya pelan sambil memeluk nyonya Sarah.
"Bagaimana keadaan bu Wati?" tanya nyonya Sarah setelah keduanya melepas pelukan.
"Sejauh ini stabil kak... hanya saja ada kemungkinan jika bu Wati tidak bisa lagi berjalan" ungkap Amira dengan suara bergetar.
Nyonya Sarah tahu jika gadis chubby dihadapannya itu sedang berusaha terlihat tegar.
"Kita berdo'a saja ya..." hanya itu yang bisa nyonya Sarah ucapkan untuk menghibur Amira.
Sementara tuan Bram hanya bisa menyaksikan interaksi nyonya Sarah dan Amira dalam diam. Ia sungguh malu mengingat dulu ia pernah berprasangka buruk pada Amira dengan mengira jika gadis itu sudah menculik kedua anaknya. Padahal justru gadis chubby itu yang bertaruh nyawa demi keselamatan istri dan kedua anaknya. Ia juga semakin merasa bersalah sebab jika bukan karena dirinya yang bodoh dan mudah tergoda dengan harta dan rayuan Mela mungkin semuanya tidak akan pernah terjadi. Ia juga merasa sangat beruntung karena istrinya mau memaafkannya dan mau menerimanya kembali.
__ADS_1
Memang terkadang dengan melakukan kesalahan kita akan sadar dengan kekurangan yang ada pada diri kita dan menyukuri setiap karunia yang telah kita terima. Saat ketiga tengah berbincang tiba-tiba bu Wati terlihat mulai sadar. Tuan Bram langsung keluar untuk memanggil dokter. Tak lama tuan Bram kembali bersama dokter dan perawat yang mendampinginya. Kemudian ketiganya pun keluar dari ruang perawatn memberi kesempatan pada dokter dan perawat melakukan tugasnya.
Tak lama kemudian dokter pun keluar dan tampak dari wajahnya yang terlihat cerah menandakan jika hasil pemerikasaan berjalan baik. Dan benar saja setelah melalui pemeriksaan ternyata bu Wati masih dapat merasakan bagian kakinya itu berarti dia tidak mengalami kelumpuhan. Amira pun tampak sangat lega bahkan gadis itu langsung melakukan sujud syukur meluapkan rasa gembiranya. Nyonya Sarah dan tuan Bram pun ikut tersenyum bahagia.