BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Ikhlas


__ADS_3

Malam menjelang... Dave sudah bersiap untuk pergi ke bandara. Ia sengaja berangkat lebih awal agar tidak terjebak kemacetan di jalan karena ini weekend. Setelah berpamitan dengan Amira, Dave pergi dengan diantar sendiri oleh tuan Sam. Sebenarnya tuan Sam sengaja mengantar sendiri sahabatnya itu agar bisa sedikit menghibur dan memberikan semangat pada Dave. Selama perjalanan tuan Sam mencoba memberi masukan pada Dave agar tidak terlalu larut dalam kesedihan.


"Apa kau yakin Dave, akan menyerah sekarang tentang Sandra?"


"Iya Sam... aku hanya ingin tenang dengan mencari pencerahan tentang agama agar aku bisa hidup sepertimu..."


"Maksudmu?"


"Kau terlihat bahagia dan tak lagi terlihat ambisius seperti dulu saat kita pertama kali bertemu... sepertinya istrimu memberi pengaruh yang sangat baik padamu"


"Aku tahu Dave... Amira memang mengubah duniaku... sejak memgenalnya aku tahu apa itu rasanya bersyukur dan merasa cukup dengan apa yang sudah kita dapatkan... tak perlu terlalu keras dan mencoba mendapatkan semuanya... karena sesungguhnya kebahagiaan bukan terletak pada seberapa banyak materi yang sudah kita dapatkan... tapi seberapa bergunanya kita bagi semua orang di sekitar kita..." terang tuan Sam.


"Aku juga sepertimu Sam... Sandra mengubahku... dan aku tak ingin hanya karena aku tidak berjodoh dengannya semua pelajaran kebaikan yang ia tularkan padaku sia-sia... jika suatu hari nanti aku bisa bertemu kembali dengannya aku harap aku sudah menjadi manusia yang lebih baik dan ber Tuhan Sam..."


"Aku mengerti..." sahut tuan Sam.


Sesampainya di bandara tuan Sam menemani Dave hingga pria itu masuk ke dalam pesawat. Tak banyak yang mereka ucapkan sebagai salam perpisahan karena mereka masih bisa bertemu lain waktu. Saat berada dalam pesawat Dave kembali membuka ponselnya sebelum pesawat lepas landas dan memandangi gambar Sandra di galeri ponselnya.


"Akan selalu kusimpan gambarmu San San... sampai nanti aku temukan wanita yang bisa menggetarkan hatiku lagi..." batinnya sambil mengusap gambar Sandra yang terlihat tersenyum manis dengan rambut tergerai tertiup angin.


Gambar itu ia ambil saat mereka tengah berada di tepi pantai saat Sandra menjadi guidenya. Gadis itu tak menyadari saat Dave mengambil gambarnya karena ia tengah asyik menatap laut. Sementara dirumahnya Sandra tampak tengah melamun di depan jendela kamarnya. Matanya menerawang jauh entah kemana. Ia sudah tidak lagi menangis. Air matanya seakan sudah habis tak tersisa.


"Aku mencintaimu Dave... semoga kau bahagia dan menemukan seseorang yang bisa mendampingi dan menuntunmu ke jalan yang lebih baik... cukup sampai di sini aku bisa mengenangmu... pria bermata biru yang telah mencuri hatiku..." ucap Sandra lirih.


Hanya dia yang tahu betapa sakit dan tak berdayanya dirinya menerima kenyataan yang sedang menimpanya. Namun ia percaya semua pasti akan indah pada akhirnya jika ia bisa tabah dan ikhlas dalam menjalani semuanya.


Keesokan harinya tampak Amira telah bersiap menuju ke rumah Sandra. Tuan Sam pun akan mengantarkannya sebelum ia berangkat ke kantor. Seperti biasa Amira juga membawa pengasuh yang akan membantunya menjaga si kembar. Sesampainya di sana Amira langsung turun dari mobil dengan menggendong Samir sedang Sahir di gendong tuan Sam. Sang pengasuh hanya mengikuti keduanya dari belakang sambil membawa peralatan si kembar.


Mereka pun disambut hangat oleh kedua orangtua Sandra. Agar tak membuat curiga Amira beralasan kedatangannya ingin berterima kasih atas bantuan Sandra selama ini. Apa lagi saat tuan Sam di rawat di rumah sakit.


"Maaf abah... umi... kami baru bisa datang mengucapkan terima kasih kami sekarang..." ucap Amira yang diangguki oleh tuan Sam.


"Tidak apa-apa Amira... kau dan Sandra sudah berteman lama dan sudah seperti saudara. Kami juga sudah menganggapmu seperti putri kami sendiri... jadi kau tidak usah sungkan" kata pak Dahlan.


"Iya Ra... kau tahu selama ini hanya kamu temannya yang ia bawa ke rumah sejak kami pindah dari kampung dulu..." terang bu Zaenab.


Sungguh aneh... sebab Sandra merupakan gadis yang ceria dan mudah bergaul jadi sangat mengherankan jika tak ada satu pun temannya yang pernah bertandang ke rumahnya.

__ADS_1


"Emmm... bisa saya bertemu dengan Sandra umi?" tanya Amira setelah tuan Sam berpamitan dan pergi ke kantornya.


"Oh iya... tentu saja Ra..." kata bu Zaenab.


Ia pun lalu mengantarkan Amira ke kamar Sandra. Sedang si kembar yang sudah berada di dalam stroller dijaga oleh pengasuhnya.


"Sandra... keluarlah nak... lihat siapa yang datang!" panggil bu Zaenab.


Amira tertegun... tak biasanya Sandra mengurung dirinya di dalam kamar. Tak lama pintu kamar terbuka dan tampak Sandra dengan wajah yang sedikit pucat menyambut Amira dengan senyum yang dipaksakan.


"Masuklah Ra..." ucapnya dengan suara sedikit serak.


"Kamu sakit San San?" tanya Amira cemas sambil menggenggam tangan sahabatnya itu.


"Ga kok Ra... cuma masuk angin aja..." sahut Sandra masih mencoba tersenyum.


Amira mengikuti Sandra masuk ke dalam kamar... sedang bu Zaenab pergi kembali ke depan untuk menemani pak Dahlan menjaga kiosnya.


"Tolong kamu jujur sama aku San San... kamu ada masalah apa? apa karena perjodohan yang dilakukan oleh orangtuamu hingga kau jadi seperti ini?" cecar Amira.


"Aku hanya sedang mempersiapkan diriku untuk menerima semuanya Ra..." sahut Sandra.


Sandra terkejut... dari mana Amira tahu tentang dirinya dan Dave? apa sebegitu jelaskah sikap keduanya hingga Amira juga tahu jika mereka ada rasa? tapi mengapa kedua orangtuanya tak bisa melihatnya? atau mereka pun sudah tahu dan tak mungkin merestui karena keyakinan mereka yang berbeda..


"Untuk apa Ra? toh akhirnya juga akan tetap sama aku dan Dave tidak bisa bersama karena keyakinan kami yang berbeda..." sahut Sandra.


"San San..." ucap Amira tercekat.


Dengan segera dipeluknya tubuh sahabatnya yang terlihat lemah itu. Ini bukan Sandra yang ia kenal sejak kecil. Sandra yang ia kenal bukan tipe orang yang mudah putus asa... tapi kini ia seolah pasrah tanpa mau berusaha untuk melepaskan diri dari perjodohan orangtuanya.


"Aku tidak apa-apa Ra..." kata Sandra sambil mengurai pelukan Amira.


Dicobanya memasang wajah tegar dan senyum dibibirnya. Tapi tetap saja Amira tahu jika semua itu palsu. Sandra tidak sedang baik-baik saja. Dan dia membutuhkannya saat ini.


"Oh iya... aku tahu apa yang akan membuatmu merasa lebih baik" kata Amira.


"Apa?"

__ADS_1


"Tunggu disini sebentar" ucap Amira lalu segera keluar dari dalam kamar Sandra.


Tak lama Amira masuk kembali sambil menggendong kedua buah hatinya dan menunjukkannya pada Sandra.


"Tarraaa..." serunya.


Kedua bayi itu pun terlihat senang dan menggerakkan kedua tangan dan kaki mereka seolah hendak berlari ke arah Sandra. Melihat tingkah lucu keduanya langsung membuat wajah Sandra berubah menjadi cerah. Gadis itu langsung menghampiri Amira dan menciumi kedua bayi yang ada dalam gendongan Amira. Kedua bayi itu langsung tertawa geli saat Sandra mencium wajah mereka dengan gemas.


"Ayo bantu aku bawa mereka keatas tempat tidur..." ucap Amira.


Sandra pun langsung mengambil alih salah satu bayi Amira dan membawanya keatas tempat tidurnya. Karena tempat tidur Sandra yang tidak begitu besar membuat Sandra dan Amira duduk dibawah sedang para bayi berada diatas tempat tidur. Keduanya asyik menggoda kedua bayi yang sudah semakin lincah. Melihat sahabatnya yang mulai ceria membuat Amira merasa bersyukur meski ia tahu didalam hatinya Sandra masih menyimpan duka.


Tak terasa satu bulan telah berlalu dan setelah melakukan persiapan sederhana akhirnya pernikahan Sandra dan Andi pun akhirnya digelar. Amira dan tuan Sam pun ikut hadir untuk menyaksikannya. Sebelumnya tuan Sam sudah mengirimkan foto undangan pernikahan Sandra pada Dave. Ia berharap pria itu bisa ikhlas menghadapi kenyataan jika Sandra kini sudah menjadi milik orang lain. Dave yang kala itu baru saja pulang dari meeting dengan salah satu kliennya tampak tertegun memandang gambar undangan yang disana tercetak jelas nama Sandra dan juga calon suaminya.


"Akhirnya kau jadi juga menikah dengan orang pilihan orangtuamu San San..." ucapnya dengan suara bergetar dan setetes air mata pun lolos dari kedua matanya.


Dengan hati gundah ia melajukan mobilnya menuju salah satu club yang dulu biasa dikunjunginya untuk melepaskan rasa sakit dihatinya. Namun saat ditengah perjalanan ia melihat bangunan yang membuat hatinya bergetar. Ya bangunan yang membuat setiap muslim selalu datang kesana setiap lima waktu untuk menjalankan kewajibannya. Seketika Dave menghentikan laju kendaraannya dan berbelok ke arah bangunan itu.


Lama pria bermata biru itu terdiam didalam mobilnya yang terparkir di depan salah satu masjid yang ada di kota London. Masjid itu tidak terlihat megah seperti masjid yang pernah ia lihat di Indo sebelumnya. Namun aura kedamaian yang terpancar dari bangunan itu telah menariknya hingga bukannya menghabiskan waktu di club tapi disinilah ia berada diparkiran depan masjid. Setelah meragu selama beberapa waktu di dalam mobilnya akhirnya Dave melangkahkan kakinya keluar dari dalam mobilnya dan berjalan menuju ke dalam masjid.


Ia yang tak tahu apa-apa tentang tata cara berada di dalam masjid hanya bisa mencontoh orang-orang yang tengah masuk kesana untuk beribadah. Setelah melepas alas kakinya ia pun masuk ke dalam. Diperhatikannya orang-orang yang tengah beribadah. Ia sedikit heran mengapa masih ada orang yang beribadah di dalam sana padahal ini sudah lewat tengah malam.


Dave yang tampak memperhatikan setiap jamaah yang tengah beribadah membuat imam masjid yang ada disana menghampirinya dan bertanya.


"Assalamualaikum... maaf kenapa anda tidak melaksanakan sholat?"


"Em... saya bukan muslim" jawab Dave jujur.


"Lalu apa yang membawa anda sampai kemari?" tanya sang imam dengan sabar.


"Entahlah... tadi saya sedang menyetir dalam keadaan yang tidak baik-baik saja dan berniat ke club untuk mengusir rasa gundah dihati saya... tapi entah kenapa saat melihat tempat ini saya mengurungkan niat saya dan datang kemari" terang Dave.


"Apa anda ingin mempelajari Islam?"


Dave mengangguk tegas. Ya hatinya kini mantap untuk mempelajari agama yang dipegang teguh oleh Sandra. Bukan karena gadis itu... tapi jauh di dalam hatinya ia sudah mulai tersentuh dengan ajaran agama itu tanpa berharap untuk mendapatkan gadis itu sebagai balasan atas keimanannya.


Sementara Sandra tampak tenang dan pasrah saat menjalani proses ijab kabul dan resepsi pernikahannya yang diadakan secara sederhana di rumah kedua orangtuanya. Amira yang sejak pagi selalu mendampinginya tampak mulai merasa lega karena Sandra sudah tidak tampak tertekan menjalani semuanya. Setelah semua acara selesai pasangan pengantin baru itu pun beristirahat di kamar Sandra yang sudah diubah menjadi kamar pengantin.

__ADS_1


Sandra yang sedang duduk di depan meja riasnya dan sedang menghapus riasan wajah terpaksa menghentikan kegiatannya saat Andi mengajaknya bicara.


"Kau harus tahu Sandra... aku menikahimu karena terpaksa... orangtuaku menjodohkanku denganmu untuk membalas budi karena ayahmu pernah menolong nyawa ayahku yang sedang dirampok. Jadi jangan berharap kau akan menjadi istriku yang seutuhnya karena sesungguhnya aku jijik dengan tubuhmu yang seperti karung beras itu... lagi pula aku juga sudah punya kekasih yang kecantikannya tak secuil pun kamu bisa menyamainya!" kata Andi tanpa menghiraukan perasaan Sandra.


__ADS_2