
Waktu cepat berlalu... tak terasa sudah saatnya Amira dan tuan Sam beserta kedua putranya itu berangkat ke London. Sandra yang ikut dengan mereka pun sudah menginap di rumah mereka malam sebelum keberangkatan bersama kedua orangtuanya agar dapat pergi ke bandara bersama dari sana.
Sejak pagi Amira telah sibuk mempersiapkan koper yang akan dibawanya untuk dimasukkan ke dalam mobil. Maklum ini adalah perjalanan pertamanya ke luar negeri termasuk juga pengalaman pertama Amira menaiki pesawat. Sebenarnya semua sudah ia persiapkan jauh-jauh hari namun karena gugup ia berusaha untuk tetap sibuk untuk menghilangkan gugupnya.
Tuan Sam yang melihat kegugupan Amira segera mendekati istrinya itu dan memeluknya hangat dari belakang.
"Tidak usah cemas Meyaa... semua akan baik-baik saja..." ucapnya lembut ditelinga istrinya itu.
Mendengar ucapan tuan Sam, Amira pun menghembuskan nafasnya perlahan mencoba menetralkan detak jantungnya yang sedari tadi berdetak kencang karena gugup.
"Aku gugup B... ini pertama kalinya untukku..." sahut Amira menyandarkan kepalanya pada tuan Sam.
"Tidak apa-apa... wajar kau cemas... sekarang ayo kita bangunkan si kembar agar kau tidak terlalu memikirkannya..." ajak tuan Sam sambil menarik tangan Amira.
Keduanya pun berjalan beriringan menuju kamar Sahir dan Samir. Sesampainya di sana tampak kedua balita itu juga sudah bangun. Mungkin mereka juga merasakan jika mereka akan melakukan perjalanan jauh dengan pesawat untuk pertama kalinya seperti yang juga sedang dirasakan ibunya. Namun bukannya cemas seperti Amira, keduanya justru terlihat antusias.
"Yah...yah... tawat...tawat..." teriak keduanya saat melihat tuan Sam dan Amira.
"Iya... iya...kita akan naik pesawat..." sahut tuan Sam sambil tersenyum melihat kedua putranya sangat bersemangat.
"Kalian mandi dulu... setelah itu sarapan... baru kemudian kita pergi naik pesawat" kata Amira yang langsung membuat kedua balita kembar itu meloncat-loncat kegirangan diatas box mereka.
Tuan Sam dan Amira pun membawa Sahir dan Samir ke kamar mandi untuk dimandikan. Setelah selesai dan berganti pakaian mereka pun turun ke ruang makan. Disana sudah ada Sandra dan juga kedua orangtuanya yang sudah menunggu. Mereka pun sarapan bersama. Amira dan Sandra pun menyuapi Sahir dan Samir sambil mereka menyantap sarapannya masing-masing.
Setelah memeriksa kembali semuanya dan yakin jika semua sudah beres mereka pun berangkat menuju ke bandara. Selama perjalanan kedua balita kembar itu terlihat sangat senang dan antusias melihat pemandangan yang terlihat dari jendela kendaraan mereka. Tuan Sam sengaja menyewa mini bus agar mereka semua berangkat dalam satu kendaraan. Bahkan nyonya Sarah dan tuan Bram beserta ketiga anaknya ikut bersama mereka.
Sesampainya di bandara rombongan itu pun segera menuju terminal keberangkatan. Saat terdengar panggilan untuk naik ke dalam pesawat sekali lagi mereka pun mengucapkan salam perpisahan.
"Disana kamu jaga diri baik-baik ya nak... ingat jangan terlalu merepotkan Amira, sebisa mungkin telpfon abah atau umi untuk memberitahukan kabarmu disana..." kata pak Dahlan pada putrinya.
"Iya abah... Sandra janji..." jawab Sandra sambil memeluk abahnya.
"Kau jaga kesehatan ya nak..." ucap bu Zaenab dengan mata berlinang.
Baru kali ini Sandra pergi jauh dari orangtuanya. Karena itulah pak Dahlan dan bu Zaenab sangat mengkhawatirkan putri mereka itu.
"Abah dan umi tidak perlu khawatir kami juga akan menjaga Sandra" kata tuan Sam.
"Terima kasih... sudah mengajak Sandra bersama kalian" ucap pak Dahlan.
__ADS_1
"Sama-sama..." sahut tuan Sam dan diangguki Amira.
Sementara nyonya Sarah tampak berat melepas kepergian Amira. Sedari tadi wanita itu sudah tidak dapat membendung air matanya.
"Kakak jangan menangis..." kata Amira sambil memeluk nyonya Sarah.
"Iya Sarah... kita bisa menjenguk mereka saat ada kesempatan..." ujar tuan Bram menenangkan istrinya.
"Aku tahu... tapi tetap saja aku tidak bisa sesukanya menemui Amira..." sahut nyonya Sarah.
"Sudah-sudah... biarkan mereka pergi nanti bisa-bisa mereka ketinggalan pesawat..." kata tuan Bram.
Akhirnya setelah sedikit drama tuan Sam dan rombongannya pun naik ke dalam pesawat. Amira kembali tampak gugup saat pesawat akan lepas landas. Tuan Sam langsung menggenggam tangan istrinya itu untuk memberikan ketenangan. Amira pun menoleh kearah tuan Sam dan berusaha tersenyum sebagai tanda jika ia baik-baik saja. Setelah menghadapi ketakutannya saat pesawat lepas landas akhirnya Amira dapat menikmati perjalanannya dengan pesawat untuk pertama kalinya.
Setelah berada dalam pesawat selama lebih dari 15 jam akhirnya mereka sampai di bandara Heathrow, London. Karena baru pertama kali menginjakkan kakinya di negera asing membuat Amira dan Sandra merasakan sensasi yang berbeda. Ada rasa takut dan antusias yang bercampur menjadi satu. Keduanya saling memandang dan bergenggaman tangan.
"Akhirnya kita akan berpetualang di negara asing seperti yang dulu kita impikan San San" kata Amira sambil tersenyum.
Samir yang berada di gendongannya pun ikut tersenyum seolah ikut merasakan rasa antusias dari ibunya. Sementara Sahir yang di gendong tuan Sam tampak masih tertidur. Sandra mengangguk membenarkan perkataan Amira. Kemudian mereka pun segera keluar menuju mobil jemputan yang sudah menunggu mereka. Tuan Sam mengajak Amira dan Sandra ke apartemennya saat ia dulu tinggal di London. Apartemen itu cukup luas karena memiliki tiga kamar tidur sehingga sangat pas untuk mereka tinggal.
"Apartemen ini apa tidak terlalu luas untukmu saat dulu kau tinggal disini sendiri B?" tanya Amira saat keduanya sudah berada di dalam kamar setelah menyuruh Sandra beristirahat di kamarnya dan juga menidurkan kedua putra mereka dikamar lain.
"O..." sahut Amira sambil menganggukkan kepalanya.
Kepalanya tampak berputar menelisik isi kamar tuan Sam. Tampak nuansa maskulin sangat kental disana. Dengan perlahan Amira berjalan ke arah jendela kamar dan membuka tirainya. Dari sana terlihat jelas pemandangan kota London yang sangat menakjupkan. Apartemen tuan Sam memang berada di ketinggian yang dapat memungkinkan penghuninya menikmati pemandangan kota London dengan leluasa. Bahkan dari jendela kamar tuan Sam, Amira dapat melihat ikon kota London yang sangat terkenal yaitu London Eye.
Tuan Sam memeluk Amira dari belakang dan meletakkan dagunya di pundak Amira. Keduanya memandangi keindahan pemandangan kota London dari ketinggian.
"Apa kau menyukainya?" tanya tuan Sam.
"Iya... semuanya terlihat sangat indah dari atas sini Db..." sahut Amira.
"Kau tahu.... sejak dulu alasan aku memilih apartemen ini karena pemandangan yang dapat kita saksikan saat ini Meyaa..." terang tuan Sam.
"Sejak dulu aku membayangkan betapa bahagianya aku jika dapat memandangi pemandangan seindah itu bersama seseorang yang aku cintai... dan kini semuanya sudah terwujud. Kini aku berada disini bersamamu... bahkan dengan kedua putra kita..." sambung tuan Sam.
Amira langsung menoleh dan memandang tuan Sam dengan pandangan terharu. Ia tahu sedikit banyak cerita tentang tuan Sam dari nyonya Sarah. Pasti saat itu pria dihadapannya itu merasa sangat kesepian meski banyak teman yang bersamanya di apartemen itu. Karena yang dia inginkan sesungguhnya adalah orang yang dicintainya ada disampingnya.
"Waktu itu pasti sangat berat untukmu Db..." ucap Amira lirih sambil mengelus wajah tuan Sam dengan lembut.
__ADS_1
"Ya... kau benar... bahkan sesungguhnya dulu aku pernah menyesal telah membeli apartemen ini karena sejak kehilangan Karina akunmengira tak akan pernah jatuh cinta lagi..." kata tuan Sam memeluk tubuh Amira.
"Tapi nyatanya aku salah... aku justru langsung jatuh hati padamu induk ayamku yang galak..." sambungnya sambil mencium bibir Amira lembut.
"Kau tahu kini hanya kau dan anak-anaklah kebahagian dan tujuan hidupku..." ucap tuan Sam.
"Kau juga segalanya bagiku Db... dan juga anak-anak..." sahut Amira.
Setelah puas memandang pemandangan kota dari jendela kamar mereka keduanya pun beranjak untuk tidur. Perjalanan belasan jam di dalam pesawat membuat mereka merasa sangat kelelahan.
Keesokan harinya saat Amira terbangun ia sedikit pusing karena tubuhnya belum seutuhnya menyesuaikan diri dengan perbedaan waktu antara negara asalnya dengan London. Namun itu tidak menghalanginya untuk menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya. Selesai sholat subuh dengan tuan Sam, Amira langsung menuju ke dapur untuk memasak sarapan pagi. Tuan Sam memang sudah menyuruh Art yang biasa datang tiap pagi untuk mengisi kulkas dengan bahan makanan sebelum ia datang bersama keluarganya.
Saat Amira tengah sibuk memasak saat Sandra datang untuk membantunya. Keduanya pun langsung membuat masakan sederhana untuk sarapan pagi itu. Tak lama pintu apartemen diketuk dari luar. Saat Amira membukanya ternyata itu Art yang biasa datang untuk membersihkan apartemen tuan Sam. Tuan Sam yang sudah keluar dari dalam kamar pun memperkenalkan Amira dan Sandra pada Art itu yang bernama Lusi.
Tuan Sam yang sudah harus berangkat ke kantor hari itu juga tampak tak rela meninggalkan istri dan kedua putranya meski sudah ada Sandra dan Lusi yang menemani mereka.
"Kau pergilah Db... nanti kau terlambat..." kata Amira sambil mendorong tubuh suaminya pelan.
"Aku masih belum berpamitan dengan putra kita Meyaa..." ujar tuan Sam sambil berjalan ke kamar si kembar.
Amira pun mengalah dan mengikuti tuan Sam ke kamar putra mereka. Sesampainya di dalam tampak si kembar masih tertidur. Sepertinya mereka juga belum terbiasa dengan perbedaan waktu dan masih kekelahan akibat perjalanan jauh. Tuan Sam mencium kening dan pipi kedua putranya secara bergantian. Setelah itu ia kembali memandangi keduanya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kau kenapa Db?" tanya Amira sambil mengelus punggung suaminya lembut.
"Aku masih tidak percaya kita berada disini bersama kedua putra kita Meyaa... rasanya masih seperti mimpi..." sahut tuan Sam yang tampak berkaca-kaca.
"Db..." ucap Amira tak mampu berkata-kata karena kini ia pun merasakan keharuan yang sama.
"Jika saja tak ada meeting yang harus aku hadiri hari ini aku masih ingin bersama kalian..." kata tuan Sam yang kini telah memeluk Amira dan mulai menciumi istrinya itu.
"Db... nanti... kau terlambat..." ucap Amira sambil tersengal karena tuan Sam sudah mulai menyentuh area sensitifnya.
Tuan Sam mendengus kesal...
Amira tersenyum kecil saat melihat wajah suaminya yang tampak ditekuk. Dengan cepat Amira memberikan ciuman singkat di bibir suaminya sebagai mood booster. Namun tuan Sam tak mau melepas Amira begitu saja... pria itu langsung menarik tengkuk Amira dan memperdalam ciumannya. Keduanya beradu beberapa saat hingga saling melepaskan setelah keduanya kehabisan nafas. Keduanya tampak saling menyatukan kening mereka dengan nafas sedikit tersengal.
"Untuk sementara kalian jangan pergi keluar dulu ya... sebab kalian masih baru di sini..." ucap tuan Sam sambil mengusap bibir Amira yang basah.
Amira hanya mengangguk patuh. Keduanya lalu keluar dari kamar si kembar kemudian tuan Sam mengambil tas kerjanya dan berangkat ke kantor karena Lukas sudah menunggunya di bawah. Sepeninggalnya tuan Sam, ketiga wanita yang ada di dalam apartemen pun mengobrol santai. Lusi yang sudah terbiasa membersihkan apartemen itu bisa menyelesaikan tugasnya dengan singkat karena Amira dan Sandra ikut membantunya. Meski awalnya ia menolak namun setelah Amira mengatakan jika ia ingin punya waktu untuk mengobrol dengan Lusi ia pun tak bisa lagi menolak.
__ADS_1