
Selama perjalanan pulang ke rumah Amira seperti anak kecil yang setiap kali melihat camilan langsung saja ingin membelinya.
"Meyaa... apa kau nanti bisa menghabiskannya?" tanya tuan Sam yang melihat jika camilan yang dibeli istrinya itu sudah sangat banyak.
"Kan ada kamu Db sayang...." sahut Amira sambil tersenyum sumringah.
Deg....
"Ah... baru saja aku bersyukur jika Amira hanya mengidam biasa tapi kini ...." keluh tuan Sam dalam hati.
Namun ia tetap tersenyum saat Amira menatapnya dengan wajah imutnya. Sesampainya di rumah ternyata sudah ada nyonya Sarah dan kedua anaknya yang sengaja menyambut kepulangan Amira.
"Yey... bunda bawa banyak camilan..." seru kedua bocah itu ketika melihat banyak kantong berisi camilan ditangan Amira.
"Iya.... tapi jangan dihabiskan semua ya... soalnya bunda pengen uncle kalian juga mencicipi semuanya..." sahut Amira.
Tuan Sam yang semula lega karena ada dua bocil yang akan dengan senang hati menghabiskan semua camilan Amira kembali menjadi lesu lagi sebab walau cuma icip-icip namun jumlah jenis makanan yang dibeli Amira cukup banyak. Apalagi kebanyakan merupakan makanan pedas.
Nyonya Sarah yang melihat wajah kakaknya yang lemas hanya bisa tersenyum kecil. Baru kali ini Amira ngidam agak aneh.
"Sudah-sudah ayo masuk dulu... lihat bunda kalian kan baru saja pulang dari rumah sakit, biarkan istirahat dulu..." kata nyonya Sarah sambil menuntun Amira masuk ke dalam rumah.
Siang itu tuan Sam tampak kekenyangan memakan camilan yang dibeli Amira walau sudah dibantu oleh kedua keponakannya. Sedang Amira tampak selalu mengawasi tuan Sam agar benar-benar memakan setiap jenis makanan yang ia beli. Dan saat suapan terakhir tampak Amira sangat senang karena tuan Sam benar-benar menuruti kemauannya. Sedang tuan Sam tampak lemas karena kekenyangan dan juga kepedasan.
"Kakak tidak kembali ke kantor?" tanya nyonya Sarah saat melihat kakaknya yang bersandar di sofa.
"Ga..." sahut tuan Sam datar.
"Sabar kak... Amira begini cuma sebentar kok" ucap nyonya Sarah berusaha menenangkan kakaknya.
Tuan Sam hanya bisa mengangguk lemah karena merasakan perutnya yang bengah. Sementara Amira terlihat sedang membuatkan teh hangat untuk suaminya. Setelah melihat suaminya yang terlihat lemas karena kekenyangan ia pun merasa iba. Karena semua ini akibat menuruti kemauannya.
"Diminum dulu B..." ucap Amira sambil menyerahkan teh hangat pada tuan Sam.
Tuan Sam pun menegakkan tubuhnya dan meminum teh buatan Amira. Entah apa yang dicampurkan Amira pada teh itu namun setelah meminumnya tuan Sam merasa perutnya sedikit lega.
"Maaf B... sudah memaksamu memakan semua cemilan itu..." ucap Amira dengan wajah menyesal.
"Tidak apa-apa Meyaa... aku sudah baikan setelah meminum teh buatanmu" sahut tuan Sam sambil tersenyum.
"Iya Ra... kakakku ga akan apa-apa kalau cuma harus makan camilan saja..." ujar nyonya Sarah meyakinkan Amira.
Sore harinya nyonya Sarah dan kedua anaknya pun pulang dijemput oleh tuan Bram. Setelah keluarga adiknya pulang tuan Sam menyuruh Amira untuk beristirahat sebab sejak sampai di rumah Amira belum sempat beristirahat karena sibuk bercengkrama dengan nyonya Sarah dan kedua anaknya.
"Istirahatlah sebentar Meyaa..." ucap tuan Sam saat melihat Amira tengah memindahkan pakaiannya dari dalam tas.
"Iya .... sebentar lagi..." sahut Amira.
Saat selesai Amira teringat dengan kalung pemberian Raja. Amira pun mengambil kalung itu dari bagian samping tasnya. Untubg saja tuan Sam tengah mandi sehingga tak melihat saat Amira mengeluarkan kalung tersebut. Amira pun lalu menyinpannya di dalam lemari pakaiannya.
"Maaf kak aku belum bisa memakainya namun akan aku simpan baik-baik pemberianmu ini..." batin Amira.
........
__ADS_1
"Kau senang sudah kembali ke rumah Meyaa?" tanya tuan Sam saat keduanya tengah berbaring berhadapan di tempat tidur mereka.
"Iya B... rasanya sudah lama sekali aku tidak merasa sebahagia ini..." sahut Amira.
"Aku sama sekali tak bisa membayangkan bagaimana keadaan kamu saat berada di tengah hutan sana..." ucap tuan Sam sambil menyelipkan rambut Amira dibelakang telinganya.
"Apa kau tidak takut sendirian malam-malam disana?" tanya tuan Sam lagi.
"Aku tidak sendirian B... ada anak-anak kita uang menemaniku..." ujar Amira sambil mengelus perutnya yang membuncit.
Tuan Sam pun menggerakkan kepalanya dan mencium perut Amira.
"Kalian memang anak-anak yang hebat sayang... " ucapnya lalu ikut mengusap perut Amira.
"Kau juga wanita yang hebat Meyaa..." sambungnya sambil mencium kening Amira lembut.
Amira pun tersenyum dengan perlakuan suaminya itu. Segera ia pun menyusupkan kepalanya kedada tuan Sam yang merupakan tempat ternyamannya saat ini.
"Tidurlah yang nyenyak karena kau sudah berada di rumah sayang...." bisik tuan Sam ditelinga Amira.
Amira pun menganggukkan kepalanya dan mulai memejamkan matanya. Ya malam ini ia berharap dapat tidur nyenyak tanpa mimpi buruk yang mengahantuinya saat berada di rumah sakit. Tuan Sam memandangi wajah Amira yang terlihat damai dalam tidurnya. Tak dapat dipungkiri saat ini perasaannya sangat bahagia dan bersyukur karena akhirnya Amira dapat kembali ke rumah dalam keadaan selamat begitu juga dengan janin yang dikandungnya.
"Baik-baiklah kalian di dalam sana nak... tetaplah tak membuat ibu kalian kesusahan ... terima kasih karena kalian sudah tidak rewel saat ibu kalian harus berjuang untuk bisa kembali ke rumah..." bisik tuan Sam tepat di atas perut Amira berharap kedua calon anaknya itu dapat mendengarkan suaranya.
Kemudian tuan Sam pun kembali memeluk tubuh Amira dan mulai memejamkan matanya menyusul Amira ke alam mimpi.
....
Tak terasa kandungan nyonya Sarah sudah mencapai sembilan bulan dan tinggal menghitung hari kelahiran anaknya yang ketiga itu. Bukan hanya keluarga nyonya Sarah yang bersemangat dengan kelahiran calon anak ketiga dikeluarga itu namun juga Amira yang juga sedang menanti kehadiran kedua buah hatinya. Nyonya Sarah dan Amira sepakat jika mereka tak ingin mengetahui jenis kelamin anak-anak mereka sebelum lahir. Sedang para suami hanya mengikuti keinginan kedua bumil itu. Bagi mereka kesehatan dan kebahagiaan keduanya sangatlah berharga.
"Kak... Sarah akan segera melahirkan... kami akan pergi ke rumah sakit tolong jemput anak-anak, kami titip sama kakak" kata tuan Bram begitu mendengar suara tuan Sam mengangkat panggilannya.
"Iya ... kalian jangan khawatir... aku akan segera menjemput mereka biar mereka menginap disini" sahut tuan Sam.
"Baik kak... terima kasih..."
"Sama-sama..."
"Siapa B?" tanya Amira.
"Bram... dia bilang Sarah akan melahirkan dan sedang dibawa ke rumah sakit..." jelas tuan Sam.
"Aku akan menjemput Anna dan Adit biar mereka menginap disini dengan kita" sambungnya.
Amira pun mengangguk setuju. Segera tuan Sam mengambil kunci kontak mobilnya dan bergegas menuju ke mobilnya. Amira pun mengikutinya dari belakang.
"Kau tunggu di rumah saja Ra..." ucap tuan Sam saat tahu Amira mengikutinya sampai di depan mobil.
"Tapi B..."
"Tidak ada tapi-tapian Meyaa... kamu saat ini juga sedang mengandung anak-anak kita ... jadi kau di rumah saja ... sebentar lagi aku pulang dengan anak-anak" sergah tuan Sam.
"Baiklah B... tapi kau hati-hati di jalan ya..." ucap Amira akhirnya.
__ADS_1
"Iya..." sahut tuan Sam lalu masuk ke dalam mobilnya dan segera melajukannya menuju rumah nyonya Sarah.
Malam itu kedua anak nyonya Sarah menginap di rumah tuan Sam. Keduanya yang sudah mengetahui jika mama mereka akan segera melahirkan sudah sangat antusias dan ingin ikut ke rumah sakit. Namun tuan Sam dan Amira langsung memberikan pengertian bahwa mereka lebih baik di rumah dan menjenguk ke rumah sakit saat adik mereka sudah lahir nanti.
Tengah malam tuan Sam mendapat kabar dari tuan Bram jika nyonya Sarah sudah melahirkan dengan selamat dan bayi mereka berjenis kelamin perempuan. Tuan Sam langsung mengucapkan selamat pada iparnya itu dan mengatakan jika esok pagi akan menjenguk ke rumah sakit bersama Amira dan juga Anna beserta Adit.
Amira yang saat itu tengah tertidur dan ikut terbangun saat ponsel tuan Sam berbunyi pun ikut bahagia karena kini bertambah keponakan.
"Db... apa bayinya perempuan?" tanya Amira bersemangat.
"Iya..." sahut tuan Sam sambil tersenyum setelah mematikan ponselnya.
"Dari mana kau bisa tahu?" tanyanya.
"Hanya perasaanku saja...." sahut Amira tersenyum bahagia karena tebakannya tepat.
"Lalu apa kau tahu jenis kelamin anak-anak kita hem?" tanya tuan Sam sambil tersenyum.
"Kalau itu aku tidak tahu..." sahut Amira polos.
"Ck... kenapa bisa begitu? dengan orang lain kau bisa menebaknya sedang dengan dirimu sendiri kau tak tahu" cebik tuan Sam.
"Ish kau ini... memangnya aku sengaja?" sahut Amira yang kini ikut cemberut.
"Iya-iya... maaf..." ucap tuan Sam akhirnya sambil mengecup bibir Amira sekilas.
"Kau!!" sungut Amira sambil membelalakkan matanya menerima perlakuan tuan Sam.
"Sudah kau jangan marah-marah lagi... nanti bayi dalam kandunganmua bisa ikutan cepat tua" goda tuan Sam lagi.
"Ish..." gerutu Amira yang tak lagi bisa marah pada suaminya itu.
"Sudahlah ayo kita tidur ... besok kita ke rumah sakit bersama..." kata tuan Sam membaringkan tubuh Amira kembali ke tempat tidur.
Kemudian tuan Sam pun memeluk Amira dan keduanya pun kembali melanjutkan tidurnya.
..........
Keesokan harinya seperti yang sudah direncanakan tuan Sam dan Amira pun menjenguk nyonya Sarah di rumah sakit dengan membawa Anna dan Adit yang terpaksa tidak masuk sekolah karena keduanya sudah tidak sabar untuk segera menemui mama dan juga adik mereka.
Suasana kamar perawatan nyonya Sarah mendadak ramai saat Amira dan tuan Sam datang bersama dengan Anna dan Adit. Kebetulan saat mereka datang sang bayi tengah berada di ruang perawatan nyonya Sarah setelah sebelumnya baru saja disusui oleh nyonya Sarah.
Anna dan Adit tampak antusias dan gemas dengan wajah adik bayi mereka. Bahkan keduanya sampai berdebat tentang kemiripan wajah mereka dengan wajah adik mereka itu. Para orang dewasa yang ada di ruangan itu pun hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala dengan tingkah keduanya.
"Kalau sudah begini bisa dipastikan adik baru mereka pasti akan jadi rebutan keduanya..." ucap tuan Sam.
"Itu lebih baik kak... karena itu menandakan jika keduanya sangat menyayangi adik mereka dan tidak merasa cemburu atas kehadirannya" sahut nyonya Sarah.
"Iya kau benar..." ujar tuan Sam.
"Bagaimana dengan kandungan kamu Ra?" tanya nyonya Sarah.
"Alhandulillah kak... kata dokter semuanya sehat ... do'akan saja ya kak agar kau juga bisa melahirkan normal seperti kakak..." kata Amira.
__ADS_1
"Iya Ra... tapi yang terpenting keselamatan kamu dan anak-anak kamu yang harus diutamakan tak perduli bagaimana proses melahirkannya ..." kata nyonya Sarah.
Ia tahu jika Amira ingin sekali melahirkan secara normal namun karena kelahiran kembar memiliki resiko lebih tinggi maka ada kemungkinan jika Amira harus menjalani operasi cesar pada persalinannya nanti. Karena itulah nyonya Sarah berusaha membuat iparnya itu tak terlalu memikirkan cara persalinan yang akan dijalaninya nanti sebab bagi seorang wanita bagaimanapun caranya ia melahirkan anaknya ia tetaplah wanita sempurna.