
Sandra tengah membersihkan make upnya saat abah dan uminya masuk ke dalam kamarnya. Tampak Sandra juga sudah mengganti pakaian pengantinnya dengan baju rumahan.
"Sandra... boleh abah dan umi bicara sebentar denganmu nak?" tanya pak Dahlan.
"Iya abah... silahkan" sahut Sandra menghentikan kegiatannya dan memandang kedua orangtuanya yang duduk ditepi tempat tidurnya.
"Maafkan kami nak... karena kami kau jadi janda dalam sehari... seandainya kami memberimu kesempatan untuk berfikir dan mengenal sifat calon suamimu tak mungkin hal ini terjadi..." kata pak Dahlan dengan dada sesak.
"Sebenarnya abah sama umi juga tidak bersalah sepenuhnya... aku juga bersalah abah... langsung setuju..." sahut Sandra dengan wajah sendu.
"Aku tahu abah sama umi hanya ingin yang terbaik untukku..."
"Terima kasih nak... maafkan abah karena telah emosi dan kembali mengambil keputusan tanpa meminta pertimbangan darimu..."
"Abah tidak perlu minta maaf terus... Sandra senang abah sudah membela Sandra dan mengambil keputusan itu walaupun dengan resiko yang besar... orang pasti akan membicarakan keluarga kita apa abah tidak malu punya putri yang jadi janda dalam waktu sehari?" tanya Sandra sendu karena ia tahu tak semua orang akan sependapat dengan keputusan abahnya.
"Tentu saja tidak sayang... justru abah yang khawatir padamu... dengan statusmu sekarang maka akan semakin sulit bagimu untuk menemukan pasangan yang mau menerimamu apa adanya..."
"Abah tidak usah khawatir... Sandra yakin Allah sudah menyiapkan jodoh terbaik untuk Sandra nantinya..." ucap Sandra tersenyum pada kedua orangtuanya.
Keluarga kecil itu pun saling berpelukan untuk saling menguatkan dalam menghadapi cobaan yang akan semakin besar nantinya. Sementara di kediaman tuan Sam tampak pria itu tengah menunggu istrinya yang masih berada di dalam kamar mandi.
Saat melihat Amira yang baru keluar dari kamar mandi dan berjalan kearahnya pria itu pun langsung tersenyum senang karena kali ini untuk pertama kalinya istrinya itu mengenakan lingerie untuk menyenangkan dirinya. Meski terlihat malu dan sedikit tidak nyaman dengan pakaian yang dikenakannya Amira tampak mantap mendekati suaminya.
"Kau terlihat sangat cantik mengenakannya sayang..." ucap tuan Sam sambil menarik tubuh istrinya itu ke dalam pelukannya.
Amira hanya bisa tersenyum canggung saat wajah suaminya sudah begitu dekat dengannya dan ia dapat merasakan nafas tuan Sam yang hangat saat suaminya itu mulai mengecup bibirnya dengan lembut. Untuk sesaat keduanya saling memagut hingga keduanya kehabisan udara dan menghentikan kegiatannya.
"A... apa... aku tidak aneh mengenakannya Db?" tanya Amira terbata dan wajah yang memerah.
Sesungguhnya tubuh Amira telah mengalami perubahan yang cukup drastis. Berat badannya turun cukup banyak sejak habis melahirkan dan menyusui kedua putranya sehingga terlihat lebih langsing. Meski ia tak pernah mengurangi porsi makannya bahkan menambah porsinya namun karena mengurus dua bayi kembar yang cukup aktif dan menyusu sangat banyak hingga membuat tubuhnya berubah. Namun tetap saja ia masih tidak percaya diri mengenakan pakaian bak saringan itu.
"Tidak Meyaa... kau justru terlihat sangat cantik dan aku sungguh sudah tidak tahan untuk memakanmu sekarang..." ucap tuan Sam dengan suara serak menahan hasratnya.
Dan terjadilah hal yang memang harus terjadi... sehingga malam itu menjadi malam panas untuk keduanya. Setelah hampir semalaman bergulat panas akhirnya mereka pun tertidur menjelang subuh. Untung saja Amira masih bisa terbangun saat azan subuh. Sehingga keduanya tidak melewatkan waktu subuh meski Amira harus berusaha extra agar tuan Sam bangun.
"Db... apa kau akan memberitahu Dave tentang Sandra?" tanya Amira saat keduanya kembali berbaring ditempat tidur selesai sholat subuh.
"Entahlah Meyaa... tapi sepertinya itu percuma karena kau tahu keduanya tak mungkin bersatu karena keyakinan mereka yang berbeda..." sahut tuan Sam yang sudah kembali mengendus leher istrinya itu.
__ADS_1
"Db..." seru Amira yang merasa jika suaminya sudah kembali on.
Bukannya berhenti pria itu malah terus melanjutkan aksinya. Namun tak lama terdengar tangisan si kembar yang membuat tuan Sam langsung menghentikan aksinya sambil mendengus. Sedang Amira hanya tersenyum simpul melihat suaminya yang kesal. Dengan cepat Amira langsung menghampiri kedua putranya disusul oleh tuan Sam.
Di London...
Sejak Dave terdampar di sebuah masjid saat ia tengah galau ia pun kini jadi rajin pergi kesana untuk belajar agama. Imam masjid yang menemuinya malam itu pun dengan sabar membimbingnya hingga akhirnya ia dengan mantap mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai tanda jika ia sudah menjadi seorang muslim.
Kesaksian Dave menjadi seorang muslim pun tampaknya disambut baik oleh anggota keluarganya karena bukan Dave orang pertama dalam keluarga mereka yang memeluk islam. Sebelumnya salah seorang sepupunya juga telah memeluk islam saat sepupunya itu tengah masuk sekolah menengah karena tersentuh dengan kehidupan temannya yang seorang muslim.
Sejak mendalami islam kehidupan Dave berubah 180 derajat. Jika dulu ia sering menghabiskan waktunya dengan bersenang-senang bersama teman wanitanya di club kini ia lebih sering menghabiskan waktunya dengan belajar agama dan berbuat amal bersama sesama muslim di London lainnya. Perubahan yang sangat menenangkan hati keluarganya meski kini mereka beda agama. Dave berusaha melanjutkan hidupnya dan melupakan tentang Sandra. Dalam fikirannya gadis itu pasti kini telah hidup bahagia dengan suami pilihan kedua orangtuanya. Meski sulit tapi Dave berusaha untuk ikhlas menerimanya.
Dia pun mulai membuka hatinya pada wanita lain karena menurut imam masjid yang membimbingnya pernikahan akan menjauhkannya dari perbuatan dosa zina. Namun entah mengapa hingga saat ini tak ada satu pun wanita yang bisa menyentuh hatinya seperti Sandra. Bahkan meski wanita sholeha yang pernah dikenalkan oleh imam masjid padanya. Ada saja yang membuat pria itu akhirnya menolak mereka atau malah sebaliknya mereka yang menolaknya setelah mengetahui masa lalunya.
Tak terasa sudah satu tahun sejak dirinya menjadi seorang mualaf. Banyak perubahan yang terjadi padanya. Komunikasinya dengan tuan Sam pun masih berlangsung biasa namun entah mengapa ia enggan memberitahu tuan Sam jika ia sudah mualaf. Ia hanya berfikir jika agamanya itu urusan pribadinya dan tak perlu diumbar kecuali jika ia memang harus menunjukkan jatidirinya sebagai seorang muslim.
Sementara Sandra pun menjalani hidupnya dengan biasa. Pada awalnya memang banyak yang menggunjing tentang statusnya. Namun semakin lama gunjingan mereka semakin jarang ia dengar. Ia pun berusaha menatap masa depannya dengan harapan yang lebih baik. Seperti hari ini ia kembali bersiap untuk berangkat ke tempatnya bekerja. Sebuah jasa penitipan anak. Sandra merasa bersama anak-anak yang ia asuh membuatnya melupakan semua permasalahan yang dihadapinya.
Tiba-tiba ponselnya berdering saat ia baru saja hendak menyalakan mesin motornya.
"Assalamualaikum..."
"Iya Ra... ada apa? tumben kau menghubungiku pagi-pagi begini..." ucap Sandra sambil tersenyum.
"Bisakah kau mampir ke rumahku hari ini San San?" tanya Amira terdengar sangat berharap di seberang sana.
"Ada apa? apa kau sedang ada masalah?"
"Datanglah! nanti saja akan aku jelaskan saat kau datang" sahut Amira yang membuat Sandra jadi penasaran.
"Baiklah nanti sepulang dari tempat kerja aku langsung ke rumahmu" kata Sandra kemudian sambungan telfon pun terputus.
Sandra pun menyalakan mesin motornya dan langsung melaju menuju tempatnya bekerja. Sementara Amira tampak menghela nafasnya berat saat meletakkan ponselnya setelah mengakhiri panggilannya. Amira memandang sendu pada kedua putranya yang tengah bermain diatas karpet tebal di ruang keluarga. Saat ini ia tengah dilema... suaminya tuan Sam semalam mengatakan jika ia harus pergi ke London untuk mengurus pekerjaannya. Amira yang sudah terbiasa ditinggal oleh tuan Sam tidak mempermasalahkannya. Tapi kali ini berbeda karena suaminya akan tinggal cukup lama disana....
Enam bulan.... itu pun jika semuanya lancar. Jika tidak maka akan membutuhkan waktu lebih lama dan itu berarti tuan Sam akan tinggal lebih lama disana. Amira yang tak pernah ditinggal begitu lama oleh suaminya merasa cemas. Selama ini paling lama tuan Sam hanya pergi dua atau tiga minggu saja tak pernah sampai berbulan-bulan. Wajar ia cemas karena ia sendirian tak punya keluarga dan harus mengurus kedua putra kembarnya. Sedangkan nyonya Sarah sudah sibuk dengan suami dan ketiga anak mereka.
Amira butuh seseorang untuk tempatnya curhat. Dan Sandra adalah sahabat dan teman satu-satunya yang dimilikinya. Karenanya ia ingin menceritakan semuanya pada Sandra. Tak terasa hari mulai sore saat akhirnya Sandra sampai di rumah Amira. Ia pun langsung disambut Amira dan kedua putra kembarnya yang sudah mulai bisa berjalan dan berbicara. Meski tertatih kedua balita kembar itu dengan sedikit berlari segera menuju kearah Sandra begitu mendengar suara wanita yang sangat dekat dengan mereka setelah ibunya.
"Onty!!" teriak keduanya bersamaan sambil memeluk Sandra.
__ADS_1
"Ponakan onty! kalian semakin besar saja..."
"He... he.." gelak keduanya kegelian karena Sandra menciumi keduanya dengan gemas.
"Masuklah San San..." ajak Amira.
Kedua balita itu pun menggandeng Sandra dan mengapitnya masuk ke dalam rumah. Setelah bermain sebentar dengan Sahir dan Samir akhirnya ia pun dapat berbicara dengan Amira setelah kedua balita itu kembali asyik bermain berdua.
"Sebenarnya ada apa Ra? di telfon tadi kedengarannya kau begitu cemas..." tanya Sandra.
Amira pun kemudian menceritakan masalahnya pada Sandra. Baru kali ini ia mau bercerita tentang masalahnya itu pada orang lain itu pun hanya pada Sandra. Sandra mendesah pelan. Ia tahu kecemasan Amira. Sebagai wanita ia dapat mengerti dengan perasaan sahabatnya itu sekarang. Meski ia belum pernah berumah tangga tapi ia faham Amira masih membutuhkan suaminya untuk bersama-sama mengasuh kedua putra mereka. Apa lagi Amira tak memiliki keluarga pasti banyak hal yang tak bisa ia lakukan sendiri tanpa meminta bantuan suaminya.
"Apa kau tidak bisa ikut dengan suamimu saja Ra? mumpung si kembar sudah bisa diajak untuk pergi perjalanan jauh" usul Sandra.
"Kak Sam memang sudah menawariku... tapi kau tahu San San, disana aku tak kenal siapa-siapa kecuali suamiku. Ditambah lagi aku tidak pandai bahasa inggris..." sahut Amira dengan sendu.
Sandra mengerti kegundahan Amira. Jika disini Amira masih punya ipar dan dirinya jika ia kesepian. Tapi jika ikut tuan Sam ia akan sangat kesulitan beradaptasi apalagi dengan kendala bahasa.
"Karena itu aku ingin meminta bantuanmu San San..." ucap Amira kemudian.
"Bantuan apa Ra? katakan saja..." sahut Sandra.
"Maukah kau ikut dengan kami?"
"Maksud kamu?"
"Ya... kau ikut kami ke London... jadi kau bisa menemaniku disana saat kak Sam bekerja..." terang Amira.
Sandra tampak berfikir keras. Bukannya ia tak mau membantu Amira... apa lagi ini ia bisa ikut pergi keluar negeri seperti yang selama ini ia impikan. Tapi London... bukankah kota itu tempat tinggal Dave? Sungguh Sandra belum siap jika suatu saat ia bertemu kembali dengan pria bermata biru itu. Apalagi ternyata waktu satu tahun belum juga bisa membuatnya move on dari pria itu. Ia takut jika suatu saat mereka bertemu ia akan menghadapi kenyataan pahit karena pria itu mungkin saja sudah memiliki pendamping hidup.
"Bagaimana San San? apa kau setuju?" tanya Amira yang menyadarkan Sandra dari lamunannya.
"Akan aku fikirkan dulu ya Ra... lagi pula aku juga harus minta izin dulu pada abah dan juga umi..." sahut Sandra memberi alasan.
"Iya San San... aku ngerti... tapi jangan terlalu lama... sebab kak Sam akan berangkat dua minggu lagi... jika kau setuju kami akan mengurus semua dokumenmu segera..." kata Amira.
"Baiklah Ra... paling lama lusa aku akan memberikan jawabannya..." ujar Sandra akhirnya.
Amira pun mengangguk setuju dan tampak lega setelah mengungkapkan keinginannya pada Sandra. Kemudian mereka pun mengobrolkan hal lain hingga akhirnya Sandra pamit pulang karena hari sudah sore sedang Amira pun harus memandikan si kembar.
__ADS_1