
Hari ini Sadira sangat bahagia karena Bara akan mengajaknya pergi keluar berdua sepulang sekolah. Sadira juga sudah meminta izin pada sang bunda jika ia akan pulang terlambat dengan alasan akan mengerjakan tugas bersama teman sekelasnya. Bahkan Hana pun membantunya membuat sang bunda percaya. Meski merasa bersalah karena telah berbohong dan melibatkan Hana, namun Sadira tak punya jalan lain sebab ia masih belum berani berterus terang pada kedua orangtuanya dan kakak kembarnya.
"Maafkan aku Hana... karena selalu saja melibatkanmu..." ucap Sadira saat keduanya melangkah keluar dari dalam kelas saat jam pelajaran berakhir.
"Ga pa-pa kok Ra... lagi pula aku juga minta bantuanmu juga tadi kan?" sahut Hana.
Memang benar, tadi Hana pun berbohong pada mamanya dengan bantuan Sadira agar ia bisa pergi dengan Samir. Meski Sadira tidak tahu itu. Sebab Hana hanya mengatakan jika ia ingin pergi ke pameran buku tanpa mengatakan dengan siapa ia akan pergi. Hana memang akan pergi ke pameran buku bersama Samir tapi Hana masih malu untuk mengatakan pada Sadira jika ia kini telah menjadi kekasih kakak sahabatnya itu.
Keduanya pun tertawa dan berjalan ke gerbang sekolah. Saat sampai disana, Bara telah menunggu Sadira dengan motornya. Saat melihat kekasihnya itu, Sadira langsung menghampiri Bara setelah sebelumnya berpamitan dengan Hana. Bara langsung memberikan helm pada Sadira baru kemudian keduanya berboncengan meninggalkan sekolah. Sementara Hana berjalan agak jauh dari gerbang sebelum akhirnya ia masuk ke dalam mobil Samir yang telah menunggunya. Kedua sahabat itu pergi ke tujuan yang berbeda dengan pasangan mereka masing-masing.
Bara membawa Sadira ke sebuah cafe untuk makan siang bersama. Keduanya tampak bahagia bisa kembali berkencan. Tak mereka sadari jika ada sepasang mata yang mengamati keduanya dengan penuh amarah. Bahkan kedua tangan orang itu pun mengepal kencang membuat kulit ditelapak tangannya memucat.
"Kurang ajar! siapa pemuda sialan itu? berani sekali dia mendekati Sadiraku!" batin Ricko dengan penuh amarah.
Ricko bertambah emosi saat melihat Bara memperlakukan Sadira dengan mesra. Apa lagi senyuman Sadira yang terus mengembang dan hanya tertuju pada Bara. Rasa cemburu mulai membakar hati Ricko. Ingin rasanya ia langsung menghampiri kedua orang itu dan langsung memukuli wajah Bara hingga babak belur. Tapi tidak, dia tidak boleh melakukannya. Karena ia tak ingin membuat Sadira langsung membencinya. Ricko berusaha untuk menahan emosinya, meski hatinya merasa terbakar setiap Bara menyentuh Sadira.
Setelah makan siang, Bara kembali mengajak Sadira untuk pergi ke suatu tempat. Gadis itu pun tak menolak dan langsung menuruti kekasihnya itu. Melihat kedua kekasih itu pergi, Ricko pun langsung mengikuti keduanya. Bara dan Sadira sama sekali tidak menyadari jika sedari tadi ada sebuah mobil hitam yang mengikuti keduanya. Tak lama keduanya tiba di sebuah taman dengan danau buatan ditengahnya. Sadira langsung berdecak kagum dengan apa yang dilihatnya saat ini.
"Indah sekali kak!" seru Sadira sambil berlari kecil ke arah danau begitu ia turun dari jok motor.
Bahkan gadis itu lupa untuk melepaskan lebih dulu helm yang dipakainya. Bara tersenyum kecil saat melihat tingkah kekasihnya itu. Ia pun menyusul langkah Sadira yang mendekat ke arah danau. Sadira merentangkan tangannya dan menarik nafasnya dalam sambil memejamkan matanya.
"Ah... segarnya..." ucapnya menikmati suasana alam yang sejuk meski di siang bolong karena banyaknya pepohonan yang tumbuh disana.
"Bagaimana... apa kamu suka?" tanya Bara setelah berada di samping Sadira.
"Suka... sangat suka!" sahut Sadira sambil tersenyum pada Bara.
"Tapi lepas dulu helmnya sayang..." ucap Bara lembut, sambil melepas helm dari kepala Sadira.
"Maaf lupa..." kekeh Sadira menyadari tingkah konyolnya.
"Hemmm... kau ini..." kata Bara sambil menggelengkan kepalanya gemas.
Ia pun meletakkan helm Sadira di tanah, kemudian ia mengajak Sadira untuk mendekat ke sebuah dermaga kecil yang ada di sisi danau sambil membuka sepatu yang mereka pakai. Lalu mereka berdua duduk berdampingan sambil mencelupkan kaki mereka ke air danau yang sedikit tinggi. Bara memeluk Sadira mesra dan menyandarkan tubuh kekasihnya itu di dadanya. Keduanya memandang lurus ke tengah danau dalam diam seolah tengah menikmati keindahan yang terpampang di depan mereka.
Tak jauh dari sana, tampak Ricko masih saja mengawasi keduanya. Amarahnya semakin meluap hingga ke ubun-ubun saat melihat kemesraan keduanya. Saat itulah tiba-tiba ponselnya bergetar. Karena fokus memperhatikan Bara dan Sadira, Ricko mengabaikannya. Namun bukannya berhenti, ponselnya malah terus saja bergetar. Hingga mau tidak mau akhirnya Ricko pun mengangkatnya.
"Halo..."
"Rick... lo ada dimana?" terdengar suara seseorang yang dikenalnya.
Seketika wajah Ricko pun berubah cerah dan senyuman pun langsung mengembang dibibirnya.
"Ya Sam?"
"Lo mau ga ikut kumpul sama anak-anak besok di rumah gua... mereka mau rencana buat naik gunung lagi..."
"Oke gua ikut... jam berapa?"
"Biasa..."
"Oh oke... ditunggu aja, gua pasti datang"
"Oke bro... kita tunggu ya..."
__ADS_1
"Oke..."
Ricko tersenyum senang karena akan ada kesempatan lagi untuk bisa mendekati Sadira. Matanya kembali mengawasi Bara dan Sadira yang masih berada diposisi yang sama. Namun kesenangannya tidak berlangsung lama karena ponselnya kini kembali bergetar. Cepat Ricko pun mengangkatnya dan kali ini bukan suara yang ia harapkan yang terdengar. Melainkan suara sang ayah yang uring-uringan mencarinya. Pasalnya hari ini Ricko harusnya mewakili sang ayah untuk menemui klien penting. Tapi Ricko sudah hampir satu jam belum juga sampai di lokasi pertemuan.
Mau tidak mau akhirnya Ricko pun menuruti perintah papanya dan pergi meninggalkan tempat itu dengan hati dongkol. Meski begitu ia pun masih sedikit terhibur karena besok ia masih bisa bertemu Sadira di rumahnya saat berkumpul dengan Samir dan yang lainya. Dengan bersenandung kecil, Ricko kembali masuk ke dalam mobil dan menjalankannya. Sementara dua sejoli yang tadi diintip oleh Ricko tampak semakin terbuai suasana.
"Hemmm... kakak tahu tempat ini dari mana?" tanya Sadira masih dalam pelukan Bara.
"Sebenarnya dulu sewaktu aku masih kecil, mama sama papa aku sering membawaku untuk piknik kemari... kami akan menggelar tikar di sebelah sana sambil membawa makanan dari rumah" tunjuk Bara pada tepian danau yang datar.
"Terkadang aku dan papa memancing disini sementara mama lebih suka bersantai sambil mengamati kami" sambung Bara mengenang masa kecilnya.
"Benarkah? jadi kakak sudah sering kemari?"
"Iya... tapi sejak mama mengandung adikku yang bungsu kami sudah mulai jarang kemari hingga akhirnya sudah lama kami tidak pernah lagi kemari. Hanya aku saja yang terkadang datang sendiri untuk menenangkan diri saat suntuk..."
"Hemmm... jadi sekarang kakak lagi merasa suntuk ya?" tanya Sadira sambil menatap Bara nakal.
"Tentu saja..."
Sadira langsung mendelik dan manyunkan bibirnya saat sang kekasih mengatakan suntuk ketika sedang bersamanya. Bara yang sengaja menggoda Sadira pun langsung mencubit ujung hidung kekasihnya itu.
"Aku memang suntuk karena kamu ga mau kenalin aku ke keluarga kamu sayaang..." ucapnya gemas.
"Ihh... kakak sakit..." rengek Sadira manja, yang membuat Bara semakin gemas.
Tanpa sadar Bara mengecup pipi gadis itu lagi. Ya ini kali kedua Bara melakukannya, setelah dulu sempat ditampar oleh Sadira setelahnya. Sadira terdiam menyadari ulah kekasihnya itu. Begitu pun Bara. Ia sadar sudah melakukan kesalahan lagi pada Sadira, dan dia telah siap dengan resikonya. Namun apa yang ia bayangkan tidak juga terjadi. Sadira tidak menamparnya seperti dulu. Gadis itu justru tertunduk malu, dengan kedua pipi yang terlihat merona.
Perlahan Bara mengangkat dagu Sadira dengan ujung jarinya agar gadis itu melihat kearah wajahnya. Sadira yang merasa malu tampak memejamkan matanya.
Sadira menggelengkan wajahnya pelan, membuat Bara semakin berani. Perlahan ia pun mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Sadira. Dapat Sadira rasakan nafas Bara yang hangat menerpa wajahnya. Perlahan Sadira mulai membuka mata dan wajah Bara sudah berada beberapa senti didepannya.
Deg... deg... deg...!
Jantung keduanya berdetak dengan sangat cepat. Baru kali ini keduanya dalam posisi seintim ini, meski mereka sudah sering berpelukan.
"Dira... bolehkan?" tanya Bara meminta izin pada Sadira yang dijawab dengan anggukan pelan dari kekasihnya itu.
Mendapatkan lampu hijau dari Sadira, Bara pun semakin mendekatkan wajahnya pada Sadira. Perlahan bibir Bara mengecup bibir Sadira singkat. Ya... hanya sepersekian detik saja bibir keduanya menyatu. Dan itu sukses membuat wajah keduanya merah padam. Sadira langsung kembali menundukkan wajahnya. Sedang Bara langsung kembali memeluk tubuh sang kekasih. Hanya kecupan singkat... namun itu sudah meyakinkan Bara jika Sadira sudah benar-benar menerimanya dan tidak marah atas perlakuannya tadi.
Untuk beberapa saat keduanya masih terdiam, berusaha menetralkan degub jantung mereka yang bertalu-talu. Tak ingin kebablasan karena terbawa suasana, Bara perlahan mengurai pelukannya.
"Kita pulang sekarang ya?" ajak Bara.
Sadira pun mengangguk setuju. Bibir gadis itu seakan masih terkunci akibat perlakuan Bara tadi padanya. Tak bisa dipungkiri jika Sadira juga menyukai ciuman Bara. Dan ia lebih bersyukur karena Bara sekarang mengajaknya pulang karena entah apa yang akan terjadi jika keduanya lebih berlama-lama ditempat itu. Bisa saja mereka melakukan hal yang lebih karena suasana yang sepi dan mendukung. Sebab jika ada dua orang manusia berlainan jenis pada tempat yang sama bukankah yang ketiganya adalah setan? dan tadi keduanya malah sudah mulai berciuman meski singkat.
Padahal selama ini Sadira sudah sangat menjaganya. Mereka berdua hanya saling bergandengan tangan dan berpelukan saja untuk menunjukkan kemesraan mereka. Tapi tadi... Sadira bahkan membiarkan Bara mencium bibirnya. Selama perjalanan pulang keduanya saling diam. Bukan sedang marahan, namun tak bisa dipungkiri jika kini fikiran keduanya terbayang dengan adegan ciuman singkat mereka tadi. Namun Bara lega karena ternyata Sadira sama sekali tidak marah padanya. Buktinya gadis itu masih tetap memeluk dirinya erat saat keduanya berboncengan.
Tak terasa keduanya sudah sampai didekat rumah Sadira. Bara pun menghentikan motornya dan Sadira turun dari boncengannya.
"Apa kita akan selalu begini Ra?" tanya Bara saat Sadira hendak berpamitan padanya.
"Aku masih takut kak..." sahut Sadira sambil meremas rok seragamnya.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Aku masih terlalu kecil untuk pacaran... mungkin saat ulang tahunku ke 17 aku baru akan berani mengatakannya..."
"Itu berarti dua tahun lagi?" tanya Bara dengan wajah frustasi.
"Salah... cuma satu tahun dua bulan lagi..." ralat Sadira sambil terkekeh.
"Eh?" Bara baru tersadar jika dua bulan lagi sang kekasih akan berulang tahun yang ke 16.
"Kalau begitu kamu ingin hadiah apa untuk ulang tahunmu?" tanya Bara.
"Ih... kakak, kan masih lama..."
"Ga pa-pa... mungkin saja kan kamu ingin hadiah yang mahal, jadi aku bisa mulai menabung dari sekarang..." sahut Bara yang langsung mendapat cubitan di perut dari Sadira.
"Auch... sakit yang..." ringis Bara sambil mengelus perutnya yang sedikit perih.
"Salah sendiri kenapa menganggapku seperti cewek matre yang suka barang mewah!" seru Sadira dengan wajah juteknya.
"Ya ga gitu yang... kan aku ingin memberikan hadiah yang berkesan untuk kamu..." bujuk Bara yang tak ingin sang kekasih merajuk.
"Aku ga minta hadiah yang aneh-aneh kak... cukup kakak ada disampingku saat hari ulang tahunku, itu adalah hadiah terbaik yang aku inginkan..."
"Kekasihku ini memang unik... aku jadi makin sayang..." ungkap Bara sambil memeluk tubuh Sadira tiba-tiba.
"Ih... kakak! nanti ada yang lihat bagaimana?" tolak Sadira yang langsung ketakutan atas kelakuan Bara yang berani memeluknya di tepi jalan.
"Maaf..." ucap Bara tulus sambil melepaskan pelukannya.
"Sudah... aku pulang dulu ya kak..." pamit Sadira.
"Iya... nanti malam aku telfon ya..."
"Iya..."
Sadira pun membalikkan tubuhnya dan melangkah ke arah rumahnya. Bara terus memperhatikan Sadira hingga gadis itu masuk ke dalam rumah. Setelahnya barulah Bara menyalakan motornya dan kembali ke rumahnya.
Malam harinya...
Di dalam kamar apartemennya, Ricko tengah memandangi foto Sadira. Sudah berkali-kali pemuda itu menciumi foto berukuran besar itu. Ya... Ricko seolah tengah melampiaskan rasa ketidak sukaannya kala tadi melihat kemesraan Sadira dan pemuda yang bersamanya.
"Apakah dia kekasihmu Dira?" tanyanya dengan penuh penekanan pada foto Sadira yang sedang tersenyum.
"Tidak-tidak... kau tidak boleh memiliki kekasih selain aku!" serunya sambil memandang tajam foto Sadira.
"Apa dia sudah menyentuhmu?" tanyanya lagi sambil mengusap dan mencium foto Sadira dibagian bibirnya.
"Kau tahu... hanya aku yang berhak memiliki dan menyentuhmu... pemuda s**l*n itu tidak berhak atas dirimu sama sekali! hanya aku! ya... hanya aku... ha... ha... ha..." tawa Ricko menggelegar keseluruh ruangan.
Tiba-tiba Ricko menangis sesenggukan sambil membelai foto Sadira.
"Kau tidak akan pernah meninggalkanku seperti mamakan sayang? ya... kau pasti begitu... karena kau adalah milikku... dan sebentar lagi kita akan bersama-sama selamanya..." ucapnya lembut.
Ricko membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur yang ada ditengah kamar itu. Pandangannya tertuju ke langit-langit ruangan. Disana juga terpampang foto Sadira yang tak kalah besar ukurannya. Ricko sengaja memasangnya agar saat akan tidur pun ia akan melihat wajah Sadira dihadapannya.
"Kamu milikku... hanya milikku... dan selamanya akan selalu begitu..." gumam Ricko sambil memejamkan matanya dan tertidur.
__ADS_1