BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Mimpi


__ADS_3

Sepeninggal suaminya Amira merasakan sunyi. Ia hanya bisa mengira-ngira karena kedua matanya yang tak bisa ia buka. Ia bisa merasakan jika kini ia seorang diri di ruangan itu. Ada rasa sedikit takut pada dirinya namun segera ia tepis. Ia tahu jika suaminya tak akan meninggalkannya lama. Namun tiba-tiba ia merasakan rasa kantuk walau sejak tadi matanya telah tertutup. Akhirnya ia pun tertidur.


Saat Amira terbangun ia bisa melihat jika ia berada di tempat tidur dalam kamarnya dulu saat bersama kedua orang tuanya. Bahkan ia berfikir jika kejadian yang selama ini dialaminya hanya mimpi belaka. Dengan tergesa ia segera bangun dari tempat tidurnya dan mencari kedua orangtuanya. Dicarinya keduanya di setiap sudut rumah namun tak bisa ditemukannya. Ada rasa aneh yang ia rasakan. Rumahnya terasa sedikit berbeda entah apanya. Saat ia sampai di halaman belakang ia sangat takjub dengan apa yang dilihatnya.


Tempat itu terlihat sangat asri. Jauh lebih indah dari yang terakhir diingatnya. Tampak ayah dan ibunya sedang berjalan kearahnya sambil tersenyum.


"Ayah... ibu...." panggilnya sambil berlari kearah mereka.


Amira langsung memeluk keduanya secara bergantian. Rasa rindunya selama ini seakan tersampaikan.


"Ayah... ibu... jangan tinggalkan Mira ...." ucapnya dalam pelukan sang ibu.


Ibunya hanya tersenyum dan mengelus rambut putrinya itu dengan lembut.


"Ayah dan ibu tidak pernah meninggalkanmu sayang..." ucap ayahnya.


Amira pun menegakkan kepalanya dan menoleh kearah ayahnya. Tampak wajah teduh yang selalu menjaganya dan membesarkannya itu sangat bercahaya begitu juga dengan wajah ibunya.


"Amira ingin selamanya seperti ini ... bersama ayah dan ibu..." ucapnya sambil meletakkan kepalanya dipangkuan ibunya.


"Jangan begitu sayang .... ada saatnya nanti kita akan kembali bersama, tapi tidak untuk sekarang" ucap ibunya lembut.


"Ayah dan ibu sangat menyayangimu dan akan selalu bersamamu... kau harus selalu ingat itu..." kata ayahnya.


Amira masih dapat merasakan sentuhan halus tangan kedua orangtuanya saat tiba-tiba sebuah sinar menyilaukan matanya dan tampak olehnya tubuh kedua orangtuanya perlahan menghilang.


"Ayah.... ibu....." teriak Amira sejadi-jadinya saat tubuh kedua orangtuanya itu benar-benar menghilang dari pandangannya dan meninggalkan dirinya seorang diri.


Saat itulah terdengar suara yang sangat dikenalnya dan sungguh sangat ia rindukan saat ini.


"Amira .... sadarlah sayang... jangan tinggalkan aku...." suara tuan Sam terdengar sangat memilukan.


Di ruang perawatan tampak para dokter dan perawat sedang berusaha untuk mengembalikan detak jantung Amira yang tadi tiba-tiba saja terhenti. Tuan Sam yang baru saja kembali dari musholla rumah sakit terkejut saat mendapati istrinya tak bernafas yang menyebabkan mesin monitor perawatan Amira berbunyi. Dengan cepat ditekannya tombol darurat untuk memanggil dokter yang merawat Amira. Tuan Sam yang langsung disuruh keluar agar dokter dapat leluasa melakukan tugasnya hanya bisa memandang dari kaca pintu ruang perawatan Amira. Bibirnya selalu bergumam memanggil istrinya agar dapat bertahan dan tak meninggalkan dirinya. Lukas yang baru saja tiba pun terkejut mengetahui keadaan Amira yang kritis.


"Sebenarnya apa yang terjadi tuan?" tanyanya. Tuan Sam hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan wajah kusut.


Tak lama terlihat tuan Bram datang.


"Ada apa kak?" tanyanya saat melihat tuan Sam dan Lukas berdiri didepan ruang perawatan Amira.


"Amira tiba-tiba tak bernafas Bram..." ucap tuan Sam dengan suara yang bergetar.


Tuan Bram langsung memeluk kakak iparnya itu.


"Tenanglah kak... semoga dokter bisa menyelamatkannya..." kata tuan Bram berusaha menenangkan.


Saat itulah pintu ruang perawatan Amira terbuka dan tampak dokter yang menangani Amira keluar dengan wajah lelah.


"Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya tuan Sam.


"Alhamdulillah tuan.... istri tuan sekarang sudah dalam keadaan stabil" ucap dokter tersebut.


Ketiga orang pria yang sedari tadi cemas itu pun akhirnya bisa bernafas lega.

__ADS_1


"Alhamdulillah... terima kasih dokter..." kata tuan Sam.


"Sama-sama tuan ...."


"Apa saya sudah bisa menjenguk istri saya?"


"Sudah tuan ... tapi hanya satu orang saja agar tidak mengganggu pasien"


"Terima kasih dok..."


"Iya ... kalau begitu saya permisi dulu..." lalu dokter itu pun berlalu.


"Aku menengok Amira dulu ya..." ucap tuan Sam pada tuan Bram dan juga Lukas.


Keduanya pun mengangguk mempersilahkan tuan Sam untuk menemui istrinya. Setelah tuan Sam masuk ke ruang perawatan Amira keduanya pun duduk bersebelahan di bangku depan ruangan perawatan Amiran.


"Bagaimana dengan anak-anak tuan?" tanya Lukas.


"Mereka sedikit syok saat Sarah menjelaskan keadaan Amira yang sebenarnya karena tidak mungkin kami menutupinya sedang mereka telah tahu terlebih dulu karena berita di televisi" terang tuan Bram sambil mendesah kasar.


Tampak sekali jika ia sedang menyalahkan dirinya sendiri.


"Jangan terus menyalahkan dirimu sendiri tuan... semuanya terjadi karena takdir..." kata Lukas yang memahami fikiran tuan Bram.


"Terkadang kita harus melakukan kesalahan terlebih dahulu agar bisa menjadi lebih baik lagi..." sambungnya.


Tuan Bram hanya terdiam. Sementara tuan Sam tengah duduk disamping brankar Amira.


"Jangan buat aku takut seperti tadi lagi Ra..." ucapnya sambil membelai wajah pucat Amira.


Tuan Sam berharap agar Amira kembali memberikan respon atas semua perkataannya walau hanya sedikit. Sudah satu minggu Amira di rawat dan selama ini kondisinya masih tetap sama setelah sempat kritis. Dengan telaten tuan Sam menemani Amira di rumah sakit. Bahkan dia sendiri yang selalu membersihkan tubuh Amira tiap pagi dan sore hari. Pagi ini seperti biasa tuan Sam membersihkan tubuh istrinya. Dengan lembut diusapkannya handuk basah pada tubuh Amira. Saat tiba di bekas luka tembak Amira, tuan Sam kembali tercenung. Di sentuhnya lembut bekas luka yang masih tertutup kain kassa itu. Itu adalah salah satu bukti cinta Amira padanya. Rela mengorbankan nyawa untuknya. Tuan Sam mendesah pelan sambil kembali melanjutkan kegiatannya. Rasanya perih saat tubuh yang disentuhnya itu sama sekali tak bereaksi.


"Padahal dulu kau tak suka jika aku sembarangan menyentuhmu Ra..." gumamnya sambil menyeka punggung Amira lembut.


"Kapan kau akan bangun dari tidur panjangmu Ra?" ucap tuan Sam lembut sambil menyisir rambut Amira.


Tampak beberapa bagian yang tidak rata akibat bekas operasi pada kepalanya.


Sekali lagi hati tuan Sam terasa teriris. Banyak luka yang ditanggung oleh istrinya itu. Ia berjanji jika nanti Amira sadar ia akan membuatnya selalu bahagia. Tak akan ia biarkan satu tetes pun air mata keluar dari kedua matanya kecuali air mata bahagia. Baru saja ia selesai memakaikan hijab instan di kepala Amira terdengar suara ketukan di pintu ruang perawatan Amira.


"Masuk..." ucapnya.


Pintu itu pun dibuka dari luar. Tampak nyonya Sarah datang bersama bu Wati.


"Kakak... bagaimana keadaannya?" tanya nyonya Sarah.


"Masih sama Sar...." ucap tuan Sam lesu.


"Yang sabar ya tuan..." ujar bu Wati.


Tuan Sam pun mengangguk pelan.


"Kak nanti aku akan bawa anak-anak untuk menjenguk semoga saja bisa membuat Amira cepat sadar..." ucap Sarah.

__ADS_1


"Semoga saja..." balas tuan Sam.


Ia akan melakukan segala cara agar Amira cepat sadar. Dan mungkin dengan kehadiran kedua keponakannya itu bisa memberikan secercah harapan bagi kesembuhan Amira.


Dan sejak itu sepulang sekolah kedua anak nyonya Sarah selalu mengunjungi Amira dan berusaha merangsang Amira dengan celotehan mereka. Tuan Sam pun mulai kembali bekerja walau demikian ia tetap telaten merawat Amira. Bahkan rumah sakit sudah seperti rumahnya karena setiap hari ia disana dan bahkan tidur disamping brankar Amira setiap malam. Seperti hari ini setelah melaksanakan sholat isya' dan bersiap untuk tidur seperti biasa ia mengajak Amira ngobrol dan menceritakan semua yang ia alami seharian ini. Walaupun selama ini belum ada respon dari Amira.


Hingga tak terasa ia pun tertidur sambil duduk dikursi disamping brankar Amira dengan kepala yang menyandar di samping tubuh Amira. Salah satu tangannya masih menggenggam sebelah tangan Amira. Entah sudah berapa lama ia tertidur saat ia merasakan sentuhan lembut di kepalanya. Dengan keadaan yang masih setengah sadar ia pun mengangkat kepalanya dan membuka matanya perlahan.


Seketika matanya langsung terbuka lebar saat dilihatnya Amira yang tersenyum padanya dan tangan Amira yang masih terangkat karena baru saja menyentuh kepalanya. Digenggamnya tangan Amira dengan kedua tangannya dan diletakkannya di pipinya untuk merasakan sentuhan Amira.


"Kau sudah sadar Meyaa..." ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca.


Amira mengangguk pelan. Ingin rasanya Amira mengucapkan kata-kata namun tenggorokannya terasa tercekat. Dengan cepat tuan Sam menekan tombol untuk memanggil dokter ke ruangan Amira. Tak lama dokter pun datang dan segera memeriksa keadaan Amira.


"Syukurlah nyonya sudah sadar dan kondisinya sudah semakin stabil hingga tidak lagi memerlukan alat bantu pernafasan..." terang dokter yang merawat Amira.


Tuan Sam pun merasa sangat lega penantiannya tak sia-sia kini istrinya itu telah sadar.


Amira yang masih merasa lemah hanya bisa tersenyum saat suaminya itu tak henti-hentinya mengucapkan syukur karena ia sudah sadar. Setelah dokter dan perawatnya meninggalkan kamar perawatan Amira, tuan Sam langsung memeluk dan menciumi kepala istrinya itu.


"Kau tahu ini seperti mimpi yang jadi kenyataan Ra..." ucapnya setelah puas memeluk dan mencium Amira.


"Apa ... aku ... tidur... lamaa?" tanya Amira terbata.


"Sudah lebih dari sebulan sayang..." jawab tuan Sam sambil mengelus kepala Amira.


"Maaf.... sudah ... membuatmu... khawatir" sambung Amira.


Tuan Sam langsung menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Apa kau haus?" tanya tuan Sam.


Amira pun mengangguk. Dengan segera tuan Sam mengambilkan air minum untuk Amira dan membantu Amira untuk minum. Setelah membasahi tenggorokannya Amira merasa sedikit segar. Tuan Sam lalu duduk disamping Amira dan kembali memeluk tubuh Amira.


"Kau tidur lama sekali sayang... apa saja yang kau impikan hingga kau betah berlama-lama?" tanya tuan Sam sedikit bercanda.


"Aku bertemu ayah dan ibu..." ungkap Amira.


Tuan Sam tercekat dan memandang wajah istrinya dalam.


"Mereka bilang waktuku belum tiba untuk bersama mereka..." terang Amira.


"Jadi kau melupakanku?" tanya tuan Sam.


Amira menggelengkan kepalanya.


"Aku fikir kebersamaan kita hanya mimpi .... mimpi yang terlalu indah untuk jadi kenyataan..." ungkap Amira.


"Itu bukan mimpi sayang... " ucap tuan Sam kembali memeluk tubuh istrinya erat.


"Aku masih belum percaya jika kau sudah menjadi suamiku..." ungkap Amira.


"Percayalah..." ujar tuan Sam sambil mengecup bibir Amira sekilas.

__ADS_1


"Kau ...." ucap Amira setelah tersadar dengan perbuatan tuan Sam barusan.


"Bukankah sekarang kita sudah halal?" kata tuan Sam sambil terseyum nakal.


__ADS_2