BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Rencana Sempurna


__ADS_3

Saat Amira dan Kartika tengah berusaha menuruni tangga darurat tiba-tiba saja mereka merasakan jika dinding apartemen mulai miring dan anak tangga yang mereka pijak pun ikut terseret membuat kedua wanita itu terpelanting ke samping tangga. Amira yang sempat berpegangan pada pegangan tangga bisa menyelamatkan tubuhnya.


"Aaa...." teriak Kartika yang ternyata sudah bergelantungan di besi pegangan tangga.


Ternyata tubuh Kartika sempat terlempar keluar dari tangga namun tangannya sempat meraih besi pegangan tangga sebelum tubuhnya meluncur bebas ke bawah.


"Kartika!" seru Amira sambil berusaha mendekat kearah temannya itu.


Meski gedung apartemen itu masih bergerak runtuh Amira tetap berusaha menolong Karina dengan meraih tangan wanita itu dan berusaha menariknya kembali ke atas anak tangga.


"Ayo Tika berusahalah!" seru Amira pada Kartika.


Wajah Kartika sudah pucat dan bersimbah air mata. Namun demi mendengar seruan Amira ia pun berusaha untuk menarik dirinya keatas. Kartika merasakan tubuhnya lemas tak bertenaga karena ketakutan.


"Ayo Tika... jangan menyerah!" seru Amira lagi sambil berusaha menarik tubuh Kartika dengan sekuat tenaga.


Amira tahu waktunya tidak banyak karena gedung itu sudah terlalu miring dan bisa saja langsung roboh sewaktu-waktu. Ia dan Kartika harus mencari tempat aman agar mereka bisa selamat. Dengan mengerahkan seluruh tenaganya yang tersisa Amira menarik tubuh Kartika dengan keras dan akhirnya ia berhasil mengangkat Kartika hingga sebagian tubuh wanita itu sudah berada di anak tangga. Setelah itu Kartika dapat dengan mudah menarik sisa tubuhnya ke anak tangga. Setelah berhasil keduanya langsung membuka pintu darurat yang berada di samping tangga. Karena untuk terus turun ke bawah melewati tangga rasanya tidak mungkin karena dari atas puing-puing tangga dari lantai atas sudah mulai berjatuhan.


Saat mereka masuk ke dalam ruangan tangga yang berada di belakang mereka langsung roboh. Suara dentuman memekakkan telinga keduanya saat tangga darurat itu meluncur ke bawah. Amira tak menoleh ke belakang ia fokus menatap ke depan. Sedang Kartika hanya bisa pasrah mengikuti langkah Amira. Karena fikirannya masih kosong akibat trauma tadi. Keduanya berjalan cepat menyusuri lorong di depan barisan apartemen yang sudah kosong. Kini keduanya berusaha mencari tempat aman bagi mereka. Amira berusaha membuka pintu salah satu apartemen namun gagal karena harus menggunakan kartu ID dan juga password. Tak mau menyerah Amira terus mencoba membuka setiap pintu apartemen yang ditemuinya. Hingga akhirnya ia berhasil menemukan salah satu pintu apartemen yang tidak terkunci.


Dengan segera Amira mengajak Kartika untuk masuk ke dalam. Sesampainya di dalam ia segera mencari jendela untuk bisa keluar dari gedung. Saat menemukan apa yang dicarinya Amira langsung mencoba membukanya dan berusaha keluar lewat sana. Namun langkah terhenti saat melihat apa yang terjadi di luar. Keduanya kini berada diatas ketinggian yang tidak memungkinkan untuk ia dan Kartika turun lewat sana. Sementara Kartika yang berada di belakang Amira terlihat bak zombie yang berjalan dengan tatapan kosong. Tampak sekali jika ia tengah syok dengan kejadian yang sedang menimpanya.


"Kita kembali ke dalam saja Tik..." kata Amira yang langsung terpotong karena tiba-tiba tempat yang mereka pijaki langsung roboh ke samping membuat Amira dan Kartika terseret dan membentur ke dinding apartemen.


"Aarrgghh..." teriak keduanya merasakan sakit di tubuhnya saat tubuh keduanya membentur dinding.


Baru saja keduanya membetulkan posisi mereka dan duduk bersandar di dinding tiba-tiba atap apartemen diatas mereka runtuh dan menimpa tubuh keduanya. Amira dan Kartika hanya bisa memejamkan mata dan pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Sekilas Amira seperti melihat kenangannya bersama keluarga kecilnya terutama tuan Sam.

__ADS_1


"Maafkan aku B... aku tidak bisa lagi menemanimu untuk membesarkan anak-anak..." batin Amira.


Air matanya menetes mengingat kedua putra kembarnya yang masih sangat membutuhkan dirinya.


"Maafkan bunda sayang... bunda sudah berusaha tapi Allah punya rencana lain untuk kita..." ucap Amira dalam hati sambil memeluk lututnya sendiri dan membayangkan wajah orang-orang yang sangat dicintainya itu berada di sampingnya.


Sementara Kartika yang berada di samping Amira juga merasakan akhir dari hidupnya. Kilasan masa lalu membayang di pelupuk matanya. Kejadian demi kejadian terlihat jelas dalam pandangannya. Ada rasa bersalah yang kini timbul di dalam hatinya.


"Maafkan aku Amira..." gumamnya lirih dengan deraian air mata.


Sementara di luar gedung polisi sudah memberikan pernyataan mengenai siapa yang diduga bertanggung jawab atas pengeboman pada gedung apartemen itu. Sesuai dengan pola yang terlihat saat kejadian pihak kepolisian sampai pada kesimpulan jika ******* dari Irlandia Utara lah yang diduga bertanggung jawab meski sampai saat ini belum ada pihak yang mau mengaku bertanggung jawab termasuk dari kelompok yang mereka curigai tersebut.


Di tempat lain...


Dari dalam sebuah apartemen yang berada tepat di depan lokasi pengeboman tampak seorang pria tengah tertawa senang sambil melihat pengumuman dari pihak kepolisian mengenai hasil penyelidikan mereka di televisi.


"Dasar polisi b*d*h! mereka bisa dikelabuhi dengan begitu mudahnya... ha... ha... ha... akhirnya setelah penantian yang panjang akhirnya wanita b***g**k itu pasti sudah menemui Tuhan nya..." serunya dengan gembira sambil menyesap segelas wine yang ada di tangannya.


"Jadi mari kita rayakan kemenangan kita ini sayang..." ucapnya lagi sambil mengangkat gelasnya kearah foto itu dan tersenyum lebar.


Lalu dalam satu tegukan ia menghabiskan wine yang ada di dalam gelas ditangannya. Setelah itu ia pun melangkah ke arah jendela dan menatap puing-puing gedung apartemen yang sudah rata dengan tanah. Senyumnya terus mengembang... ya rasa dendamnya sudah terbalaskan meski harus mengorbankan puluhan nyawa orang yang tak bersalah akibat ulahnya.


Kemudian ia langsung mengambil ponselnya dari dalam saku celana dan langsung menghubungi anak buahnya.


"Iya tuan Castillo..."


"Siapkan pesawat untukku... aku harus segera pergi dari negara ini sebelum polisi mengetahui yang sebenarnya!"

__ADS_1


"Baik tuan..." sahut anak buahnya diseberang patuh.


Castillo pun langsung mematikan ponselnya dan kembali menatap ke arah gedung apartemen yang roboh. Melihat keadaan gedung apartemen yang sudah rata dengan tanah membuat Castillo senang seolah sedang memandang piala kemenangannya atas kematian Amira. Ya sebelum meledakkan gedung itu ia sudah memastikan jika Amira sudah meminum obat yang diberikan oleh anak buahnya yang sebenarnya adalah racun yang ia dapatkan khusus untuk menghabisi musuh-musuhnya tanpa terdeteksi.


Mengapa ia harus meledakkan gedung apartemen itu jika ia tahu Amira mati karena meminum racun dari anak buahnya? jawabannya adalah agar semua yang mengetahui rencananya ikut mati termasuk anak buahnya yang membawa racun itu. Dan pastinya hanya ******* yang akan disalahkan atas pengeboman yang terjadi. Dan dia akan dapat melenggang dengan bebas dari negara itu menuju tempat persembunyiannya yang sebenarnya sambil menunggu adiknya yang akan ia bebaskan juga dari dalam penjara.


Kartika...


Ya... Kartika adalah orang yang ia suruh untuk mendekati Amira dan memberikan racun padanya. Mengapa Lukas tidak dapat menemukan rekam jejak Kartika yang berhubungan dengan Castillo? Karena Kartika juga tidak tahu siapa Castillo yang sebenarnya. Ia hanya wanita lugu yang terpedaya dengan jeratan cinta yang di rancang oleh Castillo agar wanita itu mau menuruti kemauannya dengan suka rela. Bahkan Castillo membuat Kartika membenci Amira pada awalnya dengan mengatakan jika wanita itu telah mengambil kekasih adiknya dan menjebaknya hingga adiknya itu masuk penjara.


Awalnya Kartika memang membenci Amira dan dengan suka rela membantu Castillo untuk mendekati Amira. Namun seiring berjalannya waktu Kartika yang merupakan wanita cerdas dapat merasakan ketulusan sikap Amira yang membuat wanita itu akhirnya mempertanyakan kebenaran perkataan Castillo tentang Amira. Namun bukan Castillo namanya jika ia tidak bisa membuat Kartika menuruti kemauannya. Ia pun mengancam wanita itu akan menyebarkan foto tidak senonohnya saat berhubungan dengan Castillo sehingga wanita itu pun akhirnya pasrah dan mau mengikuti kemauan Castillo.


Sementara di hotel tuan Sam tengah memandangi wajah kedua putra kembarnya yang tengah tertidur pulas. Meski sebelumnya ia harus berbohong dengan mengatakan jika Amira sedang sakit hingga harus berada di rumah sakit agar kedua putranya itu tak terus mencari ibu mereka. Dan setelah berjanji jika keduanya akan diajak menjenguk Amira barulah kedua bocah itu mau untuk tidur. Memandang wajah kedua putranya mengingatkannya pada Amira meski keduanya lebih mirip dengannya namun tetap saja ada garis Amira disana.


"Kamu dimana Meyaa... apa kau baik-baik saja?" batin tuan Sam dengan air mata yang sudah meleleh dan dengan segera dihapusnya dengan punggung tangannya.


Tuan Sam langsung teringat dengan cincin Amira yang terdapat GPS di dalamnya. Segera ia menghubungi Lukas untuk mencari Amira dengan bantuan dari GPS itu. Tak lama Lukas pun datang ke kamar tuan Sam. Keduanya pun langsung duduk di sofa yang ada di sudut kamar. Tanpa menunggu perintah dari tuan Sam, Lukas langsung menyalakan laptopnya dan mencari keberadaan Amira melalui sinyal GPS pada cincinnya.


Tak butuh waktu lama sinyal GPS dari cincin Amira dapat tertangkap oleh Lukas. Namun hal itu bukanlah kabar baik bagi keduanya. Karena dari sinyal itu dapat diketahui jika Amira masih berada di dalam gedung apartemen itu. Meski lokasinya mungkin sangat sulit untuk dijangkau sebab sinyal yang berhasil ditangkap cukup lemah. Menandakan jika lokasi Amira sudah berada jauh didalam timbunan reruntuhan gedung apartemen.


Meski tanpa berkata apa-apa keduanya sadar jika kemungkinan Amira dapat selamat sangatlah kecil. Namun meski begitu tuan Sam tidak mau menyerah. Lebih baik ia menghadapi situasi terburuk yaitu melihat mayat istrinya dari pada ia harus terus mereka-reka tanpa tahu kepastiannya tentang nasib Amira.


"Lukas siapkan tim penyelamat dari kita! aku akan mencari istriku sendiri..." titah tuan Sam.


Tanpa membantah Lukas langsung melaksanakan perintah tuannya dan langsung menghubungi orang-orang kepercayaannya yang sudah sangat ahli dalam misi penyelamatan. Malam itu juga tuan Sam memimpin rapat mengenai rencana penyelamatan yang akan mereka lakukan secara online. Sebab tuan Sam ingin besok pagi seluruh timnya sudah siap bergerak begitu mereka tiba di lokasi reruntuhan.


Lukas juga sudah melakukan negosiasi dengan tim penyelamat yang sudah dibentuk oleh pemerintah agar apa yang akan mereka lakukan tidak disalah artikan oleh pemerintah sehingga mereka dapat bekerja sama dalam menolong korban yang masih selamat dan tertimbun dibawah puing-puing gedung apartemen. Selesai dengan rapat onlinenya tuan Sam pun merebahkan tubuhnya disamping kedua putra kembarnya setelah Lukas keluar dari dalam kamar.

__ADS_1


Dengan memaksakan diri tuan Sam berusaha untuk tidur. Ia sadar jika besok pagi ia memerlukan tenaga yang banyak dalam misi pencariannya.


"Bertahanlah Meyaa... aku akan segera menyelamatkanmu..." batin tuan Sam sambil memejamkan kedua matanya.


__ADS_2