
Nun jauh di seberang benua tampak seorang pria tengah bersiap di bandara. Sedari tadi ia tersenyum senang saat melihat vidio yang dikirimkan oleh seseorang kepadanya. Tak dapat di pungkiri jika diantara rasa bahagia itu terselip rasa duka saat menyadari jika orang yang berada di dalam vidio itu nanti mungkin tidak akan lagi mengenalinya.
"Kenapa kau jadi begini Pik? aku akui kau memiliki jiwa penyintas yang kuat... tapi melihat kau tidak dapat mengingat semua masa lalu kita aku jadi merasa sedih..." batin pria itu dengan wajah sendu.
"Tuan... pesawat tuan telah siap..." lapor Rudi pada Raja.
"Baiklah..." sahut Raja sambil menghembuskan nafasnya lalu berjalan ke arah pesawat yang akan ditumpanginya.
"Semoga saja dengan kehadiranku kau bisa cepat mendapatkan ingatanmu kembali Pik..." batin Raja sambil memandangi foto Amira yang ada di dalam galeri ponselnya.
Raja memang telah menjalani masa hukumannya di Amerika. Jika terlihat terlalu ringan masa hukuman Jimmy atau Raja itu karena ia bersedia menjadi saksi dan menyerahkan segala bukti kejahatan Castillo dulu pada pemerintah. Sehingga ia mendapatkan keringanan hukuman dan juga fasilitas perlindungan saksi yang membuatnya mendapatkan identitas baru. Untung saja sebelum penangkapannya ia telah memiliki usaha yang legal atas nama Raja sehingga ia masih memiliki kekayaan saat mendapatkan identitas barunya. Dan usaha barunya itu sama sekali tidak tersentuh karena benar-benar legal dan sama sekali tak berhubungan dengan dunia hitam.
Rudi yang menjadi orang kepercayaannya pun mengikuti jejak tuannya meninggalkan dunia hitam. Dan ia masih setia mengabdi pada Raja begitu juga dengan sebagian anak buahnya yang lain. Seperti janjinya semula Raja sama sekali tidak menyebutkan nama-nama anak buahnya yang lain yang masih menggeluti dunia hitam. Bukan ia tak ingin mengakhiri kejahatan namun ia masih memegang janjinya sebab mereka telah mengabdi padanya sekian tahun dengan setia. Hingga ia membebaskan setiap pilihan hidup mereka tanpa mengganggunya sebagai bentuk balas jasa.
Sementara di London...
Amira yang masih penasaran dengan orang yang ingin menemuinya tengah mencoba membujuk tuan Sam untuk memberitahunya siapa orang itu. Meski begitu tetap saja tuan Sam tak mau memberitahukannya pada Amira.
"Sudahlah Ra... besok kan kamu juga akan bertemu dengannya..." ujar Sandra menenangkan Amira.
"Hemmm... tapi aku sungguh sangat penasaran San San..." sahut Amira sedikit merajuk.
Tapi ia akhirnya hanya bisa pasrah dan memilih untuk tidur di dalam kamar. Tuan Sam dan yang lainnya pun tampak tersenyum dan menggelengkan kepala mereka saat melihat sisi Amira yang lain saat ini. Sungguh sikapnya saat ini lebih mirip dengan anak kecil. Tapi mereka pun maklum karena mungkin saja ini karena hormon kehamilannya.
Sementara di tempat lain tampak Kartika tengah sibuk dengan fikirannya. Otaknya seakan akan meledak karena sejak tadi memikirkan cara untuk menyingkirkan Amira tanpa mengotori tangannya. Sejenak terlintas ide di kepalanya yang membuat perempuan itu tersenyum licik. Dengan segera ia meraih ponselnya dan segera menghubungi seseorang yang akan ia minta bantuannya untuk menyingkirkan Amira. Setelah berhasil menghubungi orang itu dan mengutarakan rencananya ia pun kembali tersenyum setelah mematikan sambungan telfonnya.
"Kita lihat saja Amira... sampai dimana keberuntungan itu akan selalu menyertaimu..." gumam Kartika.
Setelah itu ia pun bersiap untuk tidur. Sepertinya malam ini ia akan tidur nyenyak dan memimpikan tuan Sam didalamnya.
Pagi hari...
Amira tampak telah melupakan rasa penasarannya pada seseorang yang akan menemuinya hari ini. Sejak selesai menunaikan sholat subuh ia telah berkutat di dapur. Bukan tanpa alasan karena ia tiba-tiba sangat ingin sarapan dengan menu sayur asem. Setelah mengeluarkan semua bahan yang kebetulan sudah ada di dalam kulkas Amira pun mulai mengeksekusinya.
__ADS_1
Tuan Sam yang memperhatikan kegiatan Amira pun hanya bisa menyaksikan saja karena Amira sama sekali tidak ingin dibantu. Setelah hampir satu jam lamanya ia berhasil menghidangkan menu sayur asem dengan beberapa pendamping. Untung saja saat nyonya Sarah datang Amira sempat berbelanja dengannya di toko khusus yang menyediakan bahan makanan dari Asia termasuk Indo.
"Wah... berasa ada di kampung ini..." celetuk nyonya Sarah gembira saat melihat menu sarapan yang dihidangkan Amira.
"Kakak suka?" tanya Amira.
"Tentu saja... sebab aku sudah kangen dengan masakan Indo walau baru beberapa hari di sini..." terang nyonya Sarah.
Amira pun senang karena ternyata semua orang tidak mempermasalahkan menu sarapan yang biasanya di Indo dihidangkan untuk menu makan siang.
Saat mereka baru saja hendak mulai makan tiba-tiba terdengar bunyi bel pintu yang membuat tuan Sam langsung berdiri dari duduknya untuk membukakan pintu. Amira yang penasaran dengan tamu yang datang pagi-pagi ke tempat tinggal mereka pun mengikuti langkah suaminya.
"Assalamualaikum..." sapa seseorang yang tengah berdiri di depan pintu saat tuan Sam membukakan pintu.
"Waalaikum salam..." jawab tuan Sam berbarengan dengan Amira.
Amira memandang pria yang tengah berdiri di ambang pintu. Entah mengapa ia merasa jika ia telah mengenal pria itu sebelumnya. Namun Amira tak dapat mengingat dimana...
"Terima kasih... hai Ra... apa kau mengingatku?" tanya Raja pada Amira.
Amira masih terpaku dan berusaha mengingat siapa orang yang ada dihadapannya itu.
"Jika kau belum mengingat tidak apa-apa... perkenalkan aku Raja..." ucap Raja saat melihat ekspresi Amira yang tengah berusaha mengingat sesuatu.
"Eum... maaf..." sahut Amira saat ia tak juga dapat mengingat Raja.
"Ayo... lebih baik kita masuk ke dalam... sekalian kita sarapan bersama..." kata tuan Sam.
Mereka pun kemudian menuju ruang makan dimana semua orang sudah berkumpul disana. Setelah sedikit perkenalan karena Dave belum mengenal Raja... begitu juga dengan si kembar dan juga Ara, mereka pun melanjutkan sarapan mereka.
"Jadi sampai sekarang Amira belum juga mengingat masa lalunya?" tanya Raja pada tuan Sam saat para pria berkumpul di ruang keluarga.
"Tidak juga... sebab sedikit demi sedikit ia mulai mengingatnya meski masih belum jelas..." sahut tuan Sam.
__ADS_1
"Yah semoga dengan kedatanganmu kemari bisa membantunya mengingat masa lalunya..." sambungnya.
Semua yang ada disana pun mengangguk. Sementara para wanita tampak asyik bercengkrama di tepi kolam renang. Sedangkan anak-anak berenang di bagian kolam yang tidak terlalu dalam. Setelah puas bermain air para bocah langsung merengek untuk diajak pergi berjalan-jalan di mall. Meski sudah dilarang karena para ibu takut jika mereka kelelahan namun tetap saja mereka tak mau mengalah. Akhirnya mereka semua pun pergi ke mall.
Melihat rombongan mereka sudah seperti melihat rombongan karya wisata. Anak- anak langsung berhamburan menuju tempat favorit mereka di mall tersebut apalagi jika bukan area bermain anak. Para pria pun tampak kerepotan meski setiap orang hanya menjaga satu orang anak. Hanya Anna dan Ara yang terlihat tenang dengan memilih bermain di kolam bola dan diawasi oleh nyonya Sarah.
"Eh Ra bagaimana kalau kita belanja kebutuhan di rumah? mumpung anak-anak ada yang jaga..." usul Sandra.
"Tapi bagaimana dengan kak Sarah? masak dia ditinggal sendiri mengawasi Anna dan Ara..."
"Anna dan Ara ikut kita... toh keduanya anteng..." usul Sandra.
Jadilah ketiganya berbelanja bersama sambil membawa Ara yang ditempatkan ditroli sedang Anna berjalan bersama mereka. Sesekali gadis kecil itu ikut memasukkan barang yang akan dibeli ke dalam troli.
"Kak aku mau ke toilet dulu sebentar..." pamit Amira pada nyonya Sarah yang ada disampingnya sedangkan Sandra tengah memilih buah di seberang mereka.
"Iya... hati-hati ya Ra..."
"Iya kak..." sahut Amira lalu segera pergi ke toilet yang berada tak jauh dari tempat mereka berbelanja.
Setelah membuang hajatnya Amira pun segera keluar dari dalam toilet karena tak ingin membuat semua orang menunggunya. Tapi baru saja ia akan melangkah keluar dari dalam toilet tiba-tiba ada tangan seseorang yang membekapnya dari belakang dengan sapu tangan yang telah diberi obat bius. Amira yang sama sekali tak menyangka langsung terkulai lemas akibat efek obat bius. Dengan segera rekan orang itu pun membantu memapah tubuh Amira dan meletakkannya di kursi roda yang sudah mereka siapkan.
Dengan cepat salah satu dari mereka menutupi wajah Amira dengan masker. Lalu mereka pun keluar dari dalam toilet dan membawa Amira keluar dari dalam mall. Tak lupa mereka menutupi tubuh Amira dengan jaket agar terlihat jika Amira tengah sakit. Sesampainya di luar mall mereka langsung mendorong kursi roda yang membawa Amira ke mobil yang juga telah mereka siapkan dan langsung memasukkan tubuh Amira ke dalamnya. Setelah itu mereka pun langsung tancap gas meninggalkan parkiran mall.
Sudah tiga puluh menit nyonya Sarah dan Sandra menunggu Amira kembali dari toilet namun batang hidung wanita itu tidak tampak juga. Nyonya Sarah pun menjadi panik ia teringat dengan kejadian penculikan dirinya dulu. Ia langsung menghubungi tuan Sam dan menceritakan semuanya. Segera terjadi kepanikan yang luar biasa karena segera tuan Sam melapor pada sekuriti di sana tentang menghilangnya Amira dan meminta diperbolehkan untuk melihat rekaman cctv yang ada disana.
Saat memeriksa cctv di depan toilet terlihat jika Amira memang masuk ke dalam sana. Namun sejak itu ia tidak pernah lagi terlihat keluar dari dalam sana. Setelah meneliti setiap orang yang keluar dari dalam toilet setelah Amira masuk mereka semua melihat jika ada dua orang mencurigakan mendorong kursi roda dari dalam toilet dengan seseorang yang duduk diatasnya. Tampak seseorang yang duduk itu seperti tengah tertidur. Namun wajah dan pakaianya tidak terlihat jelas karena tertutup masker dan juga jaket.
Hanya celana kulot dengan warna navy yang dapat dikenali oleh tuan Sam. Ya ia ingat betul jika istrinya itu mengenakannya tadi saat keluar dari tempat tinggal mereka. Segera tuan Sam meminta petugas pengawas untuk menunjukkan rekaman kemana ketiga orang itu pergi. Dan dari kamera cctv yang adaa di setiap sudut mall itu mereka dapat mengetahui jika Amira dibawa keluar dari mall tersebut dengan menggunakan mobil.
Tuan Sam langsung menghubungi Lukas untuk segera melacak keberadaan melalui sinyal GPS. Tuan Sam sedikit merasa lega pasalnya ia sudah memasangkan cicin Amira di jari manis istrinya itu. Setelah itu tuan Sam pun menyuruh tuan Bram untuk mengantar nyonya Sarah dan yang lainnya pulang. Sementara dirinya dan Dave serta Raja akan melacak keberadaan Amira.
Tak lama Lukas datang dan menunjukkan dimana sinyal GPS Amira berada. Setelah itu mereka berempat pun segera berangkat untuk mencari keberadaam Amira. Sementara Amira yang kini tengah tertidur pulas langsung dibawa oleh para penculiknya dan dimasukkan dalam sebuah ruangan dan membiarkan Amira tetap terduduk diatas kursi roda dan mengikatnya.
__ADS_1