BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Mendapat Izin


__ADS_3

Nyonya Sarah menatap Raja seolah bertanya mengapa pria itu bisa mengantarkan putrinya pulang. Raja yang faham dengan pemikiran nyonya Sarah pun menjelaskan pertemuannya dengan Anna di jalan. Raja meminta maaf sudah membuat nyonya Sarah khawatir dan memberi alasan jika ia tadi bertemu Anna yang sedang bersama temannya dan mengajaknya ke mall sebentar sebelum mengantarnya pulang. Raja juga beralasan jika ponselnya dan ponsel Anna sama-sama kehabisan daya sehingga tidak bisa menghubungi nyonya Sarah terlebih dahulu.


Mendengar penjelasan Raja, nyonya Sarah pun merasa lega. Ia bahkan mengajak Raja untuk makan malam di rumahnya sebagai ucapan terima kasih. Raja pun tidak menolaknya. Sejak hari itu Raja pun menyuruh anak buahnya untuk mencaritahu jadwal latihan Anna agar ia bisa menjemput gadis kecil itu saat pulang. Anna pun mengucapkan berterima kasih pada Raja yang belum mengatakan yang sebenarnya pada kedua orangtuanya dan mau menjemputnya dari latihan.


"Anna... Om rasa sekarang saatnya kamu berterus terang pada orangtua kamu..." kata Raja suatu hari saat ia menjemput gadis dua belas tahun itu dari latihannya.


Mendengar ucapan Omnya membuat Anna terkejut. Pasalnya ia belum siap mengatakan yang sebenarnya pada kedua orangtuanya terutama mamanya. Melihat wajah Anna yang masih ragu untuk berbicara pada kedua orangtuanya membuat Raja melanjutkan perkataannya.


"Bukankah sebentar lagi kau akan lulus dan melanjutkan sekolahmu?"


Anna menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Itu berarti kamu sudah bertambah besar... Om rasa mama kamu pun akan bisa mengerti dan akan mengizinkanmu untuk tetap mengikuti latihan karate..." sambung Raja.


Anna menatap Raja dengan pandangan yang masih ragu. Pasalnya kini mamanya malah lebih protektif padanya dan tak mengizinkannya berbuat semaunya.


"Nanti Om yang akan bicara pada kedua orangtua kamu... jadi jangan khawatir yah!" ujar Raja sambil mengacak puncak rambut Anna pelan.


Raja benar-benar seperti sedang berbicara dengan putrinya sendiri. Bagaimana tidak diusianya yang sekarang ia memang sudah cocok jika dikatakan sudah memiliki anak.


"Terima kasih Om..." sahut Anna mulai tersenyum.


Raja pun melajukan mobilnya ke rumah nyonya Sarah. Hari ini ia ingin mengatakan yang sebenarnya tentang Anna pada kedua orangtua gadis itu. Agar ia bisa tenang meninggalkannya sebab ia harus kembali ke New York untuk menyelesaikan urusannya disana. Setibanya di rumah nyonya Sarah seperti biasa ia di sambut ramah oleh nyonya Sarah dan diundang untuk makan malam bersama. Beruntung kali ini tuan Bram juga sudah berada di rumah. Dan setelah acara makan malam Raja pun meminta waktu pada nyonya Sarah dan tuan Bram untuk berbicara.


Dengan hati-hati Raja mulai menjelaskan tentang Anna yang diam-diam mengikuti latihan karate bersama teman sekolahnya. Meski harus membayar ternyata selama ini Anna tidak pernah meminta uang pada kedua orangtuanya. Ia malah menggunakan uang sakunya yang ia tabung untuk membayar. Sehingga nyonya Sarah sama sekali tidak menduga jika putrinya itu mengikuti latihan karate. Mendengar pengakuan Raja tentu saja membuat kedua orangtua Anna terkejut. Terutama nyonya Sarah. Ia tak menyangka jika selama ini putrinya sudah membohonginya dan dengan diam-diam ikut les karate.


Setelah menjelaskan semuanya Raja pun berpamitan setelah sebelumnya ia meminta agar nyonya Sarah dan tuan Bram tidak memarahi Anna dan menyuruh gadis itu untuk berhenti latihan. Ia juga menjelaskan alasan Anna keukeuh untuk berlatih karate. Menurutnya kejadian saat Anna kecil bersama Amira membuat gadis kecil itu berfikir lebih dewasa sehingga ingin menjadi pelindung bagi adik-adiknya meski ia perempuan. Mendengar penjelasan Raja tuan Bram langsung mengerti. Tapi tampaknya nyonya Sarah masih terlihat keberatan.


"Biar aku saja yang akan memberi pengertian padanya..." ucap tuan Bram saat nyonya Sarah meninggalkannya dan Raja di ruang tamu.


"Terima kasih Bram... aku hanya tidak ingin Anna berhenti berlatih karena sesungguhnya ia sangat berbakat... jika kalian melihatnya sendiri saat ia berlatih maka kalian akan tahu jika putri kalian itu lebih tangguh dari kelihatannya..." kata Raja sebelum ia pulang.

__ADS_1


Tuan Bram mengangguk dan mengantarkan Raja hingga pria itu masuk ke dalam mobilnya. Setelah Raja pergi tuan Bram langsung menyusul istrinya ke dalam kamar. Ia tahu nyonya Sarah pasti sudah menunggunya di sana. Tuan Bram menghampiri nyonya Sarah yang tampak melamun di depan meja riasnya. Tuan Bram menghampiri istrinya itu dan memeluknya dari belakang. Diletakkannya dagunya diatas kepala nyonya Sarah.


"Mengapa kau tidak setuju Anna mengikuti latihan karate?" tanyanya lembut.


Nyonya Sarah memejamkan matanya sebentar lalu ia membukanya kembali dan menghembuskan nafasnya pelan.


"Aku takut ia akan terluka mas... aku masih ingat beberapa kali Amira terluka karena berusaha melindungi kami... aku tidak ingin putri kita mengalami hal yang sama..."


Tuan Bram membalikkan tubuh nyonya Sarah hingga kini duduk menghadap padanya. Ia pun berjongkok agar bisa menatap wajah istrinya yang sedang menunduk.


"Hei... jangan berfikiran buruk seperti itu sayang... justru seharusnya kita mendukung apa yang dilakukan oleh putri kita sekarang... benar kata Raja... zaman sekarang seorang wanita harus bisa melidungi dirinya sendiri karena kejahatan ada dimana-mana dan kita tidak tahu kapan datangnya... bisa kau bayangkan jika putri kita sama sekali tidak bisa membela diri maka akan dengan mudah ia menjadi korban... apa lagi putri kita itu sangat cantik!" terang tuan Bram panjang lebar.


Ia ingin istrinya itu memahami jika tidak selamanya ia dan nyonya Sarah bisa berada di samping putri mereka setiap saat. Karena tidak mungkin mereka terus membuntuti putri mereka sendiri. Mendengar penjelasan tuan Bram nyonya Sarah terdiam. Ia mulai memikirkan perkataan suaminya itu. Ia juga teringat bagaimana tidak berdayanya ia saat menghadapi orang-orang yang akan menyakitinya dulu. Jika ia memiliki kemampuan membela diri... mungkin saja... akh... nyonya Sarah tak bisa berfikir lagi. Lagi pula ia juga tidak bisa mengubah masa lalu.


"Baiklah mas... aku akan mengizinkannya..." ucap nyonya Sarah akhirnya.


Tuan Bram langsung berdiri dan memeluk istrinya itu dengan erat.


Nyonya Sarah hanya bisa mengangguk menyetujui perkataan suaminya itu. Pagi harinya saat sehabis sarapan nyonya Sarah mengajak putrinya berbicara sebelum gadis itu berangkat ke sekolah.


"Sayang... mama ingin bicara denganmu sebentar..." ucapnya pada Anna.


Ia pun mengajak putrinya itu berbicara berdua di taman belakang. Dengan lembut nyonya Sarah menjelaskan pada Anna jika Raja sudah mengatakan semuanya padanya dan tuan Bram. Mendengar itu Anna terlihat gelisah. Ia sangat khawatir jika kedua orangtuanya kembali melarangnya. Namun apa yang didengarnya kemudian membuat gadis kecil itu langsung berseri-seri dan memeluk mamanya dengan erat. Pasalnya nyonya Sarah mengatakan jika ia mengizinkan Anna tetap berlatih karate.


"Terima kasih mama..." ucapnya disela pelukannya.


"Iya sayang... maaf jika selama ini mama terlalu protektif padamu..."


"Ga pa-pa ma... Anna tahu mama melakukannya karena sayang sama Anna.." ucap gadis itu sambil mengeratkan pelukannya.


"Sudah... sekarang cepat kau ambil tasmu! nanti kau terlambat" kata nyonya Sarah setelah mengurai pelukannya.

__ADS_1


Anna pun mengangguk dan segera berlari ke kamarnya untuk mengambil tas sekolahnya. Setelah mencium tangan kedua orangtuanya ia pun berangkat ke sekolah bersama Adit dengan diantar sopir. Hari ini Anna merasa sangat bahagia karena sudah mendapat izin dari kedua orangtuanya. Tampaknya ia harus kembali berterima kasih kepada om Rajanya.


Di tempat lain tampak Amira tengah mempersiapkan kedua buah hatinya untuk berangkat ke sekolah. Ya kini kedua bocah kembar itu sudah masuk TK. Dan setiap pagi Amira akan mengurus kedua putranya itu setelah ia selesai mengurus tuan Sam yang akan berangkat ke kantor. Meski kini perut Amira sudah membesar karena usia kandungannya yang sudah mendekati hari persalinan ia tetap aktif mengurus keluarga kecilnya. Setelah selesai membantu kedua putranya berpakaian Amira pun mengajak keduanya untuk sarapan sebelum ia mengantar keduanya ke sekolah.


Hari ini telah mengantar kedua putranya sekolah rencananya ia akan ke dokter kandungan untuk kembali memeriksakan kandungannya karena sudah mendekati hari persalinan. Tuan Sam terpaksa membiarkan istrinya itu pergi sendirian karena ia harus pergi mengecek proyek yang sedang ditanganinya. Meski begitu ia tetap menyuruh para pengawalnya untuk menjaga istrinya meski dari jauh karena tak ingin Amira merasa terkekang.


Baru saja Amira turun dari mobilnya dan hendak masuk ke dalam rumah sakit tiba-tiba ada seseorang yang memanggil namanya. Seketika Amira pun menoleh dan mendapati jika ada seorang wanita yang kembali memanggil namanya. Amira memicingkan matanya dan mencoba mengingat siapa wanita yang ada di hadapannya itu.


"Hai Ra! apa kau lupa siapa aku?" tanyanya sambil berkacak pinggang membuat Amira kikuk karena ketahuan tak mengenali wanita yang ada dihadapannya itu.


"He..eeh... aku Hana! ingat?" sambungnya.


"Hana? Hana yang selalu duduk di pojokan itu?" tanya Amira kaget.


Pasalnya Hana tak seperti terakhir saat mereka bertemu di reuni sekolah. Jika dulu Hana terlihat cantik dan langsing kini ia terlihat lebih berisi.


"Maafkan aku karena tidak mengenalimu..." ucap Amira merasa bersalah.


"Ga pa-pa... semua teman yang lain juga begitu... semua karena tubuhku yang melar..." kata Hana dengan nada sedih.


"Hei... kenapa kau sedih? aku juga gemukkan? dan itu bukan masalah... yang terpenting tetap sehat dan bahagia..." ucap Amira mencoba membuat Hana lebih percaya diri.


Memang sejak Hana menikah dan mempunyai anak bobot tubuhnya seperti tidak bisa dikendalikan. Mendengar ucapan Amira, Hana pun tersenyum karena ada yang memberinya semangat. Keduanya pun lalu berjalan sambil berbincang. Saat sampai di tempat pemeriksaan keduanya tertawa senang karena ternyata tujuan mereka sama yaitu ruangan dokter kandungan. Setelah diperiksa oleh dokter Obgyn dan menebus obat Amira pun pamit pulang pada Hana yang masih menunggu giliran.


Amira pun segera menyuruh sopir untuk mengantarnya ke sekolah kedua putranya setelah ia masuk ke dalam mobil. Saat mobil yang mereka tumpangi berjalan pelan menuju sekolah Sahir dan Samir tiba-tiba Amira merasakan mules pada perutnya.


"Tidak mungkin aku akan melahirkan sekarang kan?" batin Amira.


Pasalnya dokter di rumah sakit tadi mengatakan jika perkiraan dua atau tiga hari lagi Amira baru akan melahirkan. Amira yang meringis menahan sakit yang mulai timbul berkata pada sopirnya untuk putar balik ke rumah sakit tadi. Sementara Amira berusaha untuk menghubungi suaminya agar menyusulny ke rumah sakit. Namun beberapa kali Amira berusaha menghubungi tuan Sam tapi belum juga diangkat oleh suaminya itu. Setelah panggilan yang ke sekian akhirnya tuan Sam pun mengangkatnya dan Amira langsung meminta suaminya itu agar mau ke rumah sakit karena ia merasa akan melahirkan.


Mendengar kabar tentang istrinya tuan Sam bergegas menghubungi anak buahnya agar memberi jalan pada mobil Amira agar bisa segera kembali ke rumahnya. Sedang tuan Sam dan Lukas sudah masuk ke dalam mobil untuk menyusul Amira. Dalam hatinya tuan Sam sangat cemas tentang keadaan Amira. Ingin rasanya ia berada di samping istrinya itu sekarang juga.

__ADS_1


__ADS_2