
Selama beberapa hari Sahir dan Samir tampak murung meski masih melakukan kegiatan mereka dengan normal. Keduanya masih tidak mengerti mengapa kekasih mereka tiba-tiba memutuskan hubungan tanpa alasan yang jelas. Samir yang berusaha menghubungi Hana namun gadis itu bahkan sudah memblokir nomor ponselnya. Begitu juga saat ingin menemui Hana baik di sekolah mau pun di rumahnya selalu saja mengalami kegagalan. Sebab gadis itu terus saja menghindar untuk menemuinya meski tidak berdua saja. Buktinya gadis itu bahkan tidak pernah lagi datang ke rumah Sadira meski untuk mengerjakan tugas dari sekolah.
Begitu juga Sadira... gadis itu malah mengatakan jika kini ia dan Hana selalu mengerjakan tugas sekolah di sela jam istirahat agar tidak perlu repot mengerjakannya setelah pulang sekolah saat sang bunda menanyakan kenapa Hana tidak pernah lagi datang ke rumah. Dan itu atas usulan Hana sendiri, sedang sang adik hanya menuruti permintaan sahabatnya itu. Tidak berbeda dengan nasib saudara kembarnya, Sahir juga tidak bisa menghubungi Ayana. Ayana juga memblokir nomornya sehingga ia tidak tahu kapan gadis itu akan pulang dari asrama. Untuk menanyakannya pada Sadira, Sahir agak merasa segan karena Sadira pun agak menjaga jarak dengannya dan juga Samir setelah kejadian saat memergoki Sadira dan Bara di sekolah.
Dua saudara kembar itu pun berhasil dibuat patah hati oleh dua sahabat adik bungsunya itu. Sedang Sadira meski tidak putus dengan Bara, namun sebisa mungkin ia menjaga jarak dengan cowok itu baik di sekolah mau pun di luar sekolah. Meski terkadang Bara masih sering berusaha menemui Sadira saat di jam istirahat sekolah dan meski hanya sekedar menemani gadis itu ke kantin dan tetap mengajak Hana. Sedang Naya yang sudah tidak pernah lagi terlihat di sekolah dikabarkan sudah pindah sekolah karena mengikuti kedua orangtuanya yang pindah tugas. Entah Sadira harus merasa bahagia atau sedih... sebab disaat tidak ada ulat keket si pengganggu justru kini tentangan datang dari sang kakak atas hubungannya dengan Bara karena dianggap masih dibawah umur.
Hari ini seperti biasa Hana sengaja bersembunyi menghindari Samir yang setiap hari rela menunggunya di depan gerbang sekolah, baik saat jam berangkat mau pun pulang sekolah. Pemuda itu sepertinya masih belum rela saat ia memutuskan hubungan mereka secara sepihak. Hana dan Ayana memang sudah mengatakan jika alasan mereka meminta putus adalah karena masih ingin fokus sekolah dan tentu saja karena merasa masih dibawah umur. Keduanya bahkan menekankan jika dibawah umur adalah alasan utama keduanya berharap kedua kakak Sadira itu merasa tersindir. Tapi tetap saja kedua saudara kembar itu seperti tidak peka dengan cara protes Hana dan Ayana atas sikap keduanya pada Sadira dan Bara. Jadilah saat ini Hana harus terus kucing-kucingan untuk menghindar dari Samir. Sementara Ayana malah memilih untuk tetap di asrama agar tidak diganggu oleh Sahir.
Tingkah Hana yang selalu saja menyuruh Sadira untuk pulang terlebih dahulu saat pulang sekolah dengan berbagai macam alasan pun mulai merasa curiga. Pasalnya akhir-akhir ini Hana seolah tidak mau terlihat bersama Sadira saat berada di luar lingkungan sekolah. Bahkan gadis itu juga tidak pernah lagi mau main ke rumahnya. Alhasil setiap kali Sadiralah yang datang ke rumah gadis itu. Karena tidak tahan melihat tingkah aneh sahabatnya, Sadira pun mencoba bertanya pada Hana saat jam istirahat.
"Han... kenapa sih akhir-akhir ini kamu bertingkah aneh? sepertinya kamu sedang menghindar dari seseorang... apa ada yang sedang kamu sembunyikan dari aku?" tanya Sadira hati-hati.
Hana tampak terdiam, ia terkejut usahanya yang tengah menghindar dari Samir disadari oleh Sadira meski belum seratus persen tepat.
"Ehem... itu... tidak sama sekali kok Ra..." sanggah Hana gugup.
"Tapi kenapa sekarang ini kamu tidak mau lagi datang ke rumahku? apa ada seseorang yang tengah kamu hindari di sana? kakakku misalnya?"
Deg!
"Ah kenapa insting Dira begitu kuat sih? padahal dia tidak tahu jika aku pernah berpacaran dengan kak Samir..." batin Hana.
"Apa kamu suka sama salah satu kakakku?"
"Eh... ga kok Ra..."
"Kalau suka ga pa-pa kok Han... asal jangan kak Sahir, dia kan pacar Ayana..." sambung Sadira tulus.
"Ish... emang aku kak Naya, yang senang jadi pelakor?" sungut Hana.
"Jadi kamu sukanya sama kak Samir? wah... aku seneng banget dua sahabatku bakal jadi kakak iparku..." ucap Sadira bertepuk tangan.
Hana hanya mendesah pelan... jika dulu ia pasti akan bahagia mendengar ucapan sahabatnya itu. Tapi tidak untuk saat ini karena ia telah memutuskan hubungan keduanya begitu juga dengan Ayana pada Sahir. Dan itu semua sebagai bentuk protes atas sikap Sahir dan Samir pada Sadira. Meski gadis yang mereka bela malah tidak tahu sama sekali atas pengorbanan Hana dan Ayana.
"Han... kenapa malah melamun? kalau kamu beneran suka kak Samir, aku bersedia kok jadi mak comblang kalian..." sambung Sadira.
"Hah lihatlah... meski kedua kakaknya sudah membuat hubungannya dengan kak Bara jadi renggang, tapi gadis itu tetap saja bahagia jika berhasil menjodohkan kedua kakaknya itu dengan kedua sahabatnya... kalian berdua memang kakak yang ga peka!" batin Hana memaki mantan kekasihnya dan juga saudara kembarnya itu.
"Gimana Han? kamu mau aku comblangin sama kak Samir? dia itu kan lebih ramah dari kak Sahir, jadi kalian bisa cepat akrab..." Sadira masih gencar mempromosikan sang kakak pada Hana.
Hana terkekeh geli dengan kepolosan Sadira yang membuat gadis itu mengernyit bingung.
__ADS_1
"Kenapa? kamu ga suka kak Samir? lalu kamu sukanya sama siapa... di rumah aku ga ada lagi cowok cakep yang jomblo..." ucap Sadira bingung.
"Aku ga ke rumah kamu bukan untuk menghindar dari seseorang Ra..." potong Hana bohong.
"Aku cuma lagi sibuk di rumah..." sambung Hana mencoba untuk membuat alasan yang tepat.
"Heh... tapi kamu tahu Han, akhir-akhir ini kedua kakakku juga aneh... mereka terlihat kusut dan selalu uring-uringan, aku juga ga berani bertanya pada mereka karena kejadian kemarin dengan kak Bara..." kini Sadira yang curhat.
"Benarkah?" tanya Hana tertarik.
"Heum... mereka seperti sedang patah hati... jika kak Sahir aku mengerti, mungkin ia sedang bertengkar dengan Aya... tapi kak Samir? dia kan jomblo. Jadi dia patah hati karena apa? apa cintanya ditolak? trus kalau benar, kok ada cewek yang menolak kakakku itu... secara dia itu tampan, pintar dan juga ramah" ujar Sadira sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ish kau ini terlalu membanggakan kakakmu itu..." sergah Hana yang malah menganggap Sahir dan Samir adalah cowok bodoh yang tidak peka.
"Tapi benarkan Han... secara banyak cewek-cewek yang mengantri ingin menjadi pacar mereka..."
"Ah sudahlah Ra... kok malah bahas kakak kamu sih, lebih baik kita cepat ke kantin sekarang sebelum bel masuk... aku lapar Ra..." potong Hana yang merasa gerah akibat omongan Sadira barusan.
Sadira pun mengangguk setuju karena ia juga sudah merasa lapar. Dan seperti biasa Bara sudah setia menunggu gadis itu di depan kelas Sadira.
"Ayo kita ke kantin bersama Ra..." ajak Bara begitu melihat gadis itu keluar dari dalam kelas.
"Kak..." ucap Sadira ingin protes.
Sadira akhirnya pasrah, sebenarnya ia sangat senang jika Bara meluangkan waktu bersamanya. Namun ia juga tidak melupakan janjinya pada kedua kakak kembarnya agar menjaga jarak dengan Bara. Setidaknya hingga nanti sampai ia berusia 17 tahun. Saat bel pulang sekolah berbunyi, seperti kemarin-kemarin, Hana sengaja memperlambat dirinya keluar dari dalam sekolah. Sadira yang sudah dijemput oleh pak sopir pun terpaksa meninggalkan sahabatnya itu setelah Hana meyakinkan jika sopirnya juga sudah menjemput, hanya saja ia harus ke toilet terlebih dahulu untuk membuang hajat. Setelah menunggu hampir 15 menit, Hana memberanikan diri untuk pergi ke gerbang sekolah dimana sopirnya sudah menunggu.
Saat yakin jika Samir tidak berada di sekitar gerbang, Hana pun langsung berlari ke arah mobil keluarganya dan segera masuk ke dalamnya. Dengan nafas yang masih ngos-ngosan ia pun memerintahkan sang sopir untuk segera pergi dari sana.
"Hah... alhamdulillah, kak Samir ga ada...." ucap Hana lirih sambil mengusap dadanya lega.
Ia pun menyandarkan tubuhnya sandaran jok dan memejamkan matanya sejenak sambil berusaha untuk mengatur nafasnya yang hampir habis.
"Capek non? lari-lari disiang bolong" celetuk seseorang yang sangat ia kenal suaranya.
Seketika Hana membuka kedua matanya dan menatap ke arah depan. Disana tidak ada siapa-siapa kecuali sang sopir yang sedang mengemudikan mobil.
"Ish... kenapa aku malah berhalusinasi mendengar suara kak Samir sih?" gumamnya pelan.
Apa ini efek terlalu rindu pada pujaan hatinya itu? batin Hana sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Ga baik marah terlalu lama apa lagi dengan orang yang dekat dihati... nanti jadinya sakit loh" lagi... suara Samir yang jahil terdengar ditelinga Hana.
__ADS_1
Gadis itu pun menggosokkan telapak tangannya ditelinganya mencoba memastikan jika benar pendengarannya tidak sedang terganggu. Hana kembali menatap ke arah sang sopir, mencoba melihat kearah wajahnya melalui kaca spion. Dan sungguh Hana langsung tersentak kaget saat menyadari jika sang sopir bukanlah sang sopir yang asli.
"Kak Samir!" serunya tak percaya dengan penglihatannya sendiri.
"Sudah sadar kalau aku bukan sopir kamu? sekarang pindah ke depan!" titah Samir setelah menghentikan mobil keluarga Hana di tepi jalan.
"Ba... bagaimana bisa kakak masuk kemari? pak sopir mana?" cecar Hana yang menjadi panik.
"Tenang saja... pak sopir sedang mengantarkan mobilku ke rumah kamu jadi saat ini aku yang akan mengantarkan kamu pulang" terang Samir sambil tersenyum manis dan membukakan pintu untuk Hana agar berpindah ke depan.
Hana tetap diam ditempatnya. Ia tidak ingin goyah dengan duduk disamping Samir.
"Kenapa tidak mau pindah? kan aku bukan sopir kamu Hana..." bujuk Samir.
"Salah sendiri menyuruh pak sopir membawa mobil kakak, jadi nikmati saja jadi sopirku saat ini" tolak Hana.
Samir mendesah pelan, ia tahu jika saat ini ia harus bersabar menghadapi tingkah Hana yang menurutnya kekanakan. Tak mau menyerah, Samir langsung menarik tangan gadis itu untuk keluar dari dalam mobil dan berpindah ke depan. Hana yang tak menduga jika Samir akan memaksanya pun tersentak dan tubuhnya langsung keluar dari dalam mobil. Dengan menggenggam erat tangan Hana, Samir menuntun gadis itu untuk masuk ke kursi penumpang dibagian depan. Setelahnya ia pun memasangkan seatbelt pada Hana dan langsung menutup pintu mobil dan menguncinya. Baru kemudian ia berputar menuju kursi kemudi dan duduk disana.
Hana yang kesal hanya diam dan membiarkan Samir mengemudikan mobil. Untuk beberapa saat keduanya terdiam.
"Masih marah?" tanya Samir sambil melirik ke arah Hana.
"Hemmm..."
"Kenapa? apa aku melakukan kesalahan hingga kamu marah dan meminta putus"
"Aku kan sudah bilang kalau aku mau fokus sekolah, lagi pula aku juga kan masih DIBAWAH UMUR... catat DIBAWAH UMUR!" sentak Hana.
"Sejak kapan kamu merasa dibawah umur? kenapa tidak sejak aku pertama kali memintamu sebagai kekasihku kamu mengatakannya?"
"Sejak ada seseorang yang mengingatkan jika usia hampir 16 tahun itu masih dibawah umur untuk pacaran!" sergah Hana tak bisa menahan emosinya dan menatap Samir tajam.
Sungguh ia tidak tahan dengan sikap Samir yang menyalahkan Sadira sedang dia sendiri juga berpacaran dengan gadis yang merupakan sahabat gadis itu dan tentu saja seusia adiknya itu. Mendengar perkataan Hana, sontak Sahir terkejut dan langsung mengerem mobil dengan mendadak. Untung saja jalanan sepi dan tidak ada mobil dibelakang mereka sehingga tingkah Samir tidak menyebabkan kecelakaan.
"Jadi kamu marah karena aku melarang Sadira pacaran?" tanya Samir bodoh.
Hana hanya melengos sebal.
"Tapi itu karena kami memang sudah berjanji pada kedua orangtua kami untuk tidak berpacaran sebelum 17 tahun, jadi apa masalahnya?"
"Tentu saja masalah... Dira, Aya dan aku sahabat, kami akan merasakan apa yang salah satu kami rasakan. Jadi jika Dira dilarang berpacaran maka kami juga begitu... sudah faham tuan Samir?" sergah Hana dongkol.
__ADS_1
Samir pun terdiam dengan penjelasan Hana. Ia tidak mengira jika ketiga sahabat itu akan selalu melakukan hal yang sama dengan yang salah satu mereka lakukan. Termasuk soal berpacaran. Selama sisa perjalanan keduanya masih tetap saling diam hingga akhirnya mereka sampai di rumah Hana. Hana pun segera turun tanpa mengucapkan apa-apa pada Samir saat ia menghentikan mobil di depan rumah Hana. Setelah menukar mobil Hana dengan mobilnya sendiri, Samir pun segera pergi dari rumah Hana. Dia harus segera mengatakan hal ini pada Sahir, sebab saudaranya itu juga bernasib sama dengannya karena diputuskan oleh Aya.