
Anna yang baru saja turun dari kamarnya saat terkejut saat ia melihat kesibukan di kebun belakang rumahnya. Penasaran ia pun langsung melangkahkan kakinya ke sana untuk melihat apa yang sedang terjadi. Di kebun belakang Anna dapat melihat beberapa orang pekerja tengah membersihkan tempat itu. Anna mengenali sebagian besar pekerja itu kecuali satu orang. Dan Anna sedikit mengeryitkan keningnya saat mengamati orang itu. Bagaimana tidak... orang itu tampak sedikit berbeda karena bentuk tubuhnya yang kurang sempurna. Meski begitu orang itu tampak bergerak cukup gesit walau dengan keadaannya yang terbatas.
Anna sedikit terkejut saat mamanya datang dan mengalihkan perhatiannya.
"Sedang apa sayang?" tanya nyonya Sarah.
Bukannya menjawab pertanyaan mamanya Anna malah balik bertanya karena penasaran.
"Mereka sedang apa ma?" tunjuk Anna pada para pekerja di depannya.
"Oh... papa kamu ingin membuatkan taman bermain mini untuk Sultan..." terang nyonya Sarah sambil tersenyum.
Anna tersenyum atas perhatian dan kasih sayang papanya pada putranya itu.
"Tapi apa tidak berlebihan ma?"
"Tentu saja tidak sayang... karena mungkin saja Adit akan segera menikah dan memiliki anak..." sahut nyonya Sarah enteng yang mengejutkan Anna.
"Memang Adit sudah punya calon ma?" tanya Anna yang tak menyangka jika adik kecilnya itu sudah memiliki pasangan.
"Belum sih... tapi siapa yang tahu... mungkin saja kan tiba-tiba adik nakalmu itu pulang membawa calon istrinya..." sahut nyonya Sarah sambil terkekeh.
Ya pernikahan muda Anna membuat dirinya dan tuan Bram tidak akan keberatan jika putra mereka satu-satunya itu pun akan menikah muda. Yang terpenting Adit sudah siap mental dan finansial untuk berumah tangga. Karena yang mereka inginkan hanyalah kebahagiaan semua putra putri mereka.
"Mama... bikin kaget aku saja... aku fikir Adit masih terlalu muda ma..."
"Ck... kamu sendiri kan juga menikah muda sayang... dan buktinya kau bahagia karena menemukan pasangan yang tepat..."
Anna terdiam. Memang benar yang dikatakan oleh mamanya... meski ia menikah muda namun ia merasa bahagia bersama Raja. Jika bukan karena takdir mungkin sampai saat ini ia akan tetap merasakan kebahagiaan itu dengan lengkap karena kehadiran Sultan. Nyonya Sarah yang melihat Anna terdiam menghembuskan nafasnya pelan. Ia meruntuki dirinya karena telah mengingatkan putrinya itu pada Raja.
"Maafkan mama sayang..." ucapnya lirih sambil mengelus lengan Anna pelan.
Anna tersenyum ingin memperlihatkan pada mamanya bahkan keadaan dirinya kini sudah baik-baik saja.
"Oh iya ma... siapa orang itu? sepertinya orang baru..." tanya Anna mengalihkan pembicaraan sambil menunjuk pada seseorang yang tengah bekerja dengan gesit meski pun memiliki kekurangan.
__ADS_1
"Itu si Rahmat... dia baru bekerja satu minggu yang lalu... kasihan dia... hanya karena fisiknya yang kurang sempurna banyak yang tidak ingin mempekerjakannya... padahal dia sangat rajin" terang nyonya Sarah.
Anna mengangguk faham. Ia pun kembali menatap Rahmat. Entah mengapa ia merasa familiar dengan orang itu meski fisiknya yang berbeda. Ya Rahmat memiliki tubuh yang agak bongkok. Entah karena bentuk tulang punggungnya yang bermasalah ataukah ada penyakit tertentu yang membuat punggung pria itu terlihat sedikit bungkuk.
Apa lagi kaki pria itu juga terlihat berjalan sedikit pincang. Jika saja pria itu bisa berdiri normal maka bisa dipastikan tingginya akan sama seperti Raja. Ah... kenapa kini Anna malah jadi menyamakan pria itu dengan Raja suaminya? Anna menggelengkan kepalanya kuat-kuat untuk mengenyahkan pemikirannya tadi.
Anna kemudian menghembuskan nafasnya pelan. Mungkin ia harus segera memantapkan mentalnya agar bisa segera pergi ke makam Raja. Sehingga ia tidak akan lagi membayangkan suaminya itu pada pria lain. Memang sejak ia kembali dari Inggris bersama putranya ia belum juga ke makam suaminya itu karena lagi-lagi ia belum siap dihadapkan pada kenyataan jika Raja memang sudah tiada. Meski Sultan sudah mulai merengek ingin bertemu dengan papanya Anna masih saja membuat alasan agar belum juga membawa balita itu ke makam papanya.
Saat makan siang disana hanya ada Anna dan nyonya Sarah beserta Sultan yang kini mulai bisa duduk sendiri di kursi. Meski Anna masih sesekali menyuapi balita itu namun tak jarang ia juga membiarkan putranya itu makan sendiri. Sementara Adit sedang ikut tuan Bram ke kantor hitung-hitung belajar mengenali perusahaan sebelum ia lulus dari kuliahnya dan ikut bekerja di perusahaan. Sedangkan Ara belum pulang dari sekolahnya.
Keesokan harinya...
Pagi ini Anna baru saja memasukkan surat lamarannya via online pada beberapa rumah sakit. Ia memang berencana untuk bekerja memanfaatkan ilmu yang sudah ditimbanya. Meski begitu Anna tidak terlalu buru-buru untuk mendapatkan pekerjaan karena ia juga masih ingin menghabiskan waktu bersama keluarganya terutama putranya Sultan. Anna tersenyum saat melihat putranya yang tengah menghampiri para pekerja di kebun belakang. Nyonya Sarah tampak kuwalahan mengatasi tingkah cucunya yang sangat aktif itu.
"Ma... biar Sultan sama Anna dulu ma... mama istirahat saja dulu..." ucap Anna saat mendekat ke arah nyonya Sarah.
"Kau benar sayang... mama mau istirahat dulu di kamar ya..."
Anna pun mengangguk setuju. Kemudian ia pun menghampiri putranya yang tengah mengganggu salah satu pekerja dengan mengambil peralatan orang itu dan memainkannya.
"Jangan sayang... paman masih memakainya..." larang Anna pada putranya itu.
Anna sedikit tertegun... suara itu serasa familiar untuknya... meski agak serak. Anna pun memandang pria yang ada dihadapannya itu. Lalu ia pun menggelengkan kepalanya pelan.
"Mungkin hanya mirip suaranya saja..." batin Anna.
"Ayo sayang... kita masuk ke dalam... bibi pasti sudah membuatkan puding kesukaanmu..." bujuk Anna agar Sultan tidak lagi mengganggu para pekerja.
Mendengar kata puding balita itu pun langsung tergoda dan mengalihkan perhatiannya pada Anna lalu merentangkan tangannya tanda ia ingin digendong. Dengan senang hati Anna pun langsung menggendong putranya itu dan melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah. Sementara itu setelah kepergian Anna pekerja yang bernama Rahmat itu tampak menatap nanar ke arah keduanya. Sesungguhnya ia merasa teramat rindu pada istri dan putranya itu. Tapi apa daya ia tidak bisa mengungkapkan identitasnya sebelum semua masalahnya selesai.
"I miss you..." bisik Raja dengan wajah sendu.
Siang itu setelah makan siang Anna membawa putranya ke dalam kamar untuk tidur siang. Dan mungkin karena kelelahan setelah sejak pagi berlarian dan mengganggu para pekerja di kebun belakang, balita itu pun langsung terlelap. Setelah memastikan putranya tertidur, Anna pun turun menuju dapur. Entah mengapa saat ini ia ingin sekali membuat camilan kesukaan suaminya Raja yaitu pisang goreng. Untung saja di rumahnya masih ada stok pisang untuk diolahnya. Dan Anna pun membuat dalam porsi yang cukup banyak. Ia berniat untuk membaginya dengan para pekerja di kebun belakang.
Tanpa ia ketahui seseorang sudah masuk ke dalam kamarnya dan memandangi wajah Sultan yang tengah tertidur. Tatapan penuh kerinduan terpancar dari kedua matanya yang kini mulai berkabut. Sudut matanya pun mulai tergenang. Dengan tangan yang bergetar ia menyentuh kepala putranya itu dengan lembut. Sudah beberapa hari ia tidak dapat menyentuh putranya dan hanya bisa memandang dari jauh. Balita itu tampak sedikit terusik dengan sentuhan Raja meski pria itu berusaha selembut mungkin agar tidak menganggu tidur Sultan.
__ADS_1
Perlahan kedua kelopak mata kecil itu mulai terbuka. Sultan mengerjapkan matanya beberapa saat. Balita itu seolah tengah membiasakan matanya pada sekitarnya. Saat mendapati seseorang yang tidak dikenalnya balita itu langsung berjengkit terkejut.
"Maaf boy... papa membangunkanmu..." ucap Raja berusaha menenangkan putranya.
Sultan memundurkan tubuhnya hingga membentur kepala tempat tidur. Balita itu tampak ketakutan melihat ada orang asing didepannya.
"Kau tidak mengenali papa ya?" tanya Raja sambil terkekeh.
Perlahan ia pun membuka penyamarannya dengan melepaskan kumis dan jenggot palsunya didepan putranya itu. Raja juga menegakkan tubuhnya. Melihat wajah asli papanya balita itu pun langsung berseru gembira dan memeluk Raja.
"Papa!" ucapnya dalam dekapan Raja.
"I miss you so much boy..." bisik Raja pada putranya sambil memeluk erat tubuh Sultan.
Sultan tampak antusias saat mengetahui jika papanya ternyata adalah orang yang bekerja di rumah opanya.
"Papa... mama cini ya..." ujar Sultan yang ingin mempertemukan kedua orangtuanya.
"Jangan boy... kau tahu... mama sama papa lagi main petak umpet... dan ini giliran papa bersembunyi... jadi jangan beritahu mama atau yang lainnya jika ini papa... oke?" kata Raja berusaha membuat putranya untuk menjaga rahasianya.
"Oh... oke... tapi celecai mainnya kapan?" tanya Sultan polos.
"Nanti sampai mama bisa menemukan papa..." terang Raja sambil mengusap kepala putranya dengan lembut.
Sultan hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Keduanya pun bermain bersama beberapa saat untuk menuntaskan kerinduan mereka karena beberapa hari tidak bisa bersama. Maklum saat di Oxford keduanya setiap hari selalu menghabiskan waktu bersama saat Anna di rumah sakit.
Hari menjelang sore saat Sultan kelelahan dan kembali tertidur. Raja pun meletakkan putranya itu diatas tempat tidur dan menyelimutinya. Kemudian ia pun keluar dari kamar Anna melalui balkon kamar. Sesampainya di bawah ia pun segera pergi ke rumah yang disiapkan untuk para pegawai di rumah nyonya Sarah. Meski sebentar namun ia merasa lega bisa kembali bermain bersama putranya.
Sementara di sebuah apartemen tampak Julio tengah menerima laporan dari orang suruhannya yang ditugaskan untuk mengawasi Anna. Pria itu tengah mencari celah untuk bisa mendekati wanita itu dan juga putranya. Saat tiba di Indo untuk pertama kalinya ia baru mengetahui jika Anna ternyata bukan wanita biasa. Ia adalah putru dari salah satu pengusaha yang cukup terpandang. Demikian juga dengan pamannya yang tak kalah berkuasanya.
Kali ini ia harus bertindak secara halus agar perbuatannya nanti tidak tercium oleh pihak berwajib. Karena ia tahu kini ia sudah menjadi buronan interpol. Itu berarti data-datanya sudah ada di pihak kepolisian Indo hingga jika semua terbongkar maka ia akan diekstradiksi dan harus kembali ke US untuk menjalani hukumannya.
"Bagaimana? apa ada perkembangan?"
"Belum tuan... wanita itu dan putranya belum sekali pun keluar dari dalam rumah..."
__ADS_1
Julio tampak menggeram kesal. Ia sudah tidak sabar untuk menjalankan rencananya yang sudah ia susun sejak berada di Indo. Dan sampai hari ini ia belum juga bisa melaksanakan rencananya itu karena targetnya belum juga keluar rumah. Bukannya ia tidak ingin langsung menyatroni langsung ke rumah wanita itu, tapi penjagaan di sana terbilang ketat. Dan lagi itu akan membuka penyamarannya karena pihak interpol pasti akan langsung menyadari keberadaannya.
Dengan gusar pria itu pun langsung menutup ponselnya. Entah dengan cara apa ia akan memancing wanita itu untuk keluar bersama putranya. Hingga ia pun mendudukkan dirinya di sofa dan memejamkan matanya mencoba untuk berfikir.