BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Malam Nestapa


__ADS_3

Makan malam adalah saat yang paling menyebalkan bagi Anaya... bagaimana tidak, saat seperti ini pasti semua anggota keluaraga berkumpul dan bisa dipastikan jika wanita selingkuhan papanya itu pasti juga hadir. Entah terbuat dari apa hati mamanya itu yang selalu saja tampak tenang melihat wanita yang menjadi duri dalam rumah tangganya melenggang bebas di rumahnya. Sementara keluarga papanya seolah malah sengaja ingin membuat mamanya semakin menderita dengan lebih menganggap keberadaan wanita itu dari pada dirinya.


"Pa... bolehkah hari minggu besok aku tidak ikut papa ke pernikahan tante Naya? aku diajak menginap di rumah temanku pa..." ucap Deni tiba-tiba, membuat semua orang yang ada di meja makan memandang padanya.


"Loh... bukannya kamu tidak pernah menginap di rumah teman kamu Den?" tanya bu Hasna omanya.


"Iya oma... ini pertama kalinya... jadi boleh ya?" ucap Deni dengan wajah memohon.


"Hemmm... ya sudah tidak apa-apa... lagi pula acara pernikahan tidak begitu menarik bagi anak-anak... bukan begitu ma?" sahut Rendra sang papa.


Deni langsung tersenyum dan berterima kasih. Senyuman juga terkembang dibibir Ayana dan juga Siska. Akhirnya rencana liburan mereka bisa berjalan lancar.


"Lalu bagaimana denganmu Ay? apa kau juga akan ikut ke resepsi tante Naya?" tanya Rendra pada sang putri.


Ayana tampak tersentak kaget... pasalnya tak biasanya sang papa mau mengajaknya. Ada rasa bahagia dihati gadis 15 tahun itu... tapi ia lebih memilih menghabiskan waktu dengan sang mama. Apa lagi kali ini sang adik juga ikut serta.


"Ehm... maaf pa... aku juga akan menginap di rumah teman baruku..." jawab Ayana memberi alasan untuk menolak.


"Siapa?" tanya bu Hasna tak menyangka jika Ayana bisa secepat itu mendapatkan teman baru.


"Namanya Dira oma..." sahut Ayana enteng.


Bu Hasna pun mengangguk dan tidak melanjutkan pertanyaannya. Sementara Siska sama sekali tidak diajak dalam obrolan mereka. Siska pun sudah tahu jika suaminya akan pergi bersama selingkuhannya dan tidak mengajaknya. Tapi ia sama sekali tidak keberatan, apalagi ia memiliki rencana bersama kedua anaknya itu. Acara makan malam pun kembali berlangsung dengan tenang. Saat berada di dalam kamar, Siska sudah bersiap untuk tidur. Ia sama sekali tidak menunggu suaminya masuk ke dalam kamar karena ia tahu jika ada Jihan maka sang suami akan menghabiskan waktu bersama wanita itu.


Meski masih ada bu Hasna diantara mereka. Ia tahu cara wanita itu merebut hati suami dan mertuanya dengan yang cara halus. Dengan memakai topeng wanita lugu dan baik-baik membuat wanita itu sangat disayangi oleh bu Hasna. Sedangkan jika hanya berdua dengan Rendra, Siska tidak yakin jika wanita itu akan bersikap sama. Mungkin saja mereka telah melakukan hal yang lebih tetapi tidak diketahui orang lain. Sehingga imej wanita baik-baik masih melekat pada Jihan.


Keesokan harinya...


"Ay... besok kan hari minggu... apa kamu mau main ke rumahku?" tanya Dira saat keduanya tengah makan bersama di kantin sekolah.


Hari ini Dira tidak membawa bekal dari rumah karena ingin makan di kantin bersama Ayana.

__ADS_1


"Maaf Dira... besok aku akan pergi liburan dengan keluargaku... lain kali saja ya..."


"Oh... oke... tidak apa-apa..." ujar Dira.


Sementara itu di rumah Siska tengah mengemas pakaiannya. Sengaja ia melakukannya disaat suaminya tengah berada di kantor agar tidak menggagalkan rencananya. Hanya setengah jam waktu yang Siska butuhkan untuk mengemas pakaiannya. Kemudian ia pun segera pergi ke kamar Deni untuk mengemas baju putranya itu. Namun ternyata putranya itu telah mengemas bajunya sendiri dan menaruhnya dalam koper kecil. Segera Siska membawa koper itu ke dalam mobilnya dan mengambil miliknya sendiri dan juga Ayana.


Saat jam pulang sekolah Siska langsung menjemput kedua anaknya di sekolah masing-masing. Karena Ayana dan Deni beralasan menginap di rumah temannya maka hari ini mereka tidak di jemput oleh sopir keluarga. Karena itulah Siska dapat menjemput keduanya dengan leluasa. Mereka bertiga pun kemudian berangkat menuju ke villa yang sudah disewa oleh Siska. Ketiganya sangat bahagia dapat menghabiskan waktu bersama. Dan Deni pun menyadari jika sang mama tidak seburuk yang ia duga selama ini. Demikian juga dengan sang kakak.


Acara liburan yang meski singkat namun bisa memperbaiki hubungan ketiganya. Saat mereka akan kembali pulang ke rumah, Siska sempat memberikan pesannya pada kedua anaknya itu.


"Mama harap setelah ini kalian tetaplah rukun dan jangan pernah berpisah... mama hanya punya kalian yang merupakan harta paling berharga bagi mama... jika sesuatu terjadi pada mama... mama harap kalian tetap mau percaya pada mama meski seluruh dunia menghujat mama..." ucap Siska saat ketiganya tengah berkumpul di atas balkon villa.


"Mama jangan khawatir... Ayana janji akan jaga Deni dan mama..."


"Deni juga ma... Deni sayang mama dan kak Aya..."


Ketiganya pun saling berpelukan. Semakin hari hubungan ibu dan kedua anaknya itu pun semakin dekat. Meski mereka harus menutupinya di depan Rendra dan juga keluarganya. Siska memang menyuruh kedua buah hatinya itu untuk tetap tidak menunjukkan jika hubungan ketiganya telah membaik. Ayana dan Deni pun menuruti perintah sang mama tanpa banyak bertanya. Karena sesungguhnya mereka sendiri sudah tahu alasan mama mereka melakukan hal itu. Sementara persahabatan Ayana dan Dira pun semakin erat. Ayana dan Dira bahkan sudah saling terbuka tentang masalah keluarga mereka masing-masing. Bahkan Ayana sering kali curhat tentang penderitaan sang mama pada Dira. Namun karena keduanya yang masih remaja hanya bisa berdo'a tanpa bisa membantu apa-apa.


"Dasar perempuan j*l**g! berani sekali kau berbuat mesum di rumahku sendiri" teriak Rendra sambil menjambak rambut Siska dengan keras.


Siska tampak pasrah dengan tubuh yang sudah dalam keadaan yang tidak elok dipandang. Air matanya tak henti turun dari kedua kelopak matanya, namun bibirnya seolah bisu dan tak mengeluarkan sedikit pun suara meski ia merasakan sakit dikepalanya akibat perbuatan suaminya. Sementara dari ujung matanya ia bisa melihat kedua buah hatinya yang menatap nanar ke arahnya dari luar pintu kamarnya yang terbuka lebar...


"Mama tidak bersalah...." ungkapnya dalam sorot matanya pada kedua buah hatinya itu.


Kepalanya pun menggeleng pelan demi mempertegas pernyataannya pada Ayana dan Deni. Siska tidak perduli jika semua orang menuduhnya bersalah... tapi tidak dengan kedua buah hatinya. Ia tidak ingin Ayana dan Deni termakan hasutan dari orang yang telah menjebaknya. Meski ia tahu siapa dalangnya namun saat ini ia harus menyelamatkan nyawa kedua anaknya dengan tetap diam dan pasrah atas segala tuduhan terhadapnya.


Sementara itu tampak salah seorang pengawal Rendra tengah memegangi seorang pria yang keadaannya tak jauh berbeda dengan Siska. Ternyata baru saja Rendra memergoki Siska tengah tertidur di dalam kamar dengan seorang pria yang ada disampingnya dalam keadaan tidak berbusana. Sontak saja itu membuat Rendra murka dan menyeret Siska dan pria yang bersamanya itu untuk diberi pelajaran. Sementara Ayana sudah menggenggam tangan adiknya erat.


"Kau harus percaya pada mama..." ucapnya lirih, sementara air matanya mengalir deras.


Hati gadis itu sangat sakit saat melihat keadaan mamanya yang begitu mengenaskan. Namun ia melihat sorot mata sang mama yang memohon untuk percaya padanya... meski tak mungkin bisa melakukan pembelaan karena semua bukti menyudutkannya namun Ayana yakin jika sang mama tidak bersalah. Berbeda dengan Deni... bocah 10 tahun itu tampak syok dan tak bisa berkata-kata. Selama ini dirinya yang tidak terlalu dekat dengan sang mama akibat kesalah fahaman yang di sengaja oleh orang-orang yang ada disekitar mereka membuat bocah lugu itu tak bisa begitu saja percaya jika sang mama tidak bersalah. Namun ucapan sang kakak membuatnya tertegun. Sang kakak tampak begitu yakin dengan ucapannya dan tidak ada keraguan sedikit pun dari sorot matanya saat Deni menoleh dan memandangi wajah sang kakak.

__ADS_1


"Mama bukan wanita yang seperti itu!" ucap Ayana lagi sambil menoleh ke arah sang adik.


Kemudian ia menarik tangan Deni dan membawanya untuk kembali ke kamar mereka.


"Tapi mama?" tanya Deni lirih.


"Nanti kita akan menemuinya..." sahut Ayana lalu mendorong tubuh sang adik untuk masuk ke dalam kamar.


Setelah Deni masuk ke dalam kamar, Ayana pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya sendiri. Disana gadis itu langsung menangis saat pintu kamarnya tertutup. Gadis itu menangis sambil menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya agar tak ada yang akan mendengarkan tangisannya. Sementara Deni tampak terpekur duduk di tepi tempat tidurnya.


"Apa yang sebenarnya terjadi ma? kenapa mama malah diam dan tidak membantah semuanya?" gumam Deni lirih.


Bocah itu meremas rambutnya kasar. Malam ini dunianya seakan hancur. Otak polosnya tak mampu menampung permasalahan rumit para orang dewasa. Dalam hatinya ia mengakui jika sang mama tidak pernah dekat dengan pria mana pun. Tapi sebaliknya... sang papa lah yang selalu bersama tante Jihan. Meski tidak terlihat melakukan sesuatu yang aneh namun tetap saja wanita itu selalu saja berada menempel pada sang papa.


Di kamar Siska tampak Rendra masih belum puas melampiaskan kemarahannya. Tak henti pria itu memukul tubuh dan menampar wajah Siska hingga wajah mulus itu sudah tak berbentuk karena lebam dan luka demikian juga dengan tubuhnya. Sementara pria yang bersamanya pun bernasib sama dengannya. Setelah puas Rendra menyuruh pengawalnya untuk menyeret tubuh pria yang bersama Siska itu keluar dari rumahnya. Sementara Siska tampak pasrah dengan tubuh yang terluka.


"Aku belum selesai untuk menghukummu j*l**g! jadi jangan lega dulu..." kata Rendra sambil meninggalkan kamar Siska dan menutup pintu kamar itu dengan keras.


Siska tetap mematung di tempatnya. Hatinya yang hancur membuatnya tak merasakan kesakitan pada tubuhnya.


"Maafkan aku oma... aku gagal menghalangi wanita itu untuk masuk ke dalam keluaga ini..." batin Siska dengan air mata yang mengalir deras.


Tiba-tiba pintu kamarnya dibuka dari luar. Tampak olehnya Ayana dan Deni berdiri di luar pintu kamar. Tak butuh waktu lama, Ayana dan Deni langsung menghambur ke arah Siska. Ketiganya pun menangis bersama. Dua anak remaja itu langsung memapah tubuh sang mama untuk di letakkan di atas tempat tidur. Kemudian Deni langsung menutup pintu kamar sang mama agar tak ada yang tahu jika dia dan sang kakak menemui mamanya. Sementara Ayana sudah mengambil kotak obat yang berada di nakas dan mencoba untuk mengobati luka sang mama setelah ia menutupi tubuh sang mama dengan selimut.


"Ma... ma... tidak... a...pa... a...pa..." ucapnya terbata.


Ayana menangis sambil mengobati luka mamanya. Sementara Deni hanya bisa mengelus lengan sang mama lembut. Sakit... itu yang Deni rasakan saat melihat bukan hanya wajah tapi juga tubuh mamanya yang penuh luka. Papanya tampaknya mengeluarkan semua amarahnya pada mamanya. Saat ketiganya larut dalam diam tiba-tiba terdengar langkah kaki mendekat ke arah mereka. Ketiganya pun saling pandang dengan wajah terkejut dan takut.


"Kalian... masuklah ke dalam sana dan jangan keluar apa pun yang terjadi!" suruh Siska pada kedua anaknya sambil menunjuk ke arah lemari kamarnya.


Kedua anak itu pun langsung menurut dan masuk ke dalam lemari dan menutup pintunya untuk bersembunyi. Keduanya pun mengintip dari sela pintu lemari yang sedikit terbuka. Tak berapa lama tampak pintu kamar di buka dari luar dengan perlahan. Siska langsung membelalakkan matanya melihat siapa yang baru saja datang. Tampak orang itu tersenyum miring yang seolah mengejek keadaan Siska saat ini.

__ADS_1


__ADS_2