BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Pengungkapan


__ADS_3

Lukas bergerak cepat demi menambah bukti untuk menjerat Jihan dan yang lainnya dalam kasus kematian Siska. Bukan hanya itu, pria itu juga telah mendapatkan bukti kecurangan Jihan dan papanya selama berada di perusahaan Suryono. Demi tetap dekat dengan Rendra, Jihan memang sengaja bekerja pada perusahaan Suryono. Dan karena Rendra telah bucin padanya membuat pria itu langsung menjadikan wanita itu sebagai sekretarisnya agar mereka bisa selalu dekat dan selalu bersama-sama.


Ia tak sadar jika dengan demikian ia semakin membuka lebar peluang Jihan untuk membantu ayahnya untuk tetap bisa mengisi pundi-pundi uangnya dengan melakukan korupsi di perusahaan tersebut tanpa bisa terendus. Permainan yang sangat rapi dan kecerobohan Rendra karena terlalu sibuk dengan Jihan, telah membuat perusahaan warisan kakeknya itu tak mengalami kemajuan yang berarti sejak kematian ayahnya.


Setelah beberapa hari Lukas akhirnya berhasil mengumpulkam semua bukti yang mereka butuhkan. Tinggal menunggu waktu yang tepat seperti keinginan Ayana dan Deni untuk mengungkapkan semuanya di hari pernikahan Rendra dan Jihan. Mengetahui jika semua bukti sudah lengkap dan tinggal mengeksekusi rencana mereka membuat Ayana dan Deni merasa sedikit lega.


"Sebentar lagi mama... mereka akan merasakan balasannya karena telah membuat mama menderita..." gumam Ayana sambil memandangi foto mamanya dengan dirinya dan Deni saat mereka berlibur bersama.


Melihat senyum ketiganya saat itu membuat air mata Ayana kembali mengalir. Kenapa kebahagiaan yang mereka rasakan hanya sebentar saja? Rasanya Ayana tidak puas dengan waktu kebersamaannya bersama sang mama selama ini. Terlalu singkat... apa lagi kehadiran sang adik yang hanya beberapa hari saja bersama dirinya dan sang mama sebelum wanita itu tewas.


"Kakak..." terdengar suara Deni yang membuat lamunan Ayana buyar.


"Ada apa dek?" tanyanya sambil menoleh ke arah Deni setelah sempat menghapus air matanya terlebih dahulu yang tadi sempat mengalir.


"Mereka menyuruh kita untuk ikut fitting baju bersama..." jelas Deni dengan wajah kesal.


"Apa kita bisa menolaknya?"


"Tidak... tentu saja tidak kak... sebab mereka akan curiga pada kita..."


"Kalau begitu kita turuti saja... toh cuma fitting baju... setelahnya kita bisa kabur dengan menggunakan alasan..." kata Ayana mencoba menghibur sang adik.


Tak bisa dipungkiri rasa benci keduanya pada Rendra dan Jihan membuat keduanya muak untuk sekedar menghabiskan waktu bersama. Namun demi misi mereka agar berjalan lancar keduanya harus sabar. Keduanya pun keluar dari dalam kamar. Di ruang tengah semua orang sudah berkumpul. Kedua calon pengantin tampak sangat bahagia dan selalu melemparkan senyum.


"Ah... kalian sudah datang? kalau begitu kita berangkat sekarang" kata bu Hasna saat melihat kedua cucunya sudah ikut bergabung.


Kemudian mereka pun berangkat menuju butik tempat mereka akan fitting baju. Selama di sana kedua kakak beradik itu tampak enggan saat harus mencoba baju yang sengaja disiapkan untuk mereka. Namun tak ada yang memperhatikannya karena semua orang sibuk mengagumi kedua calon pengantin yang mereka gadang-gadang sangat serasi.


"Cih... memang serasi... karena mereka pasangan l*k**t!" cibir Deni yang emosi mendengar semua sanjungan yang diberikan pada kedua calon pengantin.

__ADS_1


"Hush! jangan keras-keras Den..." bisik Ayana mencoba meredakan emosi sang adik.


Sementara tak ada yang memperhatikan wajah masam kedua kakak beradik itu, karena semua orang tengah sibuk. Selesai mencoba baju yang akan mereka pakai saat acara pernikahan Rendra dan Jihan, Ayana dan Deni langsung membuat alasan agar keduanya bisa langsung pergi terlebih dahulu tanpa harus ikut dengan keluarga besar mereka yang akan melanjutkan dengan makan siang bersama. Meski merasa keberatan namun bu Hasna dan yang lainnya tidak bisa mencegah keduanya karena tidak ingin mengekang kebebasan Ayana dan Deni. Apa lagi keduanya lagi-lagi menggunakan alasan untuk belajar kelompok. Dan memang sedari rumah keduanya sudah menyiapkan tas sekolah mereka sehingga tidak ada yang curiga jika keduanya sudah berbohong.


"Sayang... kenapa aku merasa jika saat ini Deni seolah membenciku?" ungkap Jihan saat ia dan Rendra berada dalam mobil setelah makan siang bersama.


"Itu hanya perasaanmu saja sayang... mungkin Deni sibuk dengan kegiatan di sekolahnya akhir-akhir ini... jadi dia tidak bisa meluangkan waktu denganmu..." sahut Rendra sambil terus fokus menyetir.


"Tapi aku merasa dia selalu menatapku dengan pandangan tajam sayang..." keluh Jihan dengan suara manja.


"Sudahlah... Deni kan memang begitu... kau sudah tahu sejak dulu kan? pada mamanya saja dia dingin..." ujar Rebdra tak ambil pusing dengan apa yang dikeluhkan Jihan.


Jihan mendesah pelan... instingnya merasakan perubahan sikap Deni yang sangat kentara. Jika benar bocah itu berubah karena kematian Siska dan mulai menentangnya, maka Jihan tidak akan segan-segan akan ikut melenyapkan bocah itu. Toh masih ada Ayana... meski sejak awal gadis itu juga membencinya tapi Jihan tidak suka jika ada orang yang mengkhianatinya. Ya... Jihan menganggap jika Deni benar-benar menentangnya maka baginya itu berarti bahwa anak itu sudah berkhianat padanya. Dan dia pasti akan menghabisi setiap orang yang ia anggap sebagai pengkhianat.


"Den... kakak mohon agar kamu bisa menjaga emosimu... kakak takut jika wanita itu curiga dan akan menyakitimu..." kata Ayana saat ia dan sang adik tengah berdua di sebuah rumah makan sederhana.


Keduanya memang janjian untuk bertemu disana untuk makan siang setelah keduanya berhasil memisahkan diri dari keluarga besar mereka.


Untung saja rumah makan itu masih agak sepi sehingga suara Deni yang lumayan keras tidak mengganggu pelanggan lainnya. Apa lagi keduanya memilih duduk di bagian sudut rumah makan.


"Sabar dek... apa lagi kau juga tidak bisa berbuat seenaknya meski pun itu pantas mereka dapatkan. Kakak juga sama sepertimu, tapi kita harus tetap pada rencana yang sudah kita susun sekian lama... jangan sampai emosimu itu merusak segalanya" terang Ayana lembut.


Ia tahu sifat Deni yang jika sudah membenci seseorang maka ia tidak akan dengan mudah memaafkan dan bersikap ramah. Karena itulah dulu saat ia terhasut oleh bujukan papa dan keluarga besarnya bocah itu benar-benar sulit untuk digapai oleh Siska meski pun ia adalah ibu kandungnya. Untung saja Allah maha adil, sebelum Siska menghembuskan nyawanya sang putra sudah mulai dekat dengannya sehingga harapan wanita itu untuk bisa kembali mendapatkan cinta sang putra telah tercapai meski waktu yang mereka miliki sangat singkat.


Kedua kakak beradik itu pun lalu makan siang bersama setelah pelayan rumah makan itu mengantarkan pesanan mereka. Sengaja mereka memilih rumah makan sederhana untuk keduanya makan siang bersama, karena bisa dipastikan jika keduanya tidak akan terpergok oleh keluarga besar mereka disana. Sebab keduanya tahu jika keluarga besar mereka anti masuk ke rumah makan sederhana semacam itu.


Selesai makan siang, kedua kakak beradik itu pun memilih untuk pergi ke makam mama mereka. Setelah membeli bunga tabur mereka pun segera menuju ke makam sang mama.


"Asssalamualaikum ma... Aya dan Deni datang untuk menemui mama..." ucap Ayana saat keduanya berada di depan makam Siska.

__ADS_1


Setelah menaburkan bunga mawar yang mereka beli, kedua kakak beradik itu pun langsung melantunkan do'a bagi sang mama dengan khusyuk.


"Mama... do'akan kami agar selalu kuat mengahadapi semua masalah yang ada... dan bisa segera mengungkapkan kematian mama..." terdengar Deni berucap dengan suara bergetar.


Sungguh saat ini bocah sepuluh tahun itu merasa sangat rapuh. Meski sang kakak selalu ada disampingnya, tetap saja keinginan untuk tetap bersama sang mama sangat besar. Tapi sayang semua itu tak akan mungkin terjadi karena sang mama telah direnggut dengan paksa oleh wanita ular yang telah melenyapkan nyawa sang mama. Tangan bocah itu meremas tanah diatas pusara Siska. Sakit... itu yang dirasakan dalam hati Deni saat ini. Ia merasa dikhianati oleh sang papa dan omanya selama ini. Hingga ia jauh dari sang mama selama ini. Jika saja ia belum dekat disaat terakhir sang mama mungkin penyesalannya akan semakin besar.


Ayana memeluk tubuh adiknya dengan erat. Ia tahu apa yang ada di dalam hati Deni saat ini. Penyesalan dan amarah karena selama ini telah terhasut oleh fitnah dari papa dan keluarga besarnya pada sang mama. Ia tahu adiknya berusaha untuk tegar namun tetap saja ia hanya seorang anak sepuluh tahun yang begitu terluka karena intrik dalam keluarga mereka. Tak berbeda dengan dirinya yang juga sama.


"Kita pulang sekarang dek... nanti orang rumah curiga jika kita pergi terlalu lama..." ucapnya.


Deni hanya mengangguk mengiyakan perkataan Ayana.


"Ma... kami pamit dulu jika ada kesempatan kami akan kemari lagi..." ucap Deni sambil mengelus nisan Siska dengan lembut.


Kemudian kakak beradik itu pun melangkahkan kaki mereka meninggalkan pemakaman. Dalam taksi yang membawa keduanya pulang ke rumah Ayana dan Deni saling diam. Bukan karena sedang marahan, namun keduanya tengah menyiapkan mental untuk kembali berhadapan dengan orang-orang munafik yang ada di rumah mereka. Ya... munafik. Bagai mana tidak, mereka semua mengaku orang terhormat dan baik. Tapi nyatanya kelakuan mereka tak beda dengan para penjahat yang licik.


Sesampainya di dekat rumah keduanya sudah turun dari dalam taksi dan masuk ke dalam rumah secara bergantian agar tidak menimbulkan kecurigaan. Tak terasa jika hari pernikahan Rendra dan Jihan akhirnya tiba... Semua orang sudah bersiap sejak pagi, karena acara akad dan resepsi akan diadakan di hotel. Tampak wajah-wajah bahagia menghiasi seluruh keluarga Suryono tak terkecuali Ayana dan juga Deni. Jika seluruh keluarga berbahagia karena akhirnya Rendra dan Jihan akan resmi bersatu dalam ikatan pernikahan, maka berbeda dengan Ayana dan juga Deni.


Kedua kakak beradik itu senang karena sebentar lagi kematian mama mereka akan terungkap. Dan semua orang yang terlibat akan mendapatkan ganjarannya. Apa lagi ada tambahan bukti tentang kejahatan Jihan di masa lalu yang akan menjadi kado terindah dari mereka berdua untuk Rendra dan juga Jihan. Saat memasuki ruangan tempat acara akad sekaligus resepsi tampak dekorasi yang menghias tempat itu sangat mewah dan indah. Foto kedua calon pengantin pun terpampang besar di depan pintu ruangan. Seolah menyambut para tamu yang hadir di acara tersebut.


Rendra dan Jihan sengaja mengundang semua rekan bisnis dan juga teman dekat mereka dalam acara pernikahan keduanya. Senyum mengembang terlihat pada kedua calon pengantin. Rendra yang tengah duduk di depan penghulu dan para saksi tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya saat melihat Jihan datang ke arahnya dengan balutan kebaya modern yang menampakkan kecantikannya. Setelah calon pengantin wanita didudukkan disebelah pengantin pria, penghulu pun lalu memulai acara.


Saat penghulu hendak berbicara untuk memulai acara tiba-tiba seseorang menghentikannya.


"Maaf sebelumnya... sebelum acara dimulai alangkah baiknya jika kalian semua melihat kado yang sudah kami persiapkan untuk kedua calon mempelai..." ucap Ayana sambil berdiri di depan semua orang dengan menggunakan mikrofon.


Disampingnya terlihat Deni juga sudah berdiri dengan wajah datar. Ditangan bocah itu terlihat menggenggam sebuat remote control.


"Silahkan semuanya melihat ke layar monitor!" titah Ayana dengan tenang.

__ADS_1


Tanpa diperintah Deni langsung menekan remot controlnya dan menyalakan layar monitor besar yang ada di ruangan tersebut. Semula layar monitor itu akan digunakan untuk menyiarkan acara agar semua tamu undangan dapat melihat dengan jelas acara akad yang akan berlangsung. Dan kini semua perhatian semua orang langsung tertuju pada layar monitor tersebut. Mereka penasaran dengan kado yang dikatakan oleh Ayana tadi.


__ADS_2