
Sahir membawa Ayana ke dalam mobilnya dan langsung mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ayana yang semula tenang kini berubah panik saat melihat Sahir mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Apalagi wajah Sahir yang terlihat sangar menandakan jika pemuda itu tengah melampiaskan emosinya.
"Tolong pelankan mobilnya kak!" pinta Ayana dengan suara sedikit kencang.
Namun Sahir sama sekali tidak menghiraukannya. Pemuda itu tetap saja melajukan mobilnya dengan kencang. Ia bahkan beberapa kali menyalip mobil yang ada dihadapannya. Membuat Ayana menjadi semakin ketakutan.
"Kak tolong pelankan mobilnya!" pinta Ayana lagi dengan suara bergetar karena menangis ketakutan.
Sahir tampak sedikit tersentak saat mendengar suara Ayana yang terdengar serak. Cepat ia menoleh ke arah gadis yang ada disampingnya itu. Ia pun tersadar saat melihat wajah pucat dan basah Ayana. Ia pun mulai memelankan laju mobil yang dikendarainya.
"Maaf..." ucap Sahir tulus saat akhirnya ia menghentikan mobilnya di tepi jalan.
"Kakak kenapa? apa kakak mau bunuh diri?" cetus Ayana dengan wajah kesal namun masih berderai air mata.
"Kenapa kamu melakukannya?" tanya Sahir.
"Melakukan apa?" Ayana malah balik bertanya tak mengerti maksud Sahir.
"Kenapa kamu menerima ajakan kakak kelas Dira?"
"Karena dia sudah baik menawariku untuk mengantarkan aku pulang ke rumah dan aku merasa tidak enak untuk menolaknya... memang kenapa?"
"Tapi kamu kan bisa menolaknya dan memintaku untuk mengantarkanmu pulang Ay..."
"Kenapa harus begitu? aku kan bukan siapa-siapa kakak lagi... Lagi pula kakak kan sedang bersama kekasih baru kakak. Jadi aku tidak mau dianggap sebagai pelakor oleh kekasih kakak itu" balas Ayana emosi.
Sahir terdiam dengan perkataan Ayana. Ia jadi pusing karena apa yang ia rencanakan bersama sang adik gagal total. Bukannya membuat Ayana dan Hana cemburu, tapi malah sebaliknya. Kedua kekasih mereka malah hampir saja diembat orang lain.
"Dia bukan kekasih baruku Ay..." terang Sahir yang tak ingin Ayana kembali salah faham.
"Itu bukan urusanku..." sahut Ayana ketus.
Meski ada rasa lega dihatinya karena ternyata Sahir tidak memiliki kekasih baru, tapi tetap saja ia masih sakit hati mengingat perlakuan Sahir yang bermesraan dengan gadis lain di depannya tadi. Sahir menghela nafasnya kasar, ia tahu Ayana pasti masih marah dengan sikapnya tadi.
"Maafkan aku Ay... tadi aku hanya ingin membuatmu cemburu... aku tahu aku salah, tapi aku tidak tahu bagaimana caranya agar kamu mau kembali menjadi kekasihku..." terang Sahir frustasi.
Sungguh... ia tidak menyangka jika langkahnya mengikuti saran Samir akan berakhir seperti ini.
"Aku mohon Ay... kembalilah bersamaku" ucap Sahir yang kini menghadap ke arah Ayana.
Pemuda itu juga menggenggam erat tangan gadis yang sangat dicintainya itu.
"Tapi aku masih dibawah umur kak..."
"Aku tahu... kalau kamu mau kita tidak akan bersikap seperti sepasang kekasih sampai ulang tahunmu yang ke 17, tapi setidaknya kamu harus menjauh dari lelaki lain selain aku... dan kita akan kembali menjadi pasangan kekasih setelah kamu berusia 17 tahun..." usul Sahir.
Ayana memandang wajah Sahir dengan perasaan gamang. Jujur ia masih mencintai Sahir dan ia yakin akan selamanya seperti itu. Dan tanpa disuruh pun ia akan selalu menjaga jarak dengan lawan jenisnya agar Sahir tidak terluka. Apa yang ia lakukan tadi hanyalah pembalasannya pada Sahir karena bersikap mesra dengan gadis lain dihadapannya.
"Aku mohon Ay... aku bersedia menunggu, jadilah kekasihku lagi meski hanya dalam hati..."
Ayana tak dapat lagi membohongi perasaanya sendiri saat melihat Sahir yang sudah memohon padanya seperti itu. Ayana pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Sahir yang melihatnya langsung memeluk gadis yang ada dihadapannya itu.
__ADS_1
"Terima kasih Ay..."
"Iya kak, sama-sama..." sahut Ayana masih dalam pelukan Sahir.
Di tempat lain...
Hana tampak cemberut saat Samir membawanya ke masuk dalam mobil. Meski begitu gadis itu tidak memberontak dan menuruti Samir. Di dalam mobil Samir tidak langsung menjalankan mobilnya. Ia tengah berusaha meredam emosinya sejenak.
"Aku minta maaf Hana... aku tahu aku salah" ucap Sahir tiba-tiba.
Hana menoleh ke arah Samir yang ternyata juga tengah menatapnya.
"Aku tahu kalian marah masalah Sadira... dan seharusnya aku dan kak Sahir tidak terlalu keras padanya dan kekasihnya itu. Tapi kami melakukan itu karena orangtua kami sudah membuat kami berjanji termasuk Dira, agar tidak berpacaran sebelum usia 17 tahun... oleh karena itu kami melarang Dira, tapi kami lupa jika kami juga jatuh cinta pada teman adik kami sendiri yang tentu saja sepantar dengannya..." terang Samir.
Hana terdiam. Ia dan Ayana protes pada Sahir dan Samir memang karena cara keduanya pada Bara yang kasar. Tanpa mereka ingat bahwa kekasih keduanya juga seusia dengan sang adik.
"Tapi apa yang orangtua kakak katakan memang benar... kami masih terlalu kecil untuk soal asmara" ungkap Hana.
"Jadi lebih baik aku tidak pacaran dulu sebelum 17 tahun" sambung Hana tegas.
Samir tampak tak bisa berkutik dengan perkataan Hana.
"Tenang saja... aku tidak akan berpacaran dengan siapa pun sebelum 17 tahun" lanjut gadis itu yang membuat Samir langsungmenyunggingkan senyumannya.
Ya... Hana tidak akan berpacaran dengan siapa pun... itu artinya ia tidak akan menerima orang lain sebagai kekasihnya sebelum berusia 17 tahun. Lagi pula ia tidak harus menunggu lama karena 6 bulan lagi Hana akan berusia 17 tahun. Tapi Samir harus memastikan sesuatu terlebih dahulu agar hatinya menjadi lebih tenang.
"Apakah kamu mau berjanji jika nanti kamu mau kembali menjadi kekasihku setelah usiamu 17 tahun?" tanya Samir langsung.
"Aku akan menunggumu dengan sabar..." ucap Samir.
"Tapi bagaimana dengan kekasih baru kakak?" tanya Hana yang baru mengingatnya.
"Dia bukan kekasihku!" sahut Samir tegas.
"Aku hanya ingin membuatmu cemburu dengan membawanya tadi..." sambung Samir yang langsung mendapat cubitan keras diperutnya dari Hana.
"Auch!" seru Samir merasakan sakit akibat cubitan Hana.
"Rasakan! siapa suruh sudah membuatku sakit hati karena tingkah kakak..." cetus Hana mengerucutkan bibirnya kesal.
"Aku hanya ingin tahu apa kamu masih mencintaiku dan cemburu jika aku dekat dengan gadis lain..." ucap Samir sambil menatap Hana lembut.
Mendapatkan tatapan seperti itu wajah Hana pun langsung memerah. Gadis itu langsung menundukkan wajahnya karena malu. Samir menarik dagu Hana agar gadis itu mau kembali menatapnya.
"Aku mencintaimu Hana..." ucap Samir sambil melabuhkan kecupan dibibir gadis itu.
Hana membelalakkan kedua matanya karena terkejut. Kecupan singkat yang merupakan ciuman pertama bagi keduanya.
"Maaf jika aku sudah lancang menciummu... anggap saja ini tanda jika kamu tetaplah milikku meski kita belum bisa bersama" ucap Samir sambil mengusap ujung bibir Hana dengan lembut.
Hana hanya bisa mengangguk pelan. Ia merasa senang sekaligus malu karena Samir pria pertama yang mengecup bibirnya.
__ADS_1
"Kita pulang sekarang..." kata Samir.
Hana hanya bisa kembali mengangguk. Dan Samir pun melajukan mobilnya sambil menggenggam tangan Hana dengan sebelah tangannya yang tidak memegang kemudi.
Waktu berlalu dengan cepat... tak terasa saat ini Sadira sudah naik ke kelas XII. Hubungannya dengan Bara masih terjalin meski keduanya sepakat untuk lebih berkonsentrasi pada pelajaran sekolah. Begitu juga dengan kedua sahabat Sadira yang kini sudah resmi menjadi kekasih sang kakak setelah keduanya merayakan ulang tahun mereka yang ke 17. Usia Ayana dan Hana hanya berjarak satu bulan sehingga saat masuk kelas XII beberapa minggu keduanya sudah berusia 17 tahun. Hal ini tentu saja membuat kedua kakak kembar Sadira bahagia dan kini keduanya malah sudah memperkenalkan kekasih mereka itu pada Amira dan tuan Sam. Keduanya pun menyetujui gadis pilihan kedua putra kembar mereka. Apa lagi keduanya adalah sahabat Sadira putri bungsu mereka.
"Ra... kak Bara tambah sibuk ya?" tanya Hana yang kini sudah jarang melihat Bara menunggu Sadira di depan kelas mereka.
"Iya... kan mau mempersiapkan ujian akhirnya" sahut Sadira yang masih sering dihubungi Bara lewat ponsel.
"Hem... iya ya... lalu apa kak Bara masih tetap dengan rencananya?"
Ya... Hana sudah tahu rencana Bara yang ingin serius merancang masa depannya dengan Sadira. Oleh karenanya pemuda itu kini sangat sibuk, selain dengan pendidikannya tapi ia juga mulai membantu papanya mengurus perusahaan. Untung saja Bara memiliki otak yang encer sehingga dapat menghandle semuanya tanpa membuat salah satunya keteteran. Terutama pada sekolahnya.
"Iya Han... karena itulah kak Bara tambah sibuk dan kita jarang ketemuan..." terang Sadira.
Hana pun mengangguk mengerti.
"Oh iya... kamu juga sebentar lagi 17 tahun kan? bagaimana... apa setelahnya kamu dan kak Bara akan resmi kembali jadian?" tanya Hana sambil menaik turunkan alisnya bermaksud untuk menggoda sahabatnya itu.
"Ish!" sahut Sadira sambil memukul lengan Hana pelan.
Hana hanya tertawa saat melihat wajah Sadira yang bersemu merah. Memang Bara terlihat sangat serius dalam hubungannya dengan Sadira dan sudah mempersiapkan segalanya agar nantinya mereka bisa bersatu selamanya.
"Cie-cie... bakal jadi nyonya Bara nih!" ucap Hana semakin menggoda Sadira.
"Apaan sih Han..." sungut Sadira namun tak ayal hatinya ikut berbunga-bunga.
Ya... ulang tahun Sadira tinggal berapa bulan lagi. Dan tidak bisa dipungkiri jika Sadira merasa deg degan karena sebentar lagi ia dan Bara sudah bisa mengumumkan pada semuanya jika dirinya dan Bara sepasang sekasih. Sesungguhnya ia juga merasa iri pada kedua sahabatnya yang sudah bisa pergi kemana-mana dengan kekasihnya. Bahkan bunda dan ayahnya juga sudah merestui mereka. Hal ini juga membuat Sadira cemas apakah kedua orangtuanya bisa menerima Bara seperti kedua kekasih kakaknya itu.
"Sudah jangan difikirkan perkataanku tadi Ra... sekarang coba kamu fikirkan apa kamu akan mengadakan pesta saat ulang tahun kamu nanti..."
"Tapi itu kan masih 3 bulan lagi Han..."
"Ya... kan biar acaranya berkesan Ra... jadi kita rencanain jauh-jauh hari..."
"Tapi aku ingin yang sederhana saja kok Han... yang penting kalian semua yang aku sayangi hadir..."
"Terutama kak Bara kan?" Hana kembali menggoda.
Sadira pun langsung mencubit perut sahabatnya yang sedari tadi tidak puas menggodanya itu.
"Ish... sakit Ra..." seru Hana meringis.
Sadira hanya menjulurkan lidahnya mengejek. Untung saja bel tanda masuk berbunyi membuat Hana yang hendak membalas Sadira mengurungkan niatnya. Tak lama guru mereka pun masuk dan pelajaran pun kembali dimulai. Di tempat lain tampak seseorang tengah tersenyum penuh kemenangan saat melihat beberapa dokumen yang ada dihadapannya saat ini.
"Sebentar lagi aku akan membuat kalian membayar atas apa yang kalian lakukan pada mamaku..." ucap orang itu dengan senyuman i***s.
"Setelah ini nikmati siksaan yang akan kalian rasakan dariku secara langsung... karena tidak akan ada yang bisa menolong kalian dari balas dendamku..." sambungnya.
Ia pun kemudian mengumpulkan dokumen yang dilihatnya tadi lalu meletakkan ke dalam tas jinjingnya. Ia pun kemudian keluar dari dalam kantornya dan segera menuju ke halaman parkir dan menaiki mobilnya. Kini tujuannya adalah ke tempat dimana ia akan menyimpan dokumen itu agar aman.
__ADS_1