
Tuan Sam tampak sangat geram saat mendengar laporan dari anak buahnya yang bertugas untuk mengawasi putrinya Sadira. Bagaimana tidak... gadis itu berpamitan akan menginap di rumah sahabatnya, namun semua itu adalah kebohongan belaka. Nyatanya gadis itu tidak menginap di rumah Ayana. Putrinya itu justru menginap di sebuah kosan sederhana bersama sang sahabat. Semula tuan Sam tidak mengerti mengapa kedua bocah itu repot-repot menyewa kamar kos. Tapi saat sang pengawal yang diperintahnya untuk mengawasi putri bungsunya itu mengatakan bahwa Sadira dan Ayana kembali keluar dari dalam kamar kosan dengan berdandan bak orang dewasa dan pergi ke sebuah club membuat tuan Sam sadar. Sadira tengah mencoba-coba untuk merasakan suasana gemerlap dalam club.
Apakah ini pengaruh buruk dari temannya yang bernama Ayana itu? sebab keduanya memang terbukti pergi bersama. Apa lagi tuan Sam juga mendapatkan trek record gadis itu yang disebutkan sebagai murid yang bermasalah sehingga sering pindah sekolah. Tak mau kecolongan tuan Sam pun memerintahkan anak buahnya itu untuk mengikuti kemana pun putrinya itu pergi termasuk ikut masuk ke dalam club. Sedang dirinya sendiri akan segera menyusul ke sana setelah sang pengawal mengirimkan alamatnya.
"Kau mau pergi kemana malam-malam seperti ini Db?" tanya Amira saat melihat sang suami bergegas keluar dari dalam ruang kerjanya dengan mengenakan jaketnya.
"Aku ada urusan sebentar diluar Meyaa... kau tidurlah dulu... setelah selesai aku segera kembali" kata tuan Sam yang tak ingin membuat Amira khawatir.
"Apa ada sesuatu yang serius?" tanya Amira penasaran.
"Tidak Meyaa... kau tenang saja... semua akan baik-baik saja" sahut tuan Sam sambil mengecup puncak kepala Amira sebagai tanda pamit.
"Kalau begitu berhati-hatilah..." ucap Amira.
Tuan Sam pun menganggukkan kepalanya dan segera berlalu. Sedangkan Amira menghela nafasnya pelan. Entah mengapa hatinya merasa tidak tenang. Ia pun segera beristighfar mencoba menenangkan hatinya.
"Ya Allah hamba mohon lindungilah suami dan anak-anak hamba dari segala mara bahaya..." do'anya dalam hati.
Sementara itu di tempat lain...
Ayana dan Sadira telah berada di dalam taksi yang mereka cegat di jalan tadi. Kedua gadis itu masih berdebar karena baru saja menyelesaikan misi pertama mereka. Tak ada yang saling bicara. Keduanya hanya saling pandang dan menautkan jari mereka dengan erat. Seolah berkata jika saat ini mereka berdua akan baik-baik saja.
"Tuan... nona Dira langsung naik ke lantai atas... tanpa menuju ke lantai dansa atau pun meja bar" lapor sang pengawal melalui ponsel.
"S**t! apa yang sebenarnya mau kau lakukan Dira?" batin tuan Sam sambil memukul stir mobilnya, setelah mematikan panggilan ponselnya sepihak.
Untung saja ia mengenakan ear phone untuk menerima panggilan dari ponselnya. Saat ini ia memang tengah mengendarai mobilnya sendiri tanpa sopir. Masalah Sadira harus ia selesaikan sendiri tanpa ada orang rumah yang tahu. Baru saja tuan Sam keluar dari dalam mobilnya yang baru saja terparkir di depan sebuah club para pengawal yang seharusnya penjaga sang putri sudah menghadapnya.
"Maaf tuan... kami kehilangan nona..." ucap ketua pengawal sambil menundukkan kepalanya penuh penyesalan.
Baru kali ini ia gagal dalam tugasnya melindungi putri tuannya itu.
"Apa maksud kalian hah?" tanya tuan Sam mulai terbawa emosi.
Bagaimana tidak putri bungsunya yang baru berusia remaja hilang setelah memasuki kawasan club.
"Kami sudah berusaha mengikuti nona Dira sampai ke lantai atas... tapi saat kami tiba kami tidak bisa menemukannya tuan... kami bahkan sudah menggeledah setiap ruangan yang ada di atas sana kecuali ruangan pemilik tempat ini tapi nona tidak ada..." terang pengawalnya itu.
"Lalu kenapa kalian tidak masuk ke ruangan pemilik club? apa kalian yakin putriku tidak sedang disekap di dalam sana hah?"
"Buka begitu tuan... ruangan itu dijaga oleh dua orang penjaga yang mengaku tidak pernah melihat nona dan temannya apa lagi mereka tidak pernah meninggalkan tempatnya... sedangkan pemiliki club ini adalah nona Keysha... dia juga sedang berada di lantai bawah karena kami melihatnya... jadi tidak ada waktu untuk menyekap keduanya..."
"Jadi pemilik club ini Keysha?"
"Benar tuan..."
Tuan Sam tertegun karena tak menyangka jika pemilik club itu adalah Keysha. Tapi tuan Sam langsung mengalihkan fikirannya demi mencari keberadaan Sadira.
"Cepat periksa GPS pada ponsel putriku!" titahnya pada anak buahnya.
__ADS_1
Benar saja tak lama tampak jika sinyal GPS Sadira terlihat sudah bergerak menjauh dari club dan menuju tempat lain.
"Tuan... sepertinya nona menuju tempat kosnya" kata sang pengawal yang melihat arah kemana Sadira dan Ayana kini menuju.
"Kalau begitu kita harus cepat menyusul mereka dan tiba disana sebelum kedua bocah nakal itu sampai!" perintah tuan Sam.
"Baik tuan..." sahut para pengawal kompak.
Mereka pun segera masuk ke dalam mobil mereka masing-masing. Salah satu pengawal menggantikan tuan Sam menyetir karena pria itu belum mengetahui alamat kosan Sadira dan Ayana. Dua mobil itu pun melaju dengan kecepatan tinggi dan menggunakan jalan pintas agar bisa lebih dulu tiba di kosan dan memberi kejutan pada dua gadis yang sudah membuat jantung tuan Sam hampir copot karena ulah keduanya.
Setelah membayar taksi yang mereka naiki Sadira dan Ayana pun bergegas masuk ke dalam kamar kos mereka. Keduanya sudah tidak sabar untuk segera membuka file yang ada di dalam flash disk itu deni mengetahui rahasia apa yang berusaha dijaga oleh Siska. Namun baru saja Ayana hendak membuka pintu kamar, tiba-tiba terdengar suara berat seseorang yang sangat dikenal oleh Sadira.
"Bagus! sudah mulai berani berbohong kamu ya!"
Ayana dan Sadira pun segera berbalik dan terkejut saat melihat siapa yang sudah duduk di kursi yang ada di teras kamar kos.
"Ayah!" seru Sadira langsung membulatkan matanya ketakutan.
Tak berbeda dengan Ayana yang tampak pias melihat wajah seram ayah temannya itu.
"Apa kau mau menjelaskan kenapa kau berani berbohong pada kami dan berani berdandan seperti ini hah? dari mana saja kalian?"
"Ma... maaf ayah... Dira..."
"Dira ga salah om... Aya yang salah... Aya yang mengajak Dira..." potong Ayana.
"Ga ayah... ini ide Dira... Aya cuma ikut Dira..."
"Bu... bukan itu alasannya ayah... sungguh Dira sama Aya punya alasan kuat untuk pergi kesana... tapi bukan untuk bersenang-senang seperti yang ayah fikirkan..." ucap Sadira sambil berjalan perlahan ke arah sang ayah.
Sadira tahu jika saat ini ia bersalah karena sudah berbohong pada kedua orangtuanya. Apa lagi ia juga berani pergi ke club yang belum boleh untuknya karena masih dibawah umur. Dalam hatinya Sadira berperang ingin mengatakan sejujurnya alasan ia dan Ayana sampai nekat pergi ke tempat itu namun ia ragu jika Ayana mengizinkannya. Tapi sebelum ia mengungkapkan pada ayahnya tiba-tiba justru Ayana yang langsung mengatakan yang sebenarnya pada tuan Sam. Tentu saja hal ini ia lakukan agar tuan Sam tidak salah faham pada Sadira yang sudah dengan tulus membantunya.
"Itulah om, alasan sebenarnya hingga kami nekat melakukan hal ini semua. Bukan maksud kami membuat om khawatir..." terangnya.
"Lalu apa sebenarnya isi flash disk itu?" tanya tuan Sam penasaran.
"Kami juga belum tahu om... kami belum sempat membukanya..." jawab Ayana.
Tuan Sam menghela nafasnya pelan... ia tak menyangka jika alasan dari sikap putrinya ini sangat serius. Bukan masalah remaja biasa, bahkan bisa dikatakan jika mereka menghadapi masalah kriminal serius. Apa lagi Ayana dan adiknya Deni adalah saksi kunci dari kematian Siska. Bahkan nyawa keduanya bisa dalam bahaya jika pembunuh itu tahu jika keduanya merupakan saksi mata kejahatannya.
"Berikan flash disk yang tadi kalian dapatkan itu dan juga rekaman yang ada di kamar mama kamu Ay..." kata tuan Sam sambil mengajukan tangannya.
Dengan berat hati Ayana memberikan flash disk yang tadi didapatkannya dengan susah payah pada tuan Sam. Lagi pula dia adalah ayah Sadira, pasti tahu yang terbaik bagi mereka dan akan membantunya mengungkap kematian sang mama.
"Lalu rekaman yang dikamar mama kamu?"
"Ada di dalam kamar om... sebentar aku ambilkan" sahut Ayana lalu masuk ke dalam kamar kosan.
Tak lama gadis itu pun kembali keluar dengan membawa apa yang tuan Sam minta lalu memberikannya pada pria itu.
__ADS_1
"Apa kalian sudah melihat isi rekaman ini?" tanya tuan Sam lagi.
"Sudah om..."
"Sudah ayah..."
Sahut kedua gadis itu bersamaan.
"Jadi kalian sudah tahu kan berhadapan dengan siapa?"
Ayana dan Sadira hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Kalian ini... masalah serius seperti ini tidak akan bisa kalian hadapi sendiri..." kata tuan Sam dengan frustasi.
"Kalian harusnya mempercayai kami para orang dewasa untuk menyelesaikan masalah sebesar ini..." sambung tuan Sam.
"Bagaimana kami bisa percaya ayah... sedang yang menjebak mamanya Aya adalah suaminya sendiri yang tak lain ayah kandung Aya..." ujar Sadira dengan suara pelan.
Tuan Sam kembali menghela nafasnya berat.
"Tapi kau bisa mempercayai ayah dan bunda bukan?" tanya tuan Sam pada putrinya.
Sadira hanya bisa menundukkan kepalanya merasa menyesal karena sudah tidak mempercayai kedua orangtuanya sendiri. Padahal selama ini mereka adalah orang yang paling di depan untuk melindunginya dan kedua kakaknya.
"Maaf ayah..." ucap Sadira dengan air mata yang sudah menggenang di sudut matanya.
"Kemarilah!" titah tuan Sam pada Sadira agar mendekat ke arahnya.
Gadis itu pun langsung menghambur ke arah ayahnya dan langsung memeluk pria yang paling disayanginya itu.
"Maafkan Dira ayah... sudah membuat ayah khawatir..." ucapnya tulus yang membuat tuan Sam tersenyum sambil memeluk tubuh putrinya itu erat.
Ayana tampak terharu melihat adegan yang ada dihadapannya... ia juga merasa sedikit iri dengan kedekatan Sadira dengan kedua orang tuanya terutama dengan sang ayah. Karena dia tidak merasakan kedekatan seperti itu dengan papanya.
"Sudah... lebih baik kalian sekarang masuk ke dalam kamar dan besok pagi-pagi pulanglah ke rumah dan jangan bilang apa-apa pada bundamu, ayah tidak ingin dia khawatir... untuk masalah ini biar ayah yang akan mengurusnya... ayah janji pada kalian berdua, akan mengusut tuntas semuanya" kata tuan Sam setelah mengurai pelukannya.
"Jadi malam ini kami boleh menginap disini?" tanya Sadira memastikan.
"Iya... jika kalian pulang ke rumah sekarang yang ada orang rumah akan bertanya-tanya terutama kamu Aya..." terang tuan Sam.
"Terima kasih om... sudah mau menolong saya..."
"Sama-sama Aya... kamu juga sudah saya anggap seperti anak sendiri... jadi jangan sungkan..."
Ayana pun mengangguk.
"Sudah... cepat kalian masuk dan tidur... jangan khawatir diluar akan ada pengawal yang akan menjaga kalian..." kata tuan Sam lalu kembali memeluk putrinya dan berpamitan pada Ayana.
Ayana dan Sadira pun kemudian masuk ke dalam kamar. Baru kemudian tuan Sam kembali ke rumahnya. Dalam mobilnya tuan Sam segera menghubungi Lukas dan memintanya menyelidiki semua tentang keluarga Suryono. Tuan Sam juga meminta hasilnya esok pagi, sebab ia tak ingin putrinya terlibat terlalu dalam pada masalah keluarga sahabatnya itu. Karena ia yakin jika itu akan bisa mengancam nyawa putri kecilnya. Ia tahu intrik perebutan baik harta, tahta mau pun cinta bisa membuat seseorang gila dan mampu melakukan segala cara.
__ADS_1
Dipegangnya dua bukti yang sudah dikumpulkan oleh putrinya dan juga Ayana. Meski ia belum melihat isinya namun ia yakin jika semua yang ada di dalam sana adalah bukti kuat atas kejahatan beberapa orang. Salah satunya adalah pembunuh Siska dan juga orang yang sudah dengan tega menjebak wanita malang itu.
"Meski dulu kamu pernah berbuat salah, namun kamu membuktikan jika kamu sudah berubah Siska... dan saya berjanji didepan putrimu akan mengungkap misteri kematianmu dan membawa pembunuhmu ke hadapan hukum, juga orang yang telah memfitnahmu dengan keji... tidak akan aku biarkan mereka melenggang bebas setelah kematianmu..." janji tuan Sam di dalam hati.