
Hari ini di kampus Sahir dan Samir sedang diadakan acara bakti sosial, dimana para mahasiswa diminta partisipasinya untuk mencari donasi bagi korban bencana alam. Berbagai cara mereka lakukan, salah satunya dengan mengadakan bazar dan pertunjukan seni demi menarik donasi dari masyarakat. Kali ini Samir memiliki ide untuk meminta sang adik Sadira untuk memasak sesuatu untuk dijual di stand makanan yang di bukanya. Sadira pun tidak merasa keberatan, apa lagi acara itu diadakan pada hari minggu sehingga tidak menganggu kegiatan sekolahnya.
Amira dan tuan Sam juga tidak keberatan, bahkan ikut memberikan bantuan donasi untuk kegiatan itu. Dan sejak pagi Sadira sudah sibuk di dapur untuk memasak berbagai macam masakan untuk dijual di stand sang kakak. Amira yang turun dari kamarnya setelah sholat subuh tersenyum senang dengan antusias putri bungsunya itu.
"Sedang buat apa Ra?" tanya Amira pada putrinya itu.
"Eh bunda... ini bunda, aku rencananya akan buat nasi kuning..." sahut Sadira sambil meracik beberapa bumbu.
"Oh... biar bunda bantu ya..."
"Terima kasih bunda..."
Ibu dan anak itu pun saling membantu dalam memasak. Para Art pun ikut membantu hingga dalam waktu singkat Sadira berhasil membuat 100 kotak nasi kuning yang akan ia jual di stand kakaknya Samir. Samir yang baru keluar dari kamarnya saat sarapan langsung terkena dampratan Sahir. Pasalnya yang memiliki ide jualan itu dia namun Samir sama sekali tidak membantu dalam proses pembuatannya. Padahal sejak tadi Sahir juga ikut membantu dalam memasukkannya ke dalam kotak makan.
Namun pemuda itu hanya meringis dan beralasan bahwa semalam ia sibuk membuat dekorasi untuk stand mereka pagi ini, sehingga ia bangun terlambat. Amira harus langsung turun tangan menengahi pertikaian kedua putra kembarnya itu agar mereka tidak terlambat tiba di tempat bazar diadakan. Mereka pun segera memasukkan kotak nasi kuning ke dalam mobil untuk dibawa ke bazar. Sadira yang merasa lelah setelah memasak sejak pagi buta pun memilih untuk tidak ikut dengan kedua kakaknya itu. Ia memutuskan untuk beristirahat di rumah saja. Lagi pula dia bukan mahasiswa di kampus kedua kakaknya itu. Sahir dan Samir pun setuju lagi pula mereka sudah berterima kasih pada adik bungsu mereka itu yang sudah mau membantu memasak makanan. Jadi membiarkan Sadira beristirahat adalah salah satu cara untuk membalasnya.
Sementara kedua kakaknya sibuk di bazar, Sadira kini tengah bersantai di kamarnya. Amira pun tengah pergi dengan nyonya Sarah, sehingga gadis itu sendirian di rumah bersama para pekerja di rumahnya. Saat tengah menikmati istirahatnya dengan tiduran di tempat tidurnya, tiba-tiba ponselnya berdering. Dan nama Bara terpampang disana. Sadira langsung tersenyum cerah. Rasa lelahnya tadi langsung menghilang demi mengetahui jika Bara menghubunginya.
"Assalamualaikum kak..."
"Waalaikum salam Ra... kamu sedang apa?" tanya Bara.
"Sedang istirahat kak..."
"Istirahat? memangnya sedari tadi kamu ngapain?"
"Itu... aku tadi bantu bunda memasak kak... ada pesanan, jadi jumlahnya cukup banyak..." terang Sadira yang tak mengakui jika ia sendirilah yang memasak sedang sang bunda hanya membantunya saja.
"Apa kamu masih lelah?"
"Eum... sudah enggak sih... memangnya kenapa?"
"Aku ingin mengajakmu keluar... kau mau kan?" tanya Bara dengan hati berdebar.
"Aku mau kak... tapi jangan jemput di rumah ya... kita ketemuan aja..." kata Sadira yang masih ingin menyembunyikan hubungannya dengan Bara dari keluarganya.
"Baiklah... kalau begitu kita ketemuan di cafe Rosta satu jam lagi... bagaimana?"
"Oke kak... satu jam lagi kita ketemuan di sana..." sahut Sadira yang membuat Bara langsung bahagia karena ini adalah kencan pertama keduanya.
Satu jam kemudian...
Bara duduk dengan gelisah saat menunggu kedatangan Sadira. Padahal waktu pertemuan mereka baru lewat lima menit, namun wajah tampannya sudah tampak kusut. Bukan apa-apa, ia tengah gelisah karena takut jika kencan pertamanya dengan Sadira gagal. Namun wajahnya langsung berubah cerah saat tak lama kemudian ia melihat gadis pujaannya itu memasuki cafe. Bara langsung berdiri dan melambaikan tangannya pada Sadira saat gadis itu melihat ke arahnya.
Keduanya pun langsung memesan minuman setelah Bara mempersilahkan Sadira duduk di kursi yang sudah disiapkannya. Sambil menikmati minuman, mereka pun berbincang dan berencana untuk pergi ke mall terdekat untuk berjalan-jalan. Keluar dari dalam cafe, Bara mengajak Sadira untuk membonceng sepeda motornya. Dia bahkan sudah menyiapkan helm untuk dipakai oleh kekasihnya itu. Untung saja Sadira mengenakan celana jins panjang sehingga ia tidak ragu untuk mengikuti kemauan Bara. Meski agak canggung saat pertama kalinya harus melingkarkan lengannya di perut Bara. Bara pun tersenyum saat merasakan tangan Sadira melingkar di perutnya. Ia bahkan menggenggam tangan Sadira agar tidak melepas pelukannya selama perjalanan.
Tak lama keduanya pun sampai di mall dan langsung menuju ke dalam setelah Bara memarkirkan motornya.Keduanya tampak bahagia berjalan berdua di dalam mall. Bara bahkan tak pernah melepaskan genggamannya dari tangan Sadira. Tanpa mereka sadari jika ada sepasang mata yang tengah mengawasi keduanya dengan penuh amarah.
__ADS_1
"B***g**k! sudah makin berani saja gadis itu..." runtuk Naya dalam hati.
Ya... sepasang mata yang memperhatikan sepasang kekasih yang tengah dimabuk asmara itu adalah Naya. Tadi ia baru saja keluar dari salah satu toko roti langganannya saat tanpa sengaja ia melihat Bara dan Sadira. Jika saja saat ini ia tidak tengah disuruh sang mama untuk membelikan kue kesukaannya tentu ia sudah akan mengikuti kemana sepasang kekasih itu pergi. Namun begitu ia sempat melihat keduanya yang tengah memasuki area bioskop. Sudah bisa dipastikan jika keduanya akan menonton film bersama. Membayangkan Bara dan Sadira duduk berduaan di dalam bioskop dan menonton film romantis saja sudah membuat Naya sangat kesal.
"Awas saja... akan aku balas kau Dira..." gumamnya sambil meremas sebelah tangannya yang tidak memegang paper bag.
Sementara kedua sepasang kekasih itu tengah mengantre masuk ke dalam bioskop. Tapi bukan seperti bayangan Naya, keduanya justru memilih film komedi. Tak terasa hampir dua jam keduanya menonton dengan penuh gelak tawa di dalam bioskop. Saat keluar tampak wajah Sadira agak memerah karena seringnya tertawa tadi. Namun keduany sangat menikmati momen itu. Sebelum mengantar Sadira pulang, keduanya menyempatkan diri untuk membeli camilan di salah satu cafe yang ada di dalam mall tersebut. Dan kali ini ada seseorang lain yang memergoki keduanya.
"Bukankah itu Dira?" batin nyonya Sarah.
Ya... orang itu adalah nyonya Sarah, saat ini dia dan Amira tengah membeli beberapa barang di dalam mall tersebut. Dan saat menunggu Amira yang tengah pergi ke toilet tidak sengaja ia melihat keponakannya itu tengah berjalan bersama seorang pemuda. Dari tingkah keduanya ia bisa menebak jika keduanya tengah berpacaran. Dan dari pengamatannya jika keduanya berhubungan secara diam-diam. Pasalnya Amira sama sekali tidak pernah menyebut jika putrinya sudah memiliki pacar.
"Dasar gadis nakal..." gumam nyonya Sarah sambil tersenyum kecil.
Ia tentu saja tidak berniat melaporkan apa yang baru saja dilihatnya pada Amira karena dari yang ia lihat jika gaya pacaran keponakannya itu masih terlihat wajar. Karena mereka terlihat hanya bergandengan tangan dan tidak lebih seperti gaya pacaran para remaja yang lain. Tak lama Amira pun kembali dan nyonya Sarah langsung tersenyum menyambut iparnya itu. Keduanya pun kemudian memutuskan untuk langsung pulang ke rumah masing-masing.
Sementara Sadira dan Bara sedang dalam perjalanan pulang. Bara tadi memang memaksa untuk mengantarkan Sadira pulang ke rumahnya meski tidak di langsung di depan rumah. Sadira pun akhirnya pasrah dan kembali membonceng motor Bara. Bara memang sengaja memaksa untuk mengantar Sadira pulang ke rumahnya karena ia ingin kembali mengulang momen tadi saat mereka berboncengan pergi ke mall. Dan harapan pemuda itu pun terwujud karena kali ini Sadira sudah tidak canggung lagi memeluk dirinya dari belakang. Bara bahkan tidak melajukan motornya dengan kencang demi bisa lebih lama menikmati momen ini.
Bara dan Sadira berhenti beberapa rumah dari rumah Sadira. Gadis itu masih tetap keukeuh untuk menyembunyikan hubungan mereka dulu dari keluarganya. Meski begitu Bara tidak keberatan, yang terpenting gadis itu sudah mau menerimanya sebagai kekasih.
"Sampai jumpa besok di sekolah ya Ra..."
"Iya kak... kakak hati-hati di jalan..." sahut Sadira sambil tersenyum manis.
"Heum... boleh aku meminta sesuatu Ra?"
"Boleh aku memelukmu sebelum pulang?" tanya Bara hati-hati.
Sadira mengangguk pelan, Bara pun langsung memeluk tubuh Sadira.
"Terima kasih Ra..." ucapnya ditelinga Sadira.
"Untuk?"
"Mau menjadi kekasihku... i love you Ra..."
"I love you too kak..."
"Sudah sana pulang, nanti aku telfon ya..." ujar Bara setelah mengurai pelukannya.
"Heum..." sahut Sadira mengangguk pelan.
Kemudian gadis itu pun berbalik dan berjalan pulang ke rumahnya yang berjarak satu rumah dari tempat keduanya berhenti tadi. Sesekali Sadira menoleh ke arah Bara sambil tersenyum dan dibalas oleh Bara. Saat gadis itu akhirnya sampai di gerbang rumahnya untuk terakhir kali ia kembali menoleh ke arah Bara dan diangguki oleh Bara baru kemudian gadis itu masuk ke dalam rumahnya. Setelah memastikan Sadira masuk ke dalam rumah, barulah Bara menyalakan motornya dan pergi dari tempat itu.
Di arena Bazar...
Sahir dan Samir tampak kuwalahan melayani para pembeli nasi kuning yang dijualnya. Dan dalam waktu dua jam, seratus kotak nasi kuning sudah habis ludes membuat kakak beradik itu merasa senang. Para pembeli bahkan banyak yang kecewa karena tidak kebagian.
__ADS_1
"Wah... hari ini kita sukse besar... benarkan Sam?" kata Hadi salah satu teman yang membantu Samir dan Sahir.
"Iya... alhamdulillah... tidak sia-sia adikku bangun sangat pagi untuk menyiapkan semuanya..." sahut Samir bangga.
"Sayang... kita tidak bisa mencicipinya karena keburu habis..." sambung Bagas teman mereka lainnya.
"Tenang saja... tadi adikku sengaja memasak lebih untuk kita... tadi sengaja aku simpan di mobil agar tidak ikut terjual..." kata Sahir yang membuat kedua temannya itu langsung bersorak senang.
"Tunggu sebentar akan aku ambilkan..." sambung Sahir.
Sementara Sahir mengambil nasi kuning di mobil, Samir dan kedua temannya membereskan stand mereka agar bisa beristirahat dengan tenang sambil menikmati nasi kuning buatan Sadira. Tak lama Sahir pun datang sambil membawa empat kotak berisi nasi kuning untuk mereka. Dan tak butuh waktu lama keempatnya pun langsung menikmati masakan buatan Sadira.
"Sumpah... masakan adik kalian sungguh sangat enak..." puji Hadi dengan mulut yang masih penuh.
"Iya... mirip buatan chef bintang lima..." sambung Bagas.
"Adik bungsu kami itu memang ahlinya dalam masak memasak... bahkan sejak kecil ia sudah menunjukkan bakatnya..." kata Samir bangga.
"Pasti tipe gadis rumahan deh..." ujar Hadi mulai berkhayal.
"Ck... jangan coba-coba mendekati adek gua... dia masih kecil tahu..." sungut Sahir yang tahu kemana arah fikiran temannya yang satu itu.
"Yeah... ga pa-pa kan kalo aku bersedia menunggu sampai dia cukup umur..." sahut Hadi sambil menaik turunkan alisnya.
"Mau gua cekek lu?" sambar Samir yang langsung galak saat adiknya di goda meski sang adik tidak berada di sana.
"Wuih... bodyguardnya galak-galak bro... lu ga akan mungkin bisa lewat..." seru Bagas sambil terkekeh.
"Lagi pula siapa yang sudi adek gua jadian sama lu... modal tampang doang..." sungut Sahir.
"Tapi usaha boleh kan bro?" kata Hadi nekat.
"Kagak ada... yang ada lu udah gua jadiin perkedel sebelum bisa mendekati adek gua..." sambar Samir.
"Ya elah... segitu protektifnya kalian sama adek bungsu kalian itu... bisa-bisa dia jadi perawan tua gara-gara tingkah kalian..." kata Hadi yang mulai dongkol karena tak diizinkan untuk mendekati Sadira.
"Bodo amat... yang pasti saat ini adek gua masih terlalu kecil buat cinta-cintaan apa lagi sama playboy modelan kayak lu..." tunjuk Samir pada Hadi yang langsung mendapat delikan dari Hadi.
"Udah terima aja Di... lu memang ga cocok buat anak mami kayak adek si kembar itu... lu itu cocoknya noh! sama si Sella yang punya body s**s* dan suka ke club..." sambung Bagas sambil menunjuk pada seorang gadis berambut pirang dengan dandanan bak foto model dan tengah berada di standnya yang menjual produk kosmetik.
Hadi pun langsung nyengir saat melihat Sella yang juga tengah menatap ke arah mereka dan tersenyum manis.
" Kalau gantinya si Sella mah gua juga mau..." ujarnya kemudian sambil menampilkan senyuman terbaiknya untuk menarik perhatian Sella.
"Dasar playboy cap kacang lu!" kata Sahir sambil menoyor kepala temannya itu.
Sedang Hadi hanya mesam mesem karena tengah mengira jika Sella tersenyum padanya.
__ADS_1