BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Teman Tonix


__ADS_3

"Anda ingin diantarkan kemana nona?" tanya orang yang kini sudah berada di kursi kemudi pada Anna dan Sari.


"Ke jalan Kenanga no.xxx kak..." kata Sari menyebutkan alamat rumahnya.


"Lalu nona?" tanyanya pada Anna.


"Nanti saja setelah kakak mengantarkan teman saya..." sahut Anna.


Selama perjalanan Sari mengungkapkan kebahagiaannya bisa diundang langsung oleh Devan. Bahkan pria itu menyuruh asistennya untuk mengantarnya dan juga Anna pulang.


"Kak Devan perhatian banget kan Ann?" ungkap Sari pada Anna dengan wajah berbinar.


Dalam hati gadis itu terselip harapan lebih atas perlakuan Devan padanya. Sementara seseorang yang kini tengah menyetir di depan sana justru tengah mengumpat kesal.


"S**l*n! salah langkah lagi... kenapa justru gadis **n itu yang merasa tersanjung?" batin pria itu sambil menyetir dengan dongkol.


"Sudah sampai nona..." kata orang itu saat mobil mereka sudah berada di depan gerbang rumah Sari.


"Iya terima kasih kak..." ucap Sari yang dibalas anggukan oleh orang yang berada di balik kemudi.


"Aku pulang dulu ya..." sambung Sari pada Anna.


Anna menganggukkan kepalanya sebagai balasannya. Setelah Sari masuk ke dalam rumahnya mobil yang ditumpangi Anna belum juga beranjak pergi.


"Apa kau fikir aku ini sopir hem?" tanya orang yang berada dibalik kemudi pada Anna.


Suara orang itu pun sudah berubah membuat Anna memandang ke arah orang itu. Orang itu pun menoleh ke arah belakang membuat Anna terkejut.


"Kak Devan?" ucapnya tak percaya.


"Tapi..."


"Sudahlah kamu pindah saja ke depan... kan sudah aku bilang kalau aku bukan sopir" potong Devan.


Anna pun menurut karena ia sudah ingin segera pulang dan tidak ingin berdebat dengan Devan. Setelah Anna pindah ke depan dan memakai sabuk pengaman Devan pun melajukan mobilnya.


"Rumah kamu dimana?" tanyanya setelah beberapa saat keduanya terdiam.


Anna pun segera menyebutkan alamat rumahnya. Setelahnya keduanya kembali terdiam. Beberapa kali Devan mencuri pandang pada Anna. Sedang gadis itu hanya fokus pada jalanan di depannya.


"Apa kau selalu pendiam seperti ini?" tanya Devan memecahkan kesunyian diantara keduanya.


"Tidak juga..." sahut Anna.


"Lalu kenapa kau sekarang pendiam?"


"Karena aku baru mengenalmu..." sahut Anna.


"Jadi... jika kita sudah saling mengenal maka kau tidak akan sependiam ini?" tanya Devan mulai tertarik.


"Mungkin..."


"Kenapa?"


"Karena kau playboy" jawab Anna telak.


"Jadi selama ini kau memperhatikan setiap berita tentangku?" tanya Devan senang karena gadis itu ternyata memperhatikan setiap berita tentangnya meski pun hanya berita tentang hubungannya dengan beberapa wanita yang dikabarkan pernah dikencaninya.


"Tidak"


"Lalu darimana kau tahu jika aku seorang playboy?" tanyanya penasaran.


"Kau lupa yang kau lakukan padaku di Bali?" tanya Anna balik.


"Memang apa yang sudah aku lakukan padamu di Bali?" tanya Devan pura-pura lupa.


"Ck... tentu saja kau lupa... kau kan playboy" sungut Anna.


"Ha... ha... ha..." Devan tertawa lepas setelah membuat Anna kesal.


"Kau tahu... hanya kau yang bisa sedekat itu denganku selain lawan mainku saat di film" sambung Devan serius.


"Aku tidak perduli" sahut Anna ketus.


Devan hanya tersenyum mendengar ucapan Anna. Baginya Anna semakin menarik hatinya dengan sikap juteknya.

__ADS_1


"Kau tahu... hanya kau yang bersikap seperti ini padaku... jika gadis lain yang mendapatkan perhatianku secuil saja pasti sudah melambung... contohnya temanmu itu..." kata Devan sambil melirik Anna.


"Itu karena mereka bodoh sehingga mereka terlalu percaya padamu... mereka fikir peran yang kau mainkan dalam film adalah pribadimu yang sesungguhnya padahal tidak" sahut Anna ketus.


"Lalu menurutmu pribadiku yang sesungguhnya itu bagaimana?" tanya Devan penasaran.


"Entahlah... yang pasti kau bukan seorang pria baik seperti yang kau perankan di film"


"Apa kau berani bertaruh jika aku benar bukan pria yang baik seperti peranku dalam film?" tantang Devan.


"Aku bukan orang yang suka bertaruh" sahut Anna.


"Apa kau takut?" tekan Devan.


"Aku tidak takut!" sahut Anna sambil menoleh pada Devan dan memberikan tatapan tajam.


"Lalu apa kau berani bertaruh?" tantang Devan lagi.


"Apa taruhannya?" tanya Anna yang sudah mulai terpancing.


"Jika aku bisa membuktikan jika aku bukan pria b***g*k seperti yang kau fikirkan maka kau akan memberiku kesempatan untuk dekat denganmu..." kata Devan langsung.


"Jika tidak?"


"Jika tidak kau boleh menjauhiku atau bahkan memukulku..."


"Baik... tidak ada ruginya bagiku..." sahut Anna yang lega Devan tidak meminta taruhan yang aneh-aneh.


Sebenarnya hal saja ini sudah membuktikan jika Devan tidak seb***g*k yang Anna kira. Tak lama mereka pun tiba di depan rumah Anna. Anna pun pamit turun dari mobil Devan.


"Tunggu!" kata Devan saat Anna hendak membuka pintu mobil.


"Ada apa?"


"Boleh aku meminta nomor ponselmu?"


Anna mengernyitkan dahinya tak mengerti apa perlunya Devan meminta nomor ponselnya.


"Bukankah aku harus membuktikan jika aku bukan pria b***g**k seperti yang kau kira? makanya jika aku memiliki nomormu maka aku tidak perlu menghubungi temanmu itu lagi jika aku ada perlu denganmu... agar dia tidak salah faham dan berharap padaku..." terang Devan.


"Baiklah..." Anna pun kemudian memberikan nomor ponselnya pada Devan.


"Halo..."


"Ini nomorku... kau simpanlah" ucap Devan sambil memandang Anna masih dengan ponsel yang menempel ditelinganya.


"Baiklah" sahut Anna lalu mematikan ponselnya.


"Aku pulang dulu..." sambungnya setelah memasukkan ponselnya ke dalam tas selempangnya.


Anna kemudian membuka pintu mobil dan segera turun. Gadis itu langsung berjalan masuk ke dalam rumahnya tanpa melihat lagi kebelakang.


"Ah susah sekali untuk bisa mendapatkanmu Anna..." gumam Devan.


Namun ia kembali tersenyum saat mengingat jika ia sudah mendapatkan nomor ponsel Anna.


"Ingat Devan semakin kau susah mendapatkannya itu berarti semakin berharga gadis itu... semangat!" ucap Devan menyemangati dirinya sendiri.


Kemudian Devan pun melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Anna. Sementara Anna yang baru saja masuk ke dalam rumah dikejutkan dengan kedua orangtuanya yang sudah berkumpul di ruang tamu. Bahkan Amira dan tuan Sam juga ada disana. Begitu juga dengan Raja.


"Kau baru pulang?" tanya tuan Bram dengan suara yang sedikit keras pada putrinya itu.


Bukan tanpa sebab pria itu bertanya seperti itu. Pasalnya ini sudah jam 11 malam. Dan Anna belum pernah sekali pun pergi sendiri dan baru pulang di jam tersebut.


"Maaf papa..." kata Anna sambil menundukkan kepalanya.


"Mas..." nyonya Sarah berusaha menenangkan suaminya.


"Masuklah ke kamar! papa mau bicara!" kata tuan Bram datar yang tidak ingin memarahi putrinya di depan yang lain.


Anna menurut dan langsung melangkahkan kakinya ke kamar. Sementara sedari tadi Raja hanya memperhatikan Anna. Cantik... itu yang bisa ia katakan dalam hati saat kembali bertemu dengan gadis itu setelah dua tahun. Meski sedari tadi Anna tak memperhatikannya namun Raja sudah merasa puas akhirnya bisa melihat gadisnya setelah dua tahun. Gadisnya...? heh berani sekali dia mengakui Anna sebagai miliknya.


Tuan Bram memasuki kamar putrinya bersama nyonya Sarah. Sengaja keduanya masuk bersama agar tuan Bram tidak emosi dan langsung memarahi putri mereka.


"Anna... kenapa kau baru pulang?" tanya tuan Bram kembali saat mereka sudah berada di dalam kamar.

__ADS_1


"Maaf papa... tadi aku sudah berusaha untuk pulang lebih cepat tapi..." Anna tidak bisa melanjutkan perkataannya karena ia sadar tidak bisa tegas menolak permintaan Sari untuk berada di pesta itu lebih lama.


"Kau tahu... papa dan mama sangat mencemaskanmu Anna... kami bahkan berniat mencarimu dengan meminta bantuan unclemu dan juga om Raja..." terang nyonya Sarah sambil mengelus punggung putrinya pelan.


Kedua ibu dan anak itu duduk di tepi tempat tidur Anna. Sedang tuan Bram duduk diseberang keduanya diatas kursi rias Anna.


"Maafin Anna ma... pa... Anna janji tidak akan mengulanginya lagi..." ucap Anna mulai terisak.


"Kau tahu sayang... sikapmu yang tidak bisa menolak permintaan temanmu itu bisa saja mencelakai dirimu sendiri..." kata tuan Bram dengan suara yang sudah mulai melunak.


Ia sadar putrinya itu terlalu polos sehingga tidak bisa merasakan jika dirinya sedang dimanfaatkan oleh temannya sendiri. Tuan Bram hanya ingin Anna bisa tegas menolak jika temannya sudah mulai memanfaatkannya.


"Sekali lagi Anna minta maaf pa..." ucap Anna langsung beranjak memeluk papanya.


"Papa sudah memaafkanmu sayang... jangan buat kami khawatir lagi ya..."


"Iya pa..." sahut Anna sambil menganggukkan kepalanya.


Nyonya Sarah tersenyum melihat kedekatan putrinya dengan tuan Bram. Ia bersyukur suaminya itu sudah banyak berubah lebih baik dalam memimpin keluarga mereka.


"Apa putri papa sudah makan?" tanya tuan Bram setelah mengurai pelukannya.


"Belum pa..."


"Bagaimana bisa? apa disana tidak disediakan makanan?" seru tuan Bram tidak habis fikir.


"Disana hanya ada camilan saja... tidak ada nasi" adu Anna dengan wajah sedikit sembab karena habis menangis.


"Kalau begitu sekarang kau makan... biar mama yang sediakan" kata nyonya Sarah sambil membimbing putrinya itu ke ruang makan.


Setelah istri dan putrinya pergi ke ruang makan tuan Bram kembali ke ruang tamu untuk menemui tuan Sam dan yang lainnya.


"Bagaimana keadaan Anna kak?" tanya Amira pada tuan Bram.


Sedari tadi ia juga sangat khawatir pada Anna saat nyonya Sarah mengatakan jika gadis itu belum juga pulang ketika kedua orangtuanya sudah pulang dari rumah Amira.


"Dia baik-baik saja... hanya saja aku mulai khawatir dengan temannya itu..." ungkap tuan Bram.


"Memangnya kenapa dengan gadis itu?" tanya tuan Sam.


"Gadis itu sepertinya memanfaatkan putriku dengan wajah polosnya..." terang tuan Bram.


Pengalamannya yang dulu membuatnya lebih waspada pada orang-orang berwajah polos namun munafik dan licik.


"Lalu apa yang akan kau lakukan? menyuruh putrimu menjauhi gadis itu?" tanya tuan Sam lagi.


"Entahlah... jika aku menyuruh Anna menjauhinya maka putriku akan salah faham... tapi aku juga tidak bisa membiarkan seseorang yang seperti itu berada disekitar putriku"


"Bagaimana jika untuk sementara kita biarkan saja mereka... tapi kau beri pengawalan lebih pada Anna... aku yakin cepat atau lambat sifat asli gadis itu akan terungkap... dan tanpa kita minta Anna akan dengan sendirinya menjauhi gadis tonix itu..." kini Raja memberikan pendapatnya.


"Apa yang dikatakan kak Raja ada benarnya... lagi pula Anna juga harus belajar sendiri menghadapi orang-orang seperti itu..." imbuh Amira yang disetujui oleh tuan Bram dan tuan Sam.


Sementara Anna terlihat sangat lahap menyantap makanannya.


"Pelan-pelan makannya sayang... apa kau benar-benar sangat kelaparan hem?" tanya nyonya Sarah melihat cara makan Anna.


Anna hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban karena mulutnya masih penuh dengan makanan. Nyonya Sarah hanya bisa menggelengkan kepalanya merasa iba pada putrinya itu. Selama ini Anna selalu makan tepat waktu meski kadang telat namun tidak sampai berjam-jam. Amira yang baru saja menghampiri keduanya tampak kaget melihat Anna yang tengah makan.


"Kau dari tadi sore belum makan Ann?" tanya Amira.


"Iya bunda..." sahut Anna sambil meringis setelah menyelesaikan makannya.


"Tapi bukannya dipesta pasti ada makanan sayang?" tanya Amira.


"Tadi hanya ada camilan bunda... dan aku tidak sempat makan di luar karena sudah terlalu malam..." sahut Anna.


Amira memandang nyonya Sarah. Keduanya seolah berkata jika Anna sudah terlalu banyak mengalah pada temannya itu sampai-sampai mengabaikan dirinya sendiri. Untung saja Anna tidak mempunyai penyakit asam lambung yang bisa membahayakan dirinya jika terlambat makan.


"Kalau sudah selesai makan kau tidurlah" kata nyonya Sarah.


Anna pun mengangguk dan langsung berpamitan untuk tidur pada Amira dan nyonya Sarah. Setelah Anna naik ke lantai dua tempat kamarnya berada Amira dan nyonya Sarah sama-sama menghela nafasnya.


"Kak... sepertinya benar kata kak Bram jika teman Anna itu hanya memanfaatkan Anna..."


"Iya... aku juga merasa begitu... memang bukan memanfaatkan secara materi tapi putriku sudah seperti pengawal gratis saja bagi gadis itu..." ungkap nyonya Sarah.

__ADS_1


"Kakak benar..." sahut Amira menyetujui.


Di dalam kamar Anna yang kelelahan dan baru saja merasa kenyang langsung tertidur saat ia baru saja merebahkan dirinya diatas kasur.


__ADS_2