
Amira tampak tengah sibuk mengenakan pakaian pada kedua putranya saat tuan Sam pulang dari kantornya dan menemui mereka dikamar si kembar. Melihat ayah mereka datang Sahir dan Samir pun langsung berlarian ke arah tuan Sam meski tertatih. Amira hanya bisa mengelus dadanya karena kedua bocah itu belum selesai berpakaian.
"Sahir... Samir... pakai dulu pakaian kalian..." kata Amira memnghampiri kedua bocah itu yang tengah berada digendongan tuan Sam.
"Turunkan mereka dulu Db..." kata Amira pada tuan Sam.
Tuan Sam pun menurutinya dan menurunkan keduanya diatas karpet tebal. Ia bahkan membantu Amira memasangkan pakaian pada Samir sedang Amira memakaikan pakaian Sahir. Setelah selesai Amira meninggalkan si kembar pada tuan Sam untuk menyiapkan air mandi dan pakaian ganti untuk suaminya. Kemudian ia pun menyuruh tuan Sam untuk mandi sedang ia segera membawa si kembar ke bawah untuk bermain dengan pengasuh mereka. Setelah itu ia kembali ke kamar karena ia juga harus membersihkan dirinya.
Saat sampai di kamar ia melihat jika pintu kamar mandi masih tertutup itu berarti suaminya belum selesai mandi makanya ia menyiapkan pakaian gantinya sendiri sambil menunggu tuan Sam selesai. Tiba-tiba kepala tuan Sam menyembul dari balik pintu kamar mandi dan memanggil Amira.
"Meyaa... bisa kau tolong aku sebentar?"
"Iya B... ada apa?" tanya Amira sambil mendekat.
"Kemarilah!" kata tuan Sam malah menarik tangan Amira untuk ikut masuk ke dalam kamar mandi.
Amira terkejut tak mengira tuan Sam akan menariknya.
"A... a... apa... yang..."
Amira tak bisa melanjutkan kalimatnya karena tuan Sam sudah membungkam mulutnya dengan ******* bibir Amira dengan rakus. Amira yang semula berusaha menolak tak kuasa melawannya hingga ia pun mengikuti kemauan suaminya itu. Nafas keduanya tersegal akibat gairah yang mulai membuncah dan pasokan oksigen yang menipis hingga keduanya pun saling melepaskan tautannya.
"Ini untuk membayar pagi tadi yang tertunda..." kata tuan Sam dengan suara berat dan mata yang berkabut.
Amira pun pasrah saat suaminya mulai melepaskan pakaiannya dan memulai aksinya. Keduanya pun bergulat panas di dalam kamar mandi hingga keduanya merasakan pelepasan bersama. Barulah setelah itu keduanya mandi dengan benar.
Selesai berpakaian keduanya pun turun untuk menemui si kembar. Tampak keduanya tengah asyik bermain ditemani sang pengasuh. Amira pun menyuruh pengasuhnya membawakan makanan si kembar karena ia ingin menyuapi keduanya. Sedang tuan Sam sudah duduk bersama putra mereka dan ikut bermain bersama.
"Apa kau sudah bicara dengan Sandra?" tanya tuan Sam saat Amira menyuapi kedua putra mereka yang sambil bermain.
"Sudah... tapi San San minta waktu untuk berfikir dan meminta izin pada kedua orangtuanya" sahut Amira sambil menyuapi Sahir dan Samir bergantian.
"Jika dia menolak apa kau tetap ikut bersamaku?" ucap tuan Sam dengan nada khawatir.
Bukan tanpa sebab... ia juga tak bisa membiarkan Amira dan kedua putra mereka terpisah lama darinya.
"Aku akan tetap ikut denganmu B... walau itu berarti aku harus belajar untuk lebih mandiri..." kata Amira yang tahu kekhawatiran suaminya jika ia tak jadi ikut pergi.
"Kenapa kau tak membawa Ayu saja bersama kita untuk menemanimu dan menjaga anak-anak?" tanya tuan Sam.
"Aku sudah pernah bertanya padanya... tapi dia menolak karena sebentar lagi ia akan menikah dengan kekasihnya dan akan berhenti bekerja" terang Amira.
"Kalu begitu apa perlu aku ikut membujuk Sandra dan keluarganya?"
"Tidak usah B... aku takut mereka terbebani" sahut Amira.
Akhirnya keduanya pun hanya bisa berharap jika Sandra menyetujui permintaan Amira. Sementara Sandra yang sudah sampai di rumahnya langsung memberitahukan permintaan Amira kepada kedua orangtuanya saat mereka makan malam.
__ADS_1
"Kalau abah dan umi sih terserah kamu saja... tapi kasihan juga jika Amira harus sendirian bersama kedua putranya yang masih balita disana saat suaminya sibuk bekerja" kata pak Dahlan setelah mendengar penjelasan Sandra.
"Iya San... lagi pula bukannya dari dulu kau juga berkeinginan untuk bisa pergi keluar negeri? umi fikir inilah kesempatanmu nak... apa lagi kau kesana tidak sendiri... ada Amira dan juga suaminya jadi abah dan umi jadi tidak terlalu khawatir..." sambung bu Zaenab.
Sandra mengangguk saat mendengarkan ucapan kedua orangtuanya.
"Baiklah abah... umi... Sandra akan menghubungi Amira untuk mengatakan jika Sandra setuju..." kata Sandra.
Kedua orangtuanya pun tampak tersenyum bahagia. Sesungguhnya mereka setuju Sandra pergi karena ingin putri mereka mendapat suasana baru agar bisa melupakan kejadian tahun lalu yang cukup menyakitkan baginya dan juga keluarga.
Selesai makan malam Sandra langsung menghubungi Amira dan mengatakan jika ia jadi ikut pergi ke London. Amira pun terdengar sangat senang dengan keputusan sahabatnya itu dan menyuruh Sandra menyiapkan semua dokumen yang dibutuhkan untuk membuat paspor dan dokumen lainnya untuk bisa berangkat ke London bersama. Sandra pun berjanji akan mengantarkan semua dokumen yang dibutuhkan besok setelah ia pulang dari tempat kerjanya sekaligus ia juga akan mengundurkan diri dari pekerjaannya itu.
"Db... coba tebak... apa yang baru saja aku dengar" kata Amira pada tuan Sam saat suaminya itu baru saja masuk ke kamar dari ruang kerjanya.
"Hemm... pasti Sandra mau ikut dengan kita kan?" sahut tuan Sam yang sudah menduga dari raut bahagia istrinya itu.
"Ish... kau selalu saja tahu isi fikiranku..." ucap Amira sedikit cemberut karena suaminya yang bisa dengan mudah menebak isi hatinya.
"Haish... kau tahu seharusnya kau bahagia Meyaa aku tahu isi hatimu dari pada aku sama sekali tidak peka..." sahut tuan Sam yang kini malah merajuk.
"Db..." panggil Amira lirih.
Kini ia malah jadi merasa bersalah pada suaminya itu. Didekatinya tuan Sam yang kini telah berbaring miring diatas tempat tidur sambil menarik selimut dan menutupi sebagian tubuhnya.
"Db..." panggil Amira lagi sambil mengguncang tubuh tuan Sam pelan.
Tuan Sam masih bergeming membuat Amira semakin merasa bersalah.
Ia tak menyangka ucapannya tadi sudah membuat suaminya begitu marah. Perlahan Amira membaringkan tubuhnya dan memeluk tuan Sam dari belakang. Bahkan tubuhnya mulai bergetar karena terisak. Tiba-tiba tuan Sam membalikkan tubuhnya dan kini keduanya saling berhadapan. Amira masih menundukkan wajahnya. Perlahan tuan Sam meraih dagu Amira dan mendongakkan wajahnya agar ia dapat melihat wajah istrinya itu. Tampak wajah Amira yang mulai sembab dan bibirnya yang bergetar.
Tuan Sam menghapus air mata yang terlanjur menetes di pipi chubby Amira. Meski kini tubuhnya sedikit menyusut namun wajah chubbynya masih sama meski sedikit tirus. Membuat tuan Sam semakin gemas dengan istrinya itu. Diciumnya bibir Amira yang masih bergetar. Amira pun pasrah menerima ciuman dari tuan Sam.
"Happy birhtday Meyaa..." ucapnya lembut.
Amira membelalakkan matanya mendengar ucapan suaminya.
"Jadi..."
"Hemm..." sahut tuan Sam sambil tersenyum lalu menarik tubuh Amira untuk bangun dari tempat tidur.
Pria itu lalu membimbing Amira keluar dari dalam kamar dan menuju ruang tengah.
"Selamat ulang tahun...." teriak semua orang yang ternyata sudah berkumpul disana.
Terlihat seluruh pegawai yang ada di rumah Amira dan tuan Sam begitu juga dengan tuan Bram dan nyonya Sarah beserta ketiga anak mereka. Bahkan Sandra pun datang bersama kedua orang tuanya dan juga bu Wati yang khusus dijemput oleh orang suruhan tuan Sam untuk memberi kejutan sekaligus perpisahan karena tuan Sam akan membawa Amira dan kedua putra mereka ke London untuk waktu yang lama.
Amira menatap suaminya dengan penuh haru dan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Terima kasih Db..." ucap Amira sambil memeluk suaminya.
"Sama-sama Meyaa..." sahut tuan Sam sambil mengecup puncak kepala Amira yang tertutup kerudung instannya.
Semua yang hadir pun langsung bergemuruh melihat keromantisan keduanya membuat Amira menundukkan wajahnya karena malu.
"Terima kasih abah... umi... sudah mengizinkan Sandra ikut dengan kami..." kata Amira saat berbincang dengan kedua orangtua Sandra.
"Sama-sama Ra... kami juga berterima kasih karena sudah mengajak Sandra... kau tahukan itu impiannya sejak kecil bisa pergi ke luar negeri..." kata pak Dahlan yang diangguki oleh bu Zaenab.
Pesta kejutan dan perpisahan Amira pun berlangsung dengan meriah. Bahkan kedua putra kembar Amira ikut bergabung setelah keduanya terbangun. Untung saja saat pesta berakhir kedua bayi kembar itu juga langsung tertidur kembali setelah Amira menemani keduanya sebentar. Saat ia kembali ke dalam kamar tampak tuan Sam telah menunggunya.
Pria itu langsung memeluk Amira dan mencium puncak kepalanya yang kini tanpa tertutup hijab.
"Maafkan aku jika tadi sudah membuatmu menangis..." ucapnya sambil membelai rambut Amira yang tergerai.
"Iya B... hanya saja tadi aku sangat takut jika kau benar-benar marah padaku..." ungkap Amira sambil membenamkan wajahnya dalam dada bidang suaminya.
"Hemm... kau tahu... aku tidak akan bisa marah padamu Meyaa... kau itu terlalu baik untuk bisa membuatku marah..." sahut tuan Sam.
Amira menatap suaminya sendu.
"Jika suatu hari nanti aku melakukan kesalahan aku mohon jangan marah seperti tadi... cukup beritahu aku apa kesalahanku agar aku tahu dan bisa memperbaiki diri..." kata Amira.
"Aku tahu..." ujar tuan Sam yang kini mulai mendekatkan wajahnya pada Amira dan ******* bibir istrinya itu.
Amira yang tak menyangka jika suaminya akan berbuat seperti itu disaat dirinya tengah berbicara serius. Sungguh ia tak menyangka jika suaminya yang dulu sangat dingin kini malah berubah semakin mesum kepadanya. Tapi ia juga tak dapat menolak karena dalam sekejab ia pun ikut terlena karena perlakuan tuan Sam. Bahkan ia kini juga mulai membalasnya.
Setelah pergulatan panjang keduanya pun akhirnya terkulai lemas diatas tempat tidur. Tuan Sam segera menutupi tubuhnya dan juga Amira yang masih polos dengan selimut.
"Selamat ulang tahun Meyaa... apa kau menyukai hadiah dariku?" tanya tuan Sam yang tahu jika Amira belum tertidur.
"Hemm... jadi kau melakukannya sebagai hadiah untukku atau untuk dirimu sendiri Db?" tanya balik Amira kembali membuka matanya yang tadi sempat tertutup.
"Tentu saja untukmu Meyaa... lagi pula aku tahu jika istriku ini tidak terlalu suka dengan perhiasan mewah atau pun barang branded..." sahut tuan Sam.
"Jadi kau fikir aku ini mesum sepertimu heh?" ucap Amira sambil mencubit perut suaminya gemas.
Bisa-bisanya suaminya itu melakukan s**s dengannya sebagai hadiah untuk ulang tahunnya.
"Auch... sakit Meyaa..." rengek tuan Sam sambil mengelus perutnya.
"Rasakan... salah sendiri menganggapku mesum sepertimu!" sahut Amira sambil mengerucutkan bibirnya karena kesal.
"Tapi tadi kau juga menikmatinya kan?" ujar tuan Sam sambil menaik turunkan kedua alisnya.
Wajah Amira pun seketika memerah karena ingat betapa tadi ia juga menikmati permainan mereka.
__ADS_1
"Kau tidak perlu malu Meyaa... karena kita pasangan halal..." ucap tuan Sam yang tahu jika istrinya itu tengah malu.
Seketika Amira menyusupkan kepalanya didada tuan Sam. Suaminya itu sungguh sangat bisa membuatnya nyaman. Keduanya pun akhirnya tertidur dengan saling berpelukan.