BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Terbuka


__ADS_3

Setelah nyonya Sarah melahirkan bayi perempuannya yang diberi nama Arabella dan dipanggil Ara keluarga mereka terlihat sangat bahagia. Anna dan Adit bersikap sangat baik sebagai seorang kakak. Keduanya tampak kompak berbagi peran menjaga Ara saat mama mereka sedang mengerjakan hal lain. Kali ini nyonya Sarah memang sengaja tidak menggunakan jasa pengasuh karena Anna dan Adit sudah bisa mandiri dan bahkan membantu menjaga adik mereka.


Kehamilan Amira juga sudah mendekati HPL yang membuatnya dan tuan Sam sibuk mempersiapkan kebutuhan bagi bayi kembar mereka. Seperti kali ini setelah kamar yang dipersiapkan bagi kedua calon bayi mereka siap tuan Sam dan Amira pun pergi ke mall untuk berburu pakaian bayi. Dengan perut yang membesar melebihi bumil lainnya karena mengandung anak kembar Amira tampak sama sekali tak kelelahan menjelajahi toko bayi untuk mencari pakaian yang ia rasa cocok untuk kedua buah hatinya.


Karena mereka belum mengetahui jenis kelamin kedua anak mereka maka keduanya pun memilih warna-warna netral untuk semua pakaian dan perlengkapan bayi lainnya. Selesai membeli yang mereka butuhkan mereka pun memutuskan untuk makan siang. Kali ini Amira ingin sekali makan ikan bakar sehingga tuan Sam pun mengajaknya ke restoran seafood yang berlokasi didekat pantai.


Saat sampai disana Amira sangat senang karena tempat yang dipilih tuan Sam memiliki pemandangan kearah laut yang indah. Bahkan setelah makan keduanya tidak langsung pulang namun berjalan-jalan sebentar di pantai yang berada dibelakang restoran tersebut.


Keduanya berjalan beriringan dibibir pantai dengan air ombak yang sesekali membasahi kaki telanjang keduanya.


"Apa kau suka pemandangan disini?" tanya tuan Sam sambil mendekap tubuh Amira.


"Ya... aku sangat suka..." sahut Amira lantas menyadarkan kepalanya didada tuan Sam.


"Apa kau mau punya rumah ditepi pantai seperti ini?"


"Iya... tapi aku lebih suka rumah kita sekarang..." ujar Amira.


"Benarkah?"


"Hemmm..." sahut Amira sambil menganggukkan kepalanya tegas.


Bagi Amira memang rumah pemberian tuan Sam sudah menjadi istananya dimana dia sudah bisa membayangkan membesarkan anak-anaknya bersama tuan Sam. Dan jika diberikan umur panjang ia ingin menghabiskan masa tuanya disana bersama suaminya itu.


Kemudian mereka pun memutuskan untuk segera pulang karena hari sudah semakin siang dan Amira sudah tampak kelelahan. Sesampainya dirumah Amira langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur tanpa sempat membuka barang belanjaannya. Tuan Sam pun hanya tersenyum saat melihat istrinya itu langsung tertidur begitu mencium bantal.


Malam hari saat keduanya sedang bersiap untuk tidur dan berbaring bersisian Amira membuka suaranya.


"Db ... jika aku memberitahumu sebuah rahasia tentang masa laluku apa kau akan marah?" tanya Amira ucapnya pelan.


"Rahasia? rahasia apa?" tanya tuan Sam dengan kening berkerut.


"Dengarkan ceritaku dan jangan marah ya..."


"Hemmm"


"Baiklah... dulu saat aku kecil aku punya teman laki-laki..." Amira menjeda kalimatnya dan memandang kearah suaminya mencoba membaca wajah tuan Sam apakah pria itu akan marah dengan ceritanya.


Saat melihat wajah tuan Sam yang terlihat biasa saja membuat Amira tersenyum dan kembali melanjutkan ceritanya.


"Anak itu beberapa tahun lebih tua dariku dan sudah aku anggap seperti kakakku sendiri karena aku anak tunggal jadi senang rasanya ada yang mau jadi kakakku... begitu juga kedua orangtuaku mereka menganggapnya seperti putra mereka sendiri karena anak itu terlihat baik dan juga selalu melindungiku" lanjut Amira.


"Apa kau dia cinta pertamamu?" tanya tuan Sam penasaran.


"Bukan..." Amira menggelengkan kepalanya keras.


"Cinta pertamaku adalah ayahku B... dan cinta kedua sekaligus terakhirku itu kamu" sambung Amira yang membuat tuan Sam tersenyum lebar.


"Lanjutkan ceritamu..." ucap tuan Sam sambil memeluk Amira.


"Suatu hari dia menghilang... kedua orangtuaku sudah mencarinya kemana-mana namun tak ketemu bahkan mereka sempat lapor polisi namun karena tak memiliki fotonya maka pihak kepolisian pun tak dapat membantu...." Amira menghela nafasnya pelan.


"Karena itu akhirnya kami menyerah dan berfikir jika ia telah tiada. Namun saat kemarin aku disekap... ternyata orang itu adalah dia ... "


"Dia?"


"Ya ... dia... orang yang aku dan orangtuaku fikir telah tiada... kak Raja..." terang Amira.


"Apa karena itu kamu tidak memberitahukannya pada pihak kepolisian?" tanya tuan Sam.


"Iya ... kau tahu jika saja dia tak segera mengenaliku mungkin kini aku sudah tidak berada disisimu lagi B..."

__ADS_1


"Tapi kenapa dia mau mencelakaimu?"


"Dia sebenarnya kakak dari kak Mela... yang bernama Jimmy. Karena itulah dulu kami tidak bisa menemukannya karena saat bersama kami dia mengaku sebagai Raja..."


"Lalu bagaimana kau tahu jika dia benar Raja?"


"Dia datang menemuiku di rumah sakit B... dan dia menunjukkan tanda lahir yang sama yang dimiliki kak Raja di lengannya..." terang Amira.


"Mengapa kau tidak memberitahuku lebih awal?"


"Karena dia melarangku B... dia tidak ingin kita terlibat dengan dunianya"


"Lalu mengapa kini kau menceritakannya padaku?"


"Aku merasa jika kak Raja suatu saat mungkin saja akan berubah... dan jika itu terjadi dia membutuhkan kita sebagai keluarga untuk membantunya B... karena itu aku ingin kau tahu tentangnya"


"Baiklah... jika suatu saat dia datang aku akan membantunya..." ucap tuan Sam sambil mengelus rambut Amira.


"Terima kasih B..."


"Hemmm..."


"Db..."


"Hemm..."


"Jika suatu saat aku tak bisa bersamamu lagi... bisakah kau tetap hidup demi anak-anak kita?"


Tuan Sam yang baru saja memejamkan matanya langsung membuka kembali matanya dan menatap Amira tajam.


"Jangan pernah bicara seperti itu... aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi dariku Meyaa" ucap tuan Sam.


"Tapi..."


"Aku juga begitu B..."


"Kalau begitu kita buat janji... siapa pun yang pertama pergi yang lain akan segera menyusulnya oke?"


"Tapi jangan bunuh diri" sambung Amira.


"Iya tidak boleh bunuh diri" tegas tuan Sam sambil menautkan jarinya pada jari Amira.


"Kau senang?" tanya tuan Sam.


"He eh" ucap Amira sambil mengangguk senang.


Lalu keduanya pun tidur dengan saling berpelukan. Saat terdengar suara dengkuran halus dari Amira yang sudah pulas tuan Sam kembali membuka matanya. Dipandangnya wajah Amira yang tampak damai dalam tidurnya.


"Kenapa kau tiba-tiba berucap seperti itu Ra? apa ada hal lain yang kau sembunyikan dariku?" batin tuan Sam.


Hati tuan Sam benar-benar tak tenang setelah ucapan Amira tentang perpisahan tadi. Dengan perlahan ia pun bangun dari tempat tidur dan mengambil ponselnya lalu beranjak keluar kamar. Segera ia menghubungi dokter yang menangani kandungan Amira dan menanyakan jika sekiranya ada hal yang membuat istrinya itu berfikir tentang kematian.


Perasaan tuan Sam sedikit lega pasalnya setelah menanyakan pada dokter yang menangani Amira ternyata tak ada hal yang perlu dikhawatirkan mengenai keadaan Amira maupun kedua bayi yang dikandungnya. Bahkan dokter tersebut bilang jika Amira mungkin saja hanya sedang khawatir karena HPLnya yang semakin dekat. Bagi ibu hamil hal itu bisa membuat mereka merasa gugup dan cemas sehingga sering kali berfikiran buruk.


Setelah selesai menelfon tuan Sam pun kembali ke dalam kamar. Tampak Amira masih pulas dalam tidurnya walau sesekali wanita itu berganti posisi tidur karena perutnya yang sudah membesar. Tuan Sam langsung merebahkan tubuhnya di samping Amira dan mengelus punggung istrinya itu agar merasa nyaman. Tak terasa ia pun akhirnya ikut tertidur.


Dibelahan dunia lain....


Tampak seorang pria memasuki sebuah restoran di kota New York. Ternyata sudah ada yang menunggunya di sana. Seorang pria keturunan Italy yang sedang bersama teman wanitanya.


"Selamat siang tuan Castillo..." ucap pria itu dengan sedikit menunduk.

__ADS_1


"Hemm... ada apa kau kemari? kau masih punya nyali juga setelah semua informasi yang kau berikan tak ada yang berguna untukku..." sahut tuan Castillo dengan wajah datar.


"Maaf tuan... tapi kali ini saya membawa informasi yang lebih baik dan pasti sangat berguna untuk tuan dalam menghancurkan Jimmy..." kata pria itu berusaha menarik perhatian tuan Castillo.


"Apa?" tanya tuan Castillo mulai tertarik.


"Ini tuan..." ucap orang itu sambil memberikan sebuah amplop coklat pada tuan Castillo.


Saat isi amplop itu di buka tampak beberapa foto wanita berhijab yang sepertinya sedang sedang mengandung.


"Siapa dia?" tanya tuan Castillo.


"Dia wanita yang dicintai Jimmy tuan..."


"Dari mana kau tahu?"


"Saya selalu berada disampingnya tuan... saya tahu sikapnya pada wanita itu berbeda..."


"Apa kau yakin?"


"Iya tuan ... saya yakin"


"Baiklah... Vallery sayang... kemarilah!" panggil tuan Castillo pada seorang wanita yang sedang berbincang dengan temanya di meja lain.


Wanita yang bernama Vallery pun datang mendekati tuan Castillo dan segera duduk disamping pria itu.


"Iya kak ada apa?" tanyanya.


"Coba kau lihat ini!" tunjuk tuan Castillo pada foto-foto yang ada diatas mejanya.


"Siapa?" tanya Vallery dengan tatapan remeh.


"Dia sainganmu baby..." ujar tuan Castillo terkekeh.


"Apa maksudnya?"


"Ha...ha...ha... kau tahu? kau kalah saing dengan perempuan ini sayang...dia yang sudah mencuri hati Jimmy" terang tuan Castillo tertawa senang.


"Kakak sedang bercanda padaku kan?" tanya wanita itu dengan tatapan tak percaya.


"Tanyakan saja pada Jack..."


"Benar itu Jack?" tanya Vallery pada pria yang duduk didepan kakaknya itu.


"Benar nona ... saya tidak bohong" jawab Jack.


"Kakak..." ucap Vallery sambil memandang tuan Castillo dengan wajah memohon.


"Baiklah... aku serahkan urusan perempuan itu padamu baby... tapi ingat dia berada di negara lain jadi berhati-hatilah!" kata tuan Castillo yang disambut dengan pelukan oleh Vallery dan tak lupa wanita itu juga mengecup pipi kakaknya itu.


"Kalau begitu aku pulang dulu ya kak..." ucap Vallery yang dijawab dengan anggukan oleh tuan Castillo.


Setelah Vallery pergi tampak Jack memandangi tuan Castillo seakan meminta penjelasan mengapa bukan pria itu sendiri yang menangani wanita yang dicintai Jimmy.


"Aku memang sengaja Jack... agar Jimmy tak pernah mau dengan Vallery. Kau fikir aku akan membiarkan adikku dengan musuhku bersatu ha?" terang tuan Castillo dengan senyum licik.


"Lalu bagaimana dengan saya tuan?"


"Kau tenang saja setelah adikku bermain-main dengan wanita itu aku akan menghabisi Jimmy dan memberikanmu bagian dari wilayah kekuasaannya" ujar tuan Castillo yang membuat Jack langsung merasa senang.


Tidak sia-sia dia berkhianat jika mendapatkan imbalan yang sepadan. Setelah itu Jack pun segera pamit agar tidak dicurigai oleh anak buah Jimmy yang lain. Sementara tuan Castillo masih tersenyum saat Jack sudah keluar dari tempat itu.

__ADS_1


"Kau fikir aku bodoh akan memberikanmu wilayah kekuasaan Jimmy? seorang pengkhianat akan tetap jadi pengkhianat dan aku tidak suka dengan pengkhianat Jack!" batin Castillo.


__ADS_2