BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Perpisahan


__ADS_3

Devan tampak tidak berkonsentrasi dalam pekerjaannya karena fikirannya selalu terbayang dengan adegan mesra Anna dan seorang pria dewasa yang tadi dilihatnya. Meski hanya bergandengan tangan Devan merasa jika itu bukan gandengan tangan biasa. Tapi lebih mirip dengan gandengan tangan antara dua orang kekasih.


"Apa Anna menjadi sugar baby?" batin Devan penuh prasangka.


Tapi mana mungkin? sedang gadis itu selama ini terlihat sangat polos dan tidak dekat dengan lelaki mana pun seingat Devan. Kecuali pria tadi tentu saja. Apa lagi Anna bukan gadis yang membutuhkan uang hingga melakukan hal seperti itu untuk memenuhi kebutuhannya karena orangtua Anna orang berada. Fikiran Devan yang kemana-mana membuatnya mendapat teguran dari sang sutradara karena pemuda itu berkali-kali melakukan kesalahan.


"Yak kita istirahat dulu!" seru sang sutradara setelah beberapa kali melakukan pengambilan gambar.


"Dev... kita harus bicara..." kata Bian yang juga memperhatikan Devan sedari tadi.


"Kenapa?" tanya Devan saat keduanya duduk di bangku tempat Devan biasa beristirahat.


"Kau yang kenapa? tadi kau datang terlambat... dan sekarang kau tidak konsentrasi dalam bekerja hingga berkali-kali melakukan kesalahan... apa yang terjadi padamu Dev?" tanya Bian.


"Maaf... aku hanya banyak fikiran saja akhir-akhir ini..." sahut Devan yang tak ingin membicarakan masalahnya pada sahabatnya itu.


"Banyak fikiran? memang apa yang kamu fikirkan hingga membuat konsentrasimu bubar?" tanya Bian sinis.


"Apa karena gadis itu?" tanyanya lagi sambil memandang sahabatnya itu tajam.


Devan hanya terdiam tak berminat menjawab pertanyaan Bian.


"Oh ayolah Dev... banyak gadis lain yang mengantre untuk bisa bersamamu... jangan hanya karena satu gadis yang menolakmu membuat seolah-olah duniamu itu sudah hancur!" seru Bian emosi melihat Devan yang berubah tidak seperti Devan yang selama ini ia kenal.


"Kau tidak tahu yang sebenarnya terjadi padaku... jadi jangan coba-coba mengaturku Bi!" sahut Devan ikut emosi.


Pemuda itu pun memilih untuk pergi dari tempat itu. Untung saja sceen yang harus ia lakukan sudah selesai. Bian menatap punggung sahabatnya itu dengan nanar.


"Apa ini karmamu Dev?" batin Bian sambil menghembuskan nafasnya pelan.


Di tempat lain... tepatnya di apartemen Raja... kini Anna terlihat tengah menangis dalam pelukan Raja. Ya saat keduanya baru sampai di dalam apartemen gadis itu sudah langsung menangis karena perkataan Raja tadi yang akan pulang ke New York malam nanti. Sudah sejak dari dalam mobil Anna menahan tangisnya dan saat mereka baru saja masuk ke dalam apartemen Anna sudah tidak bisa menahan laju tangisnya.


"Sudahlah Honey Bee... jangan menangis lagi..." ucap Raja sambil menghapus air mata Anna yang terus saja mengalir.


Gadis itu pun berusaha untuk menghentikan tangisannya dan meski masih terisak.


"Aku pasti akan sangat merindukanmu MB..." ucapnya disela isakannya.


"Aku juga Honey Bee... tapi kau tahu kan... ini semua karena ada masalah di perusahaanku yang harus segera aku selesaikan..." terang Raja sambil membelai rambut panjang Anna.


"Kau jangan khawatir... kita masih bisa saling menghubungi dengan vc... dan aku akan berusaha menyelesaikan semuanya agar aku bisa secepatnya kembali lagi kemari untuk menemuimu dan juga kedua orangtuamu..."


Anna mendongakkan kepalanya dan melihat wajah Raja yang terlihat serius dengan ucapannya.


"A... apa... kau akan menemui papa sama mama... dan mengatakan tentang kita?" tanya gadis itu berusaha meyakinkan perkataan Raja.


Raja menganggukkan kepalanya tegas.


"Sudah aku katakan jika aku sangat serius padamu Honey Bee... dan aku ingin kita segera bersatu..." ujar Raja sambil memandang lekat ke arah Anna.


Gadis itu langsung tersenyum bahagia. Tanpa ia sadari jika saat ini wajah Raja sudah begitu dekat dengan wajahnya. Dan dalam persekian detik pria itu telah melabuhkan ciumannya dibibir Anna. Anna yang terkejut tak menduga jika Raja akan menciumnya pun terlihat mematung tak dapat menggerakkan tubuhnya. Saat Raja melepaskan ciumannya Anna baru tersadar.


"MB!" serunya dengan wajah memerah.


Raja hanya terkekeh dengan tingkah Anna yang sangat polos.


"Kau sudah tidak merasa sedih lagikan?" tanya Raja sambil mengusap lembut ujung bibir Anna yang masih agak basah akibat ulahnya.

__ADS_1


Gadis itu hanya bisa menganggukkan kepalanya karena masih merasa malu pada Raja. Saat itulah terdengar suara ponsel Anna berbunyi. Dengan cepat Anna langsung mengangkatnya.


"Halo..."


"Anna... kamu masih dengan om Raja?" terdengar suara nyonya Sarah dari seberang sana.


"Eum... iya ma..." sahut Anna.


"Lalu kalian sekarang dimana?"


"Di toko buku ma... om Raja bilang mau membelikan buku baru untukku..." bohong Anna.


Raja yang berada disamping gadis itu dan mendengarkan ucapan Anna hanya tersenyum sambil memainkan ujung rambut Anna.


"Jangan lama-lama sayang... kasihan om kamu... nanti malam dia harus kembali ke New York"


"Iya ma... ini aku juga sudah mau pulang..."


"Ya sudah... lain kali kamu jangan lagi minta macam-macam setelah kamu memberi bantuan pada orang lain terutama pada om mu itu..." nasehat nyonya Sarah.


"Iya ma..." sahut Anna lalu mematikan ponselnya.


"Bagaimana? apa kau akan pulang sekarang?" tanya Raja sambil merengkuh tubuh Anna ke dalam pelukannya.


Anna hanya menganggukkan kepalanya pelan. Sebenarnya ia ingin lebih lama bersama Raja tapi seperti yang dikatakan oleh mamanya tadi jika Raja harus kembali ke New York nanti malam. Itu artinya pria itu juga harus bersiap.


"Baiklah... ayo aku antar kau pulang... tapi sebelumnya kau ambil ini" kata Raja sambil menyerahkan dua buah paper bag pada Anna.


"Ini..."


"Itu pakaianmu kemarin yang tertinggal disini... dan satu lagi hadiah untukmu..."


"MB... kau..." Anna tampak tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.


"Terima kasih..." ucap Anna lagi dan langsung memeluk kekasihnya itu membuat Raja tersenyum senang.


Anna tahu jika mendapatkan tanda tangan dari sang penulis cukup sulit karena selain kesibukannya sebagai dokter spesialis ia juga sering mengisi seminar kedokteran hingga sering bepergian. Dan entah bagaimana caranya kekasihnya itu bisa mendapatkan tanda tangan dari sang dokter.


Raja tersenyum senang melihat reaksi Anna yang terlihat sangat bahagia. Raja tahu jika kekasihnya itu sering membeli buku tentang kedokteran dari para dokter ternama baik dari dalam maupun luar negeri demi mendapatkan rekomendasi untuk melanjutkan pendidikannya kelak. Raja memang tahu jika cita-cita Anna adalah menjadi seorang dokter.


"Aku juga punya sesuatu yang lain untukmu Honey Bee..." kata Raja sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jasnya.


Terlihat sebuah kotak cincin dari beludru sudah ada ditangannya. Anna yang melihat itu kembali terkejut. Kekasihnya itu berniat untuk langsung melamarnya?


"Aku tahu ini mungkin terlalu cepat Anna... tapi maukah kau menikah denganku?" ucap Raja.


Anna memandang Raja dengan sedikit bingung.


"Aku hanya ingin kepastian darimu Anna... soal waktunya kita akan menikah itu bisa kita fikirkan nanti setelah aku meminta restu dari kedua orangtuamu... dan yang pasti kau harus lulus sekolah dulu..." terang Raja yang membuat Anna merasa lega.


"Iya... aku mau..." akhirnya Anna pun bisa menjawab dengan tegas.


Meski kini usianya masih tujuh belas tahun Anna tidak lagi ragu untuk menerima lamaran Raja. Toh Raja sendiri yang bilang jika dia tidak akan buru-buru menikahinya sebelum ia lulus sekolah. Dan ini hanya untuk memastikan jika dirinya mau menjadi pendamping Raja nantinya. Raja mengambil cincin itu dan menyematkannya dijari Anna. Dan ternyata cincin itu masih agak longgar dijari manis gadis itu.


"Tidak apa-apa... nanti juga akan muat MB..." ucap Anna menenangkan kekasihnya.


Raja menggelengkan kepalanya dan malah kembali melepas cincin itu dari jari Anna.

__ADS_1


"Apa yang akan kau lakukan MB?"


"Lebih baik begini saja..." kata Raja sambil memasukkan cincin itu ke dalam kalung rantai yang ternyata sudah ia siapkan sebelumnya.


Lalu pria itu pun memasangkannya pada leher Anna. Anna memandangi cincin yang kini sudah menjadi kalung dilehernya.


"Bukankah ini lebih baik Honey Bee? tidak akan ada orang yang akan mengetahuinya jika aku sudah memberikannya padamu..." sambung Raja sambil menatap puas hasil karyanya.


"Iya... aku juga sangat menyukainya MB..." sahut Anna.


Kemudian keduanya pun keluar dari apartemen Raja dan pergi ke rumah Anna. Malam harinya semua orang mengantarkan Raja ke bandara tak terkecuali Anna. Meski harus bersikap normal dan tak menunjukkan kemesraan mereka, keduanya sangat senang karena masih bisa bertemu sebelum mereka benar-benar berpisah.


Kehadiran Anna yang ikut mengantar Raja sedikit mengejutkan Amira yang selama dua tahun terakhir tidak pernah melihat Anna ikut saat menjemput atau pun mengantar Raja jika sedang berkunjung. Bahkan gadis itu juga selalu mangkir saat acara kumpul bersama jika ada Raja.


"Tumben kak... Anna ikut mengantar kak Raja?" bisik Amira pada nyonya Sarah.


"Sepertinya mereka sudah kembali dekat Ra... setelah kemarin Raja sempat mengajak Anna ikut pertemuan dengan kliennya..." terang nyonya Sarah.


"Bertemu klien? sejak kapan kak Raja bertemu klien harus membawa Anna? bukannya dia punya asisten dan sekretaris yang bisa menemaninya dalam pertemuan bisnis?" tanya Amira yang merasa penasaran.


Nyonya Sarah pun menceritakan tentang Raja yang membawa Anna untuk menolak klien yang ternyata selalu mengejarnya.


"Jadi putrimu..."


"Ya... dia dijadikan tameng oleh kakak angkatmu itu..." sahut nyonya Sarah sambil terkekeh membayangkan ekspresi wanita yang ditolak Raja saat pria itu membawa Anna dihadapannya.


Setelah berpamitan Raja pun menyuruh para pengantarnya untuk pulang karena pesawatnya juga akan segera berangkat. Para pengantar itu pun menurut dan segera meninggalkan Raja. Saat akan sampai di pintu keluar bandara tiba-tiba Anna meraih tangan mamanya.


"Ma... aku ingin ke toilet sebentar ya..." ucapnya dengan wajah gelisah.


"Iya sana... tapi jangan lama-lama... karena kita harus segera pulang" sahut nyonya Sarah yang mengira jika putrinya sudah tidak bisa menahan hajatnya.


Anna hanya mengangguk cepat dan segera berbalik kembali ke dalam bandara.


"Anna mau kemana kak?" tanya Amira yang melihat Anna kembali ke dalam bandara.


"Ke toilet Ra..." sahut nyonya Sarah yang diangguki oleh Amira.


Mereka pun melanjutkan langkah mereka keluar dari bandara. Sementara Anna sudah berlari kembali ketempat tadi Raja berada. Ya Anna ingin kembali mengucapkan selamat jalan pada Raja kali ini sebagai kekasihnya. Anna langsung merasa lega saat melihat Raja masih berada ditempatnya tadi.


"MB!" panggilnya yang membuat pria itu langsung menoleh kearah suara.


Mata pria itu langsung melebar demi melihat kekasih kecilnya kembali untuk menemuinya. Seketika Anna menghambur ke arah Raja dan memeluk kekasihnya itu. Raja pun langsung membalas pelukan Anna dengan erat. Sungguh ini sangat berat juga baginya untuk berpisah dari gadis kecil yang kini sudah menjadi kekasihnya itu.


"Aku akan sangat merindukanmu MB..." bisik Anna namun masih terdengar jelas oleh Raja.


"Aku juga Honey Bee..." sahut pria itu lalu mengecup puncak rambut Anna.


Untuk sesaat keduanya masih dalam posisi yang sama. Saling menikmati kehangatan yang tak akan lagi mereka rasakan karena akan berpisah jarak. Terdengar panggilan bagi para penumpang dengan tujuan New York membuat keduanya menguraikan pelukannya.


"Jaga dirimu baik-baik untukku Honey Bee..." ucap Raja lembut.


Anna menganguk pelan. Air matanya kini sudah menggenang disudut matanya. Perlahan Raja mendekatkan wajahnya pada Anna. Lalu dengan lembut pria itu mengecup bibir Anna yang sedikit bergetar karena tengah menahan tangisnya. Untuk seperkian detik keduanya saling bertautan hingga akhirnya saling melepaskan diri karena tersadar jika kini mereka ada di tempat umum.


"Jangan menangis lagi Honey Bee... karena kita akan segera bertemu kembali..." ucap Raja sambil mengusap sudut bibir Anna yang sedikit basah.


Anna hanya menganggukkan kepalanya pelan sambil berusaha menampilkan senyuman terbaiknya untuk Raja. Kemudian pria itu pun berbalik dan berjalan menuju ke arah pesawat yang akan ditumpanginya. Beberapa kali pria itu menoleh ke arah kekasihnya saat para petugas keberangkatan mengecek semua dokumennya sebelum memasuki pesawat. Sedang Anna terus memandangi kepergian kekasihnya itu dengan terus menampilkan senyumannya hingga akhirnya pria itu menghilang menuju ke dalam pesawat.

__ADS_1


Setelah itu barulah Anna berbalik dan berjalan menuju pintu keluar bandara. Tanpa Anna sadari jika sedari tadi ada sepasang mata yang melihat semua adegan saat ia dan Raja sedang berpaut. Tampak sekali jika saat ini orang itu tengah syok dengan apa yang sudah dilihatnya tadi.


__ADS_2