
Pagi ini Sadira bangun dengan lebih bersemangat. Meski ia masih harus mengenakan atribut yang aneh untuk masa orientasinya di sekolah baru, tapi karena semalam Ayana menelfonnya dan berbincang lama membuat mood Sadira sangat bagus pagi ini.
"Wah... udah ga bete Ra?" goda Samir saat melihat sang adik sudah tidak menekuk wajahnya seperti kemarin.
"Tentu saja... karena semalam Ayana menelfonku... dan dia berencana menginap saat dia libur minggu ini..." sahut Sadira sambil tersenyum lebar.
"Ck... lagi-lagi karena gadis itu mood kamu cepat berubah..." sungut Sahir.
"Emang apa salahnya? dia kan sahabat terbaikku... jangan bilang kakak iri padanya karena bisa membuatku bahagia dan aku juga lebih dekat dengannya..."
"Untuk apa aku iri? gadis manja sepertimu memang cocok jika berteman dengan gadis pembuat masalah seperti dia..."
"Siapa yang membuat masalah? Ayana? ck... kau itu sangat mengada-ada kak... jangan-jangan kau bukannya iri tapi sudah menyukai sahabatku itu tapi kau malu untuk mengakuinya..." serang Sadira.
Glek!
"Apa? ga mungkin aku suka pada gadis pembuat masalah seperti dia..." balas Sahir cepat namun jantungnya sudah berdetak lebih kencang dari biasanya saat sang adik tadi membalas perkataannya.
"Ck... lihatlah... wajahmu saja sudah memerah..." tunjuk Sadira tidak mau kalah.
Sedang Samir hanya terkekeh melihat sang kakak kini mati kutu dihadapan sang adik bungsu.
"Ingat kak... jangan terlalu membenci sesuatu karena bisa saja suatu saat kau malah akan berbalik menjadi mencintainya!" ucap Sadira semakin menekan sang kakak yang kadang sangat menyebalkan jika berulah.
Sedang Sahir tampak terdiam tak lagi bisa membalas perkataan sang adik. Untung saja kedua orangtua mereka tidaknbergabung di meja makan karena masih berada di luar kota, sehingga tidak mendengar perkataan Sadira yang memojokkannya. Sebab jika tidak maka sang bunda bisa dipastikan akan heboh mendengar Sahir menyukai seorang gadis.
"Makanya kak... jangan membangunkan singa betina itu... sekarang kena batunya kan?" bisik Samir sambil mengulum senyum.
Sedang Sadira tampak asyik memakan sarapannya setelah berhasil membuat sang kakak mati kutu. Tak ingin semakin dipojokkan, Sahir pun memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan perdebatannya dengan sang adik. Ia memilih untuk menghabiskan sarapannya dengan cepat. Selesai sarapan, Sadira langsung berpamitan kepada kedua kakaknya untuk berangkat ke sekolah terlebih dahulu karena selama masa orientasi ia diharuskan untuk berangkat lebih pagi.
Sadira pun berangkat dengan diantarkan oleh pak sopir. Meski tadi Samir sempat menawarinya untuk mengantarkan ke sekolah, namun Sadira dengan tegas menolaknya. Bukan apa-apa... sebab jika Samir mengantarnya maka kakak kembarnya yang satu itu akan tebar pesona di sekolahnya. Dan Sadira tidak mau itu. Karena jika itu terjadi maka nasibnya akan sama seperti saat ia awal memasuki SMP nya dulu yang menjadi kurir para siswi sekolahnya untuk menyampaikan salam bagi sang kakak yang memang sangat tampan. Sehingga tak heran jika keduanya selalu saja menarik perhatian para kaum hawa.
Karena itulah kini Sadira sangat menghindari jika harus diantar baik oleh salah satu atau pun kedua kakak kembarnya itu. Setelah menjalani sehari masa orientasi, hari ini Sadira sudah tidak merasa terganggu lagi dengan penampilannya yang aneh dengan rambutnya yang penuh kuncir dan pita warna-warni. Dan saat masuk ke dalam kelasnya, Sadira langsung di sambut oleh senyuman teman barunya... Hana.
"Ehm... kamu ga merasa khawatir karena akan mendapatkan hukuman dari kak Bara hari ini Ra?" tanya Hana setelah Sadira duduk di sebelahnya.
"Memangnya kenapa aku harus khawatir sih Na... palingan aku nanti dihukum membersihkan toilet atau lari mengelilingi lapangan..." sahut Sadira enteng.
"Ck... kau fikir ini hukuman dari guru olah raga apa? kau tahu kan para senior itu pada norak dan juga jahil? apa lagi yang mendapatkan hukuman itu kamu yang sudah menjadi incaran mereka sejak hari pertama..."
"Maksudnya?" tanya Sadira tak mengerti...
Pasalnya ia tak merasa menarik perhatian para seniornya sejak hari pertama ia masuk ke sekolah barunya itu. Kecuali tentang surat cinta itu... tapi itu karena ia benar-benar tidak bisa memikirkan ide lain dalam menulis kata romantis.
"Ck... kau ini memang terlalu cuek Ra..." sungut Hana yang gemas dengan teman barunya itu.
Sadira memandang ke arah Hana semakin tak mengerti.
"Kau itu cantik Ra... semua orang juga bisa melihatnya... kecantikanmu sama sekali tidak luntur bahkan setelah mengenakan aksesoris aneh suruhan para senior itu... bahkan kau malah bertambah cantik..." terang Hana dengan ekspresi mengagumi.
Sadira malah terkekeh dan menggelengkan kepalanya pelan, saat mendengar pujian dari teman barunya itu. Sungguh... selama ini ia merasa jika dirinya itu biasa-biasa saja. Mungkin karena ia merasa jika dibandingkan dengan kedua sepupunya Anna dan juga Ara yang mewarisi wajah bule yang kental, maka dia itu tidak ada apa-apanya.
__ADS_1
"Sudah ah... kau ini... jangan mengada-ada..." ujar Sadira.
"Lagi pula yang lebih cantik dariku itu banyak Na... contohnya kak Naya..." sambung Sadira.
"Hah? kau tahu... meski cantik aku rasa kak Naya tidak ada bandingannya denganmu Ra... apa lagi dia itu selain sombong, dia juga galak..." bisik Hana yang tak ingin ada yang tahu jika ia tak menyukai seniornya itu.
Bukan apa-apa... sebab jika Naya tahu maka sudah bisa dipastikan nasib Hana akan buruk sampai dua tahun ke depan. Ya... hanya jika gadis galak itu sudah lulus dari sana ia akan selamat.
"Udah ah... ngapain bahas masalah seperti ini pagi-pagi..." sergah Sadira yang tidak ingin bicara berlarut-larut.
Tak lama bel masuk pun berbunyi dan para senior yang masih memiliki kuasa untuk mendampingi para juniornya hingga lima hari kedepan pun sudah memasuki ruang kelas.
"Siapa kemarin yang harus mendapatkan hukumannya hari ini?" tanya Bara basa-basi.
"Saya kak!" sahut Sadira sambil mengangkat tangannya.
"Baik... kalau begitu kamu ikut saya sekarang! sedang yang lainnya kerjakan tugas yang akan diberikan oleh senior yang lain!"
"Baik..." sahut Sadira dan murid junior yang lain secara bersamaan.
Setelah itu gadis itu pun mengikuti langkah Bara untuk menjalani hukumannya. Ternyata Bara membawa Sadira ke ruang perpustakaan sekolah. Disana ia menyuruh Sadira untuk duduk disalah satu kursi yang disediakan.
"Karena kemarin kamu menulis dengan lima bahasa, itu berarti kamu sangat menyukai bahasa asing... maka dari itu hukuman kamu adalah menyalin catatan yang sudah saya buat ini dalam sepuluh bahasa asing, karena saya tahu kalau kau pasti bisa melakukannya..." terang Bara.
Sadira langsung membelalakkan matanya tak menyangka jika ia akan mendapatkan hukuman yang sesulit ini. Sadira meremas roknya gugup. Kemarin ia bisa dengan mudah menyalin kata dengan bantuan ponselnya. Dan hal itu bisa berjalan mulus karena banyaknya murid baru yang membuat para senior tidak bisa mengawasi mereka terlalu ketat. Tapi saat ini berbeda... karena Bara malah sengaja duduk di depannya dan hanya terhalang sebuah meja. Meski saat ini ia juga membawa ponselnya disaku rok seragamnya tapi akan sangat sulit untuk membuka ponselnya itu tanpa ketahuan oleh Bara.
Saat itulah terdengar suara seseorang yang bagi Sadira bak suara malaikat penyelamatnya saat ini.
"Aku hanya sedang memberikan hukuman untuk Sadira karena kemarin dia gagal dalam tugasnya..." terang Bara tenang.
Sadira cukup terkejut karena Bara bisa mengetahui namanya. Sebab selama ini para murid baru hanya mengenakan nama samaran yang diberikan oleh para senior dan di sematkan pada kemeja seragam mereka saat hari pertama orientasi sekolah berlangsung.
"Tapi kamu kan ga perlu menemani dia Bara... dia kan sudah besar dan bisa mengerjakannya sendiri di sini..." ujar Naya yang tak rela jika cowok idamannya itu berduaan saja dengan gadis lain.
"Lagi pula kami masih membutuhkanmu untuk mengawasi para junior lain..." sambung Naya mencoba memaksa Bara untuk ikut dengannya.
Sementara Sadira tampak tersenyum tipis saat mendengar Naya yang membujuk Bara untuk ikut dengannya. Dia sendiri tentu merasa sangat senang jika Bara benar meninggalkannya sendiri. Karena itu berarti dia bisa mencontek dari ponselnya tanpa ketahuan.
"Tapi aku juga harus mengawasinya Nay... dia itu tanggung jawabku sekarang... karena dia masih dalam hukuman..." tolak Bara.
"Ga pa-pa kok kak... aku bisa mengerjakannya sendiri disini..." ucap Sadira tiba-tiba.
"Tuh kan... dia saja tidak keberatan..." kata Naya yang senang Sadira malah mendukungnya.
"Apa kau berencana untuk mencontek hum?" tanya Bara sambil memandang Sadira tajam.
Sadira tampak terkejut. Bagaimana tidak... Bara bisa menebak dengan tepat apa yang ada di dalam fikirannya saat ini.
"Ti... tidak kak... bagaimana mungkin aku berani melakukannya..." sanggah Sadira tak berani mengangkat wajahnya yang kini tampak pias.
"Hem... baiklah... tapi ingat! aku akan kembali sewaktu-waktu untuk memeriksamu... dan waktumu untuk mengerjakan tugasmu itu hanya tiga puluh menit..." ucap Bara akhirnya.
__ADS_1
"I... iya... kak..." sahut Sadira masih dengan menundukkan wajahnya.
"Ayo!" ajak Naya sambil menarik tangan Bara untuk pergi dari sana.
Bara pun akhirnya mengikuti langkah Naya dengan berat. Sesekali Bara masih sempat menoleh ke arah Sadira duduk. Berharap gadis itu mau melihat ke arahnya meski hanya sekilas. Tapi harapannya ternyata tidak menjadi kenyataan. Karena gadis itu malah tampak sibuk mengerjakan tugasnya. Bara menghembuskan nafasnya kesal. Sebenarnya tadi ia bisa menduga jika gadis itu akan kesulitan mengerjakan tugas yang ia berikan. Dan itu memang sudah jadi rencananya. Karena dia ingin agar gadis itu mau meminta bantuannya untuk mengerjakan tugas itu. Dan tentu saja ia akan dengan senang hati untuk membantu Sadira karena gadis itu sudah mencuri hatinya sejak pertama ia melihatnya.
Sementara Sadira yang sedari tadi pura-pura sibuk menulis, mulai mendongakkan kepalanya saat tak mendengar lagi langkah kaki kedua kakak seniornya itu. Ia pun memutar kepalanya untuk memastikan jika tak ada orang lain lagi disekitarnya setelah tadi ia juga memastikan Bara dan Naya sudah pergi meninggalkannya. Sadira langsung tersenyum puas saat tahu jika dirinya sudah benar-benar sendirian di dalam perpustakaan itu.
"Maaf kak... aku ga mungkin mengerjakan tugas ini tanpa bantuan... jadi... aku terpaksa kembali mencontek. Salahmu sendiri memberi tugas yang begitu sulit" gumam Sadira sambil terkekeh pelan.
Dengan cepat ia mengeluarkan ponselnya dari saku rok seragamnya dan dengan cepat menyalin tugasnya ke dalam berbagai bahasa. Sadira kembali terkejut saat menyadari jika tulisan yang harus di salinnya ke berbagai bahasa itu berbunyi...
"Aku juga mencintaimu..."
Sadira tampak menggelengkan kepalanya bingung.
"A... apa- apaan ini?" batinnya.
Tak urung hal ini langsung membuat jantungnya berdebar dengan cepat. Ada perasaan aneh yang menyusup ke dalam hatinya yang sama sekali tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Seakan ada yang menggelitik hatinya saat ini. Rasa aneh yang membuat Sadira langsung terbayang wajah tampan Bara...
"Ish... apaan sih! kenapa aku malah membayangkan wajah kak Bara? akh... mungkin saja kan dia hanya membalas sesuai dengan tulisan yang aku tulis kemarin... tidak mungkin kak Bara benar-benar mengatakan isi hatinya..." batin Sadira sambil menggelengkan kepalanya pelan.
Bahkan wajah gadis itu kini juga sudah memerah saat mengetahui apa yang tertulis pada catatan Bara.
Tuk!
Sadira memukul kepalanya pelan dengan bolpoint yang tengah dipegangnya.
"Sadar Ra... kamu harus cepat mengerjakan tugasmu, agar bisa cepat kembali ke kelas..." gumamnya untuk mengembalikan lagi konsentrasinya.
Gadis itu pun mulai menyalin dari ponselnya sambil sesekali memeriksa keadaan sekelilingnya. Dengan bantuan dari mbh goglo, akhirnya ia bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik. Dan Bara juga belum kembali untuk memeriksanya seperti yang ia katakan tadi. Untuk hal ini Sadira merasa sangat lega. Karena perbuatanya tidak akan ketahuan oleh Bara. Segera Sadira memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku roknya setelah semua tugasnya selesai.
Sambil menunggu Bara, ia pun memainkan bolpoint yang dipegangnya. Tapi itu tak lama... karena Bara akhirnya datang juga menemuinya. Saat melihat cowok itu memasuki perpustakaan, entah mengapa hati Sadira kembali berdebar-debar. Dengan gugup ia pun kembali menundukkan kepalanya dan berpura-pura sibuk mengerjakan tugasnya.
"Apa kau belum selesai?" tanya Bara begitu ia berada di depan Sadira.
"A... eh... iya kak..." sahut Sadira sambil mendongakkan kepalanya.
Entah mengapa ia tetap saja terkejut mendengar suara Bara tadi. Padahal ia juga sudah melihat cowok itu saat memasuki perpustakaan tadi.
"Coba lihat!"
Dengan sedikit bergetar Sadira menyerahkan hasil tugasnya pada Bara. Bukan karena takut ketahuan tadi mencontek, tapi entah sejak melihat tulisan pada catatan Bara ia malah jadi merasa gugup bila berada didekat cowok itu. Bara tampak tersenyum tipis saat melihat hasil kerja Sadira.
"Kau tadi tidak mencontek kan?" tanyanya sambil menatap wajah Sadira lekat.
"Ti... tidak... kak... ma... mana aku berani..." sahut Sadira terbata dan langsung menundukkan kepalanya.
Berbohong... sekarang kenapa ia suka sekali berbohong? batin Sadira tidak nyaman.
"Benar?" tekan Bara masih menatap wajah Sadira yang kini sudah tampak memerah.
__ADS_1
Bara tampak mengulum senyum saat melihat wajah Sadira yang tampak begitu menggemaskan bagi Bara.