
Pagi ini Jenny sudah bersiap untuk pergi ke apartemen Raja dan menemui istri pria itu. Niatnya ia akan mengaku sebagai wanita masa lalu dari pria itu. Dia bahkan sudah mempersiapkan semua bukti berupa foto untuk diberikan pada wanita yang sudah merebut hati Raja. Tentu saja foto yang ia bawa adalah hasil editan. Karena dulu meski ia selalu menempel pada pria itu tak sekali pun pria itu bersikap mesra padanya. Bahkan foto berdua dengan pria itu pun tidak pernah ada... karena setiap kali akan mengambil foto pria itu selalu saja mengajak anggota keluarganya terutama para keponakannya yang menurut Jenny sangat menyebalkan.
Dengan penuh percaya diri wanita itu melajukan mobilnya ke gedung apartemen Raja. Namun saat memasuki lobi ia di cegat oleh petugas keamanan disana karena mereka tidak mengenali Jenny sebagai salah satu penghuni apartemen atau tamu yang sering berkunjung. Maklum keamanan di sana memang sangat ketat apa lagi Jenny sudah beberapa tahun tidak menginjakkan kakinya di sana semenjak Raja mengusirnya dan melarangnya kembali berkunjung.
"Maaf nona... anda ingin menemui siapa?" tanya sang petugas keamanan.
"Aku ingin bertemu dengan tuan Raja pemilik apartemen di lantai xx nomor xxx"
"Maaf nona tuan Raja saat ini sedang tidak ada di apartemennya..."
"Kalau begitu aku ingin bertemu dengan istrinya..." kata Jenny bersikeras.
"Maaf... tapi keduanya tidak berada di apartemen karena mereka tengah pergi ke luar negeri" terang sang penjaga keamanan.
"Kemana?" tanya Jenny penasaran.
"Maaf kami tidak bisa memberitahukannya karena ini bagian dari kebijakan privasi bagi para penghuni apartemen..." ungkap penjaga itu lagi yang membuat Jenny menjadi kesal.
"Baiklah... aku pergi..." ucap Jenny.
Wanita itu pun kembali ke dalam mobilnya yang ia parkir di dalam basement. Wanita itu sangat kesal karena rencananya untuk membuat istri baru Raja cemburu dan mencurigai Raja gagal total.
"S**t! tunggu saja... akan tiba saatnya kalian kembali dan saat itu aku akan membuat rumah tangga kalian hancur setelah itu baru akan kubuat kau bertekuk lutut padaku Raja!" seru Jenny sambil memukul stir mobilnya.
Meski ia berjanji akan menyerahkan Raja pada orang yang sudah membayarnya namun nyatanya perasaan cinta dan ingin memiliki pria itu masih ada di dalam hatinya. Apa lagi setelah sekian tahun ia kembali melihat Raja yang semakin matang dan tampan membuat Jenny kembali terobsesi untuk memiliki pria itu. Keberadaan wanita yang kini menjadi istri Raja tak menyurutkan niat wanita itu dan malah merasa tertantang karena pernah di tolak oleh Raja.
Sementara di negara lain...
Raja tengah berada dalam mobil bersama Anna diantar sang sopir menuju Oxford. Selama perjalanan pria itu tidak pernah melepaskan wanitanya dari dalam pelukannya. Sejak menikah ini pertama kalinya keduanya akan berpisah. Jika bisa ingin rasanya ia menyuruh istrinya itu untuk pindah kuliah di New York saja. Tapi ia tidak mau egois karena ia tahu betapa susahnya untuk bisa masuk ke universitas itu apa lagi untuk jurusan kedokteran. Mungkin nanti ia yang akan mengalah dengan memindahkan bisnisnya ke Inggris agar ia dan Anna tidak terpisah lagi. Karena menempuh pendidikan kedokteran membutuhkan waktu yang cukup lama.
Meski ia tahu bagaimana kecerdasan istrinya itu tapi tetap saja waktu yang dibutuhkan untuk menyekesaikan pendidikannya itu masih cukup lama. Dan berpisah dengan Anna adalah suatu siksaan baginya walau cuma sebentar. Saat mobil yang mereka tumpangi sampai di depan apartemen Anna, mereka pun segera turun. Saat sampai di depan pintu terlihat Risa juga sudah berada di sana. Kedua sahabat itu pun saling berpelukan melepas rindu. Sebab keduanya sudah lama tidak bertemu terakhir saat pernikahan Anna di Indo.
Mereka pun kemudian masuk ke dalam apartemen. Raja yang baru pertama kali berada di apartemen itu pun terlihat memindai keadaan di dalam sana. Terlihat apartemen yang di tempat oleh Anna dan Risa tidak terlalu besar namun memiliki dua kamar. Sepertinya kedua gadis itu ingin tetap memiliki privasi meski keduanya tinggal bersama. Raja meletakkan koper milik istrinya di dalam kamar Anna yang sudah ditunjukkan sebelumnya oleh istrinya itu. Sedang Anna langsung membuatkan minuman untuk suaminya. Sedang Risa masih sibuk membenahi barang-barangnya di dalam kamar.
"Ann... aku keluar dulu sebentar ya..." kata Risa saat Anna mengaduk kopi untuk suaminya.
"Kemana?" tanya Anna.
"Ke toko buku... Zaeed mengajakku untuk membeli buku baru..." terang Risa sambil tersenyum simpul.
__ADS_1
"Ya sudah sana... tapi jangan sampai terlalu sore pulangnya..."
"Iya aku tahu... terima kasih ya..."
Anna pun mengangguk saat akan keluar Risa bertemu dengan Raja di ruang tamu. Ia pun juga berpamitan pada Raja sebelum akhirnya keluar dari apartemen.
"MB... ini minumlah..." kata Anna sambil meletakkan segelas kopi di atas meja.
Raja langsung menyesap kopi buatan istrinya itu sambil duduk santai di sofa.
"Sepertinya tempat ini cukup nyaman Honey Bee" komentarnya tentang apartemen yang ditinggali istrinya itu.
"Iya... dan yang penting uang sewanya cukup murah untuk apartemen dengan dua kamar" sahut Anna sambil tersenyum.
"Kemarilah!" panggil Raja sambil merentangkan tangannya.
Anna pun beranjak mendekat ke arah suaminya itu dan bermaksud untuk duduk disampingnya. Namun Raja malah menarik tubuh Anna hingga ia pun terduduk dipangkuan Raja.
"MB!" pekik Anna lirih.
Tapi Raja malah tersenyum dan memeluk tubuh istri kecilnya itu.
"Rasanya berat sekali meninggalkanmu disini..." keluh Raja yang tidak rela jika harus segera berpisah dengan istrinya.
"Jangan! aku tidak mau kau menjadi terlalu gila belajar... nanti bisa menganggu kesehatanmu...".
"Baiklah... kalau begitu kau jangan terlalu sedih begitu... jika ada waktu kau bisa langsung menemuiku disini... dan jika libur kuliah aku akan menyusulmu ke New York..." Anna mencoba menenangkan hati suaminya itu.
Raja mendesah pelan. Ingin rasanya ia lebih lama bersama Anna, namun ia harus segera kembali ke New York karena jadwal kerjanya yang padat. Saat ini ia sengaja mengambil waktu untuk mengantar istrinya itu hingga ke Inggris meski ia harus bolak balik dengan pesawat dalam sehari. Anna meletakkan kepalanya di pundak Raja. Sesungguhnya ia pun merasakan hal yang sama dengan Raja. Namun apa mau dikata dia memang harus menyelesaikan kuliahnya agar semua kerja kerasnya tidak sia-sia.
Saat keduanya larut dalam fikiran masing-masing ponsel Raja bergetar. Dan sopir yang akan mengantar Raja kembali ke bandaralah yang menghubunginya.
"Aku harus segera pergi... sopir sudah menungguku Honey Bee..." ucap Raja dengan nada berat.
Anna pun menggangguk dan beranjak dari duduknya. Keduanya pun kemudian keluar dari dalam apartemen menuju parkiran.
"Jaga dirimu baik-baik Honey Bee... jangan terlalu keras dalam belajar" pesan Raja sebelum dirinya masuk ke dalam mobil.
"Kau juga MB... jaga diri dan jangan terlalu gila kerja..." sahut Anna.
__ADS_1
Raja kembali memeluk istri kecilnya itu dan melabuhkan kecupang yang dalam di kenig Anna sebelum akhirnya ia benar-benar masuk ke dalam mobil. Anna meneteskan air matanya saat melihat mobil yang ditumpangi Raja perlahan berjalan meninggalkan halaman parkir apartemennya. Rasa sesak kini memenuhi hatinya... berpisah dengan Raja saat mereka masih pengantin baru membuat Anna merasa bersalah. Ia sedikit menyesal mengapa dulu tidak mengambil kuliah di New York atau setidaknya di daerah dekat sana agar hal seperti ini tidak terjadi pada mereka.
Tapi semua sudah terjadi... lagi pula bukankah ini juga salah satu ujian mereka saat sudah berumah tangga? Anna mencoba untuk tersenyum dan kuat dalam menghadapi ujian pertama dalam rumah tangganya bersama Raja.
Dua bulan kemudian...
Sudah dua bulan ini Raja dan Anna menjalani hubungan jarak jauh. Memang selama dua bulan ini Raja disibukkan dengan proyek barunya yang membuatnya sangat sibuk apa lagi dia juga harus melakukan perjalanan bisnis yang panjang hingga membuat Raja bahkan tidak pernah kembali ke apartemennya sejak ia mengantarkan Anna. Ia hanya bisa beristirahat di kantornya atau hotel karena berada di luar kota. Namun semua terbayar setelah melihat hasil kerja kerasnya yang sukses.
Tak berbeda dengan Raja, Anna yang memulai semester baru dalam perkuliahannya pun sibuk dengan mata pelajarannya. Sebagian besar waktunya ia habiskan dengan belajar. Hanya sambungan vidio call yang sering dilakukannya dengan Raja lah yang bisa mengobati kerinduannya pada suaminya itu. Saat melihat wajah lelah suaminya ketika keduanya melakukan vidio call sering membuat Anna merasa bersalah karena belum menjadi istri yang baik dengan mendampingi dan melayani suaminya itu. Karena itulah Anna sangat serius dalam belajarnya demi bisa mempersingkat waktu kuliahnya sehingga ia bisa segera kembali pada Raja.
Hari ini Anna sangat antusias saat mengetahui jika Raja akan datang menemuinya. Ya Raja memang mengatakan jika dalam minggu ini ia bisa meluangkan waktu untuk mengunjungi Anna. Meski belum tahu kapan pastinya namun tetap saja kabar itu membuat hati Anna berbunga-bunga. Risa yang melihat sahabatnya itu tampak lebih bahagia itu pun menjadi penasaran.
"Apa kau mendapatkan hadiah dari kak Raja, Ann?" tebaknya.
"Bukan... tapi dia akan datang kemari minggu ini" terang Anna masih dengan senyum yang mengembang.
"Wah... syukurlah... pantas saja kau tampak sangat bahagia..." kata Risa sambil memeluk sahabatnya itu.
"Terima kasih Risa..." sahut Anna dan membalas pelukan Risa.
Sementara di tempat lain tampak Jenny tengah uring-uringan. Pasalnya sudah dua bulan terakhir ia berusaha mencari informasi tentang keberadaan Raja dan juga istrinya namun belum juga membuahkan hasil yang bisa memuaskannya. Apa lagi tekanan dari orang yang sudah membayarnya membuatnya bertambah frustasi. Meski sudah menyewa seseorang untuk mengawasi Raja namun hanya keberadaan pria itu saja yang bisa dilaporkan oleh orang suruhannya itu. Bukan apa-apa... sepertinya Raja sengaja menyembunyikan identitas dari istrinya itu karena hanya beberapa orang kolega Raja saja yang tahu karena diundang pada pesta tertutup yang diadakannya.
Jenny juga semakin kesal karena ia juga tidak bisa mencari celah untuk mendekati Raja lagi saat orang suruhannya mengatakan jika istri Raja tidak terlihat berada di sampingnya. Sebab pria itu menutup semua akses pada semua orang yang ingin menemuinya setelah jam kerja. Apa lagi Raja juga sering bepergian ke luar kota hingga sering berganti hotel dan tidak tinggal lagi di apartemennya.
"Sial! apa yang harus aku lakukan lagi?" gumamnya frustasi.
Saat itulah terdengar bunyi panggilan dari ponselnya. Saat mengetahui siapa yang sedang menghubunginya ia langsung mendesah pelan.
"Halo?" sapanya berusaha menenangkan diri.
"Kenapa kau belum tahu siapa perempuan itu?" todong sang penelfon.
"Maaf tapi semua akses tentang wanita itu sangat tertutup... aku..."
"Cukup! kau memang tidak berguna! lebih baik aku lakukan sendiri saja semuanya... buang-buang waktu saja jika berharap padamu!" putus orang yang di seberang lalu mematikan sambungan ponselnya.
"Sial! kenapa jadi begini? padahal upah yang dijanjikanya cukup besar..." seru Jenny sambil melempar ponselnya ke kasur dengan frustasi.
Wanita itu pun menjatuhkan dirinya diatas tempat tidur sambil memejamkan matanya dan berfikir.
__ADS_1
"Ah... biar saja orang itu yang mengurus segalanya dan melenyapkan wanita itu... bukankah itu akan menguntungkanku tanpa membuatku bersusah payah?" gumamnya kembali tersenyum.
"Ya... biar saja dia yang mengurus wanita itu! dan nanti tinggal aku yang akan masuk ke dalam kehidupan Raja lagi setelah wanita itu tiada... soal orang itu... aku yakin Raja pasti bisa melawannya..." sambungnya bertambah bahagia dengan rencana barunya.