
Akhirnya hari ini Devan berhasil mengantar Anna ke sekolahnya setelah mendapatkan izin dari kedua orangtua Anna. Meski menuruti perintah kedua orangtuanya untuk pergi dengan Devan namun gadis itu tampak dingin selama perjalanan. Devan yang berusaha mencairkan suasana tak mampu membuat gadis yang kini berada disampingnya itu membuka suaranya dengan mudah. Gadis itu lebih sering memalingkan wajahnya ke arah jendela dan melamun dibanding mendengarkan celotehan Devan.
Anna langsung saja keluar dari dalam mobil saat mereka sampai di depan sekolah Anna. Gadis itu tidak mengucapkan sepatah kata pun pada Devan bahkan untuk sekedar ucapan terima kasih karena sudah mengantarnya. Devan hanya bisa menghela nafasnya pelan saat melihat tingkah Anna yang semakin dingin padanya.
"Jangan menyerah dengan cepat Devan... kau harus semangat!" gumam pemuda itu pada dirinya sendiri.
Kemudian ia pun menjalankan mobilnya keluar dari halaman sekolah Anna. Siang nanti ia akan kembali untuk menjemput gadis itu pulang karena kedua orangtua Anna sudah memberinya izin untuk mengantar jemput gadis itu jika ia punya waktu.
"Semangat-semangat! kau sudah dapat lampu hijau dari kedua calon mertuamu... kini tinggal meluluhkan hati si putri es saja..." ucap Devan lagi sambil mengemudikan mobilnya.
Senyuman tak lepas dari bibir pemuda itu. Ia tak menyangka jika hari ini adalah hari keberuntungannya. Bagaimana tidak... kedua orangtua Anna yang protektif memberinya izin untuk mendekati putri mereka. Tentu saja Devan tidak akan menyia-nyiakannya... meski nanti dia harus meluangkan waktu diantara jadwal padatnya sebagai seorang artis demi bisa lebih dekat dengan gadis pujaannya Anna.
Sementara Anna tampak menapakkan kakinya dengan dengan lemah. Ya jika di rumah ia bisa bersikap kaku dan tegar dihadapan keluarganya tapi tidak disini. Di sini ia akan lebih bisa memperlihatkan sisi hatinya yang sedang terluka karena tidak ada kedua orangtuanya yang melihatnya. Sedangkan siswa yang lain tidak ada yang memperhatikannya. Kecuali Risa.... ya gadis itu kini sudah menjadi sahabatnya. Karenanya Anna juga sudah menceritakan tentang hubungannya dengan Raja dan tentang penolakan kedua orangtuanya.
Awalnya Risa tampak terkejut saat Anna mengatakan jika ia mencintai pria dewasa yang sering dipanggilnya om itu. Dan ia pun menyadari jika pria yang Anna maksud adalah pria yang pernah menjemput gadis itu ke sekolah. Pantas saja sikap Anna terlihat sangat bahagia saat pria dewasa itu menjemputnya. Meski terlihat rumit namun Risa memberikan dukungannya pada Anna. Toh Raja pria single dan tidak memiliki hubungan darah dengan Anna, jadi mereka sah-sah saja menjalin hubungan meski jarak usia keduanya sangat jauh.
Gadis itu bahkan merasa jika kedua orangtua Anna sudah bersikap tidak adil pada keduanya. Padahal pria itu terlihat sangat menjaga Anna dan hanya karena perbedaan usia mereka kedua orangtua Anna memisahkan keduanya.
"Anna... kau kenapa?" tanya Risa saat melihat sahabatnya itu memasuki kelas dengan langkah gontai dan wajah sendu.
"Mama sama papa memberi izin kak Devan untuk mendekatiku Ris..." adu Anna masih dengan wajah sendu.
"Padahal kau tahu siapa kak Devan kan?" sambung gadis itu kini sudah dengan mata berkaca-kaca.
Untung saja kelas mereka masih sepi karena sebagian anak yang sudah berangkat memilih untuk duduk di taman depan kelas mereka.
"Apa hanya karena usia om Raja membuatnya lebih tidak berharga dibanding playboy seperti kak Devan?" keluh Anna.
"Anna..." Risa tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Dia langsung memeluk Anna. Gadis itu tahu apa yang dirasakan oleh Anna saat ini. Mengapa hanya karena perbedaan usia kedua orangtua Anna lebih memilih Devan yang pemain wanita dibandingkan Raja yang setia dan dicintai oleh putri mereka... batin Risa.
"Tenanglah Anna... semua pasti ada jalan keluarnya..." ucap Risa akhirnya.
"Aku akan melanjutkan rencanaku Ris..." ujar Anna saat dirinya sudah mulai tenang.
"Maksud kamu?"
__ADS_1
"Ya aku akan mengejar beasiswa di Inggris... tidak perduli apa aku bisa masuk ke Oxford atau universitas lain disana... yang penting aku bisa pergi dari negara ini..." terang Anna.
"Kenapa kau tidak memilih Amerika untuk tempatmu melanjutkan kuliah? bukannya itu akan bagus karena kau bisa lebih dekat dengan om Raja..." usul Risa.
"Aku tidak bisa Risa... orangtuaku pasti akan melarangku ke sana..."
"Jadi kau benar-benar menyerah untuk bisa bersama om Raja?" tanya Risa.
"Kau benar Risa... karena tidak mungkin aku melawan kedua orangtuaku sendiri... tapi dengan aku pergi ke Inggris setidaknya aku bisa menghindar dari para pria yang ingin didekatkan padaku..." terang Anna.
"Baiklah jika itu sudah menjadi keputusanmu... aku hanya bisa memberikan dukunganku padamu..." sahut Risa.
"Apa kau tidak ingin pergi bersamaku Risa?" tanya Anna yang berharap jika sahabatnya itu bisa kuliah bersamanya.
"Kau tahu otakku tidak seencer dirimu Ann... akan sulit bagiku untuk bisa masuk ke sana terutama universitas Oxford..."
"Setidaknya kau bisa mencobanya dulu bersamaku..." bujuk Anna.
Risa tampak berfikir sejenak... jika ia bisa lolos dan masuk ke Oxford bersama Anna maka itu akan menjadi satu prestasi bagi keluarganya. Karena itu berarti jika dia yang pertama masuk ke universitas ternama itu dalam sejarah keluarganya.
"Tentu saja Risa..." sahut Anna langsung memeluk sahabatnya itu.
"Sudah... kau jangan menangis lagi oke?"
"Oke..."
Keduanya pun tersenyum dan segera merapikan duduk mereka karena bel dimulainya pelajaran sudah berbunyi. Dan sejak itu Anna menghabiskan waktunya untuk belajar dan belajar. Baik itu di sekolah maupun di rumah. Dia bahkan beberapa kali menghindar dari Devan yang menjemputnya pulang sekolah dengan alasan belajar kelompok bersama Risa. Dan itu sepenuhnya benar karena dia memang belajar bersama dengan Risa. Anna memenuhi janjinya membimbing sahabatnya itu dalam belajar agar mereka berdua bisa sama-sama diterima di universitas Oxford. Meski nantinya keduanya akan kuliah di jurusan yang berbeda. Karena Risa lebih tertarik dengan bidang hukum sedang Anna tetap dengan cita-citanya menjadi seorang dokter.
Kesibukan Anna sesungguhnya adalah bentuk pengalihannya dari rasa sakit dan rindunya pada Raja. Ya sampai sekarang pun ponsel Anna masih ditahan oleh kedua orangtuanya sehingga gadis itu sama sekali tidak bisa menghubungi Raja. Tapi Anna terlihat tegar dan masih menjalani hari-harinya dengan kegiatan positif yaitu belajar. Ia bahkan tidak mengungkit keinginannya untuk melanjutkan pendidikannya di universitas Oxfort pada kedua orangtuanya. Biarlah itu menjadi kejutan bagi mereka saat nanti ia benar-benar diterima di universitas tersebut.
Devan yang melihat jika Anna sibuk belajar dan bahkan sudah seperti seseorang yang gila belajar membuat pemuda itu merasa jika Anna sengaja melakukannya untuk menghindar darinya. Maka dari itu saat ia akan menghadiri pesta peluncuran film terbarunya ia langsung meminta izin pada kedua orangtua Anna untuk bisa mengajak gadis itu hadir bersamanya. Tuan Bram dan nyonya Sarah yang juga memperhatikan jika akhir-akhir ini Anna tidak pernah berhenti belajar meski hanya untuk sekedar bersenang-senang sebentar pun langsung memberikan izin pada Devan.
"Anna kau pergilah bersama Devan... kau butuh untuk beristirahat sebentar sayang..." bujuk nyonya Sarah.
"Terserah mama saja..." sahut Anna dingin.
Gadis itu memang sekarang tidak mau lagi berdebat dengan kedua orangtuanya. Nyonya Sarah menghembuskan nafasnya pelan. Ia tahu jika putrinya masih belum bisa melupakan Raja. Tapi ia bersyukur karena putrinya mau menuruti perintahnya dan juga tuan Bram untuk tidak berhubungan lagi dengan Raja.
__ADS_1
"Kalau begitu berdandalah yang cantik sayang... sebentar lagi Devan akan menjemputmu..." suruh nyonya Sarah.
Anna pun langsung melakukan perintah mamanya tanpa berbicara meski sekedar membalas ucapan mamanya. Melihat itu nyonya Sarah kembali menghela nafasnya. Putri sulungnya kini semakin jauh darinya. Ia pun keluar dari kamar Anna agar gadis itu bisa bersiap. Tak lama terdengar deru suara mobil memasuki halaman rumah. Bisa dipastikan jika itu Devan yang datang untuk menjemput Anna. Setelah berbasa basi sebentar Devan pun menunggu Anna di ruang tamu. Pemuda itu tampak terpukau dengan penampilan Anna yang mengenakan setelan celana panjang. Gadis itu terlihat cantik meski tidak mengenakan gaun pesta.
"Kenapa kau tidak mengenakan gaunmu sayang?" protes nyonya Sarah yang menganggap putrinya berpenampilan terlalu santai untuk menghadiri acara pesta.
"Jika tidak suka dengan penampilanku lebih baik aku tidak jadi ikut saja..." sahut Anna dingin.
"Eh ga pa-pa kok tante... disana juga banyak yang mengenakan pakaian seperti Anna..." ujar Devan yang tidak ingin Anna batal ikut pergi dengannya.
Nyonya Sarah pun hanya bisa menghela nafasnya lagi saat menghadapi perlawanan Anna. Semakin hari sikap Anna semakin dingin dan tak mau mengalah termasuk pada kedua orangtuanya. Akhirnya Devan dan Anna pun bisa langsung pergi meski tadi sempat terjadi ketegangan antara ibu dan anak itu. Kembali selama perjalanan menuju tempat acara Anna selalu diam. Meski Devan sesekali mencoba membuka obrolan diantara keduanya. Meski datang bersama Devan, nyatanya Anna lebih banyak menyendiri saat pesta berlangsung. Karena Devan selalu dikerubuti para fans dan juga rekannya.
Sedangkan Anna yang tidak menyukai keramaian lebih memilih duduk di pojok ruangan. Setelah melayani para fans nya Devan baru bisa menghampiri Anna. Tampak gadis itu sudah sangat tidak betah berada di sana.
"Apa kau mau pulang sekarang?" tanya Devan yang merasa bersalah karena tadi sempat meninggalkan Anna sedirian.
"Iya..." sahut Anna singkat.
Devan menghela nafasnya pelan dan menuruti permintaan Anna. Ia pun mengajak gadis itu untuk berpamitan dengan rekan-rekannya. Setelah itu mereka pun segera menuju mobil Devan yang ada di tempat parkir. Saat ditengah perjalanan tiba-tiba salah satu teman Devan menelfon dan mengajak pria itu untuk datang ke club merayakan peluncuran film terbarunya. Devan melirik ke arah Anna yang tampak cuek saat mendengar percakapan Devan dengan temannya itu. Devan memang sengaja meloudspeaker ponselnya saat menerima panggilan dari temannya tadi.
Melihat Anna yang tak terganggu saat temannya mengajak ke club Devan pun langsung mengiyakan ajakan temannya itu. Lagi... Anna sama sekali tidak perduli dengan yang dilakukan Devan. Gadis itu terlihat cuek. Karenanya Devan berinisiatif sekalian mengajak Anna ke sana tanpa meminta persetujuan gadis itu. Saat mobil yang mereka kendarai sampai di depan club barulah Anna melayangkan protesnya.
"Kenapa kau membawaku kemari?" tanyanya ketus.
"Kenapa? memangnya salah mengajakmu bersenang-senang kemari? bukannya kau sudah 18 tahun? itu sudah cukup umur untuk bisa masuk ke dalam sana Anna... lagi pula kita hanya menghadiri undangan temanku saja" sahut Devan.
Anna pun hanya terdiam dan tak lagi membantah. Dua bulan yang lalu usia Anna memang sudah 18 tahun. Dan keluarganya sengaja membuat pesta kejutan untuknya. Namun semua gagal karena hari itu Anna lebih memutuskan untuk menginap di rumah Risa dari pada pulang ke rumah setelah jam sekolah usai. Gadis itu bahkan menginap selama dua hari di rumah sahabatnya itu demi tidak bertemu keluargnya dihari ulang tahunnya. Menurutnya akan sangat menyakitkan merayakan ulang tahun ke 18 tanpa kehadiran Raja kekasihnya.
Saat itu setelah pulang dari rumah Risa ia diberi ceramah panjang lebar oleh keluarganya karena menggagalkan pesta ulang tahunnya sendiri. Tapi Anna menjawab telak perkataan orangtuanya dengan mengatakan bahwa dia tidak butuh pesta karena diabmemang tidak mengiinginkannya. Saat itu Devan juga mengirimkan hadiah untuk Anna karena tidak bisa datang sebab sedang sibuk dengan pekerjaannya.
Kini keduanya memasuki club dan Devan langsung mencari temannya. Tampak Bian juga sudah berada di sana. Ia tampak terkejut saat Devan berhasil membawa Anna bersamanya. Tapi ia bisa mengerti karena ia tahu bagaimana Devan bisa bertindak untuk memenuhi keinginannya.
"Duduklah Ann..." kata Devan yang melihat Anna yang sedari tadi hanya berdiri di samping tempat duduk mereka.
Dengan malas Anna mendudukkan dirinya di samping Devan meski masih dengan jarak. Teman-teman Devan pun menawari keduanya minuman. Namun Anna sama sekali tak mau menyentuhnya. Sementara Devan dengan santai menengguk minuman yang disodorkan padanya. Devan yang kesal karena sikap dingin Anna tampaknya sudah tidak perduli jika Anna mengetahui tentang kebiasaan minumnya. Sedang Anna tampak diam dan hanya menonton tingkah Devan dan teman-temannya.
Untuk sesaat mereka terlihat minum tanpa memperdulikan Anna. Namun tiba-tiba ada pengunjung lain yang mendatangi Anna dan berusaha mengajak gadis itu untuk berdansa tapi gadis itu langsung menolaknya. Tak terima di tolak pria itu langsung menarik paksa Anna ke lantai dansa. Namun kericuhan langsung terjadi saat Devan berusaha membela Anna. Pria itu malah membawa teman-temannya untuk mengeroyok Devan.
__ADS_1