
Tuan Sam sangat marah saat mengetahui jika dokter Andrew telah keluar dari dalam penjara meski masih dalam pengawalan petugas kepolisian. Ia tidak habis fikir dengan kepolisian yang justru meminta bantuan dokter gila itu membantu memecahkan kasus yang mereka tangani saat ini dengan imbalan kebebasan dokter itu.
"Apa di negara ini sudah kehabisan stok orang pintar hingga polisi harus meminta bantuan seorang psikopat?" ujar tuan Sam kesal.
"Mungkin karena dia dianggap bisa memahami jalan fikiran pelaku yang sedang mereka kejar tuan..." timpal Lukas mencoba menenangkan tuannya.
"Huh! jadi mereka mengira akan bisa memanfaatkan dokter gila itu dengan mudah seperti dalam film-film? bahkan dalam film-film itu pun para spikopat akan berbalik melawan mereka!" sungut tuan Sam masih tak terima dengan apa yang dilakukan oleh pihak kepolisian.
Dengan emosi ia pun menghubungi temannya yang ada di kepolisian untuk menerima penjelasan.
"Halo Sam... ada angin apa nih tumben kamu menghubungi aku?" tanya temannya itu.
Tuan Sam pun langsung menyatakan kekesalannya pada temannya yang bernama Surya itu, karena dokter Andrew yang dibebaskan oleh pihak kepolisian demi membantu polisi memecahkan kasus mereka.
"Apa kalian ga bisa cari orang lain selain dokter gila itu hah?" protes tuan Sam.
"Aku tidak bisa berbuat apa-apa Sam, sebab aku tidak berwenang dengan kasus itu... tapi pemikiran mereka juga tidak sepenuhnya salah Sam. Kepribadian dokter itu yang hampir sama dengan pembunuh yang kami cari setidaknya bisa membuat dia bisa memahami cara berfikir sang pembunuh. Jadi kami mungkin bisa memperkirakan apa yang akan dilakukan oleh pembunuh itu dan bisa mencegah pembunuhan berikutnya. Jika beruntung kami juga bisa menangkap orang itu sebelum ada korban lainnya yang jatuh" terang Surya.
Meski pun masih merasa kesal dan tidak terima dengan kepututusan pihak kepolisian, tapi tuan Sam akhirnya bisa lebih tenang dan tidak bertambah emosi setelah berbincang dengan Surya. Namun ia juga tidak menurunkan kewaspadaannya untuk menjaga sang putri karena kini dokter Andrew sudah bisa berkeliaran di luar penjara. Untung saja saat ini Sadira masih berada di London untuk meneruskan kuliahnya sehingga dokter gila itu tidak akan mudah untuk mengganggu putrinya lagi.
"Luk... perketat penjagaan untuk Dira... aku tidak mau kecolongan lagi!" titahnya yang langsung diangguki oleh Lukas.
Sementara itu dokter Andrew tampak serius saat mendengarkan keterangan para profiler dari kepolisian yang menerangkan profil pembunuh yang sedang mereka cari. Dia juga memeriksa barang bukti yang diperlihatkan oleh petugas kepolisian yang telah dikumpulkan dari TKP. Dokter itu tampak mengerutkan keningnya saat menggabungkan barang bukti dan perkiraan profil yang tadi sudah didengarnya. Sesaat dokter itu tersenyum kecil. Sepertinya ada seseorang yang menjadi psikopat secara naluriah alias sejak lahir. Dan ini membuat hatinya senang karena ada orang lain yang benar-benar mirip dengan dirinya. Tidak seperti Ricko yang hanya terpengaruh dengan doktrin yang ia tanamkan pada pemuda itu secara diam-diam. Sehingga Ricko bisa dengan mudah goyah saat jatuh cinta pada gadis yang seharusnya menjadi korbannya.
"Seandainya aku bisa menemukannya sebelum polisi maka akan sangat menyenangkan bisa memperoleh kaki tangan yang sudah terampil tanpa harus mengajarinya terlebih dahulu..." batinnya senang.
Sedangkan ditempat lain, seorang pria muda tengah memandangi beberapa benda yang merupakan milik para wanita korban keganasannya. Memandangi benda-benda tersebut membuat hatinya senang karena bisa memiliki bagian dari korbannya yang ia jadikan sebagai tanda mata atau trofi. Benda-benda itu sebenarnya bukan benda yang sangat berharga. Tapi baginya benda itu akan mengingatkannya akan saat dimana ia tengah menghabisi korbannya itu. Jerit kesakitan dan permohonan agar tetap dibiarkan hidup setelah ia menyiksa para wanita itu membuat dirinya merasa t****g***g dan ingin melakukan pembunuhan berikutnya.
Dari segi korban ia cukup pemilih. Ia hanya mencari korban dengan spesifikasi tertentu yang membuatnya tertarik dalam segi fisik maupun kepribadian. Semua korbannya selama ini memiliki fisik yang menarik dengan tubuh dan wajah yang cantik. Tidak hanya itu para wanita yang dipilihnya juga memiliki kepribadian yang menarik dan bukan wanita murahan. Jadi para korbannya saat ini kebanyakan merupakan pelajar atau pun mahasiswi yang berprestasi dan cukup populer di lingkungannya karena memiliki sifat yang supel. Ia juga memiliki korban yang berusia dewasa yang sangat berprestasi di tempat kerjanya. Jadi intinya ia memilih korban yang merupakan wanita sempurna di pandangan semua orang. Wanita sempurna yang hanya boleh dimiliki oleh dirinya...
Puas memandangi trofi miliknya, pria itu pun menyimpan kembali benda-benda itu ke dalam kotak penyimpanan dan menyembunyikannya di tempat rahasianya. Saat ini ia harus kembali menjalani kehidupan normal layaknya orang-orang yang lain. Setelah menyembunyikan kotak penyimpanannya ia pun segera mengganti pakaiannya dan keluar dari dalam kamar.
"Selamat pagi sayang..." sapa seorang wanita yang merupakan kekasihnya.
"Pagi... kamu sedang masak apa sayang?" jawabnya sambil menanyakan kegiatan kekasihnya itu.
__ADS_1
"Hanya nasi goreng dan telur mata sapi... soalnya semua bahan yang ada di kulkas sudah habis..." terang wanita itu sambil meneruskan kegiatannya.
Pria itu pun duduk dengan tenang di depan meja makan sambil memperhatikan kekasihnya yang sedang sibuk memasak. Sesungguhnya hidupnya sudah cukup sempurna dengan memiliki pekerjaan yang mapan dan kekasih yang cantik dan berbakat yang mau tinggal bersamanya dan melayani semua kebutuhannya layaknya seorang istri meski mereka belum resmi menikah. Tapi ia tidak bisa menahan h**r**nya yang ingin memiliki wanita sempurna lainnya. Karena baginya kekasihnya saat ini hanya pelayan atau lebih tepatnya budak. Ia juga tidak menganggap wanita yang telah hidup bersamanya selama 3 tahun ini istimewa karena ia menganggap wanita yang mau hidup bersama seorang pria tanpa status resmi adalah wanita murahan.
Jadi dia hanya menikmati pelayanan dari wanita yang dengan suka rela menyerahkan segalanya padanya karena menurutnya itu bukan salahnya karena ia sendiri tidak pernah memaksa sang wanita untuk melakukannya. Justru wanita itu sendirilah yang pertama menyerahkan dirinya.
"Hari ini apa kamu pulang cepat sayang?" tanya sang wanita saat keduanya selesai sarapan.
"Hemm... sepertinya begitu, apa kamu ingin kita melakukan sesuatu?"
"Eum... sebenarnya nanti malam aku ada undangan pesta ulang tahun teman sekantorku... dan aku ingin kita pergi bersama..." ungkap sang wanita malu-malu.
"Baiklah..." sahut pria itu sambil tersenyum manis.
"Thank you Hendry... aku sangat mencintaimu" ucap wanita itu dengan berbunga-bunga.
"Aku juga sayang..." sahut Hendry sambil mengecup punggung tangan Lana kekasihya.
Setelahnya Hendry pun berangkat ke kantor seperti biasa setelah ia mengantarkan Lana ke kantornya. Dalam perjalanan tiba-tiba saja saat berhenti di depan lampu merah perhatian Hendry teralihkan saat ia tidak sengaja ia melihat seorang gadis berseragam SMU yang terlihat tengah bersusah payah menghidupkan motornya di tepi jalan. Melihat cara berpakaian gadis itu yang mengenakan jilbab membuat fikirannya melayang dan tanpa sadar kedua telapak tangannya ikut berkedut. Apa lagi saat melihat sekilas wajah cantik yang penuh keringat membuatnya semakin tidak bisa menahan hasratnya. Sayang sekali saat ini ia tengah diburu waktu dan keadaan sekitarnya yang ramai karena jam sibuk membuat Hendry harus mengurungkan niatnya untuk menghampiri gadis itu dan berpura-pura menolongnya agar ia bisa menjerat sang gadis.
Tak lama lampu menyala hijau dan mau tidak mau ia harus kembali melajukan mobilnya kalau tidak mau diklakson oleh pengendara lainnya. Dari sudut matanya ia masih sempat melihat jika gadis itu akhirnya bisa kembali menaiki motornya. Hendry mendesah kesal tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Di belahan bumi yang lain, Sadira baru saja terbangun dari tidurnya dengan nafas memburu. Dia baru saja mengalami mimpi buruk. Entah mengapa perasaannya langsung tidak enak saat memikirkan Bara. Ya... barusan ia bermimpi tentang tunangannya tersebut. Saat melihat jam di nakasnya gadis itu baru sadar jika masih pukul 1 dini hari.
Mengingat mimpi itu, Sadira jadi tidak bisa tidur kembali. Akhirnya ia pun memutuskan untuk sholat tahajud dan mendo'akan Bara agar tidak terjadi hal buruk padanya. Setelah selesai sholat Sadira ternyata tidak bisa kembali tidur. Rasa was-was di dalam hatinya memang sudah agak reda namun ia tetap tidak bisa menghilangkan fikirannya pada Bara. Akhirnya demi membuat perasannya tenang ia pun mencoba untuk menghubungi Bara meski ia tahu jika saat ini Bara pasti masih baru masuk kantor. Untung saja hanya dalam satu sambungan saja Bara sudah mengangkat panggilan dari Sadira.
"Hallo assalamualaikum..."
"Waalaikum salam..."
"Ada apa sayang? bukannya sekarang disana masih larut?" tanya Bara langsung.
"Iya... tapi aku tidak bisa tidur Bi..." keluh Sadira menggunakan panggilan sayangnya pada Bara.
"Kenapa hem? kamu sudah sangat merindukanku ya?" tanyanya pede.
"Ish... bukan begitu..."
__ADS_1
"Jadi kamu ga rindu sama aku gitu?" rajuk Bara.
"Bukan gitu juga Bi Bi... hanya saja barusan aku mimpi buruk tentang kamu..." terang Sadira dengan suara sendu.
Gadis itu benar-benar khawatir tentang mimpi buruknya mengenai Bara.
"Jangan marah sayang... sekarang aku minta agar kamu ga usah memikirkan mimpi buruk kamu itu, mimpi itu cuma bunga tidur jadi jangan khawatir ok?" ujar Bara berusaha menenangkan Sadira.
"Iya..." sahut Sadira sambil mengangguk lemah.
"Jangan sedih gitu dong... gimana kalau minggu depan aku kesana jadi kita bisa jalan berdua..." bujuk Bara yang menyadari nada sendu dari suara Sadira.
"Benar?" tanya Sadira yang kini terdengar ceria.
"Tentu saja... apa sih yang ga buat kamu"
"Tapi apa ga ganggu kerjaan kamu?"
"Ga kok... lagi pula sekalian kita foto prewed"
"Baiklah..."
Setelah berbincang dengan Bara dan tahu jika pria itu akan menemuinya minggu depan membuat Sadira melupakan mimpi buruknya dan moodnya pun kembali baik. Dan setelah sambungan telfon mereka berakhir Sadira pun langsung bisa tertidur kembali.
Beberapa hari kemudian...
Di sebuah ruangan tampak dua petugas kepolisian yang bekerja sama dengan dokter Andrew tengah mendengarkan analisa dari dokter itu tentang kemungkinan tersangka yang harus mereka cari. Namun begitu mereka juga harus memperhatikan potensi korban yang akan dijadikan mangsa selanjutnya oleh pelaku. Dan dari pengamatan mereka jika para korban merupakan gadis dan wanita baik-baik dan berprestasi di lingkungannya. Hal ini mungkin sedikit membantu namun tetap saja ada ribuan wanita yang seperti kriteria tersebut. Dan tidak mungkin petugas kepolisian menjaga mereka satu persatu.
Akhirnya diputuskan jika mereka akan mencari bukti lain yang mungkin saja terlewat saat kasus sebelumnya sehingga mereka berharap dapat mencegah jatuhnya korban selanjutnya. Di tempat lain Hendry baru saja pulang dari kantor tempatnya bekerja saat ia kembali kelihat gadis berhijab yang beberapa hari yang lalu dilihatnya di lampu merah. Terlihat gadis itu tengah mengendarai sepeda motornya sendirian. Sepertinya ia baru saja mengikuti ekstra kulikuler di sekolahnya karena gadis itu mengenakan seragam pramuka. Dengan semangat Hendry memutuskan untuk mengikuti gadis itu agar ia bisa merencanakan segalanya untuk bisa menjerat gadis itu.
Terlihat gadis itu mengendarai sepeda motornya dengan santai pertanda jika ia tidak menyadari jika ada seseorang yang tengah mengikutinya dengan mobil. Selang 15 menit kemudian gadis itu berhenti di depan sebuah rumah kosan khusus putri yang menandakan jika gadis itu berasal dari luar kota.
"Bagus... sepertinya akan sangat mudah untuk membawanya karena tidak ada orang yang akan menyadarinya dengan cepat jika ia menghilang..." batinnya semangat.
Hendry pun langsung menyusun rencana untuk bisa menangkap gadis itu besok sebab sudah hampir dua minggu ia tidak mendapatkan mangsa baru. Apa lagi ada sensasi baru yang akan ia rasakan karena selama ini korban-korbannya bukan wanita berhijab. Sedang di tempat lain, Bara baru saja sampai di rumahnya sepulang dari kantor. Di ruang tamu ia sudah dikejutkan dengan kedatangan Benny. Pria itu beralasan ingin bertemu dengannya karena ingin menanyakan kesediaan Bara untuk menjadi rekan bisnisnya. Dan sepertinya bukan hanya dirinya yang merasa tidak nyaman dengan kedatangan pria itu ke rumah karena sang mama pun menampakkan wajah yang tidak senang atas kehadiran pria itu namun ia tahan karena ada sang papa yang untungnya juga sudah berada di rumah saat pria itu datang.
__ADS_1
"Pergilah membersihkan diri dulu Bar..." titah sang mama meski tahu jika Benny sudah menunggu Bara dari tadi.
Rania sangat kesal dengan tingkah Benny yang seenaknya datang ke rumahnya tanpa janji terlebih dahulu seolah ia adalah orang yang dekat dengan keluarganya meski ia akui jika pria itu ayah kandung Bara. Harga diri Rania serasa diinjak-ijak dengan kelakuan tidak tahu malu Benny. Sedang pria itu tampak sangat senang dan menikmati wajah kesal dari mantan istrinya itu.