
Amira mengerjapkan matanya perlahan. Saat matanya mulai terbiasa dengan keadaan sekelilingnya Amira jadi terkejut karena menyadari jika dia tengah berada di ruangan yang asing dan dalam keadaan yang terikat. Kembali Amira seperti merasakan dejavu. Dia pernah mengalami hal ini sebelumnya. Tapi entah dimana. Tak ingin larut mengingat masa lalu yang masih abu-abu Amira pun segera berusaha untuk membebaskan dirinya dan menyelamatkan diri keluar dari tempat itu.
Dengan susah payah Amira berusaha untuk melepaskan ikatan tangannya. Meski kesulitan tapi ia tidak mau menyerah begitu saja. Untung saja simpul tali yang digunakan untuk mengikatnya berada di bagian atasnya dan masih dalam posisi di depan. Sehingga Amira bisa berusaha membukanya dengan menggunakan mulutnya. Cukup lama Amira melakukan usahanya untuk membuka tali yang mengikat tangannya. Namun akhirnya ia berhadil membuka satu tali yang mengikat tangan kirinya. Setelah itu dengan menggunakan tangan kirinya Amira berusaha melepaskan ikatan ditangannya yang lain. Untung saja ia bisa melepaskannya tanpa banyak kesulitan.
Setelah berhasil melepaskan semua ikatan pada tubuhnya Amira pun mulai memeriksa ruangan tempatnya disekap. Ia berusaha mencari celah untuk melarikan diri. Saat melihat sebuah jendela yang cukup besar di dinding Amira pun langsung berusaha menjangkaunya untuk bisa dijadikan jalan melarikan diri. Meski jendela itu cukup tinggi diatas tinggi badannya tapi Amira tidak mau menyerah. Walau bagaimana pun ia harus bisa keluar dari tempat itu dan meminta bantuan agar bisa kembali pada keluarganya.
Dengan bertumpu pada kursi roda yang tadi didudukinya Amira berusaha menggapai jendela. Dan dengan sedikit berjinjit ia pun akhirnya bisa meraih bibir jendela dan berusaha memecahkan kacanya. Namun usahanya tampak sia-sia karena sudah beberapa kali Amira mencoba memecahkannya dengan memukulkan tangannya pada kaca jendela itu namun kaca itu tidak juga retak apa lagi pecah. Saat itulah terdengar suara pintu ruangan dibuka.
Segera Amira turun dari kursi roda yang dipijakinya dan melihat siapa yang datang. Tampak dua orang pria yang berwajah sangar masuk dan langsung membentaknya.
"Heh ternyata kau pandai juga melepaskan ikatan yang kami buat ya! tapi jangan kau fikir dengan begitu kau bisa begitu saja lepas dari genggaman kami dan melarikan diri!" sergah salah satu diantara orang itu.
"Siapa kalian dan apa mau kalian menyekapku di sini? apa salahku pada kalian?"
"Kau memang tidak punya salah dengan kami nyonya... tapi dengan majikan kami! jadi lebih baik kau menurut saja karena sebentar lagi majikan kami akan menemuimu..." sahut orang itu lagi lalu ia dan rekannya langsung meninggalkan Amira sendiri.
Amira tertegun dengan ucapan para penculiknya. Ia merasa selama ini tidak memiliki masalah dengan orang lain. Bahkan tak seorang pun di rumahnya yang memperingatinya agar berhati-hati karena memiliki musuh. Saat Amira tengah bingung dengan alasan mengapa ia sampai diculik kembali pintu ruangan itu dibuka dari luar. Kini bukan hanya kedua orang penculiknya yang datang, namun juga seorang wanita yang sudah dikenalnya.
"Kau!" tunjuk Amira dengan emosi.
"Ya ini aku..."
"Kenapa kau melakukan ini padaku? apa kau benar-benar menginginkan suamiku ha! sehingga kau harus menggunakan cara licik seperti ini untuk menyingkirkanku?"
"Ha... ha... ternyata kau cerdas juga... meski pun kau masih hilang ingatan tapi nyatanya kau masih bisa merasakan jika aku menginginkan suamimu" sahut Kartika.
"Bukankah kata suamiku kau dulu berteman denganku? tapi kenapa sekarang kau malah menginginkan suamiku?"
"Ha... ha... karena aku iri padamu Amira! kau dan aku bagai bumi dan langit dan aku lebih baik darimu... tapi kenapa nasibmu lebih baik dariku? kau mendapatkan segalanya... anak-anak dan suami yang baik dan kaya... sedangkan aku? aku hanya dimanfaatkan oleh orang yang aku cintai! bahkan dia merelakan nyawaku hanya untuk memenuhi ambisinya menghabisi nyawamu..."
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Oh aku lupa... kau masih amnesia... jadi kau pasti melupakannya... tapi itu tidak penting! sekarang ucapkan selamat tinggal pada dunia Amira... karena kau akan segera menemui Tuhan mu..." dengan jentikan jarinya Kartika menyuruh kedua anak buahnya untuk menyeret Amira dan menghabisinya.
Kedua orang preman itu pun segera menghampiri Amira bermaksud menyeret Amira keluar dari sana dan menghabisinya. Namun tanpa mereka duga Amira melakukan gerakan menghindar dan langsung memukul telak keduanya. Dua orang preman bertubuh besar itu pun langsung terpelanting dan jatuh di atas lantai. Bukan hanya Kartika dan kedua anak buahnya yang kaget dengan kejadian itu. Tapi Amira pun sama. Ia tak menyangka jika dirinya bisa melakukan gerakan bela diri. Menyadari jika dirinya bisa bela diri Amira tersenyum kecil. Dengan tenang kini Amira mulai memasang kuda-kuda.
Dengan gerakan tangannya ia menyuruh kedua preman itu untuk kembali melawannya sambil tersenyum sinis.
"Ayo kita selesaikan sekarang!" serunya.
Kedua preman sewaan Kartika pun langsung menyerang kembali Amira. Mereka berusaha memukuli dan melumpuhkan Amira. Namun dengan gesit Amira selalu dapat menghindar dari semua serangan lawannya. Bahkan ia beberapa kali berhasil membalas mereka dan menyarangkan pukulan telak pada lawan-lawannya. Kini bukan Amira yang menjadi bulan-bulanan anak buah Kartika namun sebaliknya mereka lah yang kini sudah babak belur dihajar oleh Amira.
Kartika yang sedari tadi hanya menonton terlihat syok saat melihat Amira dengan mudah membuat kedua anak buahnya babak belur. Tak lebih dari sepuluh menit kedua anak buah Kartika itu sudah terkapar dilantai dengan tubuh yang babak belur dan pingsan. Melihat lawannya sudah terkapar tak berdaya Amira kembali menegakkan tubuhnya dan mengusap sudut bibirnya yang sedikit terluka dengan punggung tangannya. Kemudia ia pun menghampiri Kartika yang kini tampak gemetar karena ketakutan.
"Bagaimana? apa kau mau bernasib sama seperti mereka?" tanya Amira sinis sambil menunjuk tubuh kedua pria yang teronggok di tengah ruangan.
Bibir Kartika bergetar dan wajahnya tampak semakin pucat saat melihat Amira menghampirinya dengan langkah pelan dan tatapan mata yang tajam. Kartika merasakan ketakutan yang sangat luar biasa saat melihat wajah Amira saat ini. Dulu ia menyangka jika Amira hanya wanita gemuk biasa yang hanya akan bisa menangis dan tidak bisa melawan saat ada orang yang ingin menyakitinya. Tapi apa yang ia saksikan tadi sungguh membuatnya terkejut. Ternyata Amira yang lemah lembut memiliki sisi yang sangat jauh berbeda saat ada orang yang ingin menyakitinya.
Wanita yang terlihat biasa dan lemah itu bisa berubah menjadi singa betina yang akan menerkam siapa saja yang menyakitinya.
"Tentu saja akan memberikanmu hukuman karena sudah berani menyentuhku..." sahut Amira sinis.
Kartika semakin ketakutan... ia menggelengkan kepalanya pelan. Tidak... dia tidak ingin berakhir seperti ini. Mati ditangan Amira mangsa yang ingin dihabisinya. Tiba-tiba terdengar suara keributan dari luar yang membuat keduanya terkejut. Saat Amira menoleh ke arah pintu keluar tiba-tiba saja ia merasakan seseorang memukul kepalanya dari belakang. Amira pun membalikkan tubuhnya dan melihat Kartika yang berdiri dengan tubuh bergetar dan menggenggam sebuah balok kayu ditangannya.
Seketika Amira memelototkan matanya geram. Wanita itu tidak jera juga untuk menyakitinya... batin Amira. Dengan cepat Amira meraih leher Kartika dan langsung mencekiknya. Terkejut dengan tindakan Amira membuat Kartika tak berkutik dan ia pun menjatuhkan balok kayu yang dipegangnya karena merasakan sakit ditenggorokannya dan nafasnya yang mulai habis.
"Kau memang tidak jera juga!" desis Amira.
Ia tak lagi merasakan rasa sakit di kepalanya dan darah yang mulai merembes keluar dari hijabnya yang membuat noda besar disana. Cekikan Amira membuat Kartika kesakitan dan matanya mulai mengeluarkan air mata sedang wajahnya mulai memerah kehabisan nafas. Saat itulah terdengar suara seseorang yang langsung menyadarkan Amira dari perbuatan nekatnya.
"Meyaa!" panggil tuan Sam yang masuk ke sana bersama Raja dan Dave.
Amira pun langsung mengendurkan cengkramannya dan menoleh pada suaminya.
__ADS_1
"Db!" ucapnya lirih dan pandangannya pun langsung menggelap dan ia tak ingat apa-apa lagi.
Melihat tubuh Amira yang akan ambruk membuat tuan Sam langsung berlari dan menyambar tubuh istrinya itu agar tidak sampai membentur lantai. Untung saja gerakannya sangat cepat hingga ia masih sempat menangkap tubuh Amira. Segera tuan Sam membopong tubuh Amira untuk dibawa keluar.
"Bawa perempuan itu! aku tidak ingin melibatkan polisi karena aku sendiri yang akan menanganinya..." kata tuan Sam pada Dave dan Raja.
Kedua orang itu pun mengangguk. Tak lama datang anak buah Dave yang dipanggil untuk membawa ketiga orang yang tengah pingsan itu. Setelah menyuruh mereka membawa ketiganya ke tempat rahasia miliknya Dave pun mengajak Raja untuk menyusul tuan Sam dan Lukas. Sedang kini tuan Sam tengah berada di dalam mobil menuju ke rumah sakit dengan diantarkan oleh Lukas.
"Bertahanlah Meyaa..." bisik tuan Sam ditelinga Amira.
"Lukas percepat mobilnya!" seru tuan Sam yang panik melihat noda darah yang semakin melebar di hijab Amira.
Tanpa menjawab Lukas langsung mempercepat laju mobil yang dikendarainya. Keahlian Lukas dalam berkendara memang patut diandalkan. Meski jalanan cukup ramai namun pria itu mampu menyalip dan bahkan menerobos lampu merah dengan mulus sehingga dalam waktu yang cukup singkat akhirnya mereka pun sampai di depan rumah sakit terdekat.
Sesampainya di sana tuan Sam langsung membopong tubuh Amira ke dalam rumah sakit begitu Lukas membuka pintu mobil.
"Tolong selamatkan istri saya!" teriaknya pada petugas medis yang ada disana.
Mereka pun langsung bergerak memindahkan tubuh Amira ke atas brankar dan segera memeriksa kondisinya. Dokter pun langsung datang dan ikut memeriksanya. Kemudian mereka langsung membawanya ke ruang IGD. Tuan Sam tampak sangat panik melihat kondisi Amira. Luka dikepala istrinya kembali mengingatkannya pada kejadian saat Amira baru selamat dari pengeboman beberapa minggu yang lalu. Ia tak ingin kehilangan istrinya lagi.
"Meyaa.... bertahanlah..." ucap tuan Sam sesenggukan di depan ruang IGD.
Di dalam sana tampak para dokter berusaha untuk membersihkan dan menjahit luka Amira. Untung saja itu hanya luka yang kembali terbuka akibat pukulan Kartika hingga para dokter hanya perlu menjahit kembali luka di kepala Amira. Para dokter pun lega sebab selain itu tak ada hal lain lagi yang perlu mereka khawatirkan. Selesai merawat luka Amira mereka pun memindahkannya ke ruang perawatan. Tuan Sam yang sedari tadi tak bergeming dari tempatnya pun baru merasa lega saat mendapat penjelasan dari dokter yang merawat Amira jika tak ada hal yang perlu dikhawatirkan.
"Meyaa..." panggil tuan Sam lembut saat menemui Amira di ruang perawatannya.
Meski Amira belum meresponnya tuan Sam merasa lega karena kondisi Amira dan kandungannya baik-baik saja.
"Kau tenang saja sayang... setelah ini orang-orang itu akan mendapatkan balasannya yang setimpal" ucap tuan Sam sambil menahan rasa geramnya.
Digenggamnya tangan Amira yang tampak lemah dan diciumnya lembut. Wajah Amira yang tenang meski masih pucat membuat hati tuan Sam teriris. Entah sampai kapan ujian akan terus menghampiri keluarganya. Ia hanya berharap agar ia dan Amira dapat terus bertahan hingga akhir hayat mereka.
__ADS_1