BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Jatuh Cinta?


__ADS_3

Ayah dan anak itu berpelukan dalam waktu yang cukup lama seolah meluapkan rasa rindu yang telah mengendap sekian lama. Ya... ini pertama kali keduanya kembali berpelukan hangat sebagai ayah dan anak sejak kematian mama Ricko. Maya yang melihat keduanya pun terharu dan menitikkan air mata diatas kursi rodanya. Hatinya menghangat melihat putra tirinya mau pulang dan berdamai dengan suaminya. Ia ikhlas jika Ricko hanya akan memaafkan papanya dan tidak dengan dirinya. Setidaknya beban dosanya sedikit berkurang karena melihat ayah dan anak kembali bersama.


"Tante... apa kabar?" tanya Ricko yang membuat Maya tersentak dari dalam fikirannya.


Ia tidak percaya jika Ricko mau menyapa dan menanyakan kabarnya setelah bertahun-tahun selalu membenci dan memusuhinya.


"Ta... tante baik..." sahut Maya terbata.


Meski Ricko hanya memanggilnya tante namun itu sudah cukup bagi Maya. Setidaknya Ricko sudah mau berdamai dengannya. Tuan Danu juga merasakan kebahagian yang sama dengan Maya. Ia pun mengajak Ricko untuk makan bersama setelah Ricko membersihkan dirinya. Hari ini adalah hari paling bahagia bagi mereka bertiga karena mulai hari ini mereka akan melangkah dalam lembaran hidup baru sebagai keluarga.


Keesokan harinya...


Tok... tok... tok...


"Masuk..."


"Maaf tuan Sam, di luar ada tamu yang ingin bertemu dengan anda..." ucap seorang wanita berhijab yang merupakan sekretaris Samir.


"Siapa?"


"Dia bilang dia teman anda tuan..."


Samir mengernyitkan keningnya. Semua temannya sudah bekerja dan tidak mungkin mereka datang ke kantornya di jam kerja tanpa adanya urusan pekerjaan diantara mereka atau membuat janji sebelumnya. Namun seingatnya ia tidak membuat janji hari ini. Penasaran ia pun menyuruh sekretarisnya itu untuk mempersilahkan tamunya masuk.


"Hai Sam!" sapa seseorang yang sudah lama tidak ditemuinya.


"Ricko!" seru Samir yang langsung berdiri dari duduknya dan langsung memeluk sahabatnya itu.


"Kapan kamu datang?" tanya Samir saat keduanya sudah duduk di sofa ruangan Samir.


"Kemarin siang..." terang Ricko sambil tersenyum geli karena melihat Samir yang sangat antusias.


Dan karena sudah hampir jam makan siang, Samir pun mengajak Ricko untuk makan siang bersama. Dan setelah menyelesaikan pekerjaannya yang tersisa, Samir pun mengajak Ricko untuk makan siang di sebuah kafe yang dulu sering mereka datangi bersama teman-teman yang lain.


"Bagaimana kabar Dira sekarang?" tanya Ricko saat keduanya tengah duduk berdua setelah memesan makanan pada pelayan kafe.


"Baik... dia sekarang kuliah di London bersama Bara... kamu tahu kan betapa protektifnya cowok itu pada adikku? jadi dia tidak ingin berjauhan dari Sadira dan mengajaknya untuk kuliah bersama di sana saat adikku itu lulus" terang Samir.


"Jadi mereka belum menikah?" tanya Ricko tanpa sadar menyunggingkan senyumannya.


Melihat itu Samir pun mendelik dan menyahut ketus karena tak ingin sahabatnya itu semakin terluka karena sampai detik ini Sadira masih menganggap Ricko sebagai kakaknya.


"Tentu saja... bagaimana mungkin kami membiarkan Dira menikah muda meski Bara selama ini bersikap sangat bertanggung jawab. Tapi kamu jangan berharap banyak Rick... kamu sendiri tahu kan jika Dira sama sekali tidak tahu tentang perasaanmu padanya sampai saat ini? entah ada pesona apa ada pada adikku itu hingga ada dua pria yang memperebutkannya. Dan bodohnya Dira sama sekali tidak menyadarinya..."


"Tapi kenapa kedua orangtuamu tidak keberatan Dira kuliah bersama Bara di London?" tanya Ricko penasaran.


"Mereka tidak tinggal bersama Rick... Dira tinggal dengan tante Sandra dan keluarganya sedang Bara memilih untuk menyewa apartemen bersama temannya..." terang Samir.


Ricko mengangguk mengerti. Meski ia agak kaget saat tahu jika Sadira rela kuliah di London demi bisa tetap bersama Bara. Ya... begitu besar cinta gadis itu pada Bara. Jadi benar ia memang tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk menarik hati Sadira.


"Lagi pula di sana ada putri tante Sandra yang usianya cuma terpaut satu tahun dari Sadira jadi dia seperti memiliki adik dan sangat menyayangi gadis itu..."


"Benarkah?"


"Ya... bahkan keduanya sudah sangat lengket seperti kembar siam yang kemana-mana selalu berdua ..." terang Samir yang membuat Ricko terkekeh.


"Sama kayak kamu dan Sahir kan?"

__ADS_1


"Hei... itu beda kasus Rick!" seru Samir yang tidak rela status kembarnya disamakan dengan Sadira dan anak dari tantenya itu.


Ricko semakin tertawa saat melihat reaksi Samir yang merajuk mirip anak kecil. Padahal saat ini ia telah memimpin salah satu perusahaan yang diberikan oleh ayahnya. Tuan Sam memang menyuruh kedua putranya untuk masing-masing mengambil alih anak perusahaannya agar ia bisa bersantai dan menikmati harinya bersama Amira.


"Kenapa kamu begitu marah Sam? apa sebenarnya kamu hanya iri karena sekarang kamu ga bisa seperti dulu yang kemana-mana bareng sama Sahir hem?" goda Ricko.


"Ck! kau ini... aku cuma bicara fakta!" ketus Samir yang sebenarnya juga tidak rela jika dikatakan dulu selalu bersama Sahir meski pun itu adalah kenyataannya.


"Sudah ah... kita bahas tentang kamu saja, sekarang apa rencana kamu selanjutnya? apa kamu akan melamar ke rumah sakit untuk menjadi dokter disana... atau..."


"Aku akan melanjutkan perusahaan milik papaku Sam..." potong Ricko yang dibalas anggukan okeh Samir.


Keduanya pun melanjutkan obrolan mereka sambil makan siang. Keesokan harinya seperti perkataannya pada Samir, Ricko mulai kembali bekerja di perusahaan papanya. Setelah menghilang selama 3 tahun, kehadiran Ricko membuat para karyawan yang dulu sudah mengenalnya merasa senang. Pasalnya Ricko adalah tipe pemimpin yang tegas namun juga ramah sehingga banyak karyawan yang menghormatinya meski usianya masih muda.


Satu bulan kemudian...


Seorang gadis tampak tengah asyik memilih pernak pernik lucu yang ada dihadapannya. Gadis yang bertubuh chubby itu seolah tidak perduli dengan sekitarnya karena perhatiannya tengah tertuju pada beberapa barang yang menarik perhatiannya. Namun saat ia telah memutuskan pilihannya dan mengulurkan tangannya hendak mengambil barang itu tiba-tiba ada tangan lain yang meraih benda incarannya itu begitu saja dari hadapannya. Gadis itu pun langsung menoleh untuk melayangkan protes pada orang yang berdiri disampingnya itu.


"Hei! aku sudah melihatnya lebih dulu..." protesnya tanpa takut saat melihat seorang gadis yang kini telah memegang kalung incarannya tadi.


"Ck... kau kan cuma baru melihat dan belum menyentuhnya... jadi bukan salahku jika aku yang lebih dulu mengambilnya" sahut gadis itu nyolot.


"Ada apa sih Nay?" terdengar suara gadis lain yang merupakan teman gadis yang tadi mengambil kalung dari gadis chubby itu.


"Ini nih! baru juga liat udah ga terima saat aku mengambil kalung ini..." tunjuk Naya pada gadis chubby yang ada dihadapannya dengan kesal.


"Tapi kan kakak bisa tanya dulu apa aku berminat pada kalung itu sebelum kakak mengambilnya lebih dulu..." protes gadis chubby itu tidak mau mengalah.


"Halaah! cuman kalung murah segini aja ga terima banget kayaknya..." sungut teman Naya yang lain.


"Ada apa ini?" tiba-tiba suara seseorang memutuskan suasana tegang diantara keempat gadis itu.


Sontak Naya dan kedua temannya menoleh ke arah suara begitu juga dengan gadis chubby itu. Terlihat seorang pemuda tengah menatap keempat gadis itu dengan tajam.


"Jangan coba-coba untuk membully seseorang di tempat ini!" seru pemuda itu yang ternyata adalah Ricko.


"Ga kok kak... kami cuman salah faham aja... iya kan?" sahut Naya sambil menoleh ke arah kedua temannya mencari dukungan.


"Iya kak... sepertinya adik ini menyukai kalung yang teman kami pegang ini..." jelas teman Naya mencoba membela.


"Bukan kok kak... tadi kakak ini yang langsung menyerobot saat aku akan mengambil kalung itu" bantah si gadis chubby.


Naya dan kedua temannya tampak salah tingkah namun tetap tidak mau mengaku salah. Namun karena melihat Ricko yang berwajah tampan membuat Naya sedikit mengalah demi menjaga imejnya di depan pemuda itu.


"Ya sudah... kalau kau mau ambil saja... aku bisa pilih yang lainnya kok..." ucap Naya dengan suara dilembutkan.


Gadis itu pun lalu meyerahkan kalung tersebut pada gadis chubby yang kini malah terlihat mengernyitkan dahinya.


"Kalau begitu kami permisi dulu kak..." sambung Naya sambil berlalu diikuti oleh kedua temannya.


"Ck! aneh banget sih... tadi saja ngotot sekarang malah memberikannya padaku dengan suka rela..." gumam gadis itu yang masih dapat di dengar oleh Ricko dengan jelas.


"Terima kasih ya kak..." ucap gadis itu pada Ricko.


Untuk sesaat Ricko terpaku saat melihat kedua bola mata gadis itu yang berwarna biru. Warna biru tua yang begitu menghanyutkannya.


"Kak... hei!" seru gadis chubby itu sambil mengibaskan telapak tangannya di depan wajah Ricko.

__ADS_1


"Eh... eum... iya... sama-sama..." sahut Ricko agak terbata karena gugup.


Entah mengapa dadanya langsung berdebar kencang saat bertatapan dengan kedua bola mata biru gadis chubby itu.


"Kalau begitu aku permisi dulu ya kak... sekali lagi terima kasih..." ucap gadis itu sebelum berlalu dari hadapan Ricko.


"Hei... tunggu!" panggil Ricko saat menyadari jika gadis itu hampir menjauh darinya.


"Ya?" tanya gadis itu menghentikan langkahnya lalu berbalik dan menatap Ricko dengan polos.


"Boleh aku tahu namamu?" tanya Ricko.


"Mahina" sahut gadis chubby itu sambil tersenyum.


"Mahina..." ulang Ricko seolah tengah menghafal nama gadis itu.


Saat menyadari jika gadis itu sudah kembali melangkah pergi Ricko langsung menyerukan namanya sendiri.


"Ricko... namaku Ricko!" serunya tanpa malu.


Gadis chubby itu tampak tersenyum dengan wajah yang agak merona. Tentu hal itu terlihat jelas karena kulit gadis itu yang putih mulus. Lagi-lagi Ricko tampak terpesona dengan gadis yang baru saja ditemuinya itu. Dan ia baru tersadar saat gadis itu sudah menghilang dari hadapannya.


"Arrggh! apa yang terjadi padamu Ricko? apa kau jatuh cinta dalam pandangan pertama?" tanyanya pada dirinya sendiri.


Tanpa sadar ia menggigit bibirnya sendiri saat merasakan debaran jantungnya yang semakin cepat saat mengingat wajah gadis bernama Mahina itu. Ricko sampai memegangi dadanya yang berdetak sangat kencang seperti tengah mendapatkan serangan jantung.


"Uh... rasanya melebihi saat dulu dengan Dira..." batinnya.


"Mungkinkah dulu aku hanya terobsesi saja pada Dira karena mirip dengan mama? lalu sekarang... apa kau benar-benar merasakan cinta?" batinnya lagi.


"Oh s**t! kenapa aku bisa bodoh begini sih?" maki Ricko saat menyadari jika ia tadi tidak sempat untuk meminta nomor ponsel Mahina.


Akhirnya ia pun keluar dari tempat itu dengan perasaan kalut. Sementara itu di rumah tuan Sam terlihat semua orang tengah sibuk untuk mempersiapkan acara pernikahan Sahir dan Samir dengan pasangan mereka masing-masing. Amira tampak sibuk memeriksa kesiapan acara meski mereka sudah menyewa WO. Maklum ini adalah acara pernikahan kedua putra kembarnya. Sadira tampak ikut membantu sang bunda. Sedang para calon pengantin malah tampak santai. Keduanya malah masih mengerjakan tugas kantor mereka meski dari rumah. Hal ini tentu saja membuat gemas Amira.


"Kakak... adek... kalian sudah menghafalkan bacaan ijab belum?" tanyanya yang langsung membuat kedua putranya itu terkejut.


Pasalnya karena ingin menyelesaikan semua tugas kantor sebelum acara pernikahan membuat keduanya melupakan hal yang sangat penting dalam acara pernikahan mereka sendiri. Melihat tampang kedua putranya itu membuat Amira hanya bisa mendengus kesal. Sedang tuan Sam hanya tersenyum kecil karena seolah tengah melihat masa lalunya saat akan menikah dengan Amira.


"Ayo sekarang hentikan pekerjaan kalian berdua... dan langsung menghafal kan lafaz ijab kalian!" titah Amira yang langsung dipatuhi oleh kedua putranya itu.


"Assalamualaikum..." terdengar suara yang mengejutkan mereka.


"San San!" seru Amira gembira saat melihat sahabatnya datang bersama keluarganya.


Kedua sahabat itu pun saling berpelukan untuk melepaskan rindu. Sadira memang pulang terlebih dahulu ke Indo demi membantu acara pernikahan kedua kakak kembarnya. Untung saja keduanya menikah saat liburan musim panas sehingga Sadira tidak perlu mengambil cuti kuliah.


"Nana..."


"Kak Dira..."


Seru Sadira dan putri Sandra bersamaan. Kedua gadis itu juga saling berpelukan seperti kedua ibu mereka. Sementara Dave dan tuan Sam saling melakukan salam khas pria.


"Hai jagoan!" sapa tuan Sam pada putra bungsu Dave dan Sandra.


"Hai juga om..." sahut bocah bernama Amr itu.


Mereka lalu berkumpul di ruang keluarga untuk bercengkrama. Sahir dan Samir tidak bisa berlama-lama karena harus menghafalkan lafaz ijab mereka. Amr yang penasaran malah mengikuti kedua mempelai itu untuk menghafal. Dan tampaknya bocal itu malah yang bisa langsung hafal dibanding kedua calon pengantin yang membuat keduanya frustasi.

__ADS_1


__ADS_2