BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Kisah Masa Kecil


__ADS_3

Tuan Sam sangat marah saat pihak kepolisian memutuskan untuk menghentikan pengejaran dan kembali ke markas. Ia tak terima jika pencarian istrinya dihentikan apalagi saat ini istrinya sama sekali tak diketahui keadaannya sebab tak ada permintaan tebusan dari sang penculik.


Lukas yang melihat keadaan tuannya yang sangat kacau berusaha untuk menenangkannya.


"Tuan.... sebaiknya tuan bersabar saja dulu..." ucapnya hati-hati.


"Lebih baik tuan beristirahat dan mengisi perut agar mempunyai tenaga untuk melanjutkan pencarian nyonya Amira" sambungnya.


Tuan Sam memandang asistennya itu dengan sendu. Lukas dapat melihat pancaran keputusasaan di mata tuannya. Sebisa mungkin ia berusaha membuat tuannya mengerti bahwa saat ini istirahat adalah keputusan terbaik agar dapat melanjutkan pencarian esok hari.


Para petugas kepolisian pun kembali ke markas sedang tuan Sam dan Lukas memutuskan untuk pulang ke rumah tuan Sam. Sesampainya di rumahnya tampak disana sudah ada tuan Bram dan nyonya Sarah berserta kedua anaknya. Mereka sengaja datang untuk memberikan dukungan moral pada tuan Sam.


"Kakak..." panggil nyonya Sarah yang langsung menghambur ke arah tuan Sam.


Tuan Sam pun membalas pelukan adiknya itu dengan erat. Tuan Sam yang sedari tadi tampak keras kini pria itu bahkan sudah menangis sesenggukan di bahu adiknya itu. Semua orang yang ada disana terdiam karena ikut terharu dengan sikap tuan Sam yang tampak sangat rapuh.


"Dia pasti sangat ketakutan dek... apalagi akhir-akhir ini dia bersikap sangat manja padaku..." ucap tuan Sam lirih.


"Kakak jangan begini... kakak tahu? dulu Amira juga bilang saat membawa anak-anakku dia juga sempat ketakutan namun ia kembali berani karena melihat wajah kedua anakku yang membutuhkan perlindungannya..." kata nyonya Sarah sambil mengurai pelukannya.


"Apalagi sekarang ia sedang hamil kedua calon anak kalian... jadi keberaniannya pasti akan berkali lipat untuk melindungi buah hati kalian..." sambungnya sambil menatap mata kakaknya lembut.


Tuan Sam mengangguk sambil tersenyum. Ya ... Amira dulu berani mempertaruhkan nyawanya demi keselamatan kedua keponakannya. Pasti kini ia pun akan melakukan hal yang sama demi calon anak mereka.


"Kakak sudah makan?" tanya nyonya Sarah mengalihkan pembicaraan.


"Tuan belum makan sejak siang nyonya..." lapor Lukas sebelum tuan Sam sempat menjawab pertanyaan dari adiknya.


"Kalau begitu kita makan sekarang" ajak nyonya Sarah sambil menuntun kakaknya ke ruang makan.


Kemudian mereka semua makan malam bersama. Selesai makan tuan Sam pun pamit untuk beristirahat di kamarnya. Semua orang memandang kepergian tuan Sam dengan iba. Mereka sama sekali tak menduga jika akan terjadi tragedi seperti ini disaat semuanya sedang sangat bahagia.


Sesampainya di dalam kamar tuan Sam mengambil bingkai foto dirinya dan Amira saat keduanya baru saja menikah.


"Aku mohon agar kau selalu kuat sayang... aku janji akan segera menemukanmu dan menyelamatkanmu" gumamnya sambil memeluk foto tersebut dengan mata terpejam.


Sementara itu Amira yang baru saja hendak terlelap kaget saat tiba-tiba pintu kamar tempatnya disekap dibuka dari luar. Tampak dua orang yang tadi menyekapnya masuk. Amira langsung beringsut mundur hingga tubuhnya menabrak tembok dekat tempat tidur.


"Ayo cepat bangun dan ikut kami!" perintah salah satu diantara mereka.


Tanpa perlawanan Amira pun menuruti perintah mereka. Sebenarnya ia penasaran mengapa ia di bawa keluar dari tempat itu. Namun ia tak berani bertanya. Ternyata mereka membawa Amira ke lantai atas. Dan saat tiba disebuah kamar salah satu diantara mereka membuka pintu kamar itu dan menyuruh Amira untuk masuk ke dalam.

__ADS_1


Amira sangat terkejut saat melihat kamar itu tampak sangat lengkap seperti kamar pada umumnya tak seperti kamar penyekapan seperti tempat yang tadi ia tempati. Di sana terdapat tempat tidur yang memiliki kasur tak seperti kamar sebelumnya yang hanya ada tempat tidur kayu tanpa alas kasur. Di kamar ini bahkan terdapat kamar mandi di dalam. Selain itu tampak di atas tempat tidur telah tersedia beberapa pakaian ganti untuknya berupa busana muslim.


Tak menyia-nyiakan kesempatan Amira pun langsung mengambil pakaian yang tersedia dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya yang sudah terasa sangat lengket dan berganti pakaian didalam sana. Setelah selesai ia baru keluar dari dalam kamar mandi. Karena sudah merasa segar Amira pun merasakan kantuk karena kelelahan. Lalu ia pun merebahkan tubuhnya untuk tidur.


Jimmy yang sedari tadi memperhatikan tingkah Amira hanya tersenyum tipis. Ia teringat dengan masa lalunya saat pertama kali bertemu dengan gadis itu.


...............


15 tahun yang lalu...


Jimmy yang saat itu masih berusia 16 tahun sedang menjalankan tugas dari ketua gengnya untuk mengambil upeti dari para pedagang pasar bersama beberapa temannya. Saat ia baru kembali ke parkiran tempat biasanya para anggota geng preman berkumpul ia melihat seorang gadis kecil yang sedang berteriak dam memukul salah seorang temannya.


Saat ia mendekat ia dapat melihat gadis kecil itu tengah berusaha menarik barang bawaannya dari tangan temannya itu. Dapat dilihat jika itu berupa snack anak-anak. Pasti itu barang dagangan gadis kecil itu.


"Lepaskan.... ini punyaku!!" teriaknya sambil menarik barang miliknya.


"Heh... kalau kau mau barangmu kembali maka kau harus bayar padaku tahu!!" gertak Gondes, preman itu.


"Tidak... aku tidak berjualan disini... aku hanya baru membeli untuk kujual di rumah..." terang gadis itu tak mau menurut.


"Heh anak kecil kau itu tidak ada takut-takutnya ya!!" sahut Parjo preman yang lain.


Melihat keberanian gadis kecil itu membuat hati Jimmy terusik. Ia seperti melihat dirinya sendiri saat kecil dalam versi perempuan. Dengan cepat ia memukul kedua temannya itu dari belakang yang membuat keduanya langsung tumbang tanpa tahu siapa yang sudah menyerang mereka.


"Terima kasih kak...." ucap gadis itu masih dengan nafas tersengal akibat berlari.


"Sama-sama..." sahut Jimmy singkat.


"Kenapa tadi tak kau berikan saja apa yang mereka pinta?" tanyanya setelah keduanya duduk di pinggir trotoar.


"Uangku sudah habis semua untuk membeli ini kak" ucapnya sambil menunjukkan kresek bening berisi berbagai macam snack.


"Lalu kau pulang pakai apa?" tanya Jimmy.


"Jalan kaki kak... ga jauh kok" sahut gadis itu tersenyum lebar menunjukkan gigi depannya yang ompong.


"Kamu kenapa berjualan seperti itu? apa kau tidak punya orang tua?"


"Punya kok kak... tapi aku ingin punya sepeda jadi aku jualan ini di sekolah agar bisa menabung" jelas gadis itu tanpa malu.


"Kamu ga minta sama orangtuamu?"

__ADS_1


"Ga kak... kasihan ayah ... biar ayah mikirin biaya sekolahku aja... kalau aku nabung kan bisa beli sendiri dan ga nyusahin ayah sama ibu..." sahut gadis itu lugu.


"Oh iya nama kamu siapa?"


"Upik kak..." sahut gadis itu sambil mengulurkan tangan kecilnya.


"Raja" sahut Jimmy sambil meraih tangan gadis kecil itu.


"Aku pulang sekarang ya kak... nanti ibu mencariku" pamit Upik.


"Kakak antar ya..."


Upik pun mengangguk sambil tersenyum senang. Sejak hari itu Jimmy yang mengaku sebagai Raja sering menemani Upik kecil saat ia berbelanja di pasar. Dan karena sifat gadis kecil itu yang berani dan tak kenal takut membuat Jimmy menjulukinya Upik Bagak.


Bocah itu pun sama sekali tak keberatan dengan panggilan tambahan yang diberikan Raja yang sudah dianggapnya seperti kakaknya sendiri. Namun gadis kecil itu tak pernah tahu apa pekerjaan Raja yang sebenarnya. Mereka pun semakin akrab hingga suatu hari Jimmy harus masuk penjara karena terlibat dalam perampokan. Hal itulah yang membuatnya tak bisa lagi menghubungi Upik kecil. Dan saat ia bebas dua tahun kemudian ia langsung direkrut oleh pimpinan kriminal yang lebih besar seorang pedagang obat terlarang yang membuatnya mengikuti bos barunya keluar kota.


Sejak saat itu ia tak pernah lagi kembali ke kota P. Sedang Mela dia memang adik kandungnya namun sejak kecil mereka terpisah karena perceraian kedua orangtuanya. Jimmy ikut dengan ayahnya sedang Mela ikut dengan ibunya. Mereka bertemu kembali setelah bertahun-tahun Jimmy berusaha mencarinya.


Saat bertemu Mela gadis itu tengah tergila-gila pada pria beristri bernama Bram. Jimmy sebenarnya tidak setuju karena ia tahu tipe pria seperti Bram yang menganggap Mela hanya selingan dan suatu saat pasti akan kembali lagi pada istri sahnya. Tapi tetap saja adiknya itu keras kepala dan saat pria itu mulai kembali pada keluarganya ia meminta bantuan pada kakaknya untuk menyingkirkan istri dan anak pria tersebut.


Jimmy mendesah pelan. Ia masih setia mengamati Amira yang kini telah berganti pakaian dan merebahkan dirinya diatas tempat tidur. Tampak wanita itu tengah berusaha untuk tidur sambil mengelus perutnya perlahan.


"Apa kau sedang hamil Pik?" gumam Jimmy.


Entah mengapa tiba-tiba ada rasa sakit saat menyadari wanita itu tengah mengandung buah cintanya dengan pria lain. Sejak ia menyadari jika Amira adalah gadis kecilnya yang dulu, kini Jimmy seperti berbalik ingin memiliki Amira alih-alih membunuhnya seperti keinginannya sebelumnya.


Sedang Amira tengah bersholawat lirih sambil mengelus perutnya yang mulai membuncit. Ada rasa tenang saat menyenandungkan shalawat itu. Begitu pun dengan kandungannya yang tak lagi merasakan kram. Setelah beberapa saat akhirnya Amira pun mulai tertidur.


Saat melihat wajah tenang Amira saat tertidur Jimmy pun meninggalkan tempatnya mengawasi Amira. Pria itu melangkah ke jendela besar kamarnya dan memandang kearah langit. Fikirannya menerawang jauh. Seandainya saja ia tak terjun di dunia yang digelutinya saat ini mungkin ia yang akan berada disamping Amira saat ini. Dan anak yang dikandung Amira merupakan anaknya.


Kenapa nasibnya sama dengan Mela adiknya. Mencintai seseorang yang jelas tak mungkin jadi miliknya. Jimmy menghembuskan nafasnya kasar. Amira memang tak secantik para wanita yang menginginkannya di luar sana. Namun ada sesuatu pada diri wanita itu yang membuatnya langsung jatuh hati saat pertama kali bertemu tatap dengannya.


Mata yang sama seperti saat mereka pertama kali bertemu dulu. Kepolosan dan ketulusan yang masih sama dan tak berubah. Pantas saja pria tampan dan kaya seperti Sam juga jatuh hati pada Amira. Dan pria itu juga beruntung karena Amira pun mencintainya.


Entah apakah tindakannya menahan Amira sudah tepat. Namun sisi hatinya ingin selalu berdekatan dengan Amira walau kini wanita itu pasti sudah membencinya. Kembali pria itu menghembuskan nafasnya kasar untuk menghilangkan kegelisahan hatinya.


Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dari luar. Jimmy pun segera membukanya. Tampak dua orang anak buahnya sudah berdiri di depan pintu.


"Ada apa?" tanya Jimmy datar.


"Tuan apa rencana kita selanjutnya? sampai kapan kita akan menahan wanita itu?" tanya salah satu diantara mereka.

__ADS_1


"Kalian istirahat saja dulu... besok pagi akan kuberitahu rencana kita selanjutnya" sahutnya lalu menutup pintu.


Anak buahnya pun hanya bisa saling pandang dan akhirnya pergi meninggalkan tempat itu.


__ADS_2