
Sadira mempercepat langkah kakinya menuju pintu gerbang. Tujuannya hanya satu, mencegat siapa pun yang ia temui untuk meminta bantuan dan menghubungi kedua orangtuanya. Ia tidak mungkin membiarkan Ricko menjadi sasaran dokter Andrew berikutnya. Sadira menghela nafas lega saat melihat pos satpam di depan rumah dokter Andrew kosong. Sepertinya sang satpam meninggalkan pos karena sesuatu. Segera Sadira membuka gerendel pintu gerbang yang tidak sedang digembok. Meski agak kesusahan karena tenaganya yang belum pulih benar namun akhirnya gadis itu bisa juga membuka pintu gerbang rumah dokter Andrew dan keluar dari dalam sana. Tapi baru saja Sadira melangkahkan kakinya ke tepi jalan, tiba-tiba seseorang menarik tangannya dari belakang.
"Mau pergi kemana nona?" tanya seseorang yang membuat Sadira langsung menoleh ke belakang.
Tampak seorang pria paruh baya yang mengenakan seragam keamanan menatapnya dengan tajam.
"Lepaskan! saya mau pulang..." sahut Sadira sambil menghempaskan tangannya agar terlepas dari genggaman sang satpam.
"Tidak bisa nona... Semua yang ada di rumah ini hanya bisa keluar masuk atas izin tuan dokter" tolak sang satpam.
"Tuanmu itu seorang kriminal! dan dia sudah menculikku... apa kau juga mau ikut terseret jika polisi menangkapnya?" ancam Sadira.
Untuk sesaat tampak jika satpam itu termangu dengan perkataan Sadira barusan karena memang ada benarnya. Tapi ia juga tidak bisa melawan perintah majikannya untuk tidak bisa membiarkan orang keluar masuk rumahnya tanpa seizinnya. Melihat sang satpam yang tengah kebingungan, Sadira langsung memanfaatkan hal itu untuk pergi dari sana. Tapi sayang hal itu tidak berjalan dengan lancar karena tak lama satpam itu kembali menahanya dan bahkan memaksanya untuk kembali masuk ke dalam rumah.
Sementara itu Bara tengah melajukan motornya tanpa tujuan. Ia sengaja memanfaatkan hari minggu untuk ikut mencari keberadaan Sadira. Walau pun ia sendiri tidak tahu harus mencari kemana... tapi ia tidak mau untuk berpangku tangan saja dan hanya menunggu kabar Sadira di rumah. Sudah sejak pagi pemuda itu berkeliling ke semua sudut kota berharap menemukan petunjuk. Namun ia belum beruntung karena sudah hampir tengah hari namun ia belum menemukan satu petunjuk pun yang bisa memberikan titik terang tentang keberadaan Sadira saat ini. Karena merasa lelah dan haus ia pun mencoba mencari mini market untuk membeli minuman kemasan.
Baru saja ia berbelok hendak menuju mini market yang ia tahu berada tak jauh dari tempatnya berada tadi, Bara dikejutkan dengan pemandangan dimana seorang gadis tengah meronta-ronta karena ditarik paksa oleh seorang petugas keamanan. Kedua bola mata Bara langsung membulat saat mengenali siapa gadis yang tengah ditarik paksa itu.
"Dira!" seru Bara langsung menghentikan motornya dan turun lalu menghampiri kedua orang itu.
Seketika dua orang yang sedang tarik menarik itu pun berhenti dan menoleh ke arah suara.
"Kak Bara..." panggil Sadira.
Meski masih menggunakan helm full facenya namun Sadira masih dapat mengenali suara kekasihnya itu.
"Apa-apaan ini pak... bapak yang menculik pacar saya?" tanya Bara mengintimidasi dan langsung mencoba membantu Sadira sambil melepaskan helmnya dan meletakkannya di pinggir jalan.
"Eh kamu jangan asal tuduh ya..." elak pria itu mencoba untuk membela diri.
"Oh ya? pacar saya ini sudah hilang beberapa hari karena diculik... saya dan keluarganya sudah mencarinya kemana-mana dan melaporkannya ke polisi..."
__ADS_1
"A... apa?"
"Ya... bapak mau dijebloskan ke penjara karena tuduhan penculikan?" tanya Bara terus mengintimidasi pria kekar di hadapannya yang ternyata bernyali kecil.
Bara juga sudah meraih tangan Sadira dan membawanya ke belakang tubuhnya untuk melindungi gadis itu. Satpam itu tampak gelisah sambil mengamati sekelilingnya yang ternyata sepi. Tiba-tiba saja pria itu langsung melayangkan pukulan kepada Bara. Ya... dalam fikiran pria itu ia yang malah lebih takut dengan kemarahan sang majikan jika ia tidak bisa membawa kembali Sadira ke dalam. Kebetulan sekali kondisi depan rumah saat ini sepi jadi ia bisa membungkam bocah dihadapannya ini tanpa ada yang tahu dan membawa kembali gadis milik majikannya itu ke dalam rumah. Bara yang mendapat serangan dari pria yang ada dihadapannya itu pun langsung mengelak dan berusaha untuk memberikan balasan.
Perkelahian keduanya pun tidak dapat dihindarkan. Sadira terpaksa menyingkir karena saat ini kondisinya masih tidak memungkinkan untuk ikut membantu Bara melawan satpam di rumah dokter Andrew itu. Perkelahian keduanya tidak berlangsung lama karena meski tubuh Bara tidak sekekar satpam itu namun skill berkelahinya lebih mumpuni terbukti dalam waktu singkat Bara bisa membuat lelaki kekar itu terkapar dan tidak sadarkan diri. Mendapati lawannya yang tumbang, Bara langsung menghampiri Sadira yang terduduk lemas di atas trotoar.
"Ayo aku antar ke rumah sakit Ra..." ajak Bara berusaha membopong tubuh Sadira.
Sadira langsung menggelengkan kepalanya menolak permintaan Bara.
"Kakak harus tolong kak Ricko dulu... dia berada ditangan orang jahat itu kak..."
"Apa?"
"Kak Ricko tadi yang menolongku keluar dari sana... tapi dia tertangkap" terang Sadira sambil menunjuk ke arah rumah dokter Andrew.
Meski Bara ragu untuk meninggalkan Sadira sendirian seperti ini, namun mendengar perkataan Sadira tentang Ricko membuat pemuda itu juga tidak tega meninggalkan Ricko yang sudah menolong Sadira ditangan penjahat. Bara pun akhirnya mengangguk menyetujui permintaan Sadira.
"Baiklah... kamu tunggu disini aku akan menolong kak Ricko. Tapi sebelumnya hubungilah kedua orangtuamu..." kata Bara sambil menyerahkan ponselnya kepada Sadira.
Sadira pun menganggukkan kepalanya menyetujui perintah Bara. Bara mengecup kening Sadira sebentar sebelum ia melangkahkan kakinya ke rumah dokter Andrew untuk menolong Ricko. Setelah kepergian Bara, Sadira langsung menghubungi nomor ponsel sang bunda. Tak butuh waktu lama panggilannya pun langsung diangkat.
"Assalamualaikum..." terdengar suara bundanya yang beberapa hari ini sangat ia rindukan.
"Waalaikum salam bunda..."
"Dira!" seru Amira begitu mendengar suara putrinya yang beberapa hari ini menghilang.
Tuan Sam yang sedang berada di ruang kerjanya pun langsung kaget saat sang istri tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Begitu juga dengan Lukas dan yang lainnya yang juga berada di dalam ruangan itu.
__ADS_1
"Dira, Db..." seru Amira sambil berlari ke arah tuan Sam.
Tuan Sam langsung menarik ponsel yang ada ditangan Amira dan menempelkannya ditelinganya.
"Dira?" ucapnya dengan penuh rasa syukur.
"Ayah..." sahut Sadira dengan suara lemah.
"Kamu dimana sayang? oh tidak usah banyak bicara dulu... biar ayah dan yang lainnya kesana, jadi jangan kamu matikan ponselnya..." ucap tuan Sam yang menyadari jika sang putri pasti belum bisa bicara banyak.
"Lukas!" panggilnya pada asistennya itu.
"Baik tuan..." sahut Lukas yang langsung tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
Tuan Sam pun mengembalikan ponsel Amira dan segera bersiap untuk mendatangi Sadira. Sementara Lukas langsung melacak keberadaan gadis itu melalui GPS pada ponsel yang digunakan oleh Sadira. Setelah mendapatkan lokasinya semua orang langsung bergerak ke tempat Sadira berada. Bahkan Amira dan si kembar juga ikut serta. Sementara Sadira setelah menghubungi kedua orangtuanya pun mencoba mencari sesuatu untuk mengikat tubuh satpam yang masih tidak sadarkan diri. Beruntung di dekat sana ada tong sampah, dan disana tampak menyembul seutas tali rafia yang tampaknya cukup tebal dan kuat. Sadira pun segera mengambilnya dan menggunakan tali itu untuk mengikat kedua tangan dan juga kaki dari satpam rumah dokter Andrew.
Di lain sisi... setelah meninggalkan Sadira di depan, Bara segera melangkahkan kakinya ke rumah dokter Andrew. Langkahnya sangat berhati-hati agar tidak ketahuan oleh si pemilik rumah atau pun pegawai yang ada disana. Misinya adalah untuk menemukan Ricko dan menyelamatkannya. Setelah beberapa kali berputar-putar di dalam rumah memeriksa semua ruangan dan sudut rumah untuk menemukan dimana dokter Andrew menyekap Ricko, tapi Bara belum juga menemukannya. Hingga saat ia kembali melewati ruang kerja dokter Andrew yang tadi sudah sempat ia periksa, Bara merasakan ada yang terasa janggal saat melihat salah satu lemari buku disana terlihat agak bergeser.
Penasaran... pemuda itu pun bergerak kembali masuk ke dalam sana untuk memeriksa sekali lagi. Namun baru saja ia akan mengintip ke arah celah yang tadi terbuka tiba-tiba seseorang memukul kepalanya dari belakang. Bara pun langsung kehilangan kesadarannya dan ambruk ke lantai. Di belakangnya seseorang yang berdiri sambil memegang sebuah stick golf tampak tersenyum menang. Tak lama orang itu yang merupakan dokter Andrew pun membuka lebar lemari yang tadi sedikit terbuka dan tampaklah sebuah pintu lorong ada di balik lemari buku tersebut. Lalu dengan santai pria itu langsung menyeret tubuh Bara yang dalam keadaan tidak sadar masuk ke dalam lorong tersebut. Tampak jejak darah tertinggal saat tubuh Bara diseret oleh orang itu. Rupanya saat tadi kepala pemuda itu dipukul oleh orang itu menyebabkan kepalanya terluka. Melihat jejak darah yang cukup banyak tertinggal, dapat dipastikan jika luka yang diderita oleh Bara cukup parah. Namun dokter Andrew sepertinya sama sekali tidak perduli dan tampak sangat santai saat menarik kaki Bara demi bisa menyeret tubuh pemuda itu.
Meski harus kehilangan Sadira sebagai tawanannya, dokter Andrew cukup puas saat mendapatkan Ricko dan seorang pemuda lain yang tampak lebih muda yang cukup berani masuk ke dalam rumahnya. Ia bisa menduga jika pemuda yang baru saja didapatkannya itu pasti sudah bertemu dengan Sadira di luar dan oleh karena itu pemuda asing itu berani masuk untuk mencari Ricko. Jadi cukup adil bagi dokter Andrew jika ia juga menangkap pemuda itu untuk dijadikan tawanannya. Sedangkan Sadira... meski saat ini ia melepaskannya tapi suatu saat nanti ia pasti akan berusaha untuk mendapatkan gadis itu kembali. Karena tidak ada yang bisa mencegah dirinya untuk mendapatkan apa yang sudah menjadi target baginya.
Setelah berjalan beberapa saat di lorong sempit dan agak gelap, akhirnya dokter Andrew sampai disebuah ruangan yang penuh dengan warna putih mirip dengan ruangan yang berada di dalam rumah sakit. Disana juga sudah ada beberapa bangsal yang berjejer rapi mirip dengan ruang perawatan. Dan di salah satu bangsal itu sudah ada Ricko yang kini sudah tergeletak tak berdaya dalam keadaan tidak sadarkan diri. Dokter Andrew lalu mengangkat tubuh Bara yang tidak sadar ke atas bangsal yang berada di sebelah Ricko. Setelahnya pria itu baru meneliti wajah dari koban barunya tersebut. Dokter Andrew tampak puas saat tahu jika wajah Bara tampan dan memiliki postur tubuh yang cukup atletis untuk ukuran pemuda seumurannya.
Dokter Andrew kemudian membersihkan luka yang ada dikepala Bara dan mengobatinya agar tidak terus mengeluarkan darah dan mengotori bangsalnya. Untung saja luka itu tidak terlalu dalam meski sempat mengeluarkan banyak darah. Dokter Andrew hanya perlu menjahitnya agar tidak semakin parah. Selesai menjahit luka Bara, dokter Andrew lalu mengambil alat pel lalu membersihkan lantai ruangan itu dari darah bekas Bara. Ia juga membersihkan lorong dan juga ruang kerjanya agar tidak ada yang akan menemukan bukti jika ia sudah menculik kedua pemuda itu. Baru setelahnya ia berusaha untuk mencari keberadaan Sadira. Karena tidak mungkin gadis itu bisa pergi jauh dengan keadaannya saat ini.
Sedangkan di tempatnya bersembunyi setelah tadi ia mengikat tangan dan kaki satpam rumah dokter Andrew, Sadira sedang memanjatkan do'a agar Bara bisa menyelamatkan Ricko dari cengkraman dokter Andrew. Ia juga berdo'a agar ayahnya dan yang lainnya segera datang untuk menyelamatkannya. Karena ia yakin jika dokter Andrew pasti tidak akan dengan mudah untuk melepaskannya. Saat itulah ia melihat dokter Andrew baru saja keluar dari dalam rumahnya. Dokter itu tampak terkejut saat mendapati sang satpam tergeletak di tepi jalan dalam keadaan tidak sadarkan diri dengan tangan dan kakinya yang terikat. Ia sadar jika ini pasti perbuatan pemuda yang tadi menyusup ke dalam rumahnya. Dengan geram ia segera mencari keberadaan Sadira tanpa memperdulikan keadaan satpamnya. Dokter itu pun segera mencari-cari keberadaan Sadira.
Dalam keadaan ketakutan Sadira semakin menyembunyikan dirinya di dalam tanaman yang dijadikan pagar hidup yang terletak di seberang rumah dokter Andrew. Gadis itu tampak ketakutan dan trauma jika berhadapan dengan pria itu. Sementara dokter Andrew masih tidak menyerah untuk mengetahui keberadaan Sadira. Dengan matanya yang tajam akhirnya ia bisa melihat jika tanaman di rumah tetangga depannya tampak bergoyang tidak wajar. Seketika bibir dokter Andrew menampakkan senyuman menyeringai yang tampak begitu menakutkan.
"Kamu memang kelinci yang polos Tara sayang..." gumamnya sambil tersenyum.
__ADS_1
Dengan langkah lebar pria itu segera menyeberangi jalan dan mendekat ke arah tempat dimana saat ini Sadira tengah bersembunyi.