BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Kembali Ditolak


__ADS_3

Anna terdiam saat mendengar putranya menyebut "Papa" dalam tidurnya. Hatinya tercubit dan berfikir jika putranya sangat merindukan sang papa. Tak terasa air mata Anna menetes di pipi mulusnya. Sementara bi Siti dan Raja tengah berdebar saat mendengar Sultan menyebut "Papa" dalam tidurnya.


"Hem... sudah bi... aku sudah harus mengurus pasien lagi..." ucap Anna setelah ia bisa menenangkan dirinya.


Sebenarnya dari suaranya terdengar jelas jika Anna tengah menahan tangis. Bi Siti yang menyadari itu merasa trenyuh. Mungkin Anna masih tidak curiga dengan tingkah putranya namun kesedihan hatinya tampak jelas oleh bi Siti. Sementara Raja tampak terdiam. Mendengar suara Anna yang seperti menahan tangis juga membuat hatinya terluka. Namun ia merasa tidak berdaya... jika ia jujur sekarang maka seluruh usahanya selama ini akan sia-sia. Julio belum mendapatkan hukumannya...


Maka selama itu juga Anna dan Sultan tidak akan aman jika bersamanya. Biarlah ia untuk sementara menemui putranya dan juga Anna secara sembunyi-sembunyi. Asalkan keamanan keduanya terjaga.


"Tuan..." bi Siti mencoba menyadarkan Raja yang tampak larut dalam lamunannya.


"Eh iya bi?"


"Tuan mau makan siang disini sama den Sultan?" tanya bi Siti basa-basi untuk mengalihkan fikiran Raja yang sedang kalut.


Sebab sudah jadi kebiasaan sejak pria itu kembali akan selalu makan siang bersama putranya itu.


"Iya bi... aku akan makan siang bersama Sultan seperti biasa..." sahut Raja.


"Tuan ingin makan apa?"


"Hem.... kalau bisa sayur asem sama goreng ikan asin dan sambal bi..."


"Baik tuan... akan saya masakkan..." kata bi Siti lalu ia pun segera pergi ke dapur untuk memasak.


"Maafkan aku Honey Bee... kau pasti sangat menderita selama ini..." batin Raja sambil memandangi wajah putranya yang masih tertidur.


Di rumah sakit...


Anna baru saja selesai memeriksa pasien terakhirnya saat seorang perawat datang dan mengatakan jika ada yang mencarinya. Anna tampak mengerutkan keningnya bingung. Pasalnya tidak ada seorang pun dari keluarganya yang memberitahunya jika akan datang menjenguknya.


"Siapa sus?" tanya Anna penasaran.


"Saya tidak tahu... tapi dia seorang pria dan kelihatannya dia berasal dari Indo..." terang perawat itu.


Anna pun memutuskan untuk menemui orang itu. Saat ia melihat orang yang ingin menemuinya ia terkejut.


"Devan..." gumamnya lirih.


Merasa ada yang menghampirinya dari belakang, Devan pun berbalik dan langsung tersenyum saat melihat Anna datang mendekat. Namun senyumannya langsung memudar saat melihat wajah Anna yang terlihat datar.


"Hai Ann..." sapanya dengan senyum canggung.


"Ada perlu apa menemuiku?" tanya Anna tanpa basa basi.


"Hem tak bisakah kau sedikit ramah denganku Ann? aku sudah jauh-jauh kemari sengaja untuk menemuimu loh..." ucap Devan sedikit merengek.


Anna menghembuskan nafasnya pelan... ini yang ia takutkan saat ia kehilangan Raja. Akan ada laki-laki lain yang ingin mendekatinya, dan Anna sungguh tidak menyukainya. Dia ingin Raja menjadi cinta pertama sekaligus terakhirnya. Apa lagi ada Sultan yang selalu mengingatkannya pada suaminya itu.


"Baiklah... sekarang apa yang kau inginkan?" tanya Anna pelan.


"Boleh aku mengajakmu makan malam diluar?" tanya Devan langsung.


"Maaf aku tidak bisa... kau tahukan... aku punya bayi yang tidak bisa aku tinggal kecuali untuk urusan pekerjaan..." tolak Anna.


"Kalau begitu bisakah aku berkunjung ke tempatmu? aku juga ingin melihat putramu..." ujar Devan tak menyerah.


Sebenarnya Anna sudah jengah... namun ia tak mungkin melarang pria itu untuk berkunjung ke apartemennya.


"Baiklah..." ucap Anna akhirnya.


"Bagus... kalau begitu kau pulang jam berapa? biar aku jemput sekalian"

__ADS_1


"Jam empat..." sahut Anna yang tak ingin berdebat lama dengan Devan.


"Oke... aku jemput jam empat..." ujar Devan sambil tersenyum senang.


Anna mendesah pelan. Kepalanya tiba-tiba saja merasa pusing setelah pertemuannya dengan Devan.


"Aku harus melakukan sesuatu agar dia tidak berharap lebih padaku..." batin Anna sambil membereskan barang-barangnya saat akan pulang.


Baru saja Anna keluar dari dalam rumah sakit Devan sudah menghampirinya di halaman rumah sakit. Pria itu tampak sangat tampan dengan penampilan casualnya. Membuat banyak wanita langsung menatapnya penuh damba. Pesonanya memang sudah tidak diragukan lagi. Hanya Anna yang sedari dulu tidak terpengaruh. Dan itu yang membuat pria itu selalu penasaran.


"Ayo!" ajaknya sambil mengulurkan tangannya pada Anna.


Namun wanita itu hanya melewatinya dan memilih berjalan terlebih dahulu. Devan pun menarik tangannya kembali sambil tersenyum kecut. Tapi tak lama karena ia langsung menyusul Anna dan mensejajari langkah wanita itu.


"Apa kau tahu yang mana mobilku?" tanya Devan menggoda Anna.


Wanita itu langsung menghentikan langkahnya.


"Bukankah aku bisa menunggumu mengambil mobilmu di depan sana?" tunjuk Anna pada pintu keluar parkiran rumah sakit.


Devan tampak terdiam mati kutu. Sungguh... dengan Anna ia selalu saja salah langkah. Dan wanita itu selalu saja mempunyai cara untuk selalu bertentangan dengannya.


"Baiklah... aku ambil mobilku dulu..." ujar Devan akhirnya.


Ia pun kemudian segera menuju ke tempat mobilnya terparkir. Sementara Anna tampak sedang menghubungi bi Siti. Ia memberitahukan pada wanita paruh baya itu jika ia akan pulang bersama temannya yang ingin berkunjung. Bi Siti pun mengerti dan ia segera menyiapkan makan malam dengan porsi lebih banyak karena akan kedatangan tamu.


Tak lama Devan pun datang dengan mobilnya dan langsung membukakan pintu penumpang disampingnya. Anna langsung masuk dan duduk di kursi penumpang. Kemudian Devan pun melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit. Selama dalam perjalanan keduanya saling diam. Anna yang lebih memilih memandang keluar lewat kaca jendela disampingnya membuat Devan segan untuk memulai mengajaknya berbincang.


Sesampainya di depan gedung apartemen keduanya langsung turun dari dalam mobil. Anna tampak langsung melangkah tanpa menunggu Devan yang baru mematikan mesin mobil. Pria itu tampak menghela nafasnya pelan. Entah dosa apa yang membuat Anna selalu bersikap dingin dan ketus padanya. Keduanya saling diam saat di dalam lift menuju lantai tempat aparteken Anna berada.


"Assalamualaikum..." sapa Anna saat ia memasuki apartemennya.


"Ma...ma..." panggil Sultan pada Anna.


Anna langsung terseyum senang karena baru kali ini putranya memanggilnya mama.


"Tunggu sebentar ya sayang... mama ganti baju dulu..." ucap Anna pada Sultan.


Segera wanita itu masuk ke dalam kamarnya dan membawa pakaian ganti lalu beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Devan tampak salah tingkah karena merasa diabaikan.


"Ehem..." Devan sengaja berdehem untuk mengingatkan keberadaannya.


"Eh..." Anna langsung menoleh ke arah Devan sebelum ia sempat masuk ke dalam kamar mandi.


"Maaf... silahkan kamu duduk dulu..." kata Anna mempersilahkan Devan.


Devan pun mengangguk sambil tersenyum kecil lalu duduk di sofa ruang tamu. Bi Siti pun langsung meletakkan Sultan di kursi khusus sebelum ia meninggalkan bayi itu untuk membuatkan minuman untuk Devan. Tak lama wanita paruh baya itu keluar dari dapur sambil membawa minuman.


"Silahkan di minum tuan..." ucapnya sopan.


"Iya terima kasih bi..." sahut Devan.


Sedari tadi Devan tampak canggung berada bersama bayi Sultan. Tampak sekali jika pria itu tidak pernah dekat dengan anak kecil. Sementara Sultan tampak tidak memperdulikan kehadiran Devan. Bayi itu malah asyik memainkan mainannya yang diletakkan diatas meja yang tersambung pada kursinya.


Anna keluar dari kamar mandi sudah berganti pakaian dan langsung menghampiri putranya dan menggendong bayi itu.


"Anak mama hari ini rewel tidak?" tanyanya sambil menggesekkan hidungnya di pipi Sultan.


Bayi itu langsung tergelak dan memperlihatkan giginya yang ompong. Tampak sekali jika Sultan merindukan mamanya setelah seharian ini tidak bersama. Devan kembali merasa terasing saat melihat Anna yang asyik bersama putranya tanpa menyadari kehadirannya yang juga berada di sana.


"Ehem... jadi siapa nama putramu Ann?" tanya Devan yang tidak sabar karena merasa diabaikan.

__ADS_1


"Oh maaf aku lupa ada kakak di sini..." ujar Anna sambil membawa putranya duduk di sofa.


"Namanya Sultan..." sambung Anna sambil masih memainkan tangannya bersama Sultan.


"Hai Sultan! ini om Devan... salam kenal yah" ucap Devan sambil mengulurkan tangannya mencoba meraih tangan mungil Sultan.


"Kakak sudah cuci tangan?" tanya Anna menghentikan gerakan tangan Devan.


Devan langsung menarik lagi tangannya dan menyentuh tengkuknya karena merasa tidak enak.


"Maaf aku lupa..." ujarnya kemudian.


"Lebih baik kakak cuci tangan dulu sana..." ucap Anna sambil menunjukkan tempatnya pada Devan.


Pria itu pun segera berlalu untuk membersihkan tangannya. Sementara Anna kembali sibuk bermain dengan putranya. Tanpa ia sadari jika saat ini seseorang tengah menahan amarahnya karena melihat keberadaan Devan di apartemen Anna. Pria itu tampak menggeraskan rahangnya karena menahan amarahnya. Meski terlihat jelas jika Anna sama sekali tidak menaggapi Devan tapi tetap saja Raja merasa marah dengan sikap Devan yang terang-terangan berusaha mendekati Anna.


Setelah makan malam dan menidurkan Sultan, kini saatnya Anna dan Devan berbicara berdua. Anna ingin menyelesaikan semuanya agar Devan tidak berharap padanya. Meski ia tahu itu akan sulit karena Devan termasuk pria yang keras kepala.


"Ann... boleh aku bicara serius?" tanya Devan membuka pembicaraan.


"Ya?"


"Bolehkah aku sering berkunjung kemari?"


"Kenapa?"


"Aku ingin kita semakin dekat Anna... kau tahu... perasaanku padamu sejak dulu masih tetap sama..."


"Tapi aku tidak bisa kak... aku masih mencintai suamiku..." sahut Anna tegas.


"Tapi dia sudah tidak bisa bersamamu lagi Anna... dan kau butuh orang yang bisa menjagamu juga putramu..."


"Aku bisa menjaga diriku sendiri kak... dan tentang Sultan... dia hanya akan mengenal Raja sebagai ayahnya... bukan orang lain" kata Anna dengan sedikit keras.


Ia tak terima jika dianggap lemah dan putranya seolah kehilangan kasih sayang dari ayahnya. Meski akhir-akhir ini Sultan selalu menyebut "Papa" tapi ia yakin jika kasih sayangnya tidak akan membuat Sultan kehilangan sosok seorang ayah karena keluarganya selalu berada disampingnya untuk melimpahkan kasih sayang kepada putranya itu. Apa lagi jika ia nanti sudah kembali ke Indo.


Devan tampak terdiam dengan jawaban Anna. Pria itu ingin memperjuangkan kembali cintanya pada Anna meski wanita itu kini sudah menjadi janda dan memiliki seorang putra.


"Apa kau tidak bisa memikirkannya lagi Ann?" ucap Devan dengan nada putus asa karena untuk kesekian kalinya Anna menolaknya.


Anna menggelengkan kepalanya dengan tegas. Ia harus membuat pria dihadapannya itu mengerti jika apa pun yang dilakukannya untuk meraih hatinya itu sia-sia. Karena sampai kapan pun Raja adalah satu-satunya orang yang memiliki hatinya.


"Maaf... jika kakak kembali kecewa... tapi sampai kapan pun Raja tetap pemilik hatiku... dan satu-satunya suamiku..." jawab Anna telak.


Devan menghembuskan nafasnya kasar. Sebenarnya ini sudah ia duga sebelumnya... tapi tetap saja ia masih ingin mencoba mungkin saja wanita itu akan luluh dengan mengatasnamakan putranya.


"Baiklah Anna... jika itu keputusanmu... tapi aku harap kita masih bisa berteman dan jika kita bertemu lagi aku harap sikap dinginmu itu akan berkurang..." kata Devan sambil terkekeh.


"Hemm... itu akan terjadi jika kakak tidak lagi berharap lebih padaku..." sahut Anna.


"Yah... semoga saja setelah ini hatiku ini akan terbuka untuk wanita lain Anna..."


"Amiin..."


"Baiklah... kalau begitu aku pamit pulang ya Ann"


"Iya kak... dan maaf sudah membuatmu kembali kecewa..."


"Tidak apa-apa..."


Kemudian Devan pun melangkahkan kakinya keluar dari apartemen Anna dengan diantar oleh wanita itu sampai di depan pintu.

__ADS_1


__ADS_2