
Pagi ini Anna terlihat lebih ramah pada kedua orangtuanya meski masih irit berbicara. Hal ini membuat kedua orangtuanya merasa sedikit lega. Sesampainya di sekolah Risa yang melihat wajah sahabatnya sedikit lebam dan ada luka yang hampir mengering disudut bibirnya langsung bertanya karena penasaran.
"Wajah kamu kenapa Ann?" tanya Risa khawatir.
"Ga pa-pa... hanya luka kecil..." sahut Anna yang tak ingin sahabatnya itu cemas.
"Tapi kenapa kamu bisa terluka seperti ini?"
"Hemm... aku jatuh saat mencoba belajar naik motor..." bohong Anna karena tidak mungkin dia menceritakan jika telah menghajar orang di club malam.
"Oh..." sahut Risa sambil menganggukkan kepalanya percaya dengan alasan Anna.
Kali ini rasa penasaran Risa langsung menguap begitu saja saat ia teringat dengan pesan guru pembimbing keduanya yang menginginkan keduanya mengahadap ke kantornya saat jam istirahat. Ia pun menyampaikan pesan gurunya itu pada Anna. Keduanya pun mengira-ngira apa gerangan yang ingin disampaikan oleh guru mereka itu. Apa lagi sebentar lagi ujian akhir juga akan dilaksanakan sebelum kelulusan.
"Apa mungkin ini mengenai pengajuan beasiswa yang sudah kita lakukan Ann?" tanya Risa yang gugup saat keduanya sedang menuju ke ruangan guru.
"Mungkin saja Ris... ah semoga permohonan kita di setujui ya... agar kita bisa melaksanakan ujian dengan tenang..." sahut Anna.
"Kau benar Ann... semoga saja begitu..." ujar Risa.
Dan benar saja jika yang dibicarakan oleh guru pembimbing mereka adalah masalah beasiswa yang mereka ajukan. Ternyata keduanya lolos setelah menyertakan nilai mereka selama ini dan tinggal menunggu nilai ujian akhir sebelum resmi mendapatkan surat penerimaan beasiswa. Kedua sahabat itu pun merasa sangat senang dan mengucapkan terima kasih pada guru pembimbing mereka yang selama ini mendampingi mereka belajar.
"Apa kau akan mengatakan berita ini pada kedua orangtuamu Ann?" tanya Risa saat keduanya berjalan kembali ke kelas.
"Nanti saja saat surat resmi sudah kita dapatkan..." sahut Anna yang memang masih ingin merahasiakan niatnya sekolah di luar negeri.
"Kau benar... dengan begitu kedua orangtua kita akan percaya karena memang sudah ada bukti tertulisnya..." ujar Risa setuju.
Tak terasa ujian akhir pun tiba...
Selama itu Anna dan Risa makin sering belajar bersama. Bahkan keduanya juga sering bergantian belajar bersama di rumah mereka masing-masing sehingga keluarga Anna dan Risa pun sudah saling mengenal. Dengan Risa, nyonya Sarah dan tuan Bram lebih setuju jika putri mereka berteman dan bahkan bersahabat dengannya. Sebab tuan Bram sudah menyelidiki sifat dan kepribadian gadis itu. Dan hasilnya gadis itu sangat tulus berteman dengan Anna.
Sedang Anna meski ia selama ini hanya diam namun ia masih menyimpan luka karena belum juga bisa menghubungi Raja. Meski ponselnya telah kembali namun nomor Raja sudah dihapus dari sana. Dan ia tidak bisa meminta pada Amira untuk memberikan nomor Raja karena tidak ingin bundanya itu mendapatkan masalah karena sudah menolongnya. Sementara Raja... ia telah mengirimkan orangnya untuk selalu mengawasi Anna. Dan setiap hari orang suruhannya itu akan mengirimkan foto Anna dalam kegiatan kesehariannya. Sehingga pria itu masih dapat melihat kekasih kecilnya untuk mengobati rasa rindunya.
Dan masalah Anna saat di club pun Raja sudah mengetahuinya. Namun karena belum mendapatkan lampu hijau dari kedua orangtua Anna pria itu hanya bisa berpura-pura tidak mengetahuinya. Tapi dia juga cukup bangga pada Anna yang bisa menjaga dirinya sendiri. Dan bahkan bisa menghajar para pria yang berusaha untuk melecehkannya. Soal Devan, Raja juga sudah merasa tenang karena sejak kejadian di club waktu itu kedua orangtua Anna melarangnya untuk menemui Anna.
Ujian akhir sudah dilaksanakan dan tinggal menanti pengumuman hasilnya. Risa dan Anna sudah merasa lega karena sudah melaksanakan ujian akhir mereka. Selama menanti pengumuman hasil ujian keduanya sering mengabiskan waktu bersama untuk mencari rekomendasi tempat tinggal murah di dekat universitas Oxford jika keduanya berhasil masuk ke universitas tersebut. Keduanya masih belum memberitahukan tentang beasiswa mereka karena belum menerima surat resminya.
Sementara tuan Bram dan nyonya Sarah juga belum menanyakan kemana putri mereka akan melanjutkan kuliahnya. Untuk kali ini keduanya sepakat untuk membebaskan Anna memilih universitas mana yang diinginkannya. Dan hari yang ditunggu oleh Anna pun tiba...
Pagi ini ia dan Risa kembali dipanggil oleh guru pembimbing mereka. Beliau memberikan surat penerimaan dari universitas Oxford pada keduanya. Hasil ujian akhir keduanya yang sangat memuaskan membuat keduanya langsung lolos menjadi salah satu penerima beasiswa. Sepulang dari sekolah Anna langsung kembali ke rumah. Ia berniat memberikan surat beasiswa itu kepada kedua orangtuanya setelah makan malam.
Dan disinilah Anna setelah tadi makan malam bersama ia meminta untuk bicara pada kedua orangtuanya di runag kerja tuan Bram. Meski merasa sedikit terkejut namun tuan Bram dan nyonya Sarah menuruti permintaan putrinya itu.
"Ma... pa... aku ingin memberikan surat ini pada kalian..." kata Anna memberikan amplop berisi surat pemberitahuan pada kedua orangtuanya saat mereka sudah berada di ruang kerja tuan Bram.
Dengan penasaran tuan Bram pun menerima amplop itu dan segera membuka isinya. Nyonya Sarah yang duduk di sampingnya pun ikut melihat isi surat tersebut. Keduanya tampak terkejut saat tahu jika itu pemberitahuan bahwa Anna diterima di universitas Oxford melalui beasiswa.
"Jadi kau memutuskan untuk kuliah disana?" tanya tuan Bram.
Anna hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya.
__ADS_1
"Lalu kau akan tinggal dimana?" tanya tuan Bram lagi.
"Mungkin aku akan tinggal di asrama mahasiswa atau menyewa kamar kos disana..." terang Anna.
"Apa hanya kau yang berasal dari sekolah kamu?" tanya nyonya Sarah.
"Tidak... aku akan pergi dengan Risa... dia juga mendapatkan beasiswa... meski beda jurusan..." sahut Anna.
"Baiklah... papa akan mengizinkan kamu kuliah di sana..." putus tuan Bram.
"Benarkah?" tanya Anna dengan sorot mata berbinar.
Baru kali ini kedua orangtua Anna melihat pancaran bahagia dari sorot mata putri sulung mereka itu setelah sekian lama.
"Tentu saja..." sahut tuan Bram sambil tersenyum.
"Terima kasih..." ucap Anna sambil memeluk kedua orangtuanya secara bergantian.
Tuan Bram dan nyonya Sarah sangat bahagia putri mereka kembali memeluk mereka setelah sekian lama.
"Aku akan memberitahu Risa sekarang..." ucap Anna sambil tersenyum dan berlari keluar dari ruang kerja tuan Bram.
"Syukurlah putri kita sedikit demi sedikit sudah mulai mencair sikap dinginnya pada kita..." kata nyonya Sarah saat Anna sudah keluar dari sana.
"Ya... kau benar sayang... aku harap putri kita secepatnya kembali seperti sedia kala..." ujar tuan Bram.
"Tapi apakah mungkin? sedang kita tak pernah membahas lagi tentang hubungannya dengan Raja... dia pasti masih berfikir jika kita masih belum merestui mereka..."
"Lalu apa kau akan memberitahu Raja jika kita sudah merestui mereka hem?"
"Tentu saja... tapi tidak dalam waktu dekat... sebab aku masih ingin melihat putriku melanjutkan kuliahnya..." jawab tuan Bram.
"Tapi apa tidak kasihan pada temanmu itu? dia pasti sangat tersiksa..."
"Tidak juga... sebab dia masih bisa melihat putri kita setiap harinya..."
"Maksudnya?"
"Ya... dia mengirim orang untuk mengawasi dan mengirimkan foto putri kita padanya..." terang tuan Bram yang membuat nyonya Sarah membelalakkan matanya.
"Bagaimana kau tahu mas?" tanya nyonya Sarah penasaran.
"Pria seperti kami pasti saling tahu sayang... selama tujuan kami sama maka kami tidak akan saling mengganggu" sahut tuan Bram.
Sementara Anna tengah menelfon Risa. Ternyata sahabatnya itu juga baru saja memberitahukan pada kedua orangtuanya tentang beasiswa yang diterimanya. Sudah bisa ditebak jika kedua orangtua Risa sangat terkejut. Meski selama ini prestasi Risa juga tidak main-main karena selalu masuk lima besar di sekolahnya. Kedua gadis itu pun langsung berencana mengurus semua dokumen yang dibutuhkan agar semua berjalan dengan lancar.
....
Selesai acara kelulusan Anna dan Risa langsung terbang ke Inggris demi melanjutkan pendidikan mereka. Keduanya bahkan sepakat untuk tinggal di apartemen sewaan sederhana yang jaraknya dekat dengan kampus. Dan kini sudah tiga bulan sejak mereka menginjakkan kakinya di kampus. Meski awalnya sedikit kesusahan karena keduanya tidak satu jurusan yang membuat jadwal kuliah mereka berbeda namun akhirnya mereka pun terbiasa. Tanpa mereka ketahui jika sejak mereka tiba di sana sudah ada yang mengawasi keduanya. Siapa lagi jika bukan suruhan tuan Bram dan juga Raja.
Sementara itu di belahan bumi yang lain... tampak seorang pria tengah menatap tajam pada pria sebayanya diseberang mejanya. Keduanya memang berjanji bertemu disana.
__ADS_1
"Apa kau benar-benar mencintai putriku?" tanya tuan Bram pada Raja.
"Tentu saja... bukankah itu sudah aku katakan sejak dulu?"
"Apa kau tidak takut jika ternyata putri tidak serius padamu?"
"Aku tahu Anna... dia tidak akan berbuat seperti itu... bahkan pria muda yang katanya idola remaja itu pun tak mampu membuatnya berpaling dariku bukan?" sahut Raja tenang.
"Percaya diri sekali kau!"
"Tentu saja... karena aku Raja..."
"Ck... baiklah... kau boleh melanjutkan hubunganmu dengan putriku..." kata tuan Bram akhirnya.
"Apa kau serius?" tanya Raja tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Tentu saja... kau fikir aku akan main-main setelah jauh-jauh kemari hanya untuk mengatakan itu padamu?" sungut tuan Bram.
"Terima kasih... kau sudah mau menerimaku..." ucap Raja langsung beranjak dari duduknya dan memeluk tuan Bram.
"Sudahlah... aku juga minta maaf karena sempat menentang hubungan kalian..." ujar tuan Bram sambil menepuk punggung Raja.
"Kalau begitu bolehkah aku menemuinya sekarang?"
"Terserah... asal jangan langsung ingin menikahinya saja..." sahut tuan Bram.
"Kenapa tidak?"
"Karena aku masih ingin melihat putriku meneruskan kuliahnya dan meraih cita-citanya..."
"Dia masih bisa tetap kuliah jika kami menikah sekarang... aku tidak akan melarangnya..." kata Raja yang memang tak ingin menunda untuk menjadikan Anna sebagai istrinya.
"Tapi kau tahukan dia di Oxford... sedang kau ada di sini... jika kalian menikah dan harus menjalani hubungan jarak jauh bukannya itu akan sulit?"
"Aku tahu... tapi sebisa mungkin aku akan mengalah dengan lebih sering meluangkan waktu untuk bisa bersamanya" terang Raja.
"Baiklah jika kau sudah memikirkannya matang... aku dan Sarah hanya bisa memberikan restu..." kata tuan Bram akhirnya.
Raja tersenyum senang... kini ia sudah mendapatkan restu dari tuan Bram dan nyonya Sarah. Saatnya ia menjemput pengantin wanitanya... Anna.
Di apartemennya Anna tiba-tiba merasa resah. Entah mengapa bayangan Raja terlintas dibenaknya.
"Apa terjadi sesuatu padanya?" batin Anna sambil mengusap sudut matanya yang menggenang.
Digenggamnya cincin yang diberikan oleh Raja yang kini menjadi liontin kalungnya.
"Semoga kau baik-baik saja di sana..." do'a Anna mencium cincin pemberian Raja.
Anna mencoba memejamkan matanya setelah mendo'akan kekasihnya itu. Meski ia sama sekali tidak bisa menghubungi Raja namun setidaknya ia bisa mencari kabar kekasihnya itu dari bundanya. Dan dari yang ia dengar bahwa Raja semakin sibuk dengan pekerjaannya. Mungkin itu cara pria itu untuk mengatasi rasa kecewanya setelah penolakan kedua orangtua Anna. Makanya Anna pun melampiaskan kekecewaannya dengan belajar lebih giat. Ia mencontoh sikap kekasihnya yang lebih memilih melakukan kegiatan positif saat menghadapi persoalan.
"Aku sangat merindukanmu MB..." gumam gadis itu sebelum akhirnya menutup matanya.
__ADS_1