BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Rencana


__ADS_3

Satu setengah tahun yang lalu...


Raja mengutarakan rencananya pada ayah mertuanya dan juga tuan Sam. Ayah mertuanya sangat gusar saat mendengar rencana yang sudah disusun oleh Raja. Bukan apa-apa... jika sedikit saja rencana itu gagal maka putrinya Anna akan benar-benar menjadi janda. Namun untuk membuat rencana lain sangat tidak mungkin. Sebab yang mereka hadapi bukan penjahat biasa namun seorang mafia yang telah berkecimpung di dunia hitam bahkan sejak dia remaja.


Kekejamannya bahkan melebihi Castillo sepupunya. Satu-satunya cara adalah membuat Julio tertangkap dan dihukum mati agar tidak lagi melakukan balas dendamnya. Cara itu juga bisa membuat masa lalu Raja benar-benar terhapus dari dunia kriminal. Namun bukan hal mudah karena ini mempertaruhkan nyawanya sendiri dan bahkan tidak mungkin juga mengancam nyawa Anna. Semua persiapan dilakukan sehalus mungkin dan hanya beberapa orang saja yang mengetahui rencana ini sejak awal. Apa lagi ada kemungkinan ada pengkhianat yang membuat Raja hanya bisa percaya pada Rudi asistennya dan juga ayah mertuanya serta tuan Sam.


Saat di malam kejadian...


Raja yang sengaja mempertaruhkan nyawanya untuk menghadang tembakan Julio langsung terluka parah. Ia tak dapat menahan rasa bersalahnya saat melihat wajah cemas dan ketakutan istrinya saat melihat dirinya terluka didepan matanya. Ingin ia sedikit memberi pesan untuk istrinya itu namun mulutnya seolah telah terkunci dan tidak dapat mengeluarkan suara. Bahkan saat ia ingin menyentuh wajah istrinya pun ia sudah tidak sanggup. Kesadarannya langsung hilang karena ternyata peluru yang ditembakkan oleh Julio telah membuatnya terluka sangat parah dan membuat Raja kehilangan banyak darah.


Saat di rumah sakit...


Dokter berusaha keras untuk menyelamatkan nyawa Raja dengan melakukan operasi. Namun meski dilakukan oleh beberapa dokter ahli tapi akhirnya nyawa Raja tetap tidak dapat mereka selamatkan meski seluruh proyektil peluru sudah berhasil mereka keluarkan. Dengan terpaksa salah satu dokter keluar dari ruang operasi untuk memberikan kabar duka pada keluarganya.


Benar saja saat mendengar kabar kematian Raja, istri dari pria itu langsung syok dan tidak sadarkan diri. Apa lagi wanita muda itu terlihat tengah berbadan dua. Saat wanita muda itu dibawa ke ruang pemeriksaan sang dokter mendapat kabar dari rekannya jika Raja kembali menunjukkan tanda kehidupannya. Rudi yang juga mendengar kabar itu pun langsung bernafas lega.


"Dokter... jangan katakan pada yang lain jika tuan Raja berhasil selamat... sebab itu akan membuat nyawanya kembali terancam begitu juga dengan istrinya... cukup saya dan kalian yang merawatnya saja yang boleh tahu!" kata Rudi pada sang dokter.


Dokter itu pun langsung menyetujuinya apa lagi keadaan Raja juga tidak terlalu baik. Sebab meski nyawanya selamat namun pria itu kini dalam keadaan koma. Dan entah sampai kapan hingga akhirnya pria itu nanti akan sadar. Setelah menempatkan Raja di ruangan khusus dan hanya beberapa orang saja yang memiliki akses untuk masuk ke sana, Rudi baru bisa bernafas lega. Akhirnya ia bisa menghubungi tuan Bram dan tuan Sam untuk mengabarkan kejadian yang menimpa majikannya.


Di Indo...


Setelah mendapat kabar dari Rudi tentang kejadian yang menimpa Raja dan Anna, tuan Bram langsung pulang ke rumah untuk memberitahu nyonya Sarah sekaligus akan membawanya terbang ke New York untuk melihat keadaan Anna. Sementara tuan Sam pun telah diberitahu dan akan membawa Amira serta. Mereka berencana berangkat bersama ke bandara. Sementara adik-adik Anna dan anak-anak tuan Sam dan Amira akan tetap tinggal di rumah karena masih sekolah. Apalagi Adit yang akan menghadapi ujian akhir.


Setelah melakukan penerbangan yang cukup lama, akhirnya tuan Sam dan tuan Bram bersama istri-istri mereka sampai di New York. Mereka pun langsung menuju ke rumah sakit tempat Anna dan Raja dirawat. Amira bahkan sudah menangis sejak di dalam pesawat karena Rudi mengabarkan jika kakaknya Raja tidak selamat. Sementara nyonya Sarah terlihat berusaha tegar karena ia masih memikirkan keadaan putrinya Anna.


Sesampainya di rumah sakit mereka langsung disambut oleh Rudi. Pria itu langsung membawa keempat orang itu menuju ruang perawatan Anna. Mereka tampak lega saat tahu jika Anna dan bayindalam kandunganya baik-baik saja. Hanya Anna harus diberi obat penenang agar tidak histeris akibat kabar kematian suaminya.


"Kalian berdua tinggallah disini menemani Anna... kami akan mengurus pemakaman Raja..." ucap tuan Sam pada nyonya Sarah dan juga Amira.


Tuan Bram menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan kakak iparnya itu. Nyonya Sarah dan Amira pun menurut. Saat ini Anna sangat butuh keduanya untuk menghadapi kenyataan kehilangan suaminya. Kedua orang wanita itu tidak mengetahui sama sekali jika Raja masih hidup meski dalam keadaan koma. Kedua suami mereka sengaja tidak memberitahukan pada mereka agar rencana yang telah tersusun lama dapat berjalan dengan lancar. Meski harus mengorbankan perasaan banyak orang terutama Anna istri Raja yang sedang mengandung.


Setelah koma selama dua bulan lebih akhirnya Raja kembali sadar. Dan nama yang disebutnya pertama kali adalah nama istrinya Anna. Ya sebegitu khawatirnya Raja pada keadaan istrinya itu. Rudi yang selalu berada di sampingnya pun mengabarkan jika kini Anna dalam keadaan baik-baik saja dan sudah kembali ke Inggris. Setelah mengikuti terapi pasca koma untuk memulihkan tubuhnya Raja pun segera terbang ke Inggris demi menyusul Anna. Meski ia tahu tidak mungkin ia muncul tiba-tiba dihadapan wanita itu setelah ia dikabarkan meninggal dunia.


Apa lagi Julio belum selesai menjalani persidangannya, akibat banyaknya kejahatan yang telah diperbuatnya selama ini. Sehingga ia mendapatkan tuntutan berlapis yang membuat proses sidang berlangsung lama. Tapi setidaknya pria itu tidak lagi mengejar Raja karena menduga jika Raja benar-benar telah mati di tangannya. Namun demi menjalankan rencananya Raja tidak mau mengungkap kebenarannya pada Anna sebelum Julio mendapatkan hukuman setimpal yaitu hukuman mati.


Kembali ke masa kini...


Saat lewat tengah malam Raja terbangun. Ia langsung tersenyum mendapati Anna yang masih pulas tertidur di dalam pelukannya. Dengan perlahan ia mulai mengurai pelukannya dan beringsut dari tempat tidur. Ia harus kembali ke apartemennya sekarang sebelum Anna terbangun dan memergokinya. Tak rela rasanya meninggalkan kedua orang yang sangat dicintainya itu meski hanya terhalang oleh tembok apartemen. Ya... penghuni baru apartemen yang dulu disewa Risa adalah Raja. Sebelum Raja benar-benar melangkah pergi ia masih sempat untuk mengecup kening Anna dan juga Sultan putranya terlebih dahulu.

__ADS_1


"Baik-baik sama mama ya boy... besok kita bertemu lagi dan bermain bersama..." bisiknya lirih di telinga Sultan.


Bayi itu tampak bergerak perlahan seakan mendengarkan ucapan papanya. Memang selama ini Raja sering menemui putranya saat Anna telah berangkat ke rumah sakit. Karena itulah kata pertama yang keluar dari mulut bayi itu untuk pertama kalinya adalah "Papa". Bi Siti yang syok saat pertama kali bertemu dengan Raja kembali pun hanya bisa menurut saat tuannya itu menyuruhnya untuk merahasiakan apa yang diketahuinya dari Anna. Apa lagi saat Raja mengatakan jika semua itu dilakukan semata-mata demi keselamatan Anna dan Sultan.


Pagi ini Anna terbangun dengan suasana hati yang sangat bahagia. Bagaimana tidak semalam ia bermimpi sangat indah. Suaminya Raja seakan datang dalam mimpinya dan memeluknya dengan hangat. Bahkan aromanya masih ia rasakan saat ia baru terbangun tadi. Sepertinya do'a-do'anya yang ingin bertemu dengan Raja meski dalam mimpi telah dikabulkan. Bahkan Sultan pun terlihat lebih bersemangat hari ini. Bayi itu tampak tidak sabar saat dimandikan oleh Anna. Setelah bersiap dan menyimpan cadangan ASI untuk Sultan Anna pun berangkat ke rumah sakit dengan hati berbunga.


Dan begitu Anna sudah masuk ke dalam lift untuk menuju ke lantai bawah, pintu apartemen di samping apartemen Anna pun terbuka. Tampak Raja keluar dari dalam sana dan langsung masuk ke apartemen Anna.


"Selamat pagi bi..." sapa Raja pada bi Siti yang tengah membereskan dapur.


"Selamat pagi tuan..." sahut wanita paruh baya itu sambil tersenyum.


"Anak papa lagi apa?" tanya Raja sambil mendekat ke arah putranya yang tengah duduk di kursi yang khusus untuknya.


"Pa...pa..pa..." sahut bayi itu sambil merentangkan tangannya meminta Raja untuk menggendongnya.


Pria itu pun langsung mengangkat tubuh Sultan yang gembul lalu menggendongnya. Bayi itu langsung tertawa senang dan menepuk dada Raja dengan bahagia. Baru saja Raja mengajak putranya itu untuk bermain di dalam kamar terdengar suara pintu apartemen di buka dari luar. Bi Siti yang baru saja selesai membereskan area dapur tampak terkejut saat melihat Anna kembali ke apartemen.


"Non Anna kenapa kembali?" tanyanya dengan suara agak keras.


"Ish... kenapa bibi teriak sih? aku kan cuma mau ambil ponsel ku yang tertinggal di dalam kamar..." ujar Anna sambil menggelengkan kepalanya tak mengerti dengan tingkah aneh Artnya itu.


Setelah mengambil ponselnya Anna pun langsung keluar untuk pergi ke rumah sakit. Namun saat melewati ruang tamu ia tampak berhenti dan berfikir.


"Bi... Sultan di mana ya?" tanyanya yang tak melihat putranya itu.


"Ehm... itu non... den Sultan tadi bobo... jadi saja taruh di kamar..."


"Tapi tadi aku tidak melihatnya di kamar bi..."


"Eum... anu... dia ada di kamar saya non... habisnya tadi saya sambil membersihkan kamar saya jadi den Sultan sekalian saya bawa..." bohong bi Siti.


"Oh..." sahut Anna sambil mengangguk.


Lalu ia pun melanjutkan langkahnya keluar dari dalam apartemen. Setelah Anna menutup pintu apartemen bi Siti langsung pergi ke kamar Anna untuk memeriksa kedua tuannya.


"Tuan Raja? keluar tuan... nona sudah pergi..." serunya sambil membuka pintu kamar.


Tak lama Raja pun keluar dari dalam lemari sambil menggendong Sultan. Bayi itu tampak sedikit berkeringat karena kegerahan tadi berada di dalam lemari bersama Raja.

__ADS_1


"Huft... rasanya seperti maling di rumah sendiri... iya kan Sultan?" ucap Raja sambil memandang putranya itu.


Seolah mengerti dengan perkataan papanya bayi gembul itu malah tertawa dan bertepuk tangan. Begitu juga dengan bi Siti yang ikut tersenyum karena ucapan Raja.


"Makanya lebih baik tuan segera jujur pada nona Anna... agar tidak perlu lagi diam-diam untuk menemui den Sultan..." kata bi Siti sambil terkekeh.


"Saya yakin non Anna pasti akan sangat bahagia kalau tahu jika tuan Raja masih hidup..." sambung bi Siti dengan mata berkaca-kaca.


"Ini belum saatnya bi... keadaan belum aman bagi mereka berdua..." sahut Raja dengan suara sendu.


Bi Siti terdiam. Ia tahu jika tuannya masih merasa jika keadaan belum aman bagi ketiganya untuk bersatu. Tapi tetap saja sebagai orang yang dekat dengan Anna ia tahu bagaimana wanita itu selalu merindukan suaminya namun selalu berusaha untuk menyembunyikannya.


Sementara di rumah sakit Anna tampak sibuk karena hari ini ia kembali dimasukkan ke bagian IGD. Dan hari ini ada sebuah bus sekolah yang mengalami kecelakaan tunggal. Meski tidak menelan korban jwa namun terdapat korban luka. Dan karena kebanyakan korban adalah anak-anak maka rumah sakit menjadi sangat ramai karena tangisan anak-anak yang terluka. Butuh kesabaran untuk menghadapi anak-anak yang ketakutan dan terluka.


Para dokter dan perawat tampak sibuk begitu juga dengan Anna. Saat merawat pasien anak-anak seperti ini Anna langsung teringat dengan putranya. Ada rasa khawatir dalam hatinya jika suatu saat putranya sampai terluka. Anna menghembuskan nafasnya untuk menetralkan hatinya yang sedikit cemas memikirkan putranya. Selesai menolong para korban akhirnya Anna dapat beristirahat. Anna langsung memanfaatkannya untuk menghubungi bi Siti dan menanyakan keadaan putranya. Ia pun melakukan vidio call. Anna memang selalu melakukannya agar ia dapat melihat wajah putranya secara langsung.


Di apartemen...


Bi Siti yang baru saja selesai memasak untuk makan siang terkejut saat mendengar ponselnya berdering. Ia pun langsung mengambil ponselnya. Saat melihat nama Anna di sana wanita paruh baya itu pun sedikit gugup karena Anna pasti menghubungi dengan vidio call.


"Tuan... non Anna telfon..." kata bi Siti memberi tahu Raja yang sedang menemani Sultan yang tertidur.


"Angkat saja bi..." titah Raja.


"Tapi non Anna vidio call..."


"Angkat saja bi... saya akan berada di belakang kamera agar Anna tidak tahu..."


Bi Siti pun menurut.


"Halo bi... Sultan mana?" tanya Anna langsung.


"Den Sultan sedang tidur non... tadi capek bermain" terang bi Siti berusaha menjawab dengan tenang.


"Coba perlihatkan bi... aku kangen..."


"Baik non..."


Bi Siti pun mengarahkan kamera ponselnya ke wajah Sultan yang tengah tertidur nyenyak. Anna pun tersenyum melihat putranya yang tertidur pulas.

__ADS_1


"Papa..." gumam bayi gembul itu yang membuat bi Siti langsung terkesiap takut jika Anna curiga.


__ADS_2