
Sahir dan Samir beserta kedua temannya tengah sibuk mengunyah nasi kuning buatan Sadira saat salah satu teman mereka dari club pecinta alam datang menghampiri.
"Wah... jualan kalian udah habis bro?" tanyanya dengan wajah memelas.
"Iya... maaf lu juga mau beli?"
"Tadi udah sih... cuma mau beli lagi buat nyokap gua di rumah... beliau suka banget sama nasi kuning..." sahut pemuda yang bernama Ricko itu.
"Yah... maaf deh..." ujar Samir dengan nada menyesal.
"Begini saja... beberapa hari lagi kan kita akan mengadakan rapat untuk merencanakan pendakian, bagaimana jika kita kumpul di rumahku saja... nanti biar adikku membuatkan lagi nasi kuning untuk konsumsi, dan kau nanti bisa membawanya pulang untuk mama kamu..." kata Samir yang memang cukup dekat dengan Ricko.
"Wah... terima kasih bro... soalnya tadi waktu makan rasanya sangat enak... jadi ke inget mama aku deh..." ujar Ricko sambil terkekeh.
"Ga nyangka... Ricko si anak gunung ternyata anak mama juga..." celetuk Bagas.
"Ga pa-pa... emang seorang anak kan harus menyayangi orangtuanya terutama ibunya..." sahut Sahir yang sedari tadi diam.
"Ya udah... makasih nanti gua kasih hadiah deh buat adek kamu sebagai tanda terima kasih..." ucap Ricko.
Malam harinya...
Hari ini semua anggota keluarga tuan Sam berkumpul bersama termasuk nyonya Sarah dan juga keluarganya. Anna yang kini tengah mengandung anak keduanya bersama Raja tampak bahagia karena Amira memasakkan rendang untuk memuaskan ngidamnya. Jadi malam itu tema menu makan malam mereka adalah masakan Padang. Adit bahkan datang bersama dengan kekasihnya yang langsung disabut hangat oleh seluruh anggota keluarga.
Setelah makan malam mereka pun berkumpul di halaman belakang sambil bercengkrama. Sultan yang masih menjadi cucu satu-satunya nyonya Sarah tentu saja tetap menjadi rebutan. Malam itu, Ara memutuskan untuk menginap dan tidur di kamar Sadira. Sudah lama ia tidak menghabiskan waktu bersama sepupu kecilnya itu. Keduanya memang sangat dekat bak dua saudari kandung. Anna yang sudah menikah dan memiliki keluarga kecil serta bertahun berada di luar negeri membuat Ara merasakan sosok saudari pada Sadira. Apa lagi sifat keduanya yang memang cocok.
"Bagaimana sekolahmu? apa menyenangkan?" tanya Ara sambil membaringkan tubuhnya di samping Sadira.
"Iya... disana aku juga sudah punya teman baru kak..."
"Lalu apa kau juga sudah punya kekasih?"
"Kakak!" seru Sadira yang kaget dengan pertanyaan Ara.
"Pasti sudah... secara wajahmu sudah memerah seperti itu..." ujar Ara tergelak karena berhasil menebak dengan benar.
"Ish... kakak jangan bilang-bilang..."
"Kenapa? apa bunda dan uncle melarang? atau dua bodyguardmu itu yang membuatmu takut?"
"Kakak... aku kan tidak bilang begitu..."
"Iya-iya... tapi benarkan, kalau kau sudah punya pacar?"
Kali ini Sadira hanya bisa menundukkan wajahnya karena ia memang tidak bisa berbohong pada kakak sepupunya itu.
"Lalu apa kakak juga sudah jadian dengan pemuda yang kakak sukai itu?" tanya Sadira mengalihkan perhatian Ara.
"Ck... kau ini, suka sekali mengalihkan permasalahan... tapi sebenarnya aku juga mau jujur jika saat ini aku sudah jadian dengannya... tapi aku belum berani mengatakannya pada semua orang... apa lagi kak Anna..."
"Kenapa?"
"Kau tahu kenapa..."
"Heum... susah memang jika tersangkut dengan masa lalu seseorang, apalagi dia saudara kandung kita sendiri... tapi sampai kapan kakak akan menyembunyikannya?"
"Sampai aku selesai kuliah... dan dia akan langsung melamarku..." terang Ara sambil mengembangkan senyumnya.
"Wah selamat ya kak... jadi punya mood booster untuk cepat menyelesaikan kuliah dong"
__ADS_1
"Heumm... do'akan agar semua berjalan dengan lancar ya..."
"Tentu saja kak..." sahut Sadira, dan keduanya pun melanjutkan berbincang sebelum akhirnya sama-sama tertidur.
Beberapa hari kemudian...
Sadira dan Hana tengah berada di toko buku untuk membeli beberapa buku untuk koleksi mereka. Keduanya memang sering pergi bersama dan Hana juga sudah berkenalan dengan Ayana sehingga kini ketiganya bersahabat. Hanya saja karen Ayana yang berada di asrama membuat hanya Sadira dan Hana yang lebih sering pergi berdua.
Saat ini kedua gadis itu baru saja keluar dari toko buku dan hendak membeli camilan di sebuah mini market dekat dengan toko buku yang tadi mereka masuki. Namun tiba-tiba saja langkah keduanya di hadang oleh Naya dan juga genknya. Hana sudah terlihat ketakutan sehingga ia bersembunyi dibalik tubuh Sadira. Sedang Sadira tampak masih tenang dan bahkan terlihat meremehkan keempat orang yang mengepungnya itu.
"Ada masalah apa lagi kak?" tanya Sadira mencoba bertanya baik-baik.
"Ck... ck... ck... sudah pura-pura lupa ya? bukankah sudah aku bilang, jangan dekati Bara! kau faham atau tidak sih!" seru Naya.
"Memangnya kakak siapa? ngelarang aku untuk dekat dengan kak Bara? apa kakak orangtuanya?" sahut Sadira dengan nada mengejek.
"Kau!" seru Naya geram, karena secara tidak langsung Sadira menganggap Naya terlalu tua di banding dirinya.
Dengan gerakan tangan, Naya menyuruh dua temannya untuk memegangi Sadira, sementara satu orang yang lain memegangi Hana.
"Lepas kak! kalian jangan coba-coba menyakiti kami... atau kalian semua akan menyesal!" teriak Hana yang sudah tahu kemampuan Sadira.
Bukannya berhenti, keempatnya malah terkekeh dan menyangka jika Hana ketakutan karena ulah mereka. Padahal sebaliknya, Hana malah takut dengan apa yang akan terjadi pada keempat seniornya itu jika sudah membuat Sadira marah. Sementaea Sadira masih terlihat tenang. Melihat ketiga temannya sudah mengamankan Sadira dan Hana, Naya pun segera mendekat ke arah Sadira dan mencoba untuk membully gadis itu dengan kekerasan. Namun hasilnya tidak seperti yang ia bayangkan.
Karena tiba-tiba saja Sadira dengan mudah melepaskan diri dari kuncian kedua teman Naya dan menghadiahi keduanya dengan tamparan. Dan dalam persekian detik, giliran Naya yang kini malah dikunci oleh Sadira dengan memelintir tangan gadis itu ke belakang tubuhnya sendiri.
"Arrggh!" teriak Naya yang merasa kesakitan.
"Sudah aku peringatkan jangan coba-coba mengusik kami!" seru Hana.
"Diam kau!" sergah teman Naya yang memegangi Hana.
Puas memiting Naya, Sadira langsung menghempaskan tubuh Naya ke depan sehingga gadis itu tersungkur ke trotoar. Dua teman Naya yang tadi mendapat tamparan dari Sadira pun bergegas menolong Naya.
"Ini peringatan terakhir agar kakak tidak lagi mengangguku! jika tidak maka kakak akan merasakan hal yang lebih dari ini!" kata Sadira yang membuat Naya dan teman-temannya langsung beringsut pergi dari depan Sadira dan Hana meski dengan perasaan dongkol.
Sungguh mereka tidak menyangka jika niat mereka untuk memberi pelajaran pada Sadira malah berbalik merekalah yang menjadi korban.
"Kamu ga pa-pa Han?" tanya Sadira khawatir, karena melihat Hana yang meringis sambil mengelus kepalanya bagian belakang.
"Auch... cuma sedikit kok Ra..." sahut Hana sambil meringis menahan sakit.
"Ck... kau ini, kenapa kau berbuat nekat seperti itu sih? kalau kau gegar otak bagaimana?" cerocos Sadira.
"Emang bisa begitu Ra? bukannya di film-film mereka tetap baik-baik saja..." ungkap Hana polos.
"Kau ini... film itu kan cuma pura-pura Hana... kau ini bagaimana sih!" ujar Sadira gemas.
"Tapi setidaknya mereka tidak akan berani lagi membullyku kan Ra..." kata Hana yang membuat Sadira memandangi wajah sahabatnya itu.
"Memang mereka sering membullymu?"
"Cuma beberapa kali saja... saat kamu ga ada..." jujur Hana yang membuat Sadira langsung memeluknya.
"Maaf... gara-gara aku kamu jadi kena sasarannya" ucap Sadira tulus.
"Bukan karena kamu kok Ra... mungkin karena aku yang terlihat lemah, jadi mereka suka membullyku... tapi sekarang mungkin tidak lagi..." terang Hana yang kini menampilkan senyumannya.
"Iya tentu saja... karena sahabatku yang satu ini sudah berubah menjadi Bruce Lee... jadi mereka pasti akan berfikir lebih dari dua kali untuk menganggumu..." kata Sadira yang membuat wajah Hana merona karena bangga.
__ADS_1
Kemudian keduanya pun mengambil buku mereka tadi yang tercecer akibat perbuatan Naya dan teman-temannya. Tak jauh dari sana terlihat seseorang tengah memperhatikan keduanya. Kedua bibirnya tersenyum penuh misteri, sedang kedua matanya tak lepas memandangi wajah Sadira.
Sesampainya di rumah, Sadira dikagetkan dengan seruan sang kakak yang mencarinya. Dalam hati gadis itu sudah menduga jika sang kakak tengah menginginkan sesuatu dari dirinya.
"Dira sayang... adek kakak yang cantik dan imut... kakak mau minta tolong sekali lagi boleh?" tanya Samir dengan memperlihatkan tampang imutnya.
"Ish kakak... jangan memperlihatkan wajah kayak gitu deh, geli tahu..." ucap Sadira sambil memalingkan wajahnya.
"Aish... masak wajah kakakmu yang tampan ini dibilang menggelikan sih!" sungut Samir yang merubah mode wajahnya jadi cemberut.
"Kau memang menggelikan dengan tampang seperti itu Sam..." kata Sahir tiba-tiba yang membuat Samir semakin menekuk wajahnya sedang Sadira malah terbahak-bahak.
"Ck... kau ini, aku sedang berusaha tahu... kenapa kau tidak mendukungku sih?" sungut Samir.
"Memangnya kakak mau minta bantuan apa?" tanya Sadira setelah berhasil menghentikan tawanya.
Samir langsung tersenyum ceria mendengar pertanyaan Sadira.
"Hari minggu ini kakak ingin minta tolong dibuatkan lagi nasi kuning lengkap seperti kemarin... ga banyak-banyak, cuma sepuluh porsi"
"Emang kakak ada acara apa?" tanya Sadira penasaran.
"Teman club pecinta alam kakak mau kumpul di sini pagi-pagi... jadi itu untuk sarapan mereka... lagi pula ada teman kakak yang sangat menyukai nasi kuning buatanmu kemarin dan ingin memberikannya pada mamanya, tapi sayang kemarin dia kehabisan..." terang Samir.
Sadira pun mengangguk dan menyetujui untuk memasakkan nasi kuning untuk teman-teman sang kakak. Samir langsung memeluk sang adik dan mengucapkan terima kasih. Sedang Sahir hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah saudara kembarnya yang menurutnya terlihat berlebihan.
Tak terasa hari minggu pun tiba...
Sejak pagi Sadira kembali berkutat di dapur untuk membuatkan pesanan sang kakak. Karena jumlah yang tidak terlalu banyak membuat Sadira tidak meminta bantuan sang bunda. Hanya Artnya saja yang membantu gadis itu. Dan sebelum pukul 7 pagi, semua sudah siap. Setelah itu Sadira kembali membersihkan dirinya yang gerah sehabis memasak. Kemudian ia pun bersiap untuk pergi jalan pagi bersama Hana dan Ayana. Ya... ketiganya janjian untuk jalan pagi bersama karena Ayana yang pulang dari asrama.
Baru saja Sadira turun dari kamarnya, ia sudah melihat Ayana bersama Amira yang tengah mengobrol di ruang tengah.
"Pagi Ra..." sapa Ayana.
"Pagi juga Ay... Hana belum datang?"
"Mungkin sebentar lagi..." sahut Ayana.
"Kalian tidak sarapan di sini dulu?" tanya Amira.
"Ga bun... kami ingin sarapan di alun-alun kota..." sahut Sadira yang diangguki oleh Ayana.
Tak lama Hana pun datang, dan ketiganya langsung berpamitan pada Amira karena takut kesiangan. Setelah ketiganya pergi, tak lama teman-teman Sahir dan Samir pun datang dan mereka pun diajak ke taman belakang tempat dimana mereka akan berkumpul.
"Ayo kita sarapan dulu..." ajak Samir yang membuat teman-temannya langsung berseru senang.
Amira dan Artnya pun datang membawakan nasi kuning buatan Sadira. Semua teman Sahir dan Samir pun mengucapkan terima kasih karena sudah mendapatkan sambutan hangat dari keluarga Amira. Amira pun merasa senamg karena melihat teman-teman putranya terlihat sopan dan tidak urakan. Meski mereka suka berpetualang namun masih bisa menjaga sopan santun.
"Wah... benar-benar enak nasi kuning buatan adek lo ini bro... ga salah kalo si Ricko pengen ngasih buat nyokapnya..." kata Rama salah satu teman Sahir dan Samir yang baru pertama kali mencicipi masakan Sadira.
"Apa gua bilang... adek si kembar emang calon istri idaman... pinter masak, cantik dan juga cerdas..." puji Hadi yang membuat Sahir langsung menoyor kepalanya.
"Jangan coba-coba goda adek gua!" ancam Sahir yang membuat Hadi tersenyum kecut.
Duo kembar itu memang tidak main-main jika menyangkut tentang sang adik. Setelah sarapan bersama mereka pun melanjutkan diskusi mereka untuk rencana pendakian berikutnya. Sementara Sadira dan kedua sahabatnya tengah berjalan santai di alun-alun kota. Pagi yang cerah membuat alun-alun kota terlihat ramai. Banyak yang menghabiskan waktu untuk berolah raga atau pun kulineran di sana.
Ketiga gadis itu tampak menikmati waktu mereka bersama. Setelah hampir setengah jam berkeliling, mereka pun memutuskan untuk membeli sarapan di warung tenda yang banyak terdapat di sana. Ketiganya memilih untuk sarapan dengan lontong sayur. Selesai sarapan mereka pun memutuskan untuk kembali ke rumah Sadira. Ketiganya sampai di rumah Sadira pukul 10 pagi. Mereka tak menyangka jika teman-teman Sahir dan Samir juga belum pulang dari sana. Alhasil mereka pun bertemu dan saling berkenalan.
Kali ini bukan hanya pada Sadira, Sahir menunjukkan sikap over protektifnya. Tapi juga pada Ayana. Karena ia tak ingin kekasihnya itu dikagumi oleh teman-temannya. Sementara Samir tampak terpana dengan Hana yang baru saja ditemuinya.
__ADS_1