
Setelah dirawat selama dua hari di rumah sakit akhirnya Anna diizinkan untuk pulang bersama bayinya. Selama di rumah sakit Anna sudah berusaha untuk mencari tahu orang yang telah mengazankan putranya, namun belum juga membuahkan hasil. Padahal ia juga sudah meminta bantuan papa dan juga unclenya. Pihak rumah sakit hanya tahu jika orang itu salah satu pengunjung rumah sakit yang mendengar jika bayi Anna membutuhkan seseorang yang mengazani dan orang itu dengan suka rela melakukannya.
Meski masih penasaran namun Anna dan keluarganya tidak dapat berbuat banyak karena kebetulan orang itu juga tidak sempat tertangkap kamera cctv sehingga sulit untuk ditemukan. Dia akhirnya hanya bisa menitip pesan pada perawat yang bertemu dengan orang itu agar menyampaikan rasa terima kasihnya jika perawat itu bertemu lagi dengan penolongnya itu.
Sesampainya di apartemennya ternyata di sana sudah berkumpul seluruh anggota keluarganya. Meski apartemen Anna menjadi sedikit sesak namun Anna merasa bahagia karena semua anggota keluarganya bisa menjenguknya dan juga bayinya yang baru lahir.
"Namanya siapa kak?" tanya Ara yang sedari tadi tidak mau jauh dari bayi Anna karena merasa gemas dengan bayi mungil itu.
"Namanya Sultan... yang artinya sama seperti papanya... Raja..." sahut Anna sambil tersenyum.
"Wah cocok banget... hai... baby Sultan!" sapa Adit pada keponakan barunya itu.
Seakan menjawab sapaan Adit, bayi mungil itu tampak mengerjapkan matanya dan menggerakkan tangannya pada Adit.
"Lihat! dia pintar sekali bukan?" seru Ara gemas saat melihat tingkah baby Sultan.
Semua orang tampak tersenyum bahagia. Karena hari sudah sore akhirnya keluarga Anna pun berpamitan untuk kembali ke hotel. Maklum apartemen Anna terlalu kecil untuk menampung mereka semua.
"Mama sama bunda akan tinggal beberapa hari lagi disini untuk membantumu mengurus baby Sultan... sedang yang lain akan pulang ke Indo besok pagi..." kata nyonya Sarah saat Anna mengantar sampai di depan apartemennya.
"Terima kasih ma..." ucap Anna sambil berkaca-kaca.
"Tidak usah berterima kasih sayang... ini tugas kami sebagai orangtua yang harus menjagamu disaat seperti ini... maaf jika mama dan bundamu hanya bisa memberi bantuan seperti ini saja..."
"Tidak usah minta maaf ma... Anna tahu... Anna sudah besar dan sudah menjadi seorang ibu... sudah seharusnya Anna bisa mandiri merawat putra Anna..." sahut Anna sambil memeluk mamanya dengan erat.
"Jaga dirimu baik-baik ya sayang... bunda pamit dulu... besok bunda dan mamamu akan kembali lagi kemari" ucap Amira saat ia memberika pelukan perpisahannya.
"Iya bunda... terima kasih..."
__ADS_1
"Sama-sama..."
Saat akan masuk kembali ke dalam apartemennya Anna tampak mengerutkan keningnya saat melihat apartemen di samping apartemennya yang dulu ditempati oleh Risa tampak kembali ada pengguninya. Ya... Risa memang sudah pindah dari apartemen tersebut setelah ia lulus kuliah.
"Bi... apa apartemen sebelah sudah ada penghuni barunya?" tanya Anna pada bi Siti saat ia sudah masuk ke dalam apartemennya.
"Iya non... kemarin saya bertemu dengan Art yang bekerja di sana... dia bilang tuannya memang baru pindah dari London..." terang bi Siti.
Anna menganggukkan kepalanya mengerti. Ia sebenarnya senang apartemen sebelahnya itu sudah ada penghuninya lagi. Pasalnya ia agak parno saat apartemen itu kosong tanpa penghuni beberapa bulan terakhir ini. Bukan karena ia takut dengan hal-hal supranatural... tapi ia takut jika ada penghuni ilegal yang masuk ke apartemen itu dan bisa saja kriminal.
Selama tiga hari berikutnya nyonya Sarah dan Amira tinggal di apartemen Anna setelah keluarga lainnya kembali ke Indo. Meski agak sesak namun bisa diatasi dengan nyonya Sarah yang tidur di kamar Anna dan Amira di kamar bi Siti. Kedua wanita itu benar-benar membimbing Anna agar siap menjadi seorang single mom yang harus bisa membagi waktu merawat putranya sambil magang di rumah sakit. Anna pun tampak mematuhi semua yang diajarkan oleh mama dan bundanya itu.
Setelah tiga hari keduanya pun harus kembali ke Indo. Meski berat namun nyonya Sarah dan Amira yakin jika Anna bisa merawat bayinya sambil meneruskan pelajarannya. Hanya tinggal dua tahun hingga waktu magangnya selesai dan ia bisa meraih gelarnya, maka Anna akan bisa kembali ke tanah air bersama putranya.
"Kamu yang hati-hati dan jaga diri ya sayang... ingat jangan terlalu memforsir dirimu... karena kini ada putramu yang menjadi tanggunganmu" nasehat nyonya Sarah.
"Iya ma..." sahut Anna sambil memeluk mamanya.
"Iya bunda..." ujar Anna kemudian memeluk Amira.
Keduanya pun kemudian meninggalkan apartemen Anna menuju bandara dengan diantar sopir yang dikirim oleh Dave. Nyonya Sarah dan Amira memang akan mampir sebentar ke rumah Dave untuk bertemu Sandra sebentar karena wanita itu juga akan kembali ke Indo bersama anak-anaknya tanpa Dave, karena pria itu tengah sibuk dengan bisnisnya. Kebetulan ada Amira dan nyonya Sarah yang bisa membuat Dave bisa melepas istrinya pergi sendiri tanpa dirinya.
Selama beberapa hari setelah pulang dari rumah sakit Anna memang mengambil cuti agar bisa memulihkan kondisinya pasca melahirkan. Ia juga harus menyesuaikan diri agar tidak ada hambatan dalam mengasuh Sultan saat ia kembali ke rumah sakit untuk magang. Bi Siti juga sangat cekatan dalam membantu Anna. Ia juga sudah menganggap Anna seperti putrinya sendiri hingga wanita paruh baya itu sangat telaten membimbing Anna setelah kepulangan nyonya Sarah dan Amira ke Indo.
Pagi ini Anna tengah menjemur putranya di balkon apartemennya. Sinar matahari pagi sangat baik bagi bayinya. Anna tampak bahagia menatap wajah putranya yang semakin hari semakin gembul saja. Sambil berjemur Anna tak lupa bersenandung lirih untuk sang putra. Bukan lagu-lagu yang populer untuk bayi, namun lagu sholawat yang ia senandungkan. Ia berharap Sultan kelak menjadi anak yang sholeh hingga ia selalu memperdengarkan lagu sholawat untuk putranya itu.
Bi Siti lah yang memberitahukannya pada Anna. Dan Anna pun dengan senang hati melakukannya. Ia ingin putranya bisa membuat suaminya Raja mendapatkan ketenangan di sana karena mendapatkan do'a dari putra yang sholeh. Tanpa ia sadari jika saat ini ada seseorang yang sedang tersenyum sambil memperhatikannya dari kamera tersembunyi yang ternyata telah terpasang di seluruh bagian apartemennya. Dan orang itu pun cukup memantau pergerakan Anna dari ruang pribadinya.
Meski tersenyum namun tampak gurat kesedihan di wajah orang itu saat melihat Anna dan bayinya. Bagaimana tidak... mereka begitu dekat namun tak bisa terjangkau olehnya. Setetes air mata lolos begitu saja dari sudut matanya. Dan dengan segera dihapusnya. Ia harus bersabar demi kelancaran rencananya. Meski untuk itu ia harus membuat wanita yang dicintainya itu berduka dan menanggung derita sendirian. Namun ia percaya jika waktunya tiba dan semua bisa teratasi maka Anna akan mau menerimanya meski begitu banyak luka yang telah ia goreskan untuknya. Karena semua yang dilakukannya demi keselamatan Anna dan juga Sultan.
__ADS_1
Setelah mengambil cuti selama dua minggu setelah melahirkan, Anna akhirnya kembali ke rumah sakit untuk melanjutkan magangnya. Ia memang tidak mengambil cuti lama karena pihak rumah sakit juga mau memberinya kelonggaran dengan memberikan sift pagi untuknya. Jadi ia bisa bersama putranya sepanjang malam dan itu cukup membuatnya senang karena ia tahu jika bi Siti akan sangat kerepotan jika harus menjaga putranya di malam hari.
Meski sulit namun akhirnya Anna bisa terbiasa dengan rutinitasnya menjadi seorang ibu. Pagi hari sebelum berangkat ke rumah sakit ia memompa ASI nya untuk putranya. Setelah itu ia akan memandikan putranya sebelum ia sendiri bersiap untuk berangkat ke rumah sakit. Rutinitas ini sangat menyenangkan bagi Anna. Semakin hari Sultan semakin gemuk dan sehat membuat Anna sangat bahagia. Keluarganya dari Indo pun sesekali berkunjung untuk menemuinya dan juga Sultan. Selalu pasti ada komentar menyenangkan yang keluar dari mulut mereka tiap kali mereka berkunjung. Apa lagi kalau bukan tentang betapa menggemaskannya baby Sultan setiap harinya.
Baby Sultan memang menunjukkan perkembangan yang pesat. Di usianya yang baru sembilan bulan bayi itu sudah merangkak bahkan berusaha untuk berdiri dengan sendirinya. Ia juga sudah mulai mengoceh dan menyebutkan beberapa kata meski masih tidak jelas. Dan suatu hari bayi gembul itu dengan lancar mengucapkan kata "Papa!". Anna yang mendengarnya sedikit terkejut karena selama ini tidak ada pria yang ia panggilkan papa kecuali Raja yang ia pajang fotonya di dalam kamarnya.
"Iya... ini papa..." tunjuk Anna pada foto Raja sambil menggendong Sultan.
"Papa..." ucap bayi itu lagi yang membuat hati Anna sedikit tercubit.
Ia belum pernah melihat makam suaminya karena ia masih tidak kuat jika harus dihadapkan dengan kenyataan dengan melihat langsung makam suaminya itu.
"Iya sayang... nanti mama akan membawa kamu ke tempat papa... yang sabar yah?" ucapnya lembut sambil menahan air matanya agar tidak tumpah di depan putranya.
Bayi gembul pun itu langsung tersenyum dan bertepuk tangan bahagia seakan tahu jika Anna menjanjikannya bertemu dengan Raja. Bi Siti yang hendak memanggil Anna untuk makan malam pun tampak tertegun di depan kamar Anna. Ia tadi mendengar semuanya. Wanita paruh baya itu pun tampak bersedih mendengar percakapan ibu dan anak itu. Andai saja ia mempunyai kuasa ingin rasanya ia memberitahukan semua yang ia ketahui selama ini pada nonanya itu, agar tidak selalu bersedih jika mengenang suaminya.
Apa lagi Sultan yang justru menyebut kata "PAPA" alih-alih kata "MAMA" yang seharusnya diucapkannya karena selama ini yang Anna tahu hanya dia dan bi Siti sendiri yang selalu ada di samping bayi itu. Tak ingin membuat nonanya semakin bersedih bi Siti pun langsung memanggil Anna untuk segera makan malam. Tak lama Anna keluar dari dalam kamar dengan menggendong putranya. Bayi itu tampaknya belum mau tidur meski hari sudah malam. Padahal biasanya bayi itu sudah tertidur sebelum waktu makan malam.
Karena itu Anna pun meletakkan Sultan di kursi makannya berdampingan dengan Anna. Untuk membuat putranya sibuk dan tidak mengganggu waktunya makan malam ia pun menyediakan camilan buah untuk putranya itu. Padahal tadi bayi itu juga sudah makan. Selesai makan malam Anna membersihkan tubuh Sultan yang belepotan karena tadi bayi itu memainkan makanannya. Setelah itu ia pun menidurkan putranya itu. Karena mengantuk ia pun segera ikut tidur di samping putranya setelah ia menjalankan ibadahnya terlebih dahulu.
Tak butuh waktu lama Anna pun langsung tertidur di samping putranya begitu ia merebahkan diri di atas tempat tidur. Tak lama setelah Anna tertidur pulas seseorang memasuki kamarnya. Pandangan orang itu tampak penuh merinduan. Dengan perlahan ia naik ke atas tempat tidur dan mengecup kening Sultan pelan takut jika bayi itu akan terbangun akibat ulahnya. Kemudian ia pun berpindah ke sisi Anna dan membetulkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah wanita itu dengan lembut. Dipandanginya wajah Anna yang terlihat semakin dewasa dan cantik meski tanpa riasan make up apa pun.
Ia tak dapat menahan dirinya untuk tidak mengecup kening dan juga bibir Anna yang sedikit terbuka saat tidur. Ia melakukannya dengan sangat halus agar wanita itu tidak terbangun dan menyadari keberadaannya. Malam ini tidak seperti malam-malam yang lalu dimana ia akan langsung pergi setelah melihat anak dan istrinya itu secara langsung. Kali ini ia ingin tidur bersama keduanya dalam satu tempat tidur. Maka dengan gerakan yang halus ia pun membaringkan tubuhnya di samping Anna. Perlahan ia juga meletakkan lengannya di pinggang ramping Anna dan menarik tubuh wanita itu mendekat ke dadanya perlahan.
Meski sempat sedikit terusik karena ada yang menggeser tubuhnya namun Anna masih memejamkan matanya. Bau parfum yang lama dirindukannya semakin membuat wanita itu terlena dalam tidurnya.
"MB..." panggilnya lirih sambil membenamkan wajahnya di dada bidang yang selalu membuatnya nyaman.
Dan wanita itu semakin tertidur nyaman seolah menemukan kembali tempat ternyamannya yang lama ia rindukan. Pria itu pun tidak tahan jika tidak kembali mengecup bibir ranum Anna. Dan kembali ia melabuhkan sebuah kecupan ringan disana yang merupakan sebuah candu baginya.
__ADS_1
"I love you Honey Bee..." ucapnya lirih di telinga Anna.