
Jimmy sengaja menyamar untuk bisa masuk ke dalam rumah sakit tempat Amira di rawat. Sebelumnya ia mempelajari peta bangunan rumah sakit itu. Sehingga ia tahu setiap celah yang bisa ia manfaatkan agar bisa menyusup ke kamar Amira dirawat. Mengetahui jika Amira dirawat di ruang vvip dan dengan pengawalan ketat maka Jimmy memutuskan untuk masuk lewat atap rumah sakit.
Dengan mengenakan kostum dokter ia pun leluasa melenggang hingga keatas atap. Dengan menggunakan tali baja tipis ia pun meluncur ke arah balkon kamar perawatan Amira. Walau tali baja tersebut tidak tepat berada dibalkon namun hal itu malah menguntungkan Jimmy karena tali baja itu terjulur disamping pagar balkon sehingga saat ia turun tubuhnya tak dilihat oleh siapa pun.
Dengan perlahan ia menggapai pagar balkon yang terbuat dari besi. Untung saja rumah sakit itu hanya memiliki lima lantai hingga Jimmy menganggapnya cukup mudah sebab ia sudah sering kali melakukan hal serupa saat melakukan pekerjaannya bahkan dengan gedung yang lebih tinggi.
Setelah berhasil menggapai pagar balkon ia pun segera masuk ke dalam balkon. Dari tempatnya berdiri Jimmy mengintip saat tuan Sam berpamitan pada Amira. Melihat kemesraan keduanya membuat hati Jimmy seketika terasa perih. Gadis kecil yang sejak dulu sudah menarik perhatiannya kini sudah dimiliki orang lain.
Saat tuan Sam keluar dari kamar perawatan Jimmy tak langsung masuk ke dalam. Dipandanginya Amira dari kejauhan. Tampak sekali saat wanita mulai merasakan kehadirannya. Jimmy tersenyum kecil. Ternyata insting Amira masih tajam dengan keadaan sekitarnya.
Perlahan Jimmy membuka pintu kaca yang mengarah ke balkon. Untung saja gotden yang menutupi pintu itu hanya terbuka sedikit hingga ia bisa bersembunyi dibaliknya.
Amira yang tiba-tiba merasa ingin buang air kecil turun dari brankar dan melangkah pelan ke arah kamar mandi. Kesempatan ini digunakan oleh Jimmy yang sedari tadi mengamati Amira dari balik gorden untuk menyelinap masuk ke dalam.
Amira baru saja selesai dan keluar dari dalam kamar mandi dan berjalan perlahan kearah brankarnya saat tiba-tiba seseorang membekap mulutnya dari belakang.
"Jangan berteriak! aku tidak ingin menyakitimu..." terdengar suara orang berbisik ditelinganya.
"Aku hanya ingin berbicara berdua denganmu..." sambungnya.
Amira pun menganggukkan kepalanya. Perlahan orang itu membuka bekapannya dan menurunkan tangannya. Seketika Amira membalikkan tubuhnya dan melihat siapa yang telah membekapnya dari belakang. Ia sangat terkejut saat melihat Jimmy berada dihadapannya. Pria itu tersenyum pada Amira.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Amira.
"Apa kau masih tidak mengenaliku Pik?" justru Jimmy balik bertanya.
Amira menatap Jimmy penuh selidik. Jika pria yang dihadapannya ini adalah Raja... bagaimana ia bisa mengenalinya? sedang fisik pria itu sudah banyak berubah... Dulu Raja bertubuh kurus dengan wajah tirus namun beda dengan pria yang ada dihadapannya kini.
Tubuh Jimmy terlihat tegap dengan wajah tegas yang memberi kesan dingin dan kejam. Tidak... tidak mungkin orang yang mengaku kakak Mela adalah Raja... Amira menggelengkan kepalanya tegas.
"Kau bohong ... kau pasti bukan dia.... kak Raja yang kukenal tidak sepertimu!" tunjuk Amira pada Jimmy.
"Tapi didalam lubuk hatimu kau tahu pasti jika aku ini adalah Rajamu... bukan?" desak Jimmy.
"Tidak... kak Raja bukan penjahat sepertimu!"
"Kau masih belum percaya juga?" ucap Jimmy gusar.
Lalu ia pun menarik lengan bajunya yang sebelah kiri. Tampak sebuah tanda lahir berbentuk mirip bintang. Ya tanda lahir itulah yang membuat Amira dulu sangat suka bergelayut disana. Karena sejak dulu ia memang sangat menyukai Astronomi.
Amira langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Bahkan tubuhnya sempat terhuyung kebelakang. Tidak... tidak mungkin... fikir Amira masih tak percaya dengan pandangannya.
"Selama ini kakak kemana?" tanyanya setelah sedikit tenang.
"Aku harus pergi mengikuti majikanku... karena aku harus mengumpulkan uang untuk mencari ibu dan adikku..." terang Jimmy.
"Jadi karena itu dulu kakak tidak pernah cerita tentang Mela?"
Jimmy mengangguk. Amira terduduk diatas brankarnya. Ia tak menyangka jika orang yang pernah ingin menyakitinya ternyata Raja.
__ADS_1
"Bagaimana kakak bisa mengenaliku?" tanya Amira penasaran.
"Matamu.... hanya kau yang memiliki tatapan mata yang seperti itu..." sahut Jimmy sambil tersenyum.
"Tapi..."
"Aku yakin... sangat yakin jika kau itu Upikku yang galak saat melihat matamu..." potong Jimmy.
"Lalu apa yang akan kakak lakukan? apa kakak masih ingin menyakitiku untuk membalaskan dedam Mela?" tanya Amira.
Jimmy menggelengkan kepalanya tegas.
"Tidak ... mana mungkin aku menyakitimu Pik... sebab selama ini setelah aku menemukan Mela aku juga mencarimu.... namun tak pernah berhasil karena saat aku ke rumahmu tempat itu telah kosong..." terang Jimmy.
"Ayah dan ibu meninggal kak... aku tak punya siapa-siapa lagi... jadi aku memutuskan untuk merantau mencari kerja...." ucap Amira menerangkan sebab kepergiannya dari kampung halamannya.
"Apa kau kini bahagia?" tanya Jimmy tiba-tiba.
"Ya... aku bahagia kak... selain suamiku aku juga mendapatkan ipar yang sudah seperti saudaraku sendiri ditambah dua keponakan yang menganggapku seperti ibu kedua bagi mereka" sahut Amira ambil tersenyum lebar.
"Apalagi kini aku sudah mengandung... jadi kakak akan segera memiliki dua keponakan..." sambungnya.
"Benarkah?" tanya Jimmy tersenyum kecut.
Bagaimana tidak kebahagiaan Amira sebenarnya menyakiti hatinya. Sebab sesungguhnya ia ingin dia yang menjadi pendamping dan ayah dari anak-anak Amira. Tapi takdir berkata lain ... Amiranya jatuh cinta dengan orang lain dan itu terlihat jelas dari pancaran wajahnya saat bersama tuan Sam tadi.
"Aku kemari ingin meminta maaf padamu..." ucap Jimmy perlahan.
"Aku sudah memaafkanmu kak... kau pasti sakit hati saat tahu apa yang terjadi pada Mela" sahut Amira.
"Ya kau benar.... tapi tetap saja aku salah karena telah menyalahkanmu..." kata Jimmy.
"Aku akan pergi Pik... tapi sebelumnya aku ingin kau menerima ini..." sambungnya sambil menyerahkan sebuah kalung dengan liontin berbentuk bintang ditelapak tangan Amira.
"Ini..."
"Iya... ini untukmu agar kau selalu mengingatku sebagai Raja..." kata Jimmy.
"Aku tidak menyuruhmu untuk selalu memakainya... cukup kau simpan itu baik-baik sudah buatku bahagia" sambungnya.
"Terimakasih kak..." ujar Amira memandang kalung pemberian Jimmy yang ada ditangannya.
"Aku pergi dulu..." kata Jimmy melangkah kearah balkon.
"Kakak pergi lewat situ?" tanya Amira yang mengikuti Jimmy dari belakang.
"Tentu saja... bukankah kau saja bisa kabur lewat atap? bagaimana mungkin kau fikir aku tak bisa melakukan hal seperti ini?" sahut Jimmy terkekeh sambil mengaitkan dirinya pada tali pengaman.
"Apa aku akan bertemu lagi dengan kakak?" tanya Amira dengan wajah sendu.
__ADS_1
Bagaimana tidak... setelah bertahun-tahun berpisah ia harus kembali kehilangan sosok kakak dari Raja.
"Kita lihat saja nanti..." sahut Jimmy sambil tersenyum.
"Boleh aku memelukmu Amira?" sambungnya.
Seketika Amira memeluk tubuh Jimmy yang baginya adalah Raja... kakak yang sangat ia rindukan.
"Jaga dirimu baik-baik... ingat suatu saat aku akan memjengukmu dan juga anak-anakmu..." ucap Jimmy sambil membelai kepala Amira yang tertutup kerudung.
Amira pun mengangguk.
"Jangan katakan apa pun pada suamimu tentangku..." lanjut Jimmy.
"Tapi kenapa kak?"
"Kau tahu dunia kita kini berbeda... aku tidak mau kau dan suamimu terseret dalam duniaku... cukup Mela saja yang mengikuti jejakku" terang Jimmy.
Amira pun kembali mengangguk mengerti. Kemudian Jimmy menekan tombol otomatis pada tali baja yang dikaitkan ditubuhnya dan seketika tali itu pun tertarik keatas membawa tubuh Jimmy dengan cepat. Amira hanya bisa memandang dengan takjub kejadian didepannya itu.
"Benar-benar mirip film action" batin Amira.
.........
Sesampainya diatas atap gedung rumah sakit Jimmy kembali mengenakan kostum dokternya dan menyimpan peralatannya dalam tas jinjing besar. Dengan menggunakan tangga darurat ia segera turun ke lantai dasar.
Sesampainya di lantai dasar ia pun segera menuju parkira melalui pintu karyawan rumah sakit. Di parkiran dia sudah ditunggu oleh anak buahnya dengan sebuah mobil. Jimmy langsung masuk ke dalam mobil diikuti oleh anak buahnya. Kemudian mereka pun segera meninggalkan tempat itu menuju bandara.
Sementara Amira tengah memandangi kalung yang baru saja diberikan oleh Raja. Liontin pada kalung itu sangat indah membuatnya terkenang saat dulu sering bercerita tentang cita-citanya pada Raja.
Seperti saat Raja mengajaknya ke pasar malam. Ketika pulang keduanya berhenti sebentar dan duduk ldi bangku taman dekat trotoar.
"Kak... kakak lihat bintang yang ada di sana?" tunjuk Amira kecil pada sebuah bintang yang bersinar paling terang dari yang lainnya.
"Iya... kenapa?" tanya Raja.
"Bintang itu seperti kakak... walau pun jauh dan berada diantara bintang lainnya namun sinarnya selalu membuatku mudah menemukannya..." ucap Amira sambil tersenyum.
"Kamu juga Pik... dimana pun kamu kakak akan selalu bisa mengenali dan menemukanmu" sahut Raja sambil mengusak rambut Amira.
Kenangan itu adalah kenangan terakhirnya dengan Raja karena keesokan harinya pemuda itu tak pernah muncul lagi untuk menemuinya. Padahal ia dan orang tuanya sudah berusaha mencarinya namun tak berhasil. Raja memang dekat dengan keluarga Amira setelah pertolongannya pada gadis kecil itu. Kedua orangtuanya bahkan sudah menganggapnya seperti anak mereka karena tingkah Raja yang sopan dan menyayangi Amira kecil.
Kini Amira menyadari betapa polosnya dia dan kedua orangtuanya hingga tak mengetahui pekerjaan Raja sebenarnya. Namun tetap saja ia menyayangi Raja yang ia anggap seperti kakaknya sendiri. Karena itulah ia berdo'a agar Jimmy bisa kembali menjadi Raja yang sebenarnya dan meninggalkan dunia kelamnya.
Tak terasa infus yang ada di tangannya sudah mulai habis. Amira pun segera menghubungi suaminya. Setelah itu barulah Amira memanggil perawat untuk mencabut jarum infusnya. Tak lupa Amira menyimpan kalung pemberian Raja di dalam tas pakaiannya. Saat ini tak mungkin ia menunjukkannya pada tuan Sam. Bisa-bisa suaminya itu langsung uring-uringan dan yang lebih buruk ia akan membuang kalung itu karena cemburu.
Sedang tuan Sam setelah menerima kabar bahwa infus Amira sudah akan dicabut segera membereskan pekerjaannya lalu langsung pergi ke rumah sakit untuk menjemput Amira. Ia tak ingin membiarkan istrinya itu pulang ke rumah sendiri tanpa dirinya.
Selesai jarum infus dicabut dari tangannya Amira langsung berganti pakaian dan merapikan dirinya. Rasanya ia sudah tidak sabar untuk segera kembali ke rumah. Tak lama tuan Sam pun datang dan mereka pun segera keluar dari rumah sakit. Selama perjalanan pulang tampak Amira sangat antusias. Berkali-kali ia minta berhenti dan membeli beberapa camilan yang dilihatnya. Tuan Sam hanya tersenyum dengan tingkah Amira. Ia sadar jika Amira sedang ngidam. Untung saja ia tidak minta yang aneh-aneh seperti saat Sarah ngidam.
__ADS_1