
Rania dan Yuda turun ke ruang tamu sambil bergandengan. Tampak sekali jika Yuda sangat membanggakan istrinya itu dimana pun berada. Saat memasuki ruang tamu, Bara yang melihat kedatangan kedua orangtuanya pun langsung berdiri diikuti oleh kedua adiknya dan tamu mereka.
"Selamat malam tuan Benny... perkenal ini istri saya... Rania..." ucap Yuda memperkenalkan istri tercintanya.
Deg!
Dunia Rania seakan langsung berhenti berputar saat mendengar dan melihat dengan mata kepala sendiri siapa tamu dari suaminya itu.
"Benny..." desis Rania lirih.
Wajah wanita itu pun langsung tegang tak menyangka jika masa lalunya sudah kembali dan kini berdiri tegak dihadapannya. Sementara Benny tersenyum tipis kelihat mantan istrinya yang terlihat syok saat melihat dirinya. Dengan santai Benny pun mengulurkan tangannya namun Rania hanya menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya. Untung saja sejak mengenal dan dekat dengan Amira calon besannya, Rania akhirnya memutuskan untuk mengikuti jejak wanita itu mengenakan hijab sejak dua bulan yang lalu. Jadi saat ini ia tidak harus menyambut jabat tangan dari manusia yang dulu pernah menggoreskan luka yang sangat parah dan juga sangat dibencinya itu. Rania sungguh jijik jika harus bersentuhan dengan Benny meski hanya jabat tangan saja.
Dengan kikuk Benny akhirnya menurunkan tangannya. Namun ia masih menampilkan senyuman demi menutupi rasa geram di dalam hatinya karena Rania tidak mau menyambut jabat tanganya. Meski ia akui jika mungkin Rania lakukannya karena kini wanita itu telah mengenakan hijab. Sedangkan Rania tengah meruntuki dirinya sendiri karena menyesal sebab dulu ia tidak pernah memperlihatkan foto mantan suaminya pada Yuda. Sehingga kini tanpa pria itu sadari jika saat ini ia tengah menjamu orang yang dulu pernah menyakiti Rania.
"Kalau begitu mari kita makan malam sekarang..." ajak Yuda masih menggandeng istrinya.
Rania pun hanya bisa mengangguk membenarkan perkataan suaminya. Lalu mereka pun pergi ke ruang makan untuk makan malam. Suasana santai menyelimuti makan malam tersebut. Rania sebisa mungkin menyembunyikan rasa gelisahnya dan tetap menampilkan senyuman menawan sebagai nyonya rumah. Makan malam itu pun berlangsung dengan lancar. Yuda dan Bara bahkan berbincang akrab dengan Benny setelah acara makan malam usai. Hal ini tentu saja membuat Benny sangat senang karena merasa jika rencananya untuk mendekati keluarga Yuda berjalan dengan lancar.
"Dasar bodoh! ternyata kamu itu cuma lelaki polos jika tidak mengenai bisnis Yuda... ah... tapi itu lebih baik karena akan semakin melancarkan rencanaku untuk mendapatkan Bara..." batin Benny saat ia kembali ke dalam mobilnya.
Pria itu bahkan bersenandung lirih saat menjalankan mobil menuju ke hotel tempatnya sementara tinggal. Sedang di rumahnya Rania sudah tidak bisa menutupi kegelisahannya saat ia sudah berada di dalam kamarnya. Yuda yang baru saja masuk setelah tadi berbincang sejenak dengan Bara setelah kepergian Benny pun kaget saat melihat sang istri yang tengah melamun di depan jendela kamar mereka.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Yuda lembut sambil mendekat ke arah Rania.
Rania sedikit berjingkat saat ia mendengar pertanyaan dari suaminya.
"Sejak kapan mas bekerja sama dengan orang itu?" tanya Rania dengan nada jengkel alih-alih menjawab pertanyaan dari suaminya itu.
"Sejak satu bulan yang lalu... kenapa? bukannya selama ini kamu tidak tertarik dengan para klien dan rekan ku selama ini?" sahut Yuda tenang.
Rania mendesah kasar... entah bagaimana caranya agar ia bisa menjelaskan siapa Benny yang sebenarnya pada Yuda. Ia takut jika suaminya itu akan langsung membatalkan kerja samanya dengan Benny dan akan menimbulkan masalah pada perusahaan nantinya. Yuda menarik tubuh Rania agar mendekat padanya dan meletakkan kedua tangannya di pundak wanita itu dengan lembut.
"Sebenarnya ada apa Nia? apa ada yang sedang mengganjal dihatimu tentang Benny?" tanya Yuda berusaha membuat sang istri jujur padanya.
Karena Yuda melihat tingkah Rania yang seketika menjadi aneh saat berjumpa dengan Benny meski tadi ia berpura-pura tidak mengetahuinya. Rania menggigit bibir bawahnya dengan gugup. Sesungguhnya ia ingin jujur saja pada Yuda namun ia masih bingung untuk mengungkapkannya.
"Katakan saja sayang... aku siap untuk mendengarkannya... dan aku berjanji tidak akan melakukan hal gegabah setelah mengetahui semuanya..." bujuk Yuda.
__ADS_1
Rania menghembuskan nafasnya kasar sebelum ia mengungkapkan semuanya.
"Dia adalah orang itu mas... Benny itu adalah mantanku dulu dan ayah kandung Bara..." ungkap Rania dengan suara bergetar menahan tangis.
Bukan tangis sedih tapi tangis ketakutan jika Benny akan merusak keluarga barunya dan mengambil Bara darinya dan Yuda. Yuda langsung menarik tubuh Rania ke dalam dekapannya dan mengelus punggung wanita itu dengan lembut.
"Kamu tenang saja... aku sudah tahu semuanya... tentang dia dan juga masa lalu kalian sebelum aku memutuskan untuk bekerja sama dengannya" terang Bara mencoba menenangkan Rania.
"Kamu sudah tahu mas?" tanya Rania merenggangkan pelukannya demi menatap wajah Yuda tidak percaya.
Yuda hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya.
"Kamu tahu dan kamu masih mau bejerja sama dengannya mas? aku sungguh tidak mengerti dengan jalan fikiranmu itu mas... disaat aku ingin menjauhkan pria itu dari keluarga kita kamu malah mengundangnya ke rumah!" sentak Rania penuh emosi.
"Aku melakukannya dengan alasan Nia..." ucap Yuda mencoba menenangkan istrinya yang terlihat mulai histeris.
Untung saja kamar mereka kedap suara hingga suara perdebatan keduanya tidak sampai terdengar keluar.
"Aku hanya ingin melihat apa saja yang akan ia lakukan selanjutnya pada kita setelah ia menyangka jika hanya kamu yang mengetahui masa lalu kalian... aku tidak ingin dia curiga jika aku sudah tahu semuanya saat ia menawarkan kerja samanya... kita harus bermain lebih pintar darinya sayang..." terang Yuda lagi yang membuat Rania perlahan menjadi lebih tenang.
Dulu... satu-satunya yang membuatnya bertahan setelah perceraiannya dengan Benny adalah berita kehamilannya setelah dua bulan. Sebab sebelumnya ia sudah sempat mengalami depresi atas pengkhianatan Benny dan sampai pernah melakukan percobaan bunuh diri. Pada saat itulah kabar kehamilannya membuat Rania berubah fikiran karena mendapatkan anugrah diantara penderitaannya. Sejak itu ia bertekad untuk memjadi wanita kuat demi calon buah hatinya. Dan setelah perjuangan keras akhirnya ia berhasil melahirkan Bara. Sebelum bertemu Yuda ia susah payah menjadi single mother yang bekerja serabutan demi menghidupi buah hatinya. Dan Allah lagi-lagi memberikan anugrahnya dengan mempertemukannya dengan Yuda. Pria lajang yang begitu perhatian dengannya dan juga putra semata wayangnya.
Setelah perkenalan dan pendekatan selama satu tahun akhirnya Rania yakin menerima lamaran Yuda sehingga mereka pun menikah. Bara bahkan sudah menerima dan memanggil Yuda papa sebelum keduanya resmi menjadi suami istri. Dan itu adalah salah satu pertimbangan Rania saat itu ketika menerima lamaran Yuda.
"Kamu jangan khawatir... kita akan mengatakan semuanya terlebih dahulu pada Bara sebelum Benny yang melakukannya..." ucap Yuda yang membuat kedua mata Rania membola.
"Ta... tapi mas..."
"Itu yang terbaik Rania... hanya dengan cara itu Bara tidak akan menyalahkan kita karena sudah menutupi kenyataannya selama ini padanya... kamu juga jangan khawatir Bara putraku... meski bukan darah dagingku tapi selama ini aku yang merawat dan mendidiknya... jadi aku mengenal sifat putraku itu... dia pasti akan mencerna penjelasan kita dan akan menerima semuanya dengan baik" potong Yuda.
Akhirnya Rania pun mengangguk pasrah menyetujui apa yang dikatakan oleh Yuda. Setidaknya ia sudah merasa sedikit lega karena suaminya ternyata sudah mempersiapkan semuanya. Tidak salah jika Allah sudah mengirimkan pria baik itu untuk menjadi suaminya dan ayah sambung bagi Bara.
Di tempat lain...
Seseorang tengah menatap dinding sel tempatnya tinggal selama ini. Dinding itu tampak berisi coretan yang menunjukkan sudah berapa lama ia terkurung di tempat terkutuk ini. Setiap hari ia selalu menghitung sudah berapa waktu yang terlampau dalam kesunyian. Ya... dia memang ditempatkan di sel tersendiri karena ia sengaja memberikan pelicin pada petugas disana. Ia tidak sudi jika harus digabung dengan para kriminal lainnya. Tidak masalah jika ia harus mengeluarkan tidak sedikit uang untuk bisa menempati selnya sendiri. Apa lagi ditambah dengan fasilitas istimewa yang bisa diterimanya dibandingkan tahanan yang lain. Menurutnya itu sangat sepadan.
Meski begitu ia tidak menggunakan fasilitas yang berlebihan hanya sel biasa dengan koleksi buku-buku yang setiap hari dibacanya. Dan tentu saja makanan yang berbeda dengan napi lain. Ia juga tidak pernah keluar dari dalam selnya karena sesungguhnya ia menikmati keheningan di dalam sana.
__ADS_1
"Hemm... tidak terasa sudah hampir empat tahun, rasanya sudah tidak sabar untuk bertemu lagi denganmu Tara... tinggal dua tahun lagi..." ucapnya sambil tersenyum dan mengelus coretan yang baru saja dibuatnya untuk menandai waktu yang telah dihabiskannya selama ini.
Ya... dia adalah dokter Andrew...
Setelah penangkapannya dan sidang yang cukup alot ia akhirnya divonis 6 tahun penjara. Sebab karena kepintaran dokter Andrew cukup membuat jaksa penuntut menjadi kesulitan dalam mendakwanya untuk mendapatkan hukuman yang lebih berat. Dan akhirnya dengan bantuan tuan Sam dan Raja dalam mencari barang bukti untuk memberatkan dokter Andrew akhirnya mendapatkan hukuman yang cukup memuaskan.
Setelah menandai dinding selnya, seperti biasa dokter Andrew kembali melakukan kegiatan sehari-harinya disana yaitu membaca. Saat ia tengah asyik membaca, tiba-tiba saja petugas jaga menghampirinya.
"Dokter Andrew... ada yang ingin menemui anda" ucapnya yang membuat dokter Andrew mengernyitkan keningnya.
Dalam hati ia bertanya-tanya siapa yang hendak menemuinya saat ini. Sebab selama ini hanya ada dua orang yang selalu mengunjunginya di penjara. Mereka adalah bi Ijah dan Hendro pengacaranya. Namun ini bukan hari berkunjung bi Ijah yang selalu datang di akhir pekan. Sedang Hendro pengacaranya hanya datang satu bulan sekali dan itu juga bukan jatuh pada hari ini. Meski masih bertanya-tanya di dalam hati dokter Andrew mengikuti petugas lapas untuk menemui orang yang ingin menemuinya itu.
Saat sampai di ruangan tempat tahanan menerima kunjungan, dokter Andrew semakin mengernyitkan keningnya karena ia tidak mengenal dua orang yang telah menunggunya di ruangan itu.
"Selamat siang dokter Andrew..." sapa salah seorang diantara mereka sambil mengulurkan tangannya untuk menjabat dokter Andrew.
"Siang... kalian siapa?" tanya dokter Andrew setelah membalas jabat tangan orang itu.
"Perkenalkan... nama saya Bripka Hanan dan ini rekan saya Iptu Niken kami dari penyidik kepolisian" terang Bripka Hanan.
Dokter Andrew semakin mengernyitkan keningnya. Ia tidak mengerti mengapa dua penyidik kepolisian datang menemuinya. Sebab ia merasa jika kasus yang menjeratnya sudah selesai saat ia dijatuhi hukuman. Ia bahkan tidak mengajukan banding, jadi ada urusan apa dua petugas polisi itu datang untuk menemuinya. Mengerti akan keingintahuan dokter Andrew tentang alasan keduanya mendatangi dokter itu pun Bripka Hanan segera menjelaskan maksud kedatangannya yang ingin meminta bantuan pada dokter itu untuk membantu memecahkan sebuah kasus pembunuhan berantai yang menggegerkan masyarakat saat ini.
Mendengar penjelasan dari petugas yang ada dihadapannya itu dokter Andrew langsung tersenyum tipis. Otaknya langsung bekerja agar ia bisa mendapatkan keuntungan dari hal itu.
"Saya mengerti... tapi apa keuntungan yang akan saya dapatkan jika saya mau membantu kalian? kalian tidak berfikir jika saya akan membantu dengan cuma-cuma?" ujarnya bernegosiasi.
Kedua petugas penyidik itu pun saling pandang. Hal ini tentu saja sudah mereka duga. Dokter Andrew pasti akan meminta imbalan atas bantuannya. Namun demi bisa mengungkapkan kasus yang sudah menggegerkan masyarakat yang membuat pihak kepolisian harus segera mengungkapkan pelaku dan bisa menangkapnya sekaligus membuat kedua petugas itu mau mendengarkan permintaan dokter Andrew.
"Permintaan saya sangat mudah... saya hanya ingin pengurangan hukuman hingga saya bisa lamgsung dibebaskan setelah kasus ini selesai..." ungkap dokter Andrew sambil tersenyum.
"Kami harus mendiskusikan permintaan anda pada atasan kami terlebih dahulu..." sahut Hanan.
"Baik... kalau begitu temui saya lagi jika permintaan saya sudah kalian penuhi..." ujar dokter Andrew langsung bangkit dari duduknya dan langsung meninggalkan ruangan itu dengan santai untuk kembali ke dalam selnya.
Dalam hatinya dokter Andrew yakin jika kedua polisi itu pasti akan memenuhi persyaratannya. Sebab ia juga sudah membaca tentang kasus itu dan dia yakin dengan tekanan masyarakat saat ini pihak kepolisian tidak ada pilihan lain selain mengabulkan permintaannya. Dua hari kemudian dua polisi itu pun kembali menemui dokter Andrew dan mengatakan jika pihak kepolisian menyanggupi permintaan dokter Andrew asalkan dokter itu mau membantu memecahkan kasus pembunuhan tersebut.
Mendengar permintaannya dikabulkan, dokter Andrew pun langsung setuju untuk membantu. Dan untuk itu dokter Andrew pun dibawa keluar dari penjara untuk mempermudah mereka dalam menyelesaikan kasus meski masih dengan pengawalan ketat agar dokter Andrew tidak akan berfikir untuk melarikan diri.
__ADS_1