BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Sekolah Baru


__ADS_3

Sidang kasus Rendra dan juga Jihan sudah digelar dengan lancar. Rendra pun sudah mendapatkan hukuman selama tiga tahun akibat penganiayaannya pada sang istri. Meski bukan dia yang menyebabkan Siska tewas, namun apa yang dilakukan oleh pria itu sudah merupakan KDRT yang menyebabkan luka yang sangat fatal. Rendra yang kini hanya bisa tenggelam dalam penyesalannya pun pasrah dan menerima hukumannya dengan suka rela.


Begitu juga dengan kasus Jihan dan ayahnya yang juga telah diputuskan. Jihan yang dituntut dengan pasal berlapis mendapatkan hukuman penjara seumur hidupnya. Sedang sang ayah yang juga dituntut karena korupsi dan terlibat atas kematian ayah Rendra pun mendapat hukuman 25 tahun penjara. Jihan berteriak histeris saat hukumannya diputuska dan palu hakim diketuk. Wanita itu masih tidak terima jika ia dihukum selama itu. Ia bahkan berteriak akan mengajukan banding. Namun pengacara yang membelanya justru tidak menggubrisnya. Pengacara itu bahkan mengundurkan diri sebagai pembelanya jika Jihan keukeuh tetap ingin naik banding.


Orang yang Jihan sebut sebagai pendukungnya pun tak tampak selama persidangan. Dan telah memutuskan bantuannya pada wanita itu begitu ia terbukti bersalah. Akhirnya mau tidak mau Jihan harus mau menerima hukumannya. Dan kehidupan di dalam sel penjara membuat wanita itu semakin stres. Hingga akhirnya dia divonis mengidap gangguan jiwa dan dipindahkan ke rumah sakit jiwa dengan pengaman ketat akibat ulahnya yang sering membuat napi lainnya merasa terganggu.


Kehidupan Ayana dan Deni pun berangsur normal. Keduanya bahkan sudah mulai memaafkan kesalahan Rendra dan bu Hasna sehingga hubungan mereka pun mulai membaik. Meski tidak begitu dekat, namun kedua kakak beradik itu sudah mau berkomunikasi dengan sang ayah dan oma mereka. Bahkan keduanya beberapa kali menjenguk sang ayah di penjara bersama dengan bu Hasna saat mereka libur dari asrama.


Tak terasa beberapa waktu telah berlalu... kini saatnya Sadira masuk ke SMU. Dan sudah tradisi dalam keluarganya, Sadira pun masuk ke sekolah yang sama yang dulu juga dimasuki oleh sang ayah dan juga kedua kakaknya. Dan hari ini adalah hari dimana ia masuk ke sana dan merupakan saat orientasi di sekolah barunya. Sesuai tradisi, setiap murid baru diharuskan mengenakan pakaian asal sekolah mereka dahulu dan mengenakan aksesoris yang di tentukan oleh para seniornya. Dan kali ini untuk siswi baru mereka menyuruh untuk mengenakan pita warna warni pada rambutnya.


Sahir dan Samir tampak tidak dapat menahan tawanya saat melihat sang adik yang turun dari kamarnya dengan menguncir rambutnya dan menyematkan berbagai macam warna pita di sana. Bukan hanya satu atau dua kuncir, namun ada enam kuncir sedang masing-masing kuncir ada dua warna pita.


"Ha... ha... ha...!" tawa keduanya meledak bersamaan, membuat sang adik merasa kesal.


"Jangan meledekku kak!" seru Sadira sambil mengerucutkan mulutnya sebal.


Namun bukannya berhenti, tawa keduanya malah tambah terbahak-bahak. Amira yang tengah menyiapkan sarapan pun sampai harus menegur keduanya agar sang adik tidak mogok dan tidak mau pergi ke sekolah barunya.


"Bunda... kenapa aku harus sekolah disana juga sih... kan sudah jadi rahasia umum kalau masa orientasi sekolah di sana sangat menyebalkan!" protes Sadira pada sang bunda.


"Kalau untuk hal itu tanyakan saja pada ayahmu itu sayang..." sahut Amira sambil menunjuk sang suami dengan dagunya.


"Kan ayah sudah bilang sayang... kalau kau boleh memilih sekolah kamu setelah lulus dan masuk perguruan tinggi... jadi sebelum itu menurutlah!" ucap tuan Sam tegas yang membuat Sadira pun langsung terdiam dan menurut.


Bukan tanpa alasan tuan Sam melakukan hal itu pada anak-anaknya. Pasalnya sekolah yang sudah ia pilihkan untuk mereka terjamin kualitasnya dan juga ketat dalam peraturannya. Sehingga masalah tawuran dan pembulliyan tidak terjadi di sana. Karena para guru berkomitmen untuk menjaga para murid mereka termasuk dengan memasang cctv disetiap sudut sekolah sehingga mempermudah pengawasan terhadap para murid mereka.


Sementara Ayana melanjutkan sekolahnya tetap di asrama. Karena di sana sudah mencakup pendidikan dari tingkat SD hingga SMU. Jadi gadis itu tidak perlu repot mendaftar sekolah lagi untuk melanjutkan pendidikannya. Di sekolah barunya, Sadira tampak memasang wajah cemberut. Apa lagi kalau bukan karena aksesoris yang harus ia kenakan saat itu.


"Kalau tahu begini... lebih baik aku pakai jilbab saja seperti bunda dan juga Ayana..." batin Sadira dongkol.


Memang sejak masuk sekolah asrama Ayana memutuskan untuk mengenakan jilbab. Tentu saja hal itu sangat menggembirakan semua orang terutama sang adik yang menganggap sang kakak semakin bertambah cantik dengan penampilan barunya. Sedang Sadira meski saat ini masih merasa dongkol karena harus terlihat aneh dengan kuncir di kepalanya tapi ia sadar jika alasan berhijab bukan untuk menghindari sesuatu seperti saat ini. Tapi untuk menjalankan kewajiban sebagai seorang muslimah. Meski sang bunda tidak memaksanya namun Sadira juga memiliki keinginan untuk menutup auratnya itu. Tapi entah kenapa hatinya belum merasa yakin. Tapi ia berjanji suatu hari ia akan benar-benar melakukannya dan itu tanpa paksaan atau pun suruhan dari orang lain tapi karena keinginannya sendiri.


Setelah acara penerimaan murid baru yang dipimpin langsung oleh kepala sekolah di lapangan sekolah para murid baru pun dipersilahkan untuk masuk ke kelas mereka masing-masing didampingi oleh senior mereka. Sadira yang semula cemberut saat berangkat dari rumah tampak sudah mulai ceria saat sudah bertemu dengan murid baru lainnya. Apa lagi ia juga mendapati jika diantara murid baru itu ada juga yang berasal dari sekolah lamanya. Suasana kelas tampak tenang karena para senior yang terlihat tegas. Mereka bahkan sudah memberikan jadwal tugas yang harus dikerjakan oleh adik kelasnya itu selama masa orientasi berlangsung.

__ADS_1


Mereka juga tak lupa mengingatkan akan hukuman yang akan diterima jika ada yang junior melanggar. Sadira yang duduk dengan teman barunya tampak menghembuskan nafasnya pelan. Bagaimana tidak, saat melihat tugas apa yang harus dikerjakan oleh kelompoknya selama masa orientasi membuat gadis itu sedikit merasa dongkol.


"Kalau tugasnya kayak gini bagaimana bisa menjalankannya? ck... sudah bisa dipastikan kami akan mendapatkan hukuman..." batin Sadira.


Bukan hanya Sadira, tapi setiap murid baru yang ada di kelas itu pun merasakan hal yang sama. Hal itu terlihat dengan wajah mereka semua yang tampak lemas. Bagaimana tidak, tugas yang diberikan oleh para senior itu terkesan mengada-ada, bahkan sangat merepotkan para juniornya. Dan benar saja... kali ini Sadira dan kelompoknya gagal dalam menjalankan tugasnya, sehingga mereka harus dihukum. Tampak sekali para siswa senior sangat senang mendapatkan kesempatan untuk menghukum para juniornya itu. Apa lagi ada seseorang yang memang sudah menarik perhatian mereka sejak awal.


Ya... sejak acara perkenalan tadi para siswa senior sudah memperhatikan para juniornya. Dan ada seorang gadis yang tampak menonjol diantara siswi junior yang lain. Bahkan gadis itu sudah menjadi incaran para senior untuk dijadikan kekasih. Dan ini adalah kesempatan mereka untuk bisa mendekati gadis unik itu.


"Kalian sudah gagal dalam menjalankan tugas kalian hari ini... jadi sebagai hukumannya kalian harus menuliskan surat cinta yang romantis untuk ketua OSIS kita... kalian mengerti?" kata Rafa salah satu senior dengan tatapan tajam.


Meski merupakan tugas yang nyleneh namun tak ada yang bisa membantahnya.


"Iya kak..." sahut para junior dengan patuh.


"Bagus, nah... waktu kalian hanya 15 menit untuk membuatnya... jika kalian gagal lagi maka kalian akan berhadapan dengan ketua OSIS kita... dan jika itu terjadi maka bisa dipastikan hukuman kalian akan lebih berat..." sambung Rafa yang membuat para juniornya semakin ketakutan.


Sadira tampak meringis saat tak ada satu pun ide dari otaknya untuk menuliskan kata-kata romatis pada surat cinta yang harus di tulisnya. Akhirnya ia pun nekat menuliskan ala kadarnya. Ia pasrah jika harus kembali mendapatkan hukuman. Saat tugas itu dikumpulkan, para senior dengan senang hati membacakan satu persatu surat yang baru saja ditulis oleh para juniornya di depan semua orang. Banyak komentar saat satu persatu surat cinta itu selesai dibacakan. Saat mendengarkan surat yang ditulis temannya yang lain, Sadira sadar jika surat buatannya sangat jauh dari kata romantis.


Saat ia melihat amplop miliknya, Sadira merasa sangat gugup. Ia sudah menduga pasti dirinya akan mendapatkan hukuman tambahan. Pasalnya dia hanya menuliskan kalimat...


Dalam lima bahasa...


Benar saja... saat Rafa membacakan apa yang ditulisnya, semua orang tampak terdiam.


"Siapa yang sudah menuliskan surat ini? ayo ngaku!" seru Dipta salah satu senior.


Semua orang tampak terdiam...


Sadira menggigit bibirnya dengan perasaan cemas. Jika ia mengaku maka semua orang akan mentertawakannya... tapi jika tidak maka para senior akan mencari tahu dan akhirnya tetap akan ketahuan juga. Dengan takut-takut Sadira pun akhirnya mengangkat tangannya pertanda ia mengakui jika surat itu dialah penulisnya.


"Maju kamu!" titah Rafa saat melihat Sadira mengangkat tangannya.


Perlahan gadis itu pun maju ke depan.

__ADS_1


"Apa maksudnya kamu menuliskan kata-kata seperti ini? kamu mau gampangnya saja ya?" cecar Naya salah satu satu senior yang terkenal paling cantik sekaligus galak.


"Ma... maaf kak..." sahut Sadira pelan.


Bukan karena ia takut... tapi jika ia melawan maka akan semakin panjang urusannya. Sedang Sadira sangat membenci acara seperti ini dan ingin agar bisa cepat mengakhirinya.


"Maaf... maaf... kamu fikir dengan meminta maaf semuanya bisa selesai? lihat teman kamu yang lain... mereka bersusah payah merangkai kata sedang kamu hanya menulis kalimat yang artinya sama berulang-ulang..." sungut Naya.


Sadira hanya diam. Dia sangat tidak ingin meladeni kakak seniornya itu. Rasanya akan lebih baik jika segera diputuskan ia akan mendapat hukuman apa dari pada mendengarkan omelan dari Naya.


"Sudah Nay... mungkin dia memang tidak bisa menulis surat cinta karena mungkin dia belum pernah melakukannya..." ujar Bara sang ketua OSIS yang sedari tadi diam.


Mendengar itu Sadira menghela nafasnya lega. Sebab itu berarti mereka tidak akan berlama-lama membahas soal surat cinta konyol itu.


"Ya sudah karena kamu gagal maka besok kamu akan memulai hukuman kamu... mengerti?" ucap Bara pada Sadira yang langsung diangguki oleh gadis itu dengan cepat.


"Baik kak..."


"Sudah... kembalilah ke kelompokmu..." sambung Bara.


"Terima kasih kak..." sahut Sadira sambil tersenyum tulus.


Ia sama sekali tidak menyadari jika apa yang dilakukannya barusan sudah mematik kemarahan Naya. Karena sudah menjadi rahasia umum jika gadis itu sangat tergila-gila pada Bara sang ketua OSIS. Meski Bara sama sekali tidak pernah menggubrisnya. Dan dia tidak akan membiarkan siapa pun yang ingin menarik perhatian dari cowok itu. Karena baginya Bara adalah miliknya. Dan tindakan Sadira tadi yang tersenyum pada Bara sudah membuat Naya berfikir jika Sadira tengah menggoda cowok idamannya itu.


"Emang kamu bisa lima bahasa Ra?" tanya Hana, gadis yang sekelompok dengannya sekaligus teman baru yang duduk di sebelahnya.


"Ehm... ga juga sih... cuma tadi aku sempat nyontek mbah goglo..." sahut Sadira sambil berbisik yang membuat Hana terkikik karena merasa lucu.


"Untung saja kamu ga ketahuan saat melakukannya Ra... kalau tidak..."


"Ya apeslah..." potong Sadira yang kembali membuat teman barunya itu tertawa lirih.


Sementara itu tampak Naya sedari tadi memperhatikan apa yang dilakukan oleh Sadira. Hatinya terasa panas saat melihat gadis itu berbisik-bisik dengan gadis yang ada didekatnya.

__ADS_1


"Lihat saja... besok aku akan membuat hukuman yang kamu terima akan bertambah berat..." batin Naya sambil tersenyum sinis.


Sedang disudut lain tampak sepasang mata juga tengah mengamati tingkah Sadira yang terlihat begitu menggemaskan dimatanya. Tetapi gadis yang tengah diperhatikan itu tampak sama sekali tidak menyadarinya. Sadira bahkan tampak sangat bahagia saat bel pulang berbunyi. Dengan berlari kecil gadis itu segera menuju gerbang sekolah tak sabar untuk segera pulang ke rumah dengan diantarkan sang sopir.


__ADS_2