BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Meyaa


__ADS_3

Setelah luka di kedua tangannya diobati dan diperban oleh petugas medis tuan Sam pun langsung meniggalkan rumah sakit bersama Lukas menuju reruntuhan gedung apatemennya dulu untuk kembali mencari Amira bersama timnya yang sudah menunggu disana. Tanpa membuang waktu tuan Sam pun memimpin langsung tim penyelamat yang dibawanya. Mereka langsung memasuki area gedung yang sudah rata dengan tanah. Mencoba memanggil nama Amira dan mendengarkan setiap suara yang mungkin adalah tanda dari para korban selamat yang mencoba memberitahukan keberadaannya.


Hingga salah seorang dari tim penyelamat yang dibawa oleh tuan Sam mendengar bunyi besi beradu yang mirip dengan kode morse SOS. Dengan bersemangat mereka pun mencari sumber suara dan mencoba memanggil korban yang rupanya tertimbun cukup dalam.


"Hei... are you there?" seru salah seorang dari tim penyelamat.


"Yeah... i'm over here!" terdengar sayup-sayup suara seseorang menjawab dari bawah sana.


Ketua tim penyelamat pun langsung memberikan arahan untuk mengangkat reruntuhan dengan aman agar korban tidak semakin terjebak di dalam sana. Setelah berjibaku hampir satu jam lamanya akhirnya mereka berhasil melihat posisi korban yang ternyata seorang pria Asia paruh baya yang sebelah kakinya terjepit pada beton yang runtuh. Dengan hati-hati para penyelamat pun berusaha menyingkirkan beton itu tanpa melukai kaki korban. Setelah hampir setengah jam berusaha akhirnya mereka pun berhasil menyelamatkan pria itu. Tuan Sam yang ikut bersama tim penyelamat bersama Lukas pun merasa lega meski bukan Amira yang mereka temukan.


Setelah beristirahat sebentar mereka pun kembali menyisir reruntuhan gedung apartemen untuk mencari korban selamat lainnya. Dan tuan Sam berharap kali ini mereka akan lebih beruntung dengan menemukan Amira. Tuan Sam pun tampak tak patah semangat demi mencari istrinya itu.


"Tunggulah Meyaa... aku akan segera menemukanmu..." batin tuan Sam dengan mata dan telinga yang terus mencari dan mendengarkan setiap suara yang mungkin adalah tanda dari mereka yang berhasil selamat seperti pria paruh baya tadi.


Di ruang operasi...


Selama lebih dari enam jam para dokter berusaha untuk menyelamatkan nyawa Amira dan juga janin yang ada dalam kandungannya. Meski beberapa kali Amira mengalami kondisi kritis saat jalannya operasi namun akhirnya para dokter yang mengoperasinya bisa bernafas lega saat mereka berhasil menjalankan operasi Amira dengan sukses. Meski Amira masih belum sadar namun kondisinya sudah stabil dan ia pun dibawa ke ruang ICU untuk melihat perkembangan kesehatannya sebelum akhirnya dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Di dalam ruang ICU tubuh Amira tampak dipenuhi dengan peralatan medis untuk menunjang kesembuhannya. Meski begitu para dokter yang menanganinya sangat yakin jika Amira akan bertahan dan segera sadar.


Sedang Amira sendiri saat ini merasa berada di tempat yang sangat asing baginya. Walau demikian ia merasa senang dan betah berada disana. Bahkan ia merasa ingin selamanya berada di sana. Apa lagi ada seorang gadis kecil yang selalu menemaninya dan mengajaknya bermain. Gadis itu selalu memanggilnya bunda dan Amira tak merasa keberatan karenanya. Ia bahkan merasa sangat senang ada yang memanggilnya bunda seolah ia sangat merindukan ada yang memanggilnya dengan sebutan itu. Saat ia sedang asyik menemani gadis kecil itu memetik bunga yang bermekaran di pandang rumput yang sangat luas itu tiba-tiba Amira mendengar suara yang memanggilnya.


"Meyaa!" terdengar suara seorang pria yang memanggilnya.


Amira pun memutar kepalanya mencari asal suara itu. Namun tak ditemukannya seorang pun disana kecuali dirinya dan gadis kecil yang sedari tadi bersamanya.


"Meyaa... aku mencintaimu..." terdengar suara itu lagi yang membuat Amira tertegun.


"Bunda... ayo kita pulang..." ucap gadis kecil itu tiba-tiba dan menarik tangan Amira menuju ke arah cahaya yang tiba-tiba saja menyinari tubuh keduanya.


Begitu keduanya berada di dalam lingkaran cahaya itu tubuh Amira terasa tersedot ke dalam pusat cahaya tersebut. Ia merasa melayang entah kemana. Sementara Kartika yang tertidur sejenak kini sudah membuka matanya. Setelah mengerjapkan matanya sebentar Kartika mulai mengedarkan pandangannya. Kartika menghembuskan nafasnya lega saat menyadari jika hanya dia yang berada di ruangan itu. Bukan karena ia berada di ruang VIP tapi memang belum ada pasien lain yang dimasukkan kesana.


Ia juga lega karena sampai saat ini tidak ada kabar lagi dari Lukas tentang Amira. Ia pun mulai berfikir jika mungkin saja perkiraannya itu benar jika Amira tidak selamat dan hanya tinggal menunggu waktu sampai mayatnya ditemukan diantara reruntuhan gedung apartemen. Memikirkan hal itu Kartika pun langsung menyunggingkan senyumnya. Mungkin saja kali ini nasibnya akan benar-benar berubah. Menjadi nyonya Samudra yang kaya meski harus merawat kedua anak Amira. Membayangkan jika nantinya ia akan bisa hidup nyaman dengan bergelimang harta membuatnya tak sabar untuk segera keluar dari rumah sakit dan melancarkan rencananya.


Sementara di lokasi penyelamatan tuan Sam tampak mulai terlihat frustasi karena sejak tadi setiap korban selamat yang ditemukannya bersama timnya bukanlah Amira istrinya. Kelelahan dan suasana hati yang buruk karena belum juga berhasil menemukan istrinya membuat keadaan tuan Sam tampak sangat acak-acakan. Lukas yang melihatnya pun hanya dapat menghela nafas berat. Ia juga tidak tahu bagaimana menghibur tuannya itu. Karena ia juga tidak dapat membayangkan bagaimana perasaan tuan Sam saat ini yang harus menanggung rasa kehilangan Amira.


"Tuan... lebih baik tuan kembali ke hotel... Sahir dan Samir pasti sedang mencari tuan sekarang..." kata Lukas mencoba membuat tuan Sam mau pulang untuk beristirahat.


"Tapi kita belum menemukan Amira, Lukas..." sahut tuan Sam dengan nada putus asa.


"Tapi Sahir dan Samir juga membutuhkan tuan sekarang... disini masih ada tim yang akan terus mencari nyonya Amira..." bujuk Lukas.

__ADS_1


"Benar tuan... kami akan tetap disini untuk mencari nyonya Amira..." kata George sang ketua tim penyelamat membantu membujuk tuan Sam.


Sebagai orang yang sudah berpengalaman dan sering melakukan misi penyelamatan baik itu karena bencana mau pun dalam peperangan ia tahu jika tuan Sam bukanlah orang yang terlatih untuk misi penyelamatan. Meski fisik pria itu kuat namun emosinya tidak stabil karena belum berpengalaman. Apalagi istrinyalah yang menjadi korban sedang ia juga masih memiliki dua balita yang masih membutuhkan ayah mereka dalam keadaan waras untuk menjaga keduanya.


"Jangan keras kepala tuan... kami orang-orang profesional... jadi tuan bisa mengandalkan kami untuk menemukan nyonya Amira..." sambung George.


Tuan Sam memandang Lukas dan George secara bergantian. Kemudian ia pun menghembuskan nafasnya pelan.


"Baiklah... aku akan pulang bersamamu Lukas... dan George... aku sangat mengandalkanmu..." kata tuan Sam akhirnya setelah berfikir dan mencerna perkataan kedua orang kepercayaannya itu.


Lukas dan George pun tersenyum dan saling pandang. Keduanya lega telah berhasil membujuk tuan Sam untuk pulang menemui kedua putranya. Setidaknya dengan begitu tuan Sam akan merasa lebih baik karena kedua putranya bisa menjadi obat yang baik bagi tuan Sam yang hatinya sedang tidak baik-baik saja. Tak butuh waktu lama Lukas dan tuan Sam akhirnya tiba di hotel tempat mereka menginap sejak gedung apartemen tuan Sam hancur karena bom.


"Tuan... apa tidak sebaiknya tuan membeli apatemen baru agar Sahir dan Samir merasa lebih nyaman?" usul Lukas saat keduanya berada di dalam lift.


Tuan Sam tampak berfikir sejenak. Menurutnya apa yang dikatakan oleh Lukas ada benarnya meski tinggal di hotel bukan masalah baginya dan lebih praktis. Namun memang untuk kenyamanan rumah sendiri akan terasa lebih nyaman baginya dan juga kedua putra kembarnya.


"Baiklah... coba kau carikan beberapa tempat yang menurutmu cocok untuk kami... nanti aku dan anak-anak yang akan memilihnya..." ujar tuan Sam akhirnya.


Lukas pun mengangguk patuh. Saat keduanya sampai di kamar tuan Sam tampak si kembar sudah menyambut keduanya di depan pintu.


"Ayah!" seru keduanya bersamaan lalu berlari memeluk tuan Sam.


Tuan Sam pun membalas pelukan kedua putranya itu dengan erat. Setetes air mata pun lolos dari kedua belah matanya. Tak bisa di pungkiri jika hatinya sangat sakit saat melihat wajah polos keduanya yang berharap segera bertemu dengan bunda mereka.


"Iya sayang... tapi sebentar lagi pasti sembuh dan kita akan menjemputnya pulang..." sahut tuan Sam sambil menahan sesak didadanya.


"Kita masuk ke dalam dulu yuk... nanti paman Lukas akan menunjukkan gambar rumah baru untuk kita... nanti kita akan memilih salah satunya bersama jadi saat bunda pulang kita bisa membawanya ke sana..." sambung tuan Sam.


"Yey... kita akan punya rumah baru!" seru Sahir senang.


"Aku ingin kamalku ada putel-putelnya kayak kamal ayah sama bunda dulu..." kata Samir mengutarakan keinginannya.


"Putar-putar?" tanya tuan Sam tak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Samir.


"Itu maksudnya London Eye tuan..." sahut Lusi yang sedari tadi memperhatikan ketiganya.


Tuan Sam mengernyitkan keningnya.


"Sudah... ayo masuk dulu... ayah kalian sangat lelah dan belum mandi..." kata Lusi mencoba mengajak kedua bocah itu untuk membiarkan tuan Sam untuk membersihkan diri dan beristirahat.

__ADS_1


Keduanya pun langsung menurut. Mereka pun kemudian masuk ke dalam. Setelah tuan Sam dan Lukas selesai membersihkan diri kini keduanya duduk di sofa yang berada di kamar tuan Sam. Lukas langsung mengerjakan perintah tuan Sam untuk mencari beberapa rekomendasi hunian yang cocok untuk tuan Sam. Sedangkan tuan Sam langsung mengecek pekerjaan kantornya melalui laptopnya. Sementara si kembar asyik bermain dengan diawasi oleh Lusi.


Di rumah sakit...


Amira terbangun dan membuka matanya perlahan. Diedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Tampak ruangan dengan nuansa putih dengan bau obat memyeruak. Rumah sakit... tempat itulah yang difikirkan Amira tentang tempatnya berada saat ini. Amira berusaha untuk membuka alat pernafasan yang menempel pada hidung dan mulutnya... saat itulah seorang perawat masuk ke dalam ruangan dan melihat apa yang terjadi.


"Anda sudah sadar nyonya?" tanya perawat itu dalam bahasa inggris yang tak dimengerti Amira.


"Apa anda merasa baik-baik saja nyonya?" tanya sang perawat lagi mencoba membuat Amira mengerti.


"Yes..." jawab Amira sedikit ragu.


"Ok... saya akan segera memberitahu dokter bahwa anda sudah sadar..." kata sang perawat bergegas memanggil dokter yang merawat Amira.


Meski tidak mengerti dengan perkataan perawat itu karena menggunakan bahasa inggris tapi Amira dapat mengira-ngira jika perawat itu akan memanggil dokter. Dan benar saja tak berapa lama seorang berpakaian dokter segera datang dan memeriksa kondisi tubuhnya. Setelah memeriksa kondisi Amira sang dokter sangat senang karena Amira sudah baik-baik saja meski luka di beberapa bagian tubuhnya terutama yang berada di kepala belum sembuh.


"Boleh saya bertanya siapa nama anda?" tanya sang dokter dalam bahasa inggris.


"Nama?" ulang Amira.


"Ya..."


Saat itulah terngiang dikepalanya seseorang tengah memanggilnya.


"Meyaa..." panggil suara itu.


Amira langsung memegangi kepalanya yang terasa sakit. Saat berusaha mengingat siapa yang memanggilnya dengan nama itu.


"Tidak apa-apa jika kau belum bisa mengingatnya..." kata dokter itu lembut.


"Meyaa..." sahut Amira sambil menatap dokter itu.


"Miya?" tanya sang dokter.


Amira menggelengkan kepalanya tegas.


"Meyaa..." ulangnya lagi.


"Meyaa..." sahut sang dokter membeo, dia pun menyuruh sang perawat untuk mencatat nama itu didata pasien Amira.

__ADS_1


"Sekarang istirahatlah dulu... nanti kita bicara lagi" sambung dokter itu lalu meninggalkan Amira dengan perawatnya.


Setelah kepergian dokternya Amira mencoba lagi untuk beristirahat dengan dibantu oleh perawat karena memang ia merasa tubuhnya masih merasa lemah dan kepalanya masih sedikit pusing.


__ADS_2