
Ricko tampak bersemangat saat keluar dari dalam kantornya. Bagaimana tidak, ia sudah mendapatkan ide untuk bisa datang ke rumah Samir dengan alasan yang wajar sehingga tidak akan ada yang menduga jika tujuannya yang sebenarnya adalah untuk mendekati Sadira. Dan sepertinya keberuntungan sedang berpihak pada Ricko, karena saat ia tengah berkendara menuju ke rumah Samir tanpa sengaja ia melihat Sadira yang tengah berdiri di tepi jalan disamping sepeda motornya. Dengan cepat Ricko pun menghentikan mobilnya dan segera keluar untuk menguhampiri Sadira yang tampak frustasi.
"Motor kamu kenapa Ra?" tanya Ricko saat sudah berada di depan Sadira.
"Eh... eumm... ini kak ga tahu kenapa kok tiba-tiba aja mogok..." terang Sadira.
"Boleh kakak lihat?"
"Iya kak..."
Ricko pun lalu memeriksa motor Sadira mencoba memperbaiki motor Sadira. Saat Ricko tengah sibuk, Sadira tampak memperhatikan apa yang dilakukan oleh pemuda itu. Bukan apa-apa, Sadira hanya ingin belajar mungkin saja lain waktu ia bisa memperbaikinya sendiri jika terjadi lagi hal seperti tadi. Sementara Ricko yang merasa diperhatikan oleh Sadira merasa senang mengira jika gadis itu mulai perhatian padanya. Tak sampai 15 menit akhirnya Ricko berhasil membuat motor Sadira kembali menyala.
"Wah... kak Ricko hebat banget... terima kasih banyak kak!" seru Sadira sambil melonjak dan bertepuk tangan senang.
"Sama-sama..." sahut Ricko dengan wajah agak memerah karena senang dengan pujian Sadira.
"Sebagai ucapan terima kasih aku akan mentraktir kakak minum..." ujar Sadira yang menyadari jika Ricko pasti haus setelah berpanas-panasan saat membetulkan motornya.
"Ga usah Ra... kakak ikhlas kok..."
"Ga boleh nolak gitu dong kak... aku tahu kakak pasti haus, karena aku yang cuma melihat dari tadi juga merasa haus..." ucap Sadira tak mau menyerah.
"Baiklah... jika kamu memaksa..." sahut Ricko akhirnya membuat Sadira kembali melonjak senang.
"Yes!" seru gadis itu dan langsung menggandeng tangan Ricko dan menuntunnya ke sebuah kedai minum yang ada di dekat situ.
Ricko merasa sangat bahagia saat tangan Sadira menggenggam erat tangannya. Rasanya seperti ada jutaan kupu-kupu yang beterbangan di dalam perutnya. Rasa geli dan bahagia bercampur menjadi satu membuat wajahnya semakin merona. Sesampainya di dalam kedai keduanya langsung memesan minuman. Sambil menunggu pesanan mereka, keduanya pun berbincang akrab. Sadira baru tahu jika ternyata Ricko itu seasyik Samir kakaknya jika sudah kenal dekat. Gadis itu merasa seperti menemukan sosok kakaknya itu. Sedang Ricko merasa seakan tengah bermimpi saat bisa berbincang dekat dengan gadis pujaannya.
Namun seperti sebuah mimpi, semua akhirnya juga harus berakhir saat Sadira mengatakan jika ia harus segera pulang. Meski merasa berat namun Ricko tak bisa memaksa. Lagi pula baginya saat ini sudah lebih dari cukup karena kini ia bisa semakin dekat dengan gadis itu. Sadira tersenyum manis saat berpamitan dan keduanya berpisah menaiki kendaraan mereka masing-masing. Ricko masih setia memperhatikan Sadira yang menjauh dengan motornya dari dalam mobil. Pemuda itu pun baru menyalakan meson mobilnya saat Sadira sudah menghilang dari pandangannya.
Ricko tidak langsung pulang ke rumahnya, melainkan langsung pergi ke apartemennya. Saat membuka pintu kamarnya ia sudah disambut oleh berbagai macam foto dari Sadira. Segera ia mendekat ke arah foto favoritnya yang tergantung di depan tempat tidurnya.
"Selangkah lagi sayang... tinggal selangkah lagi... dan kita akan segera bersatu..." gumamnya sambil menyentuh gambar wajah Sadira yang terlihat tengah tersenyum.
Di tempat lain...
__ADS_1
Naya tengah mengamuk di dalam kamarnya. Ia tak terima saat sang mama juga tidak mau mendukungnya. Tadi ia memang meminta sang mama untuk tidak lagi berteman dengan Rania, mama Bara. Alasannya apa lagi jika bukan karena Rania kini tidak mau mendukungnya untuk memisahkan Bara dengan Sadira. Bagi mamanya tingkah Naya itu terlihat sangat kekanakan. Dan tentu saja ia tidak akan menuruti permintaan putri semata wayangnya itu. Karena dalam fikirannya Bara itu tak lebih hanya cinta monyet bagi Naya. Sebagai seorang ibu sudah tentu ia akan menginginkan jodoh yang terbaik bagi putrinya itu. Dan meski Bara anak yang baik namun pada kenyataannya pemuda itu belum memiliki masa depan yang pasti karena masih sekolah.
Beberapa hari berlalu...
Ricko semakin intens untuk mendekati Sadira. Bahkan pemuda itu sudah sering kali bertandang ke rumah gadis itu tentu saja dengan alasan untuk bertemu dengan Samir. Tapi karena keramahannya ia bisa membuat seluruh anggota keluarga itu menyukainya. Tapi tidak dengan Sahir, meski tidak menunjukkan penolakan namun tetap saja ia merasa sedikit aneh dengan sikap Ricko yang berubah. Hubungan Sadira dan Bara pun terlihat lancar tanpa ada drama yang membuat mereka renggang. Bara bahkan sering mengajak Sadira untuk bertandang ke rumahnya. Rania pun sudah mulai menerima Sadira. Apa lagi gadis itu juga pandai mengambil hatinya.
Semua tampak berjalan dengan normal... hingga suatu hari Sadira dikejutkan dengan kiriman foto pada ponselnya yang membuat gadis itu meradang. Bagaimana tidak, dalam foto itu terlihat Bara yang tengah tidur sambil berpelukan dengan Naya dalam keadaan bertelanjang dada. Bahkan Naya pun dalam keadaan tidak jauh berbeda. Meski hanya pundak mulus gadis itu yang terlihat karena bagian yang lainnya tertutup selimut, sudah bisa dibayangkan apa yang sudah terjadi diantara keduanya sampai berada dalam posisi tersebut. Wajah Sadira sudah memerah menahan emosinya, bahkan air matanya sudah hampir lolos dari sudut matanya. Apa lagi caption yang ada di bawah foto itu yang membuat hatinya bertambah nyeri.
"Kalau kamu mengira ini hanya editan belaka, maka datanglah sekarang juga ke hotel xxxx... kamar xxx... disana kamu akan menemukan buktinya secara langsung..."
Sadira meremas ponselnya dengan erat. Urat-urat dilehernya pun terlihat menonjol pertanda gadis itu dalam keadaan marah besar. Tanpa memperdulikan keadaan sekelilingnya, gadis itu langsung meninggalkan acara keluarganya dan langsung menuju hotel yang tadi disebutkan oleh sang pengirim pesan. Ya gadis itu saat ini tengah berada di rumah sepupunya Anna yang tengah merayakan ulang tahun Sultan putra pertamanya. Amira yang terkejut saat melihat putri bungsunya itu pergi dengan tiba-tiba dan tanpa berpamitan terlebih dahulu pun segera menegurnya.
"Kamu mau kemana sayang?" suara Amira mengejutkan Sadira yang tengah emosi.
"Eum... itu bunda... barusan ada teman Dira yang telfon, dia bilang kalau ada bukunya yang terbawa Dira... padahal ada tugas yang harus dikumpulkan besok..." kata Sadira menutupi kebenarannya.
"Jadi Dira mau pulang untuk mengambilnya dan mengantarkannya ke rumahnya..." sambung Sadira mencoba menampilkan senyumannya agar sang bunda tidak khawatir padanya.
"Baiklah... jika sudah selesai kembalilah kemari, kita masih akan ada acara makan malam bersama"
"Baik bunda... Dira pergi dulu, assalamualaikum..."
Sadira segera melarikan motornya ke alamat hotel yang ditunjuk oleh pengirim foto misterius. Sesampainya di sana Sadira langsung melewati resepsionis dan langsung menuju ke kamar yang dimaksud oleh sang pengirim pesan setelah sempat bertanya dilantai mana kamar yang dimaksud pada salah satu OB yang ditemuinya di depan lift. Tak butuh waktu lama ia pun sampai di depan kamar yang dimaksud. Meski dalam hatinya Sadira sempat merasa ragu dan berdebar namun demi membuktikan apa yang sebenarnya terjadi ia pun nekat mengetuk pintu kamar tersebut.
Tak disangka jika pintu kamar itu ternyata tidak terkunci dari dalam sehingga Sadira bisa masuk dengan leluasa. Dan apa yang ada dihadapannya saat ini membuat hatinya perih. Bagaimana tidak, dihadapannya saat ini terlihat Bara masih nyenyak tertidur bersama Naya dalam keadaan yang tidak layak. Geram melihat sang kekasih telah melakukan hal maksiat bersama Naya bahkan disiang bolong membuat Sadira berbuat nekat. Tanpa ragu gadis itu pun mengguyur kedua manusia tak punya otak itu dengan air bekas pel yang tadi ia minta dari OB yang tadi ditemuinya. Kontan saja kedua manusia yang tengah terlelap itu langsung terbangun dengan megap-megap dan basah kuyup.
"Aarrgghh!" teriak keduanya bersamaan.
"Apa-apaan ini!" seru Bara yang mulai kembali kesadarannya.
Kedua mata pemuda itu mengerjap dan langsung melihat wajah kekasihnya yang merah padam karena marah.
"Dira... kenapa kamu ada disini?" tanya Bara linglung.
Ia pun mengedarkan pandangannya dan deg... ia baru sadar jika ia tidak berada di dalam kamarnya melainkan berada di kamar asing yang tidak dikenalinya. Bara tambah terkejut saat menyadari jika ia tidak tidur sendirian.
__ADS_1
"Naya?" ia tak percaya saat mendapati Naya yang berada disampingnya dan bahkan dalam keadaan yang tidak layak.
Gadis itu terlihat basah kuyup sambil menutupi tubuhnya dengan selimut yang juga sudah basah kuyup. Pundaknya yang terlihat menandakan jika gadis itu sedang tidak mengenakan apa pun dibalik selimutnya. Bara juga baru menyadari jika ia juga tak mengenakan pakaiannya.
"Dira... ini tidak seperti yang kau lihat..." ucap Bara berusaha membela dirinya meski sadar jika ia sangat sulit keluar dari jebakan yang sudah menjeratnya.
Ya... Bara baru sadar jika tadi ia tertidur setelah makan siang di rumahnya. Yang tidak ia mengerti mengapa kini jutru ia terbangun tidak berada di dalam kamar pribadinya tapi justru malah berada di tempat asing yang jika diamati merupakan kamar sebuah hotel.
"Kamu fikir aku buta kak? sudah jelas-jelas saat ini kamu terbukti tidur dengan kak Naya... ck! aku fikir kamu orang baik-baik... tapi ternyata kamu tidak ubahnya seekor buaya darat! mulai hari ini kita putus!" seru Sadira lalu berbalik dan meninggalkan tempat itu.
Bara langsung bangkit dan ingin mengejar Sadira namun ia baru sadar jika ia hanya mengenakan celana boxernya saja. Ia pun bergegas mengenakan pakaiannya yang ternyata telah teronggok di samping tempat tidur.
"Kamu mau kemana Bara? apa kamu akan meninggalkanku setelah apa yang tadi kita lakukan berdua?" tanya Naya dengan tidak merasa berdosa.
"Jangan mencoba membodohiku Naya! apa pun yang sudah kamu lakukan padaku tidak akan membuatku takut Naya... akan aku buktikan pada semua orang jika kamu sudah menjebakku..."
"Menjebak? apa kamu gila? bagaimana mungkin aku menjebakmu... sedang tadi kamu juga menikmatinya..." sahut enteng Naya sambil tersenyum sinis.
"Kamu fikir aku percaya?" potong Bara sambil menatap Naya tajam.
"Entah siapa yang sudah membantumu sehingga bisa membuat skenario sebaik ini... tapi tetap saja kamu akan kalah Naya... karena aku akan menemukan bukti yang akan mematahkan semua rencana yang sudah kamu buat!" sambungnya lalu meninggalkan Naya untuk mengejar Sadira.
"Huh! kamu masih saja sombong Bara... tapi kita lihat saja, siapa yang lebih cerdik diantara kita" gumam Naya memperhatikan Bara yang keluar dari kamar tersebut.
Sementara Sadira baru saja keluar dari dalam lift. Gadis itu bergegas mengambil motornya yang ada di parkiran. Air mata gadis itu pun sudah tidak dapat dibendung lagi sejak di dalam lift tadi. Ia bahkan tidak perduli dengan pada pandangan orang-orang di loby saat ia keluar dari dalam lift. Yang ia inginkan adalah pergi menjauh dari tempat itu secepatnya. Sedang Bara berusaha mengejar Sadira dengan menggunakan tangga darurat. Namun langkahnya kurang cepat, karena saat tiba di depan hotel ia sudah tidak menemukan Sadira dimana-mana. Bara mendengus kesal, ia kecolongan. Bagaimana bisa ia yang tadi berada di rumahnya sendiri bisa berpindah ke dalam kamar hotel?
"Dasar ular licik! lihat saja... aku tidak akan menyerah... kamu belum tahu berhadapan dengan siapa saat ini Naya! sebentar lagi kamu akan melihat siapa Bara yang sebenarnya dan aku pastikan kamu akan menyesal!" batin Bara.
Ia pun segera menghubungi kedua sahabatnya dengan bantuan resepsionis hotel. Sambil menunggu keduanya tiba untuk menjemputnya, Bara menggunakan kesempatan itu untuk menginterogasi karyawan disana bagaimana ia bisa masuk ke dalam hotel dalam keadaan tidak sadar. Awalnya cukup sulit, namun setelah ia membawa nama sang ayah maka informasi yang dibutuhkannya pun mengalir dengan sendirinya. Bagaimana tidak... sebab ternyata hotel tersebut adalah milik sang ayah.
"Dasah rubah bodoh... ingin menjebakku tapi malah menggunakan hotel milik papaku..." batin Bara dengan senyum dingin.
Sementara Sadira tengah melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Ia seakan tidak perduli dengan sekitarnya karena merasakan kesakitan yang sangat didalam hatinya. Air matanya pun tak henti menetes di kedua pipinya. Matanya pun mulai berkabut membuat pandangannya buram. Dan tiba-tiba saja...
Brak!
__ADS_1
Sadira tak bisa mengelak saat didepannya melintas sebuah mobil box yang membuatnya langsung membanting stang motornya ke kiri dan akhirnya menabrak pembatas jalan. Untung saja motornya menabrak ke semak-semak yang ada di pinggir jalan. Jadi meski merasakan sakit namun Sadira tak mengalami luka parah. Hanya lecet di beberapa bagian tubuhnya. Sedang motornya nyungsep di semak-semak. Sadira yang terlempar dari atas motornya dan jatuh tak jauh dari motornya mencoba bangkit untuk meminta bantuan. Tertatih ia mencoba berjalan ke pinggir jalan dan mencoba mencegat kendaraan yang lewat. Beruntung tak lama sebuah mobil lewat dan saat melintas di depannya mobil itu pun segera berhenti.
"Dira!" seru seseorang dengan suara cemas dari dalam mobil tersebut.