
Ayana dan Deni masih tercenung saat keduanya ada di dalam taksi saat perjalanan pulang. Sungguh mereka tidak menyangka jika mamanya akan memberikan warisan begitu besar pada keduanya. Bahkan mungkin apanyang sudah dikumpulkan oleh sang mama selama ini setara dengan kekayaan papa mereka beserta keluarganya. Tapi mengapa sang mama malah menyembunyikannya dan tetap bertahan dengan sang papa? padahal jika ia mau ia bisa meminta berpisah dan bisa hidup mewah dengan uang yang dimilikinya? amanat... ya amanat dari oma Ratri yang sangat dipegang teguh oleh Siska membuat wanita itu tetap bertahan selain tentu saja kedua anaknya.
"Kak... apa yang akan kita lakukan sekarang? apa kita akan menggunakan uang itu?" tanya Deni setelah beberapa saat keduanya terdiam di dalam taksi.
"Iya dek... kita akan menggunakannya untuk biaya sekolah kita dek... karena rasanya kakak sudah tidak ingin menerima apa pun dari papa dan juga oma..." ungkap Ayana.
"Aku setuju kak... tapi aku juga ingin pergi dari rumah kak... sakit rasanya tinggal di rumah tempat mama meregang nyawa..."
"Bagaimana jika kita pindah ke sekolah asrama? jadi kita tidak perlu tinggal di rumah oma..." usul Ayana.
"Aku setuju kak... lagi pula ini sudah akhir semester... jadi kita bisa langsung mendaftar setelah mengurus surat pindah..."
Kedua kakak beradik itu pun saling tersenyum berharap rencana mereka bisa berjalan lancar hingga mereka berdua bisa meraih cita-cita tanpa uluran tangan dari Rendra dan juga keluarganya.
Sementara di dalam selnya, Jihan masih menyusun rencana agar bisa segera terbebas dari dalam sana. Para tahanan yang lain tampak sudah tertidur dengan lelap. Tapi tidak dengan Ayana. Ia masih terus saja berfikir dan merancang pelariannya. Ya, pelarian... karena setelah semua bukti yang diberikan oleh Ayana dan Deni tidak mungkin ia akan lolos dari jerat hukum jika sudah masuk pengadilan. Maka dari itu ia harus mencari cara untuk melarikan diri. Setelah itu ia akan membalas perbuatan dua bocah tengil yang sudah menggagalkan rencananya selama ini. Jihan tersenyum sinis saat dikepalanya sudah tersusun rencana yang ia fikir sangat sempurna untuk membalaskan dendamnya pada kedua anak Siska. Wanita yang telah menghancurkan impiannya belasan tahun lalu. Dan kini kedua anaknya juga kembali melakukannya. Karena itu ia harus memberikan balasan yang setimpal untuk kedua kakak beradik itu.
"Tunggu saja bocah... akan tiba saatnya kalian juga merasakan apa yang mama kalian rasakan saat meregang nyawa... lalu kalian akan berkumpul bersama di neraka!" batin Jihan sambil mengepalkan telapak tangannya.
Di rumahnya, bu Hasna tampak kembali termenung... sejak sore tadi kedua cucunya keluar dan belum juga pulang. Entah pergi kemana kedua kakak beradik itu pergi. Sejak kejadian di acara pernikahan Rendra yang membuat pernikahan putranya itu batal, Ayana dan Deni semakin bersikap dingin. Keduanya seolah meluapkan kemarahan mereka atas sikap dirinya dan juga Rendra selama ini pada Siska. Meski tidak berteriak dan memaki dirinya tapi bu Hasna tahu kedua cucunya itu belum mau memaafkannya. Apa lagi ia akui jika ia belum meminta maaf secara benar pada keduanya. Dan saat ini ia merasa saatnya yang tepat baginya untuk meminta maaf pada Ayana dan Deni atas namanya sendiri dan juga Rendra.
Terdengar suara langkah beberapa kaki yang memasuki rumah... membuat bu Hasna yang sedang berada di ruang keluarga pun langsung menoleh ke arah pintu masuk. Terlihat Ayana dan Deni melangkah masuk ke dalam rumah.
"Kalian dari mana saja? kenapa sore sekali baru pulang hem?" tanya bu Hasna dengan suara lembut.
Baru kali ini Ayana mendapatkan perlakuan selembut ini dari bu Hasna. Apa karena ada Deni yang saat ini juga bersamanya?
"Ay? kalian berdua pergi kemana?" tanya bu Hasna lagi pada Ayana masih dengan suara lembut.
"Eum... kami dari kafe oma..." sahut Ayana canggung.
"Kafe? kalian kenapa kesana?"
"Hanya ingin menghabiskan waktu berdua dengan Deni, oma..."
__ADS_1
"Baiklah... lebih baik kalian berdua cepat berganti pakaian, sebentar lagi kita makan malam bersama..."
"Baik..." sahut Ayana dan Deni serempak.
Keduanya pun langsung berlalu dan melangkah ke kamar mereka masing-masing.
"Kak... aku merasa oma bertingkah aneh..." ucap Deni saat keduanya sampai didepan kamar mereka masing-masing.
"Aneh?" tanya Ayana tak mengerti.
"Ya... kau tidak lihat tadi? dia bersikap ramah padamu... apa dia sedang berusaha membujuk kita untuk mencabut laporan pada papa?" ungkap Deni yang membuat Ayana tercenung.
Benar... selama ini sang nenek tak perbah bersikap baik padanya dan lebih sering ketus. Jika tidak ada maunya, lalu apa?
"Entahlah dek... tapi jika benar demikian maka itu akan sia-sia... karena sampai kapan pun akau akan mencari keadilan untuk mama..." ucap Ayana tegas.
"Benar kak... kita tidak boleh luluh... karena seberat apa pun nanti hukuman yang akan diterima papa itu tidak sebanding dengan kesakitan yang selama ini mama derita... apa lagi kesakitan saat dia meregang nyawa... aku sungguh tidak bisa memaafkannya... dia... suami yang seharusnya membela dan melindungi istrinya malah justru sebaliknya... memfitnah dan menyiksa mama..."
"Dek..."
"Jangan menyalahkan dirimu dek... kau masih kecil... walau bagaimana pun kekuatan kita tidak akan sama dengan para orang dewasa..." sahut Ayana sambil memeluk tubuh sang adik yang sudah bergetar karena menangis.
"Ingat apa kata mama... kita harus hidup dengan bahagia dan saling membantu karena hanya ada kita berdua... tidak ada yang lain... mereka, papa dan juga oma hanya berlabel keluarga bagi kita dek... bukan sesungguhnya... karena itu kita harus bersatu agar selalu kuat untuk menjalani semuanya dan bisa mewujudkan cita-cita kita agar mama bisa berbangga pada kita..." sambung Ayana panjang lebar.
Kedua kakak beradik itu pun saling berpelukan cukup lama, sebelum akhirnya keduanya pun masuk ke dalam kamar mereka masing-masing. Setelah membersihkan diri mereka pun melaksanakan sholat maghrib berjamaah di kamar Ayana. Setelahnya mereka berdo'a bersama untuk sang mama. Keduanya benar-benar melakukan apa yang dikatakan oleh Sadira jika mama mereka kini hanya membutuhkan do'a dari keduanya agar dilapangkan kuburnya dan diampuni segala dosanya semasa hidup. Hanya ini yang bisa keduanya lakukan untuk menunjukkan rasa cinta dan sayang mereka pada sang mama. Selesai dengan kegiatan mereka, baru kemudian keduanya pergi ke ruang makan untuk makan malam.
Di sana tampak bu Hasna yang sudah menunggu keduanya sejak tadi. Meski merasa agak kesal karena kedua cucunya itu begitu lama sampai ke ruang makan, namun bu Hasna tidak ingin menunjukkannya. Apa lagi ia memang sudah berniat untuk memperbaiki hubungannya dengan kedua cucunya itu semenjak kematian Siska. Terutama hubungannya dengan Ayana yang memang sejak dulu tidak dekat dengan anak itu. Bahkan bisa dikatakan jika sejak dulu bu Hasna dan Rendra sama sekali tidak bersikap adil pada Ayana hanya karena gadis itu sangat mirip dengan Siska.
"Ayo kita makan sekarang... kalian berdua pasti sudah laparkan?" ucap bu Hasna lembut saat Ayana dan Deni sudah duduk di tempat mereka masing-masing.
Kedua kakak beradik itu pun menurut. Kemudian mereka pun mulai makan bersama. Tidak ada pembicaraan saat mereka makan hanya bunyi denting sendok yang mengurai kesunyian di meja makan itu. Selesai makan malam, Ayana mencoba berbicara dengan bu Hasna untuk pertama kalinya.
"Maaf oma... bisakah kami bicara dengan oma sebentar?"
__ADS_1
Bu Hasna pun langsung menatap Ayana dengan pandangan heran.
"Tentu saja Ay... apa yang ingin kalian bicarakan?"
"Kami ingin masuk sekolah asrama oma..." terang Ayana yang diangguki oleh Deni.
Bu Hasna langsung terdiam. Ia terkejut dengan pernyataan kedua kakak beradik itu yang ingin pindah sekolah tiba-tiba. Bahkan Ayana baru dua semester berada di sekolahnya saat ini.
"Kenapa kalian ingin pindah sekolah tiba-tiba?" tanya bu Hasna.
Sesungguhnya ia sudah menduga-duga alasan kedua anak itu ingin pindah ke sekolah asrama. Tapi ia berusaha menepisnya meski sangat terlihat jika keduanya tampak berbeda sejak kematian Siska. Apa lagi setelah semua kejahatan Rendra dan juga Jihan serta ayahnya terungkap. Meski bukan Rebdra penyebab kematian Siska tapi tetap saja pria itu telah ikut andil memfitnah dan menyiksa Siska.
"Kami hanya ingin fokus sekolah oma..." sahut Ayana singkat.
"Apa bukan karena masalah mama dan papa kalian?"
"Itu juga salah satunya" sahut Deni tanpa mau menutupi semuanya.
Bu Hasna hanya bisa menghela nafas pelan. Belum sempat ia mengutarakan permohonan maafnya, kini malah kedua anak itu ingin meninggalkan rumah dengan alasan sekolah asrama. Tapi ia juga tidak bisa memaksa... semua sudah menjadi bubur, kesalahanya dan juga Rendra memang sulit untuk dimaafkan. Mungkin saja Ayana dan Deni trauma atas kematian Siska yang tragis, membuat keduanya tidak bisa tinggal di rumah itu lebih lama. Setelah berfikir sejenak, Bu Hasna pun hanya bisa mengiyakan keinginan kedua cucunya itu.
Ayana dan Deni terlihat sangat senang. Keduanya bahkan langsung mengatakan jika kedua ingin agar semester baru nanti mereka sudah bisa masuk ke sekolah barunya. Setelah mengungkapkan keinginannya keduanya pun kembali ke dalam kamar karena besok mereka juga harus kembali berangkat ke sekolah. Bu Hasna kembali melamun setelah Ayana dan Deni masuk ke kamar mereka masing-masing. Inikah karmanya karena sudah berbuat dholim pada Siska selama hidupnya? ditinggalkan seorang diri meski dirumah yang megah dan kesepian di usia senjanya. Padahal dulu ia berharap dengan Rendra menikah dengan Jihan maka ia akan kembali memiliki cucu yang bisa menambah ramai rumah besarnya. Karena Rendra putra tunggal dan dia rasa dua orang cucu masih kurang cukup membuat keluarganya ramai. Tapi apa mau dikata... perempuan yang dipuja-pujanya untuk menjadi sosok menantu impian ternyata merupaka iblis yang berbentuk manusia.
Sejak masuk kembali ke sekolah setelah kejadian heboh saat ayahnya batal menikah, Ayana dan Sadira semakin akrab. Namun saat Ayana mengatakan jika ia akan pindah sekolah ke sekolah asrama membuat Sadira terkejut dan sedih. Bagaimana tidak... belum ada satu tahun mereka bersama dan kini mereka akan kembali berpisah. Apa lagi selama waktu yang singkat itu mereka berdua sudah mengalami banyak hal. Terutama saat akan mengungkap kematian mamanya Ayana.
"Apa kau benar-benar sudah memikirkan apa yang akan kau lakukan itu Ay?" tanya Sadira dengan sendu.
"Iya Ra... kau tahu, aku dan Deni setiap hari merasa tercekik saat melewati kamar mama... bayang-bayang saat bersama mama disaat terakhirnya yang sangat mengenaskan membuat kmai tidak bisa untuk melanjutkan hidup disana" terang Ayana dengan mata yang sudah mengembun.
"Maafkan aku Ay... aku tahu pasti kamu dan Deni sangat tertekan disana..." ucap Sadira sambil memeluk sahabatnya itu.
"Jika dengan keluar dari rumah itu membuat kalian bahagia... aku hanya bisa menudukung kalian... tapi satu hal Ay... jangan lupakan aku... dimana pun kau berada, aku tetaplah sahabatmu" sambung gadis itu.
"Iya Ra... kamu akan selalu menjadi sahabatku selamanya..." sahut Ayana sambil tersenyum saat mengurai pelukannya.
__ADS_1
.................
Mohon maaf jika upnya lama... karena saat ini aku masih dalam keadaan tidak sehat.... mohon do'a dan dukungannya... terutama like, komen dan votenya untuk penyemangat... LUV You All...