
"Ikut aku Ra!" kata tuan Sam sambil menggandeng tangan Amira agar gadis itu mau mengikutinya.
Keduanya pun berjalan ke halaman belakang tempat mereka bisa berbicara dengan lebih leluasa.
"Ada apa?" tanya Amira saat keduanya sudah berdiri di dekat kolam ikan yang ada di sana.
"Besok pagi aku akan kembali ke London untuk mengurus masalah perusahaanku di sana" kata tuan Sam.
Amira yang terkejut tak bisa berkata-kata. Ia masih mencerna maksud dari perkataan tuan Sam. Bagaimana ia tidak terkejut dengan perkataan tuan Sam, sebab baru saja pria itu mengajaknya untuk menikah namun tiba-tiba saja pria itu juga bilang akan pergi meninggalkannya.
"Apa kau akan lama di sana?" tanya Amira setelah ia dapat menguasai rasa terkejutnya.
"Aku tidak akan lama, hanya mengurus segala sesuatunya disana agar aku bisa segera menetap kembali disini dan menikahimu" ucap tuan Sam sambil menggenggam tangan gadis chubby itu.
Amira menundukkan kepalanya mendengar ucapan tuan Sam yang membuat hatinya menghangat.
"Aku sudah bicara pada Sarah tentang rencana pernikahan kita" sambungnya.
Amira langsung mendongakkan kepalanya menatap tuan Sam tak percaya jika pria itu sudah membahas semuanya dengan nyonya Sarah.
"Aku sengaja memintanya untuk membantu persiapan pernikahan kita agar nanti saat aku pulang dari London kita bisa segera menikah" kata tuan Sam lagi.
"Apa kau sudah yakin akan menikah denganku B?" tanya Amira.
"Kenapa? apa kau belum yakin dengan keseriusannku?" tanya tuan Sam balik.
"Bukan begitu tapi apa kau yakin jika kau akan menghabiskan hidupmu denganku yang..."
"Cukup Meyaa..." potong tuan Sam.
"Aku menikahimu karena aku mencintaimu. Dan aku mencintaimu bukan karena fisik atau pun latar belakangmu" ucap tuan Sam lembut.
Ia tahu jika gadisnya itu sedang berada pada situasi krisis percaya diri.
"Tapi apa kau tidak malu jika semua orang tahu jika aku yang akan menjadi istrimu tidak seperti para wanita yang selama ini ada di sekelilingmu?".
"Memang wanita yang mengelilingiku itu seperti apa?" tanya tuan Sam menggoda Amira.
"Yah mereka pasti cantik dan seksi serta dari keluarga yang terhormat"
"Memang terhormat itu atas dasar apa? kekayaan?" tanya tuan Sam.
"Tidak Amira ... menurutku kau juga dari keluarga terhormat karena ayah dan ibumu sudah berhasil mendidikmu menjadi wanita yang mandiri dan sholehah" sambung tuan Sam.
Amira menatap mata pria yang telah membuatnya jatuh hati itu. Hanya ketulusan dan kejujuran yang terpancar disana.
"Sudah ... jangan berfikiran macam-macam kita jalani saja semuanya apa adanya" kata tuan Sam lagi yang membuat hati Amira menjadi tenang.
Lalu keduanya pun masuk kembali ke dalam rumah. Dan ternyata nyonya Sarah sedang menunggunya di ruang keluarga. Melihat Amira yang datang dengan kakaknya, nyonya Sarah pun mulai tersenyum jahil.
"Kalian dari mana?"
"Dari belakang" jawab tuan Sam.
"Kakak jadi berangkat besok?" tanya nyonya Sarah lagi setelah Amira dan tuan Sam ikut duduk bersamanya.
"Hemm iya ... aku harus segera menyelesaikan semua urusanku di sana" terang tuan Sam.
__ADS_1
"Sebaiknya kakak jangan terlalu lama perginya nanti calon istrimu ini bisa-bisa di rebut orang lain" ucapnya sambil terkekeh.
"Kau ini kalau ngomong yang bener!" ucap tuan Sam sambil melempar bantal kearah nyonya Sarah.
Amira pun hanya bisa tersenyum melihat tingkah keduanya yang terkadang bertingkah layaknya anak kecil. Tak terasa malam pun menjelang dan saat ini adalah makan malam terakhir Amira bersama tuan Sam sebelum besok pagi pria itu berangkat ke London. Suasana makan malam yang cukup tenang membuat Amira semakin merasa sendu mengingat mulai besok ia tak bisa lagi bertemu dengan pujaan hatinya itu. Setelah mengantarkan anak asuhnya untuk tidur, Amira pun beranjak ke kamarnya.
Langkah Amira terasa sangat berat, ingin rasanya ia menemui tuan Sam dan mengatakan padanya jika ia tidak ingin ditinggalkan oleh pria itu walau sebentar. Namun ia sadar itu tidak mungkin ia lakukan.
"Jangan lebay Amira!!" gumamnya dalam hati sambil tangannya memukul pelan kepalanya sendiri.
"Ck... kenapa aku bisa jadi bucin begini?" keluhnya dalam hati.
Dengan perlahan di bukanya pintu kamarnya dan ia pun langsung merebahkan dirinya di kasur setelah ia menutup pintu kamar. Amira memejamkan matanya dan menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia tidak dapat tidur saat ini. Kemudian ia pun membuka matanya karena teringat ia belum sholat. Bergegas ia ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan segera mengerjakan sholatnya. Setelah itu ia pun kembali merebahkan tubuhnya di kasur. Entah kenapa ia tak juga bisa tidur. Amira mendesah pelan baru kali ini ia merasakan hal seperti ini, rasanya dadanya seperti sesak dan seakan mau meledak karenanya.
Karena suntuk akhirnya Amira memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di taman belakang. Dipandangnya rembulan yang kebetulan sedang purnama. Tanpa ia sadari ada seseorang yang mendekatinya dan memeluknya dari belakang. Kaget dengan hal itu secara reflek Amira pun menyikut orang itu dan menarik lengan orang itu dan dengan sekuat tenaga Amira membanting tubuh orang itu.
"Arrgh!!" teriak orang itu saat tubuhnya mendarat keras diatas tanah.
"Tu... tuan Sam?" ucap Amira terbata hingga memanggil tuan Sam dengan sebutan tuan saat melihat pria itu tergeletak di atas tanah sambil meringis menahan sakit ditubuhnya.
"Ma... maaf aku tidak sengaja tadi" ucap Amira lagi sambil berusaha menolong tuan Sam dengan menarik tubuh tuan Sam agar bisa berdiri.
Kemudian dipapahnya tuan Sam dan dibawanya ke kursi yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri lalu mendudukkannya di sana.
"Mana yang sakit?" tanya Amira sambil memandang tuan Sam dengan pandangan rasa bersalah.
"Semua" kata tuan Sam singkat.
"Aku ambilkan obat dulu" kata Amira akan beranjak pergi.
"Tidak usah... cukup kau disini saja" ucapnya.
"Kenapa tadi kau tiba-tiba memelukku dari belakang?" tanya Amira memandang tuan Sam penuh selidik.
"Tadi dari kamarku aku melihatmu berjalan disini sendirian jadi aku fikir aku akan menghabiskan waktu sejenak denganmu" terang tuan Sam.
"Tapikan tak perlu pakai peluk-peluk segala" sergah Amira sambil memcebik.
"Ya ... aku fikir itu akan romantis... tidak tahunya kau malah membantingku" sungut tuan Sam.
"Maaf...." ucap Amira lagi sambil memandang tuan Sam dengan pandangan puppy eye.
"Ah sudahlah... mungkin keberangkatanku ditunda saja" kata tuan Sam.
"Kenapa?" tanya Amira tak mengerti.
"Ya mungkin saja ada tulangku yang retak karena perbuatanmu tadi" kata tuan Sam sambil terus meringis.
"Tapi rasanya itu tidak mungkin B ... kau kan cuma terpelanting" sanggah Amira.
"Dari mana kau bisa yakin?" ucap tuan Sam ngeyel.
"Itu..." Amira tak melanjutkan kalimatnya karena saat itu juga nyonya Sarah datang.
"Kakak kenapa?" tanyanya namun dapat terlihat dengan jelas jika ia sedang berusaha menahan tawanya.
"Jatuh" jawab tuan Sam singkat.
__ADS_1
"Kenapa bisa jatuh?" tanya nyonya Sarah pura-pura polos.
"Terpeleset" jawab tuan Sam lagi.
"Kok bisa?" tanya nyonya Sarah lagi.
"Ya bisalah... cerewet!!" jawab tuan Sam kesal.
"Terpeleset atau..." kata nyonya Sarah menggantung.
"Sudah ... aku mau ke kamar badanku sakit semua..." kata tuan Sam berdiri dan beranjak pergi.
Begitu tuan Sam sudah masuk ke dalam rumah nyonya Sarah pun tak dapat lagi menahan tawanya dan dia pun tertawa hingga keluar air mata.
"Sudah kak..." kata Amira melihat tingkah nyonya Sarah.
"Memang kakak tahu kalau tuan Sam tidak jatuh?" tanya Amira.
Nyonya Sarah mengangguk.
"Tadi tidak sengaja aku melihat saat kau membanting kak Sam...." ucapnya setelah berhenti tertawa.
"Kakak... maaf saat itu aku tidak sengaja" kata Amira sambil menundukkan wajahnya.
"Jangan minta maaf sama aku Ra.." kata nyonya Sarah sambil tersenyum.
"Apa tuan Sam akan marah lama?" tanya Amira takut-takut.
"Entahlah... lebih baik kau coba untuk meminta maaf saja dulu" nasehat nyonya Sarah.
Amira pun mengangguk.
"Kalau begitu aku akan minta maaf sekarang saja ya kak..." kata Amira meminta ijin pada nyonya Sarah.
"Iya sana... tapi jangan lama-lama di kamar kak Sam... takut ada setan lewat" bisik nyonya Sarah sambil mengerlingkan matanya nakal dan melangkah ke arah kamarnya meninggalkan Amira yang mematung setelah mendengar perkataan nyonya Sarah.
Setelah berfikir cukup lama dan dengan menimbang segala hal akhirnya Amira memutuskan untuk minta maaf kepada tuan Sam. Apalagi besok pria itu sudah akan bertolak ke London. Amira tak ingin ada masalah diantara mereka sebelum berpisah. Dengan dada yang berdebar kencang dan sedikit keberanian Amira mengetuk kamar tuan Sam berharap jika pria itu juga belum tidur. Cukup lama Amira mengetuk pintu itu hingga akhir terbuka dari dalam.
"Ada apa?" tanya tuan Sam datar begitu menampakkan wajahnya didepan Amira.
"Anu... aku..." kata Amira terbata saat dilihatnya wajah datar tuan Sam yang menandakan jika pria itu sedang dalam mode merajuk.
"Apa?" tanya tuan Sam lagi.
"Aku minta maaf... soal tadi aku benar-benar tidak sengaja" ucapnya sambil menunduk dan meremas ujung kerudungnya.
Terdengar suara laki-laki dihadapan Amira itu mendesah kasar. Sepertinya ia juga sedang berusaha menahan amarahnya karena kejadian tadi.
"Sungguh aku tidak sengaja ... aku tidak tahu jika itu kamu" ucap Amira lagi kini dengan mata yang sudah berkaca-kaca sambil menatap tuan Sam.
Tuan Sam terdiam ia menatap Amira yang kini sudah menundukkan wajahnya lagi. Tiba-tiba ia pun memeluk gadis itu dengan erat.
"Aku juga minta maaf sudah membuatmu kaget" bisiknya sambil mempererat pelukannya.
"Aku antar ke kamar ya?" ucapnya setelah keduanya melepas pelukan masing-masing.
Amira pun mengangguk setuju.
__ADS_1