BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Luka


__ADS_3

Amira terdiam dalam pelukan tuan Sam.


"Sarah tidak apa-apa Ra... kau jangan khawatir" ucap tuan Sam.


Dibalikkannya tubuh Amira untuk menghadap kearah nyonya Sarah yang baru saja tersadar dan ditolong oleh tuan Bram. Amira menatap nyonya Sarah nanar takut jika yang ia lihat hanya tipuan.


"Ra..." panggil nyonya Sarah.


"Kakak...." ucap Amira langsung melepaskan pelukan tuan Sam dan menghampiri nyonya Sarah. Nyonya Sarah tersenyum.


"Aku ga pa-pa Ra..." ucapnya.


"Aku takut kak..." kata Amira sambil memeluk nyonya Sarah.


Nyonya Sarah mengelus punggung Amira lembut. Ia tahu gadis yang kini sudah resmi menjadi kakak iparnya itu sangat mengkhawatirkan dirinya sampai tak menghiraukan keselamatan dirinya sendiri.


"Lain kali jangan bertindak sendiri ya... lihatlah kau terluka...." ucap nyonya Sarah sambil mengelus kepala Amira yang hijabnya sudah berubah warna karena darah yang mulai mengering.


"Kau harus ingat Ra... sekarang kau milik suamimu jadi mintalah selalu ijin padanya" sambungnya.


Amira menundukkan kepalanya, ia tahu jika tadi ia terlalu menuruti emosinya karena khawatir pada nyonya Sarah hingga langsung bertindak tanpa memberitahu pada tuan Sam yang sekarang adalah suaminya. Amira pun membalikkan badannya dan menghampiri tuan Sam.


"Maafkan aku..." ucapnya pada suaminya itu.


Tuan Sam langsung memeluk tubuh Amira.


"Jangan seperti ini lagi... aku sangat takut jika terjadi sesuatu padamu" kata tuan Sam.


Amira hanya mengangguk pelan. Saat ia mengurai pelukannya pada tuan Sam dari sudut matanya Amira melihat pergerakan dari Mela yang berusaha bangkit dan mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. Dengan reflek ia pun segera mendorong tubuh suaminya ke samping dan menjadikan tubuhnya sendiri sebagai tameng. Saat itulah terdengar suara tembakan. Amira merasakan sesuatu yang tajam dan panas menembus tubuhnya. Ia dapat melihat dengan jelas wajah panik dari suaminya dan wajah itu seketika kotor terpercik warna merah dari darahnya yang keluar akibat luka tembak yang diterimanya. Tak berselang lama terdengar kembali suara tembakan beruntun dan Amira sudah mulai terkulai lemas dalam pelukan suaminya.


Tubuh Mela jatuh tersungkur saat tiga tembakan yang bersarang ditubuhnya. Bahkan salah satunya tepat mengenai keningnya. Ternyata itu tindakan polisi yang tiba saat Mela menembak Amira dan hendak mengulanginya pada nyonya Sarah. Setelah melihat targetnya tersungkur salah satu petugas polisi pun langsung memeriksa kondisi Mela yang ternyata sudah tewas. Sedangkan Amira yang masih dalam pelukan tuan Sam berusaha untuk menghapus noda darah pada wajah suaminya itu dengan tangannya yang bergetar.


"Ra..." ucap tuan Sam tercekat melihat kondisi istrinya itu.


Tampak Amira yang sedang berusaha untuk mengatakan sesuatu namun bukan suara yang keluar dari mulutnya tapi darah.


"Jangan bicara dulu sayang... kita ke rumah sakit" ucap tuan Sam dengan air mata yang menetes berusaha menggendong istrinya.


Untung saja petugas medis juga ikut datang bersama dengan petugas kepolisian sehingga saat tuan Sam akan membopong Amira mereka langsung menyambutnya dan meletakkan Amira ke atas brankar yang mereka bawa. Kemudian mereka pun membawa Amira ke dalam ambulance bersama tuan Sam. Sedang nyonya Sarah yang hanya lemas karena pengaruh obat bius mengikuti ambulance yang membawa Amira dari belakang bersama suaminya dan Lukas menggunakan mobil. Sedang tubuh Mela langsung dimasukkan dalam kantong jenazah dan diangkut dengan mobil pick up petugas polisi.

__ADS_1


Selama dalam perjalanan ke rumah sakit petugas medis berusaha memberikan pertolongan pertama pada Amira. Sedangkan tuan Sam hanya bisa memandang tanpa bisa membantu. Ini kali kedua ia mengalami hal seperti ini karena dulu ia juga mengalaminya saat Karina tunangannya dulu kecelakaan dan akhirnya meninggal. Namun kali ini rasanya lebih sakit. Ia juga merasa tak ingin melanjutkan hidupnya jika sesuatu terjadi pada Amira.


Sesampainya di rumah sakit tampak tim medis telah menunggu mereka di depan pintu IGD dan tanpa menunggu waktu lagi segera mereka memindahkan tubuh Amira ke atas brankar rumah sakit dan membawanya ke dalam. Setelah mendengarkan diagnosa awal dari petugas ambulance para dokter yang menangani Amira pun memutuskan untuk segera melakukan operasi pengangkatan proyektil peluru dari tubuh Amira. Perawat pun langsung memberikan formulir persetujuan operasi pada tuan Sam agar segera ditandatangani. Tanpa bertanya lagi tuan Sam langsung menandatanganinya. Nyonya Sarah dan suaminya berserta Lukas yang baru datang langsung menghampiri tuan Sam yan masih berdiri di depan ruang tindakan operasi.


"Kakak..." panggil nyonya Sarah langsung memeluk tubuh kakaknya.


"Dia di dalam Sar... mereka sedang mengeluarkan peluru dari dalam tubuhnya...." terang tuan Sam membalas pelukan adiknya.


"Yang sabar kak... do'akan yang terbaik untuknya..." ucap nyonya Sarah berusaha menguatkan kakaknya.


"Maafkan aku kak... karena aku perempuan itu selalu menyakiti keluarga kita..." kata tuan Bram saat nyonya Sarah sudah melepaskan pelukannya pada tuan Sam.


"Aku juga salah Bram... seharusnya aku biarkan kau membunuhnya saat itu..." ucap tuan Sam sambil duduk di bangku tunggu.


"Tapi jika sejak awal aku tidak melakukan kesalahan..."


"Sudah mas... jangan menyalahkan dirimu lagi" kata nyonya Sarah yang tahu jika suaminya kini sudah bertobat memperbaiki sikapnya.


Lalu ia pun menuntun tuan Bram dan mengajaknya duduk bersebelahan dengan tuan Sam. Sedangkan Lukas masih berdiri memperhatikan kesedihan keluarga tuannya.


"Kau sudah memberitahu bu Wati?" tanya tuan Bram pada Lukas.


"Sudah tuan... anak-anak masih bersamanya di hotel" jawab Lukas.


"Tapi kak..."


"Dengarkan aku Sarah ... hanya kau yang bisa menenangkan mereka berdua, jadi pulanglah dengan suamimu" kata tuan Sam lagi.


"Baiklah kak kami pulang dulu..." pamit tuan Bram tak ingin membantah sambil menggandeng nyonya Sarah.


Nyonya Sarah pun akhirnya menurut dan mengikuti suaminya pulang. Tak berapa lama datang kurir yang mengantarkan pesanan Lukas. Lalu ia pun menghampiri tuannya dengan membawa paper bag dan mengangsurkannya pada tuannya.


"Tuan gantilah baju tuan ...." ucapnya.


Tuan Sam memandangi bajunya sendiri. Tampak jika pakaian pengantin yang digunakannya sudah kotor dengan noda darah Amira. Ia pun mengangguk dan meraih paper bag dari tangan Lukas.


"Terima kasih... tolong kau jaga sebentar aku akan segera kembali" ucap tuan Sam yang diangguki oleh Lukas.


Tuan Sam segera membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian. Saat akan kembali ke ruang operasi ia melihat musholla yang ada disebelah rumah sakit. Ia pun langsung mengarahkan langkahnya kesana. Setelah melaksanakan sholat dhuhur yang terbilang akhir ia pun menengadahkan tangannya untuk berdo'a. Hanya keselamatan dan kesembuhan untuk Amira yang ia pinta. Karena ia tak tahu apa ia masih bisa menjalani hidupnya jika tanpa Amira disisinya. Selesai berdo'a tuan Sam pun segera kembali ke ruang operasi. Di depan ruangan itu terlihat Lukas masih setia menunggu.

__ADS_1


"Lukas apa sudah ada perkembangan?" tanya tuan Sam.


"Belum tuan... dari tadi belum ada yang keluar dari dalam sana" sahut Lukas.


Tuan Sam pun duduk disebelah Lukas. Keduanya terdiam larut dalam fikiran mereka masing-masing. Entah sudah berapa lama mereka menunggu di sana. Namun bertepatan dengan suara azan ashar pintu ruang operasi itu akhirnya terbuka. Tampak dua dokter yang menangani Amira keluar dari dalam ruang operasi bersama beberapa perawat.


"Bagaimana dokter?" tanya tuan Sam.


"Begini tuan... peluru yang bersarang di tubuh nyonya Amira sudah berhasil kami keluarkan dan untungnya peluru itu tidak mengenai organ vitalnya" ucap dokter Edi.


"Namun ternyata ada penggumpalan darah pada kepalanya akibat pukulan benda tumpul sehingga kami harus kembali mengoperasinya untuk mengangkat gumpalan itu" sambungnya.


"Karena itulah operasi yang kami lakukan memakan waktu lama"


"Jadi bagaimana keadaan istri saya sekarang dokter?" tanya tuan Sam.


"Untuk saat ini kondisi istri tuan dalam keadaan stabil namun kami masih harus tetap mengawasinya karena bisa saja tiba-tiba kondisinya menurun..." kata dokter Edi.


"Untuk saat ini kita hanya bisa berdo'a agar kondisi nyonya Amira tetap stabil dan bisa segera sadar" lanjutnya.


"Apa sekarang saya sudah bisa melihatnya dok?" tanya tuan Sam.


"Bisa tuan tapi setelah nyonya Amira dipindahkan ke ruang perawatan" sahut dokter.


Lalu para dokter pun meninggalkan tuan Sam dan Lukas. Tak lama pintu ruang operasi kembali terbuka dan tampak para perawat mendorong brankar yang membawa tubuh Amira menuju ruang perawatan. Tuan Sam dan Lukas pun segera mengikuti mereka. Amira langsung dibawa ke ruang perawatan vvip yang sudah di pesan oleh tuan Sam. Setelah mendapat ijin dari dokter tuan Sam langsung menemani Amira di ruang perawatan. Ditatapnya wajah Amira yang masih tampak pucat. Selang infus dan alat bantu pernafasan masih menancap di tubuh istrinya itu. Dengan sedikit bergetar di sentuhnya wajah Amira lembut.


"Terima kasih Ra ... kau sudah menyelamatkan nyawaku juga Sarah..." bisiknya lembut ditelinga Amira.


Ia berharap istrinya itu akan mendengar semua perkataannya walau belum bisa bereaksi. Tiba-tiba setetes air mata keluar dari mata Amira walau pun kedua kelopak matanya tertutup. Tuan Sam yang melihat itu pun tersenyum perih, ia tahu jika istrinya dapat mendengar suaranya.


"Jangan menangis Ra... kau yang kuat dan segera bangunlah" ucap tuan Sam lagi berusaha memberi dorongan pada Amira.


Diciumnya kening Amira dalam. Rasanya sangat sakit melihat orang terkasihnya terbaring lemah tak berdaya. Ini kedua kalinya ia melihat Amira dalam keadaan seperti ini. Namun kali ini entah mengapa ia merasa sangat takut hingga berbagai fikiran buruk selalu melintas dibenaknya. Kini hanya kekuatan do'a yang dapat ia andalkan untuk meminta kesembuhan Amira. Sementara Amira yang terbaring lemah entah mengapa tak dapat menggerakkan tubuhnya bahkan hanya untuk membuka mata pun ia tak bisa. Padahal sejak tadi ia sudah tersadar hingga ia pun dapat mendengar semua perkataan suaminya yang semakin membuat hatinya teriris karena tak dapat menjawab dan menyentuh suaminya untuk menenangkan hatinya. Karena itulah air matanya mengalir. Hanya air mata yang menjadi pertanda bagi suaminya jika ia masih bisa mendengar semuanya.


"Ya Allah ... ujian apa lagi ini?" ucapnya dalam hati.


"Maafkan aku ... jika aku hanya bisa membuatmu menderita..." sambungnya masih dalam hati dan air matanya pun kembali menetes.


Entah berapa lama ia merasakan kehadiran suaminya di sisinya hingga suara azan membuat pria itu beranjak pergi.

__ADS_1


"Aku sholat dulu ya Meyaa... " bisik tuan Sam ditelinga Amira lembut.


Amira hanya bisa menjawabnya dalam hati. Setidaknya ia bersyukur tuan Sam kini sudah mulai menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim.


__ADS_2