
Sore hari terlihat keluarga tuan Sam berkumpul di sebuah restoran yang berada disalah satu mall untuk merayakan ulang tahun Sadira sambil mengundang kedua sahabat gadis itu. Sengaja tuan Sam mengadakannya di tempat itu agar suasana terasa lebih santai. Kedua sahabat Sadira tampak datang tepat waktu dan keduanya langsung duduk mengapit gadis yang sedang berulang tahun itu. Namun kedua kakak kembar Sadira yang merencanakan acara itu malah belum menampakkan batang hidungnya. Meski penasaran, namun Ayana dan Hana sama sekali tidak menyinggung soal Sahir dan Samir yang belum juga datang meski seluruh anggota keluarga yang lain sudah datang.
"Bunda... kenapa kak Sahir dan kak Samir belum datang juga ya?" tanya Sadira yang juga penasaran.
"Tadi kakakmu sudah bilang sama bunda kalau mereka akan sedikit terlambat datang karena ada acara di kampus mereka. Tapi kamu jangan khawatir sayang... kedua kakakmu itu tidak akan melewatkan acaramu ini..." terang Amira menenangkan.
Sadira pun mengangguk pelan. Sementara Ayana dan Hana sedikit lega karena setidaknya kedua kakak Sadira itu tetap menghadiri acara untuk Sadira dan tidak menghindar karena kehadiran keduanya. Tak lama orang yang ditunggu pun tiba. Namun hal ini malah membuat Ayana dan Hana menjadi syok dan sakit hati. Bagaimana tidak, Sahir dan Samir datang dengan membawa teman wanita mereka masing-masing sebagai pasangan. Bahkan keduanya duduk berdampingan di depan Ayana dan Hana. Sungguh, saat ini dada Ayana dan Hana terasa sangat sesak. Kedua gadis itu bahkan sudah mulai berkaca-kaca saat melihat kemesraan Sahir dan Samir dengan pasangan mereka masing-masing.
"Secepat itukah kamu melupakan hubungan kita berdua kak?" batin Hana menjerit saat melihat Samir yang meletakkan lauk di piring gadis yang ada disampingnya itu.
Sekuat tenaga Hana berusaha menahan laju air matanya yang hendak mengalir. Sesak... sakit hati, tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Karena sadar jika kini ia dan Samir sudah tidak memiliki hubungan apa-apa. Begitu juga Ayana. Gadis tangguh itu kini malah merasa lemah saat melihat Sahir yang kini bisa bersikap lembut dengan gadis lain selain Sadira dan dirinya (tapi itu dulu...).
Melihat kelakuan Sahir bukan hanya Ayana yang marah dan sakit hati, tapi juga Sadira karena yang ia tahu jika Ayana adalah kekasih kakaknya itu. Tapi karena masih ada anggota keluarga lain maka Sadira berusaha menahan dirinya sehingga suasana masih terkendali. Meski ia tahu dengan jelas jika sang sahabat tengah memendam rasa sakit.
"Kamu kenapa sayang? kok pucat..." tanya Amira lembut pada Ayana.
"Eh... ga kok tante, mungkin hanya kelelahan... sebab tadi dari asrama aku langsung kemari" terang Ayana berusaha menutupi rasa di hatinya sambil tersenyum.
Amira pun mengangguk mengerti, sedang Sahir malah tersenyum tipis penuh kemenangan.
"Oh iya... kalian berdua tumben datang dengan teman wanita kalian?" tanya Amira.
"Ehem... kebetulan saja kok bunda..." sahut Samir tak ingin sang bunda berfikiran macam-macam.
Sementara Hana yang sudah tidak tahan langsung berdiri dan pamit untuk pergi ke toilet. Tak lama Ayana pun menyusul. Melihat itu Sadira pun ikut menyusul kedua sahabatnya itu. Sedang Sahir dan Samir tampak saling pandang penuh arti dengan senyuman di bibir keduanya.
"Kalian kenapa?" tanya Sadira saat melihat Ayana dan Hana menangis berdua di dalam toilet.
__ADS_1
Tadinya ia sengaja menyusul Ayana karena ia khawatir dengan sahabatnya itu yang pasti tengah patah hati akibat ulah Sahir. Tapi yang tidak ia duga jika Hana juga tengah menangis tanpa ia tahu sebabnya. Karena jika hanya sedang menghibur Ayana tidak mungkin gadis itu sampai menangis sesenggukan seperti itu. Bukannya berhenti, keduanya malah semakin keras menangis. Membuat Sadira langsung memeluk keduanya.
"Tolong ceritakan apa yang terjadi sebenarnya pada kalian!" pinta Sadira setelah kedua sahabatnya itu sedikit tenang.
Mau tidak mau akhirnya Ayana dan Hana pun menceritakan semuanya. Bermula sejak Hana yang ternyata telah menjalin hubungan dengan Samir. Dan tentang keputusan keduanya yang ingin memberi pelajaran pada Sahir dan Samir yang telah menentang hubungan Sadira dan Bara dengan cara memutuskan keduanya.
"Apa? jadi selama ini kamu dan kak Samir sudah..." Sadira tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena kaget jika kakaknya yang resek itu berhasil menggaet hati Hana.
"Dan apa ini? kalian melakukan semua ini karena aku?" tanya Sadira yang langsung merasa bersalah pada keempat orang yang ia sayangi itu.
Hana dan Ayana hanya mengangguk pelan. Demi solidaritas keduanya rela memutuskan hubungan asmara mereka. Namun sungguh keduanya tidak menyangka jika mantan kekasih mereka itu bisa move on begitu cepat. Apa lagi pengganti mereka adalah gadis sepantaran Sahir dan Samir yang tentu saja membuat keduanya langsung merasa tidak percaya diri karena kalah dewasa. Sadira yang tidak menyangka jika kedua sahabatnya ini bisa berbuat sejauh ini demi solidaritas mereka padanya pun merasa sangat bersalah dan bertekad akan memberikan pelajaran pada kedua kakak kembarnya yang telah membuat kedua sahabatnya itu menangis.
"Kalian berdua tenang saja... aku akan membalaskan perbuatan mereka pada kalian..." ucap Sadira berapi-api.
Ia pun langsung merogoh ponselnya dan langsung menghubungi seseorang. Ia pun mengutarakan rencananya pada orang itu dan orang itu pun langsung menyetujuinya. Sementara Ayana dan Hana hanya bisa melongo mendengar rencana Sadira yang hendak membalas perbuatan kedua kakaknya itu.
Ayana dan Hana pun menuruti perintah Sadira dan segera membersihkan wajah mereka. Bahkan mereka mengaplikasikan make up tipis agar wajah keduanya lebih cerah dan tidak terlihat sembab. Sadira bahkan membantu keduanya bersiap. Setelah semua dirasa cukup, ketiganya pun keluar dari dalam toilet dan kembali ke meja mereka.
"Kenapa kalian lama sekali di toilet sayang?" tanya Amira.
"Ga ada papa kok bunda... tadi toiletnya ramai jadi kami antri dulu..." sahut Sadira memberikan alasan.
Mereka pun kembali meneruskan acara makan mereka. Kini Ayana dan Hana tampak lebih tenang dan tidak lagi terpengaruh dengan pemandangan di depan mereka. Dimana Sahir dan Samir masih terlihat mesra dengan teman wanita mereka masing-masing. Tak lama seseorang memanggil nama Samir. Ternyata itu adalah Ricko. Dengan ramah Amira pun mengajak Ricko untuk ikut bergabung karena tahu jika Ricko adalah teman satu kampus kedua putranya dan beberapa kali sempat datang ke rumah. Ricko tampak terkejut saat tahu jika saat ini adalah perayaan ulang tahun Sadira. Ia pun segera mengucapkan selamat pada gadis itu dan memberikan kado untuknya. Saat Sahir menanyakan kenapa ia bisa menyiapkan kado untuk adiknya, dengan tenang Ricko beralasan jika ia memang sedang membeli kado untuk Sadira karena pernah ditolong oleh gadis itu. Dan kado itu sebagai ucapan terima kasihnya. Sahir yang semula curiga pun akhirnya percaya. Untung saja Sadira tidak mendengarkan saat Sahir dan Ricko berbincang karena gadis itu tengah berbicara dengan kedua sahabatnya. Jadi alasan Ricko tidak ada yang menyangkalnya.
Saat mereka tengah asyik berbincang sambil makan tiba-tiba saja seseorang kembali datang dan memanggil nama Hana.
"Hana!"
__ADS_1
Membuat semua orang berpaling ke arah suara. Tampak Rafa datang bersama Bara dan juga Reno. Sahir dan Samir langsung terlihat gusar saat melihat ketiga pemuda itu datang. Terutama Samir karena tadi Rafa memanggil Hana.
"Eh kak Rafa..." sahut Hana yang langsung berdiri dan melangkah ke arah Rafa.
Sementara Samir tampak tak suka dan wajahnya mulai memerah. Bahkan ia sudah tidak memperdulikan gadis yang ada di sampingnya yang sedari tadi mengajaknya bicara. Tangan Samir pun mengepal kuat dibawah meja saat sang ayah malah mengajak ketiga pemuda yang baru datang itu untuk bergabung. Ya... tuan Sam tentu saja ingat pada ketiganya yang membantu mencari Sadira saat gadis itu hilang di gunung dulu. Apa lagi Bara yang sampai ikut terluka. Mendapat undangan dari tuan Sam tentu saja Bara dan yang lainnya tidak menyia-nyiakan kesempatan. Mereka pun langsung ikut bergabung tanpa penolakan sama sekali. Dan kini bukan hanya Samir yang seolah kebakaran jenggot, tapi juga sang kakak Sahir. Karena setelag ketiganya bergabung, pemuda yang bernama Reno justru kini tampak tengah berusaha mendekati gadisnya... eh?
Duo kembar itu kini tampak memasang wajah masam saat melihat mantan kekasih mereka akrab dengan dua teman Bara itu. Sedangkan Ricko terlihat tenang dengan kehadiran Bara meski di dalam hatinya ia tak jauh beda dengan si kembar. Namun ia cukup lega karena Bara tak terlihat mendekati Sadira seperti kedua temannya yang kentara sekali tengah pedekate pada kedua sahabat Sadira. Si kembar kembali meradang saat acara selesai kedua teman Bara menawarkan akan mengantar pulang Ayana dan Hana. Dan celakanya kedua gadis itu malah langsung menerima tawaran mereka. Tanpa memperdulikan teman wanita yang mereka bawa tadi, kedua saudara kembar itu pun langsung mengikuti mantan mereka yang kini pergi dengan teman Bara. Sahir semakin tidak dapat menahan emosinya saat tahu jika Reno membawa motor dan berniat untuk memboncengkan Ayana. Tidak tahan, pemuda itu langsung menyusul keduanya ke parkiran. Sahir langsung menarik Ayana saat melihat gadis itu baru saja menerima helm dari Reno.
"Kamu ikut aku!" sentak Sahir sambil menarik tangan Ayana.
"Tapi kak..." protes Reno yang tak terima Ayana diseret Sahir.
"Kamu jangan ikut campur!" potong Sahir debgan wajah datar.
Reno terdiam dan membiarkan Ayana dibawa oleh Sahir. Toh tugasnya sudah selesai setelah berhasil membuat kakak Sadira itu meradang. Sedangkan Sahir juga tengah mengikuti Hana dan Rafa yang tidak langsung pulang karena Rafa beralasan akan membeli buku dulu di dalam mall sebelum pulang. Samir terlihat berusaha untuk menahan amarahnya saat melihat Hana yang akrab dengan Rafa. Apa lagi gadis itu tampak asyik memilih buku dengan sesekali bercanda dengan Rafa. Tidak tahan melihat kedekatan keduanya, Samir pun langsung menghampiri Hana yang terpisah dengan Rafa saat memilih buku kesukaannya.
"Jadi ini alasan kamu minta putus heh? pakai acara masih dibawah umur segala..." cecar Samir marah.
"Itu bukan urusan kakak lagi! bukannya kakak juga sudah punya pacar lagi? jadi jangan campuri urusanku lagi!" sahut Hana ikut emosi.
"Kau!"
"Apa! aku benarkan? kita sudah putus, dan kakak sudah punya pacar baru... jadi jangan campuri urusan aku lagi!" sentak Hana langsung meninggalkan Samir.
Tapi Samir tidak mau menyerah. Segera ia menarik tangan Hana dan memaksa gadis itu untuk mengikutinya. Meski awalnya menolak, namun akhirnya Hana pun pasrah dan mengikuti Samir karena ia tidak ingin menyebabkan keributan di sana. Rafa yang sebenarnya sudah memperhatikan keduanya sedari tadi pun hanya tersenyum.
"Sekarang senjata makan tuan kan?" gumamnya terkekeh.
__ADS_1
Sungguh ide Sadira itu sangat brilliant, sebab tidak butuh waktu lama untuk membuat kedua kakak gadis itu kelabakan karena takut jika gadisnya direbut orang lain.