BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Jawaban


__ADS_3

Sadira tampak terkejut dan wajahnya langsung merona saat melihat Bara sudah berada di ambang pintu.


"Kak Bara..."


"Apa kabar Ra? apa kau sudah merasa baikan?" tanya Bara lembut.


Pemuda itu datang dengan membawa tiang dengan selang infusnya, meski sudah tidak lagi menggunakan kursi roda tapi dapat terlihat jika pemuda itu memaksakan diri untuk menemui Sadira.


" Sudah kak... terima kasih" sahut Sadira mencoba menenangkan dirinya yang tiba-tiba gugup karena kehadiran Bara.


"Oh iya kak, perkenalkan... ini sahabatku... Ayana" kata Sadira mencoba untuk bersikap biasa.


"Ayana..." ucap Ayana sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


"Bara..." sahut Bara.


Keduanya bergantian saling menyebutkan nama untuk berkenalan. Ayana yang merasa jika Bara datang khusus untuk Sadira pun segera undur diri agar tidak menganggu keduanya.


"Ra... aku ke kantin dulu ya..." kata Ayana beralasan agar ia bisa meninggalkan keduanya.


"Eum... iya... Ay..." sahut Sadira yang tak bisa mencegah sahabatnya itu.


Dalam hati Sadira semakin merasa gugup, karena ia ingat jika saat sebelum hujan Bara telah menyatakan perasaannya padanya. Jujur... Sadira merasa belum siap jika Bara menginginkan jawaban darinya sekarang. Untuk beberapa saat keduanya terdiam dan sibuk dalam fikiran mereka masing-masing. Keduanya terlihat gugup karena ini pertama kalinya mereka hanya berdua setelah kejadian di dalam hutan.


"Ra.."


"Kak"


Ucap keduanya secara bersamaan. Keduanya pun langsung terkekeh menyadari tingkah mereka sendiri.


"Kakak saja yang bicara dulu..." ucap Sadira setelahnya.


"Heum... gimana kabar kamu?" ulang Bara.


"Baik kak... kakak sendiri bagaimana?"


"Aku baik... mungkin nanti sore aku sudah boleh pulang setelah selang infus ini di cabut..." ungkap Bara sambil tersenyum.


"Oh syukurlah..." sahut Sadira menampakkan wajah leganya.


"Ra..."


"Heum?"


"Apa kau ingat perkataanku saat kita berdua di dalam hutan sana?" tanya Bara hati-hati.


Sadira hanya mampu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Apa kau juga memiliki perasaan yang sama denganku Ra?" tanya Bara lagi.


Kali ini pemuda itu menatap kedua mata Sadira yang baru saja mengangkat wajah dan membalas tatapan Bara.


"Aku... aku juga menyukaimu kak..." sahut Sadira lirih namun Bara masih bisa mendengarnya.


Pemuda itu pun langsung tersenyum lebar dan langsung memeluk tubuh Sadira.


"Terima kasih Ra..." bisiknya lembut di telinga gadis itu.


Sementara Sadira tampak wajahnya langsung merona mendapat perlakuan seperti itu dari Bara. Perlahan gadis itu pun membalas pelukan dari pemuda itu. Sejenak keduanya saling berpelukan hingga akhirnya Bara mengurai pelukannya.


"Jadi sekarang kita jadian oke?"


"Heum!" sahut Sadira sambil menganggukkan kepalanya tegas.


Bara kembali tersenyum senang. Bagaimana tidak, gadis pujaannya itu menerima cintanya.


"Tapi kak... aku mohon jangan katakan pada siapa pun jika kita sudah jadian..." pinta Sadira kemudian.


"Kenapa?"


"Aku takut kedua orangtuaku dan kakakku akan marah... aku kan baru masuk kelas IX..." terang Sadira sambil menundukkan wajahnya.

__ADS_1


"Baiklah jika itu mau kamu... tapi please di sekolah kamu jangan menghindar ya... agar mereka tahu kalau kamu gadisku..."


"Tapi itu kan sama saja bo'ong kak... sebab semua temanku jadi tahu..." protes Sadira sambil mengerucutkan mulutnya.


"Ya... yang terpentingkan keluarga kamu ga tahu sayang... lagi pula jika teman sekolah kita tidak tahu apa kamu rela kalau ada cewek lain yang mendekati aku hem?" pancing Bara.


Sadira pun langsung menggelengkan kepalanya kuat. Sungguh ia tidak rela ada cewek lain yang berusaha mendekati Bara setelah mereka berdua resmi jadian.


"Nah, aku juga ga rela Ra... kalau ada cowok lain yang deketin kamu... karena itu biarkan semua teman kita tahu ya... yang terpenting hanya keluarga kamu yang ga tahu..." sambung Bara.


"Baiklah... terserah kakak saja..." sahut Sadira pasrah.


"Itu baru benar..." kata Bara sambil mengusak rambut Sadira lembut.


Sementara itu Ayana yang tengah berada di kantin tampak sedikit melamun sambil meminum es teh yang di pesannya. Dalam hatinya ia bahagia jika benar Bara dan Sadira menjalin hubungan. Apa lagi saat ia teringat dengan wajah imut Sadira saat malu-malu menghadapi Bara. Tak disadarinya jika bibirnya ikut melengkungkan senyum. Ia juga tak menyadari jika tingkahnya sedari tadi diperhatikan oleh seseorang. Orang itu bahkan ikut tersenyum saat melihat Ayana tersenyum sendiri.


"Apa yang sedang kamu fikirkan sekarang Ay? hingga kamu tersenyum begitu manis..." batin orang itu masih tetap memperhatikan tingkah Ayana.


"Hei kak! kenapa malah nongkrong di sini sih! kan kita mau ke ruangan Dira..." ujar Samir sambil menepuk kuat pundak Sahir yang membuat pemuda itu tersentak kaget.


"Kau ini! selalu saja mengagetkanku... bisa ga sih manggil dengan sopan?"


"Alah... kakak aja yang sedang baper dan ga denger waktu aku panggil berkali-kali sampai mulut aku berbusa..." sungut Samir tak mau kalah.


Ayana yang berada tak jauh dari keduanya pun tampak terkejut dengan keributan yang disebabkan oleh kakak beradik kembar itu. Meski ia tak begitu faham apa yang sedang keduanya ributkan.


"Dasar berisik!" seru Sahir kemudian lalu melangkah pergi dari sana.


Samir hanya tersenyum jahil saat berhasil membuat kakaknya itu kesal.


"Dasar muna... bilang saja kalau suka... entar kalau udah diembat orang lain baru tahu rasa!" teriak Samir yang membuat Sahir langsung memelototkan kedua matanya.


Untung saja kantin itu tengah sepi pengunjung dan hanya ada Ayana dan dua kakak beradik itu saja yang berada disana.


"Kau!" tunjuk Sahir pada Samir kesal.


"Apa? aku benarkan?" sahut Samir tanpa takut.


"Ck... dasar pengganggu!" sungut Sahir yang berlalu dan tak lagi menghiraukan Samir.


"Assalamualaikum Ay..."


"Waalaikum salam kak..."


"Maafkan sikap kak Sahir ya... dia kan memang manusia es..." kata Samir sambil terkekeh.


"Iya kak... ga pa-pa kok..." sahut Ayana ikut tersenyum.


"Oh ya... Sadira kamu tinggal sendirian?" tanya Samir penasaran.


"Ga kok kak... tadi ada temannya yang menjenguk, jadi aku tinggal kesini sebentar..." terang Ayana yang tak menyebutkan jika itu Bara.


"Baiklah... apa sekarang kamu mau balik ke sana bersama?" tawar Samir dengan rencana licik dihatinya.


"Iya kak boleh..." jawab Ayana polos.


Mereka pun kemudian berjalan bersama menuju ke ruangan Sadira.


"Lihat saja... apa manusia es itu akan tetap beku jika melihatku jalan dengan Ayana..." batin Samir terkekeh membayangkan rencananya untuk menggoda kakaknya itu.


"Kakak kenapa?" tanya Ayana yang melihat tingkah Samir yang aneh.


"Oh... ga... ga pa-pa kok... tadi aku hanya teringat dengan lelucon temanku di kampus..." sahut Samir menyembunyikan rencananya.


Sementara itu Bara telah kembali ke ruangannya sendiri setelah tadi perawatnya mencarinya dan menyuruhnya kembali ke ruang perawatannya sendiri. Sahir tiba di ruang perawatan Sadira dengan wajah datar, membuat Sadira bernafas lega karena Bara telah kembali ke ruangannya terlebih dahulu sehingga tidak terpergok oleh Sahir. Jika tidak, maka sudah bisa dibayangkan apa yang akan dilakukan oleh kakak kembarnya yang satu itu pada Bara karena telah menemuinya berdua saja. Apa lagi melihat wajah kakaknya yang sangat datar membuat Sadira sadar jika sang kakak tengah dalam keadaan mood yang jelek.


Kedua kakaknya yang protektif mungkin akan membuat Bara kembali memperpanjang masa rawat inapnya di rumah sakit meski dengan diagnosa yang berbeda. Apa lagi Sahir yang over protektif pada adik bungsunya itu.


"Kak... kakak kenapa?" tanya Sadira mencoba bertanya.


"Ga pa-pa... hanya ada pengganggu kecil saja..." sahut Sahir datar sambil menjatuhkan tubuhnya ke sofa yang ada di ruang perawatan Sadira.

__ADS_1


Sadira hanya bisa mengangguk tanpa berani bertanya lagi pada kakaknya itu. Tak lama Ayana dan Samir datang dan masuk ke dalam ruangan Sadira. Keduanya tampak tengah berbincang seru yang membuat Ayana bahkan bisa tertawa lebar. Hal ini tentu saja membuat Sadira dan Sahir ingin tahu. Apa lagi Sahir yang tampak sekali jika ia tak menyukai kedekatan keduanya.


"Kalian sedang membicarakan apa?" tanya Sadira pada Samir dan Ayana.


"Ini... tadi aku sedang cerita Ayana, tentang lelucon yang dikatakan oleh teman kampusku tadi..." terang Samir.


"Benarkah?" tanya Sadira penasaran.


Samir pun mengangguk dan menceritakan lelucon itu yang membuat Sadira langsung tertawa. Ketiganya pun berbincang sambil bercanda, yang membuat Sahir merasa tersisihkan. Dengan wajah ditekuk Sahir memutuskan untuk keluar dari ruang perawatan Sadira tanpa berpamitan. Samir yang menyadari jika sang kakak tengah bete, malah tersenyum tipis. Sementara Ayana yang melihat Sahir pergi keluar tanpa pamit merasa tidak enak. Entah mengapa melihat Sahir yang menekuk wajahnya membuat hatinya merasa tidak nyaman. Tiba-tiba ponsel Ayana berbunyi. Ternyata sang adik yang menelfon.


"Iya Den?"


"..........."


"Iya... kakak akan pulang sekarang..." sahut Ayana.


"Aku pulang dulu ya Ra... oma sudah menyuruhku untuk pulang..." ucap Ayana pada Sadira.


"Iya ga pa-pa Ay... terima kasih kamu udah menjagaku disini..."


"Sama-sama Ra... kak Samir, aku pamit pulang ya"


"Iya, hati-hati di jalan... maaf aku ga bisa ngantar kamu pulang..." sahut Samir.


"Ga pa-pa kak... aku dijemput sama sopir kok..." terang Ayana.


Setelah itu gadis itu pun keluar dari ruangan Sadira dan menuju ke parkiran rumah sakit. Saat Ayana tengah menunggu mobil jemputannya tak di sangka jika Sahir tiba-tiba mendekatinya.


"Kamu mau pulang?" tanya Sahir tiba-tiba, yang mengejutkan Ayana.


Bagaimana tidak, tiba-tiba saja pemuda itu sudah berada disampingnya dan bertanya dengan nada lembut. Ayana masih tak percaya dengan apa yang dilihat dan didengarnya saat ini. Sahir yang super dingin berkata dengan nada lembut padanya? padahal tadi saat di kantin rumah sakit pemuda itu sama sekali tidak memperdulikannya.


"Hei! apa kau mendengarku?" tanya Sahir lagi sambil mengibaskan telapak tangannya didepan wajah Ayana.


Ayana tampak tersadar dari lamunannya dan memandang ke arah Sahir.


"I... iya kak?"


"Apa kau akan pulang?" tanya Sahir lagi.


"Iya kak..."


"Mau aku antar?" tawar Sahir.


"Hah?" Ayana kembali terkejut dengan tawaran Sahir.


"Mau?" ulang Sahir sambil menatap Ayana.


Ayana langsung merasa grogi dengan perhatian Sahir yang tiba-tiba padanya.


"A... aku dijemput pak sopir kak..."


Baru saja Ayana selesai berbicara ponselnya kembali berdering. Ternyata ada pesan dari Deni yang mengatakan jika pak sopir tidak bisa menjemput Ayana karena tiba-tiba istrinya menelfon jika putra mereka sakit dan sang oma menyuruh sopirnya itu untuk pulang saja ke rumahnya untuk mengantarkan putranya ke rumah sakit. Jadi Ayana disuruh untuk pulang dengan menggunakan taksi online saja.


Ayana menghembuskan nafasnya pelan. Gadis itu tampak agak bingung. Pasalnya baterai ponselnya sudah menipis dan tidak cukup untuk memesan taksi online.


"Kenapa?" tanya Sahir saat kelihat wajah Ayana yang gelisah.


"Eum... itu kak... pak sopir ternyata tidak bisa menjemputku... jadi oma menyuruhku untuk naik taksi online saja, tapi ponselku lowbat... jadi..."


"Biar aku antar saja oke?" potong Sahir yang merasa ini adalah kesempatannya.


"Apa tidak merepotkan kakak?" tanya Ayana agak khawatir.


"Bukankah tadi aku juga sudah menawarkannya padamu? jadi jangan khawatir... aku tidak merasa direpotkan" terang Sahir sambil tersenyum.


Deg!


Jantung Ayana serasa mau copot saat melihat senyuman Sahir yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Sebab selama ini pemuda itu terus saja memperlihatkan wajah datar saat bersamanya. Jadi ia merasa syok saat Sahir berubah sikap menjadi hangat. Melihat Ayana yang tetap diam dan tampak terkejut, Sahir memberanikan diri untuk meraih tangan gadis itu dan menggandengnya menuju ke mobilnya. Bak dihipnotis, gadis itu menurut saja dengan perlakuan Sahir.


Sesampainya disamping mobilnya, Sahir langsung membukakan pintu untuk Ayana dan menuntun gadis itu untuk duduk di kursi penumpang. Lagi-lagi Ayana menurut. Setelah itu Sahir segera bergegas mengitari mobil dan masuk ke kursi kemudi. Tanpa berkata-kata ia pun langsung melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah sakit. Untuk beberapa saat keduanya saling diam.

__ADS_1


"Eum... alamat rumah kamu dimana?" tanya Sahir memecahkan keheningan.


Memang Sahir belum pernah sekali pun ke rumah Ayana. Meski sang adik sudah beberapa kali menginap disana. Karena selama ini yang mengantarkan Sadira jika ke rumah Ayana adalah sopir keluarga mereka. Ayana pun kemudian menyebutkan alamat rumahnya dan keduanya pun kembali terdiam.


__ADS_2