
Setelah mendengar jika keadaan bu Wati yang cukup melegakan membuat nyonya Sarah teringat dengan kakaknya yang pasti sedang menunggu kabar darinya. Dengan cepat dihubunginya kakaknya itu. Dan langsung tersambung.
"Bagaimana?" kata tuan Sam lugas.
Nyonya Sarah hanya bisa menghela nafas pelan dengan tingkah menyebalkan kakaknya itu.
"Semua baik-baik saja bu Wati akan segera sembuh..."
"Bukan dia yang aku tanyakan" sergah tuan Sam membuat nyonya Sarah kembali menghela nafas namun ia tahu bahwa ia tak mungkin bisa melawan kelakuan absurd kakaknya itu.
"Kau tanyakan saja sendiri pada orangnya... hpnya sudah aku berikan padanya" ucap nyonya Sarah ketus.
Kemudian ia pun langsung mematikan hpnya. Tuan Bram yang melihat wajah kesal istrinya pun langsung menanyakan alasannya.
"Kenapa Sarah?" tanyanya.
"Biasa... kakakku itu tukang perintah saja..." ungkap nyonya Sarah sambil tetap cemberut.
Tak tahan melihat wajah istrinya yang menggemaskan tuan Bram pun langsung meremas pipi istrinya yang kini tampak sedikit chubby.
"Aaah.... sakit mas..." ucap nyonya Sarah sambil mengelus pipinya.
"Maaf... habisnya wajahmu itu sangat menggemaskan" ucap tuan Bram yang kini membelai lembut wajah nyonya Sarah lalu memeluk tubuh istrinya itu.
"Kenapa mas?" tanya nyonya Sarah bingung dengan sikap suaminya.
"Biarkan begini dulu... rasanya aku masih tidak percaya kita kembali bersama..." kata tuan Bram.
"Percayalah mas..." sahut nyonya Sarah sambil membalas pelukan suaminya itu.
Sementara hp Amira yang ada di dalam tas yang dibawakan nyonya Sarah mulai berdering. Amira yang hafal dengan nada dering hpnya pun langsung mencari sumber suara dan menemukan hpnya itu. Kemudian ia berjalan keluar ruang perawatan agar tak mengganggu bu Wati yang sedang tertidur. Baru saja ia menekan tombol hijau langsung terdengar suara tuan Sam di sebrang sana.
"Kenapa kamu sampai lupa dan meninggalkan hpmu di kamar?" ucapnya tanpa babibu.
Amira hanya bisa mendesah pelan, sesungguhnya dia memang sudah lelah karena sejak semalam ia kurang tidur karena menunggu kabar dari tuan Sam. Ditambah lagi dia harus ke rumah sakit dan menunggui bu Wati. Merasa tidak mendapat respon dari Amira, tuan Sam pun tersadar bahwa sikapnya agak keterlaluan.
"Maaf..." kata tuan Sam akhirnya.
Mendengar itu Amira kembali menghela nafas pelan.
__ADS_1
"Maafkan aku juga B..." ucapnya.
"Kamu ga pa-pa?" terdengar suara tuan Sam yang khawatir.
"Ga pa-pa ... hanya saja aku lelah karena sejak semalam aku kurang tidur" terang Amira sambil tersenyum.
"Kalau begitu istirahatlah..." ucap tuan Sam lembut.
"B..." ucap Amira.
"Heemmm?"
"Kangeen..." ucap Amira lirih.
Tuan Sam tersentak tak biasanya gadisnya itu berucap seperti itu. Tapi kemudian ia pun tersenyum cerah.
"Aku juga kangen Meyaa...." balasnya.
Mendengar ucapan tuan Sam, Amira pun tersadar jika dia baru saja berucap kangen pada pria itu. Padahal pikirnya tuan Sam tak mendengar apa yang baru saja ia ucapkan.
"Sudah... istirahatlah sana aku juga akan istirahat sebab sejak turun dari pesawat aku belum istirahat" sambung tuan Sam.
"Iyaa..." ucap Amira yang sedang memerah wajahnya karena ucapan kangennya didengar oleh tuan Sam.
"Kakak dari mana?" tanyanya pada nyonya Sarah.
"Kami dari ruangan dokter yang merawat bu Wati, Ra" terang nyonya Sarah.
"Kak bolehkah aku merawat bu Wati di rumahnya?" tanya Amira.
"Kenapa ga dibawa ke rumah saja Ra?" tanya nyonya Sarah menawarkan.
Tuan Bram pun mengangguk menyetujui usulan istrinya.
"Eum ... nanti saya tanyakan dulu pada bu Wati ya kak..." putus Amira.
"Ya biar kakak yang bicara nanti dengan bu Wati" ucap nyonya Sarah.
"Ini juga sebagai tanda terima kasih kami karena dulu bu Wati juga sudah menolong kamu dan anak-anak" sambung tuan Bram.
__ADS_1
Nyonya Sarah mengangguk setuju dengan perkataan suaminya. Kemudian mereka pun kembali ke ruang rawat bu Wati dan nyonya Sarah pun mengungkapkan keinginannya dan juga suaminya pada bu Wati. Walau awalnya bu Wati merasa keberatan namun akhirnya ia setuju juga setelah diberi pengertian oleh ketiganya.
Tak lama nyonya Sarah dan tuan Sam pun pamit pulang. Sedang Amira tetap di rumah sakit untuk menjaga bu Wati.
"Maaf ya Ra... ibu sudah merepotkan kamu dann juga majikan kamu..." ucap bu Wati saat keduanya sudah sendiri.
"Jangan bilang begitu bu... ibu sudah aku anggap seperti ibu aku sendiri jadi aku ga merasa keberatan atau pun merasa direpotkan sama sekali..." kata Amira sambil menggenggam tangan bu Wati lembut.
"Terima kasih Ra... sudah menganggap ibu seperti orangtua kamu sendiri" kata bu Wati dengan mata yang sudah betkaca-kaca.
Kemudian keduanya pun berbincang ringan sebentar untuk menghabiskan waktu. Lalu bu Wati pun tertidur kembali setelah makan siang dan meminum obatnya. Setelah bu Wati tidur, Amira pun segera keluar dari kamar perawatan bu Wati untuk sholat dhuhur. Namun saat di depan kamar ia bertemu dengan sopir keluarga majikannya yang ternyata disuruh nyonya Sarah untuk mengantarkan makan siang buat Amira. Dengan hati yang terharu ia pun menerimanya.
"Terima kasih pak... tolong sampaikan juga terima kasih saya pada nyonya Sarah ..." ucapnya.
"Baik Ra... nanti saya sampaikan" jawab pak sopir kemudian ia pun pulang.
Lalu Amira pun melanjutkan ke musholla untuk sholat dhuhur.
Selesai memakan makanan yang dikirim oleh nyonya Sarah untuknya, Amira pun duduk di bangku yang ada di ruang rawat bu Wati untuk beristirahat. Dipejamkan matanya dan benar saja tak lama ia pun sudah tertidur pulas dalam posisi duduk. Ia terbangun saat ada seseorang yang mengguncang tubuhnya pelan.
"Bangun mbak..." ucap suara seseorang.
Dengan mengerjap dan mengucek matanya sebentar Amira pun terbangun. Ternyata dihadapnnya berdiri seorang suster yang menatapnya lembut.
"Ma.. maaf..." ucap Amira terbata.
"Ga pa-pa mbak... sebaiknya mbaknya bangun soalnya sudah sore sebentar lagi akan ada visit dari dokter..."
"Terima kasih mbak..."
" Iya sama-sama..."
Kemudian Amira pun ke kamar mandi untuk sekedar membasuh mukanya agar terlihat segar. Tak lama setelah Amira keluar dari kamar mandi dokter yang menangani bu Wati pun datang bersama dua orang perawat datang untuk memeriksa kondisi bu Wati. Dan setelah memeriksa keadaan bu Wati dokter pun yakin jika bu Wati akan segera sembuh. Amira pun sangat lega mendengarnya.
Malam hari saat semua sudah tertidur Amira yang memang masih belum tidur kaget dengan bunyi dering hpnya. Dengan cepat digesernya tanda hijau yang ada dihpnya itu. Dan terdengarlah suara pria yang seharian ini sangat dirindukannya. Walau ia tak mau mengtakannya namun hatinya tahu jika kini ia sangat merindukan tuan Sam. Keduanya pun saling melepas rindu dengan melakukan vc. Tak banyak yang mereka bicarakan, namun pandangan mata keduanya sudah memancarkan rasa yang ada dihati keduanya.
Karena keadaan bu Wati, tuan Sam pun memutuskan untuk menunda persiapan pernikahan mereka menunggu kepulangan bu Wati dari rumah sakit dan Amira pun menyetujuinya. Setelah puas berbincang tuan Sam pun mengakhiri panggilannya dan menyuruh Amira untuk segera beristirahat sebab sedari tadi ia dapat melihat wajah lelah kekasihnya itu. Amira pun tak membantah dengan perintah tuan Sam karena memang ia sudah merasa mengantuk. Setelah mengakhiri sambungan telepon ia pun langsung memejamkan mata dan tak lama ia sudah tertidur pulas.
Sudah hampir dua minggu bu Wati dirawat di rumah sakit dan selama itu juga Amira setia menemaninya. Dan setiap malam pula tuan Sam selalu menghubungi Amira lewat hp untuk sekedar melihat wajah gadis itu melalui vc. Hari ini karena kondisi bu Wati yang sudah sangat baik membuatnya diperbolehkan pulang. Dan seperti yang dikatakan nyonya Sarah, bu Wati tak pulang ke rumahnya sendiri namun diajak ke rumah nyonya Sarah. Dan kedatangan bu Wati pun disambut gembira oleh semua orang terutama Anna dan Adit yang sudah menganggap bu Wati seperti nenek mereka sendiri.
__ADS_1
Kini setelah bu Wati pulang dari rumah sakit, nyonya Sarah pun mulai menyusun rencana pernikahan kakaknya dan Amira yang sempat tertunda. Bu Wati yang baru mengetahui jika Amira akan menikah sangat bahagia apa lagi saat ia tahu jika Amira akan menikah dengan tuan Sam. Nyonya Sarah pun sangat bersemangat sebab ia ingin segera melihat kakaknya itu bahagia bersama gadis yang dicintainya. Semua persiapan mereka serahkan pada WO yang pernah menangani pernikahannya dulu dengan tuan Bram sebab saat itu nyonya Sarah sangat puas dengan hasil kerja WO tersebut sehingga kini ia ingin menggunakan jasa mereka kembali untuk pernikahan kakaknya dan Amira.
Sedang Amira sudah mulai diajak nyonya Sarah untuk melakukan perawatan tubuh di salon langganannya. Amira yang tidak terbiasa untuk melakukan perawatan pun hanya bisa pasrah mengikuti kemauan calon iparnya itu. Dan benar saja setelah beberapa kali melakukan perawatan bersama nyonya Sarah, Amira tampak berbeda dan bertambah cantik ditambah dengan berat badannya yang juga ikut turun karena nyonya Sarah pun rajin mengajaknya untuk ikut fitness bersama. Nyonya Sarah memang tidak memaksa Amira untuk diet sebab ia dan kakaknya menerima Amira apa adanya tanpa menginginkan tubuh sempurna untuk gadis itu. Bagi semua yang mengenal Amira gadis chubby itu justru sangat menggemaskan dengan tubuhbdan pipi chubbynya.