
Ayana dan Sadira kini berbaring berdampingan di atas tempat tidur di kamar kos mereka. Baru saja keduanya mengalami pengalaman yang cukup mendebarkan di dalam hidup keduanya. Masuk ke dalam club dan menyusup ke dalam ruangan Keysha demi mendapatkan rekaman yang mereka butuhkan. Dan bukan itu saja... ternyata perbuatan keduanya diketahui oleh ayah Sadira, tuan Sam. Namun keduanya merasa lega karena tuan Sam bersedia membantu keduanya dalam mengungkap kematian mama Siska dan memberikan hukuman setimpal pada orang-orang yang telah menyakiti wanita yang telah bertahan bertahun-tahun demi membalas budi pada bu Ratri.
"Ra... apa ayah kamu akan berhasil mengungkapkan semuanya?" tanya Ayana sambil memandang ke arah langit-langit kamar.
"Insya Allah Ay... aku percaya Allah akan membantu ayahku untuk menegakkan kebenaran, jadi kau jangan khawatir ya... yang terpenting sekarang kau dan Deni harus berusaha terlihat biasa saja jika diantara orang-orang itu, agar mereka tidak curiga pada kalian... aku takut jika pembunuh itu tahu bahwa kalian menyaksikan kejahatannya maka dia juga akan mengincar kalian berdua..." kata Sadira panjang lebar.
Ayana pun mengiyakan perkataan sahabatnya itu. Kemudian keduanya pun akhirnya tertidur. Sedangkan tuan Sam baru saja sampai di rumahnya. Saat memasuki kamarnya, ia melihat Amira tampak tertidur sambil duduk bersandar di kepala tempat tidur. Sepertinya istrinya itu sengaja untuk menunggunya pulang. Tuan Sam pun segera ke kamar mandi untuk membersihkam diri dan berganti pakaian. Setelah itu ia pun naik ke atas tempat tidur dan mendekat disamping Amira. Merasakan ada pergerakan disampingnya, Amira tampak mengerjapkan matanya lalu membukanya perlahan. Tuan Sam langsung menampakkan senyumannya saat Amira mulai membuka matanya.
"Kau sudah pulang Db?" tanyanya dengan suara sedikit serak.
"Iya... maaf membuatmu menunggu lama..." sahut tuan Sam sambil mengelus pipi Amira yang masih terlihat cubby meski berat badannya sudah normal.
"Tidak apa-apa Db... sebenarnya ada masalah apa hingga kau harus pergi malam-malam begini?" tanya Amira sambil menyandarkan kepalanya di dada tuan Sam.
"Hem... sebenarnya ini masalah yang cukup serius Meyaa... dan aku ingin membicarakan ini dengan mu dan yang lainnya besok pagi..."
"Maksudnya?"
"Besok saja kita bicara oke? sekarang aku sungguh sangat lelah dan ingin segera tidur..." ujar tuan Sam yang menarik tubuh Amira ke dalam pelukannya.
Jika sudah seperti ini Amira hanya bisa pasrah dan menahan rasa ingin tahunya dan berusaha untuk ikut tidur. Tak lama terdengar dengkuran halus dari tuan Sam yang menandakan jika pria itu sudah terlelap. Tampak wajah lelah yang membuat Amira tak tega pada suaminya itu.
"Sebenarnya ada masalah apa yang membuatmu tampak kelelahan seperti ini?" batin Amira sambil mengelus rambut suaminya.
Tak lama ia pun menyusul tuan Sam larut dalam mimpi...
Keesokan harinya...
Seperti yang dikatakan oleh tuan Sam semalam, pagi ini tampak tuan Bram, Raja dan juga Lukas sudah berkumpul di ruang kerja tuan Sam. Bahkan Amira pun ikut bergabung. Bukan apa-apa, tuan Sam hanya tidak ingin menyimpan rahasia dari istrinya itu apa lagi ini juga melibatkan putri bungsu mereka. Setelah semua berkumpul, tuan Sam pun menceritakan semuanya dan tidak ada yang disembunyikan. Ia bahkan menunjukkan isi flash disk yang diberikan oleh Ayana dengan memutarnya dengan proyektor sehingga mereka semua bisa melihat dengan jelas. Pertama, tuan Sam memperlihatkan rekaman yang ada di kamar Siska. Kontan semua yang menyaksikan isi dari flash disk itu tampak terkejut saat tahu jika suamilah Siska yang tega memfitnah istrinya sendiri dan melakukan kekerasan padanya.
Ya... dalam rekaman di kamar Siska terlihat jelas jika sebelumnya Siska meminum sesuatu yang membuat dirinya tertidur. Dan tak lama tampak Rendra datang bersama seorang pria. Setelah membuka pakaian Siska, Rendra menyuruh pria yang datang bersamanya itu untuk juga melepas pakaiannya dan tidur disamping Siska. Mungkin mereka sengaja memberi dosis obat tidur yang rendah hingga dalam waktu setengah jam saja Siska sudah mulai tersadar. Dan saat itulah Rendra mendobrak pintu dan masuk ke dalam kamar untuk memergoki Siska. Dan bisa ditebak, drama perselingkuhan pun dimainkan untuk menjebak wanita itu tanpa bisa melawan. Dan kejamnya Rendra juga melakukan kekerasan pada Siska hingga wanita itu babak belur.
Adegan menyedihkan terlihat saat kedua anak Siska masuk ke dalam kamar dan menolong sang mama. Tak lama terlihat Siska menyuruh kedua anaknya untuk bersembunnyi. Dan adegan pembunuhan terhadap Siska pun terjadi. Semua yang menyaksikan hal itu tampak tegang apa lagi rekaman itu bukan hanya merekam gambar tapi juga suara. Ya, Siska sudah mempersiapkan segalanya termasuk menyiapkan kamera dengan perekam suara. Jadi bukti yang didapatkan sangat valid.
"Aku tidak menyangka jika Rendra itu manusia kejam... padahal dari hasil penyelidikan Siska selama ini berlaku sebagai istri yang baik tanpa cacat..." kata Lukas yang memang ditugaskan menyelidiki Siska oleh tuan Sam.
__ADS_1
"Db... aku tidak bisa membiarkan Ayana dan adiknya tinggal bersama seorang pembunuh disana..." kata Amira yang tidak bisa membayangkan ketakutan kedua bocah itu harus tinggal bersama pembunuh mamanya.
"Sabar Meyaa... kita tidak bisa tiba-tiba saja datang dan membawa mereka pergi dari sana... kita bukan keluarganya..." terang tuan Sam berusaha menenangkan Amira.
"Sam benar Ra... jika kita gegabah pembunuh itu justru akan curiga dan tahu jika kedua anak itu adalah saksi dari kejahatannya..." sambung Raja.
"Lalu kita harus bagaimana?"
"Biarkan semua berjalan seperti biasa... itu akan membuat keduanya tetap aman..." sahut tuan Sam.
Kemudian mereka membuka rekaman flash disk yang didapatkan oleh Ayana dan Sadira dari ruangan Keysha. Di sana mereka menemukan bukti yang lebih mencengangkan dibanding rekaman dari kamar Siska. Ternyata itu adalah rekaman dimana Suryono yang merupakan kakek dari Rendra dibunuh oleh seseorang. Dan orang itu ternyata adalah orang yang sama yang telah membunuh Siska.
"Jadi ini alasan nyonya Ratri tidak setuju Rendra menjalin hubungan dengan Jihan? tapi kenapa ia tidak langsung memberikan rekaman itu pada polisi? bukankah rekaman itu sudah bisa jadi bukti kuat?" kata tuan Bram.
"Entahlah... mungkin saja nyonya Ratri baru mendapatkan rekaman itu setelah semua terlambat... dia hanya sendirian dengan usia lanjut sedang lawannya wanita yang sangat licik" terang tuan Sam.
"Jadi karena itu dia memilih Siska untuk menjegal pernikahan Rendra dengannya?"
"Benar... nyonya Ratri pasti berfikir dengan latar belakang Siska yang mantan napi akan bisa menghadapi kelicikan wanita itu karena ia sudah pernah menghadapi manusia-manusia seperti Jihan saat di penjara... dan nyatanya berhasil. Siska berhasil menghalangi wanita itu masuk ke dalam keluarga Suryono selama 15 tahun hingga akhirnya kini ia harus kehilangan nyawanya" sambung tuan Sam.
"Hem... coba kita perhatikan lagi rekaman saat tuan Suryono dibunuh B... mungkin saja ada pentunjuk atau bukti lain yang bisa kita gunakan" saran Amira.
Mereka pun kembali memeriksa rekaman tersebut berulang-ulang kali. Hingga tiba-tiba Amira menyuruh Lukas untuk menghentikan rekaman dan memperbesar salah satu bagian gambar yang terpampang disana. Kini tampak oleh semuanya jika yang dimaksud oleh Amira adalah sebuah alat perekam suara yang berada di atas meja tuan Suryono namun tertutup beberapa dokumen sehingga tidak terlihat dari arah depan.
"Apa alat perekam itu masih ada?" tanya Amira yang mewakili perasaan semua orang yang ada disana.
"Entahlah.... kejadian itu sudah sangat lama... tidak ada jaminan jika alat itu hilang atau lebih buruknya sudah ditemukan oleh orang itu dan sengaja memesnahkannya..." sahut Raja menganalisa.
"Tapi apa tidak bisa kita coba untuk mencarinya disana? mungkin saja ada keajaiban, benda itu masih berada di sana..." ujar Amira lagi.
"Tapi siapa yang akan ke sana dan mencarinya? tidak bisa sembarang orang... agar tidak ada yang curiga..." kata tuan Bram.
"Bagaimana dengan Ayana? aku rasa anak itu bisa melakukannya tanpa membuat orang lain curiga..." usul tuan Sam.
"Tapi B..."
__ADS_1
"Tenanglah Meyaa... bukankah aku sudah memberitahu tadi, jika Ayana dan Dira yang sudah mendapatkan bukti yang kita lihat tadi? itu menunjukkan jika keduanya anak yang tangguh... dan aku rasa Ayana juga tidak akan dicurigai jika seseorang memergokinya ada di ruangan tuan Suryono karena ia adalah cucunya..." terang tuan Sam.
Semua yang ada disana pun akhirnya setuju dengan usul tuan Sam. Dan mereka pun mengakhiri pertemuan dengan beberapa rencana yang baru mereka susun. Baru saja mereka keluar dari ruang kerja tuan Sam, Sadira dan Ayana baru saja datang. Memang Ayana tidak langsung pulang ke rumahnya saat keluar dari kosan, melainkan malah ikut Sadira pulang ke rumahnya. Karena sebenarnya gadis itu penasaran dengan isi rekaman flash fisk yang ada di ruangan Keysha.
"Kebetulan kau datang Ay... om ingin bicara mengenai masalah kamu... kami semua memutuskan akan membantu masalahmu, hanya saja kami juga membutuhkan bantuanmu lagi untuk mencari bukti lain demi memperkuat semua bukti yang sudah ada..." kata tuan Sam tanpa menunggu lama.
"Bantuan apa om?" tanya Ayana yang mulai berdebar.
"Bisakah kau masuk ke ruang kerja kakek buyutmu... dan mencari sebuah alat perekam suara yang ada di sana? nanti akan om kirimkan gambarnya ke ponselmu...."
"Tapi... kakek buyut tidak tinggal bersama kami om, beliau dulu tinggal berdua dengan oma Ratri di kediaman mereka sendiri... dan sejak oma Ratri meninggal, rumah itu sudah tidak pernah ditinggali lagi... hanya ada beberapa pelayan yang bertugas membersihkan rumah itu tiap hari..." kata Ayana.
"Tidak apa-apa... kau bisa membuat alasan untuk bisa kesana kan? sebab kau itu cucu buyutnya..."
"Iya om..."
"Nah berarti masalah ini sudah bisa kita serahkan pada Ayana... sedang untuk masalah hukum biar kami para orang dewasa yang mengurusnya, secepatnya akan kami pastikan orang-orang itu akan membayarkan apa yang sudah mereka perbuat pada mama kamu..."
"Terima kasih om... tante..." sahut Ayana dengan mata berkaca-kaca.
Amira tak dapat membendung rasa harunya melihat kesedihan Ayana... ia pun langsung membawa gadis itu ke dalam pelukannya...
"Jika kau dan adik kamu membutuhkan sosok mama, datanglah kemari... tangan tante akan selalu terbuka untuk kalian..." ucapnya sambil mengecup puncak kepala Ayana.
Sadira yang ikut terharu pun langsung ikut memeluk keduanya. Dan hari itu Ayana tinggal di rumah tuan hingga selesai makan siang. Kemudian ia pun diantar pulang ke rumahnya oleh Sadira dengan sopir keluarga.
"Ingat Ay... disana kau dan Deni harus bersikap biasa seolah kalian tidak tahu apa-apa..." kata Sadira saat Ayana hendak turun dari dalam mobil ketika mereka sudah sampai di depan rumah Ayana.
"Iya Ra... aku tahu... do'akan ya... aku bisa secepatnya mendapatkan rekaman suara itu..."
"Iya Ay... aku akan selalu mendo'akanmu..."
Kemudian kedua sahabat itu berpisah saat Ayana turun dari dalam mobil dan masuk ke dalam rumahnya.
"Semoga semuanya berjalan dengan lancar dan kalian berdua bisa terbebas dari pembunuh itu sehingga kalian bisa hidup dengan tenang..." do'a Sadira tulus untuk Ayana dan Deni.
__ADS_1