
Selesai makan malam, Sadira memilih untuk langsung masuk ke dalam kamarnya dengan alasan sudah mengantuk dan besok dia juga masih harus berangkat lebih awal karena masih dalam masa orientasi. Sahir dan Samir pun tidak curiga dengan sikap Sadira karena keduanya juga tengah sibuk mengerjakan tugas kuliah mereka. Art di rumah pun tak mengatakan sikap aneh Sadira tadi siang sehingga gadis itu aman dari interogasi kedua kakaknya. Setelah masuk ke dalam kamar Sadira langsung merebahkan tubuhnya agar dapat segera tertidur. Tapi sayang, matanya tak juga mau terpejam.
Bahkan saat ini fikirannya malah terpaut pada Bara. Entah mengapa hatinya kini malah merasa tidak enak karena tadi ia telah menampar cowok itu di sekolah.
"Apa aku sudah keterlaluan ya?" ucapnya dalam hati.
Sadira pun membolak balikkan badannya di atas tempat tidur tanpa bisa merasa nyaman. Sisi hatinya kini mengkhawatirkan keadaan Bara saat ini. Ia bahkan teringat jika pipi cowok itu kemerahan setelah mendapatkan tamparannya.
"Ish... pasti sangat sakit..." gumamnya sambil mengelus pipinya sendiri membayangkan apa yang dirasakan oleh Bara saat itu.
"Tapi itu kan salahnya sendiri... siapa suruh sembarangan menciumku..." ucap Sadira tak ingin merasa bersalah.
Ia pun mencoba untuk memejamkan matanya kembali. Tapi bayangan wajah Bara yang tampak syok dengan tanda merah disalah satu pipinya membuat gadis itu kembali membuka matanya.
"Apa besok masih terlihat bekasnya?" batinnya khawatir.
"Arrgh! kenapa aku bisa reflek menamparnya? kalau dia marah bagaimana? lalu hukuman apa lagi yang akan aku terima besok?" kali ini Sadira jadi benar-benar khawatir.
Hingga tengah malam gadis itu baru bisa tertidur. Keesokan harinya seperti biasa selesai sarapan, Sadira langsung diantar oleh pak sopir untuk berangkat ke sekolah. Selama perjalanan ke sana ia tampak gelisah. Kali ini ia benar-benar tidak bisa tenang memikirkan apa yang akan ia hadapi di sekolah jika bertemu kembali dengan Bara.
"Apa aku minta maaf saja padanya? tapi kan itu bukan sepenuhnya kesalahanku..." batin Sadira sambil meremat jarinya.
Pandangannya kosong menatap keluar jendela mobilnya.
"Kalau teman-temannya tahu bagaimana? apa lagi para fansnya di sekolah... pasti mereka tidak akan membiarkan aku lolos begitu saja..."
"Arrgghh!" teriak Sadira tiba-tiba sambil mengusak rambutnya kasar.
"Non kenapa?" tanya sang sopir yang kaget karena tiba-tiba Sadira berteriak di dalam mobil.
"Eh... eum... itu... tidak apa-apa kok pak... hanya sedikit pusing sama tugas dari kakak senior..." terang Sadira tak ingin membuat sang sopir curiga.
"Oh... kalau itu mah biasa non... dulu saat zaman saya sekolah juga begitu... malah ada anak baru yang sampai menangis karena tak sanggup menjalankan hukuman karena tidak bisa melaksanakan tugasnya..." kata pak sopir mencoba menenangkan nonanya.
"Iya pak..." sahut Sadira sambil berusaha tersenyum.
"Bapak tidak tahu saja... masalahku lebih berat dari sekedar mengerjakan tugas aneh itu..." batin Sadira sambil kembali memandang keluar jendela mobil dengan sendu.
Sesampainya di sekolah Sadira tidak bisa lagi menyembunyikan rasa gugupnya. Kakinya bahkan kini terasa berat saat melangkah menuju ke dalam kelasnya. Pandangannya sesekali mengitari sekelilingnya seakan mencari seseorang. Namun orang yang ia cari tak juga ia temukan, membuat gadis itu pun semakin lesu. Tanpa ia sadari jika ada sepasang mata yang sedari tadi tengah mengamati tingkahnya. Lengkungan tergambar dibibir orang itu saat melihat tingkah Sadira yang seperti tengah mencari seseorang dan langsung kecewa saat ia tak bisa menemukannya.
"Aku akan membuatmu merindukanku Dira..." batin orang itu lalu melangkah ke arah lain agar tidak diketahui oleh Sadira.
Sadira tampak semakin lemas saat seharian ini ia benar-benar tidak melihat Bara di sekolah. Meski ia sedikit lega karena tidak ada yang membahas masalahnya dengan Bara kemarin dan dia tidak mendapatkan hukuman tambahan karena berani menampar wajah seniornya itu, namun gadis itu justru merasa tidak nyaman. Ingin bertanya, tapi malu... tapi tidak bisa dipungkiri jika ia kini menjadi sangat cemas dengan keadaan cowok itu. Apa lagi ia juga sempat mendengar pembicaraan Naya dan Rafa saat gadis itu menanyakan keberadaan Bara. Dan Rafa hanya mengatakan jika Bara tengah mengurus sesuatu.
"Apa karena perbuatanku kemarin jadi dia tidak menampakkan diri?" batinnya resah, saat ia melangkahkan kakinya menuju mobil jemputannya.
__ADS_1
Ia bahkan tak menyadari jika yang menjempunya bukan lah pak sopir, melainkan sang kakak.
"Hei... kenapa kau lesu sekali tuan putri?" tanya Samir saat Sadira sudah duduk di kursi belakang.
"Kakak!" seru Sadira kaget.
Ia pun langsung menoleh kesekitarnya dengan wajah kalut.
"Kenapa?" tanya Sahir yang duduk di kursi kemudi.
"Tidak ada yang melihat kalian menjemputku kan?" tanya Sadira panik.
"Ck... kau ini ditanya bukannya menjawab malah balik tanya..." gerutu Sahir sambil menjalankan mobilnya.
"Kamu tidak mendengarkan suara heboh para gadis di sekolahmu kan?" tanya Samir yang langsung dijawab dengan anggukan oleh Sadira.
"Nah... itu artinya kedua kakak gantengmu ini tidak menampakkan diri dihadapan mereka..." sahut Samir narsis.
"Ish... percaya diri sekali kalian ini..." sungut Sadira.
Kedua kakaknya itu malah tertawa melihat wajah cemberut sang adik. Sedang Sadira merasa lebih baik setelah bercanda dengan kedua kakak kembarnya itu. Meski terkadang menyebalkan, namun ia akui jika bersama kedua kakaknya Sadira bisa melupakan kegundahannya selama seharian ini. Walau masih ada rasa cemas yang terselip dalam hatinya untuk seorang Bara.
Sementara di tempat lain, tampak tiga orang pemuda tengah asyik mengobrol di sebuah kafe yang sering mereka datangi. Ketiganya tampak tengah membahas masalah kegiatan sekolah yang beberapa hari lagi akan selesai. Setelah memastikan jika segala sesuatunya sudah siap, mereka pun beralih mengobrolkan hal yang lain.
"Bagaimana hasilnya Bara? apa rencanamu berhasil?" tanya Rafa.
"Nah... apa aku bilang... gadis itu pasti merasa bersalah dan mencoba untuk mencarimu..." kata Reno.
"Tapi kau harus tetap dalam rencana kita dan jangan cepat luluh... itu penting agar gadis itu mau mengakui perasaannya padamu..." ujar Rafa memberi usul.
"Aku tahu... tapi melihat wajahnya yang kebingungan membuatku merasa sedikit bersalah..." ujar Bara.
"Sabar aja dulu... nanti ada saatnya kau bisa meminta maaf padanya..." hibur Rafa.
"Iya... tapi harus kau pastikan dulu jika dia tidak akan mengamuk padamu..." cetus Reno yang bisa membayangkan seberapa ganasnya jika Sadira dalam keadaan marah.
Rafa dan Bara pun mengangguk setuju. Apa lagi Bara yang sudah pernah mendapatkan tamparan dari gadis itu pun reflek mengelus sebelah pipinya yang pernah menjadi korban. Rafa dan Reno pun langsung tertawa terbahak-bahak saat menyadari betapa Bara terlihat masih trauma dengan kemarahan Sadira.
"Kalian memang sahabat ga ada akhlak! teman menderita bukannya kasihan malah tertawa..." sungut Bara.
"Eh? kau berani mengatai kami ga ada akhlak? heh... lihatlah Ren... sungguh orang satu ini benar-benar tidak bisa membalas budi... kau ini sudah kami bantu untuk meluluhkan gadis itu tapi malah mengatai kami!" seru Rafa tak terima dengan ucapan Bara barusan.
"Iya nih... lebih baik kita biarkan saja dia... kita lihat... apa dia bisa tanpa bantuan kita..." sahut Reno yang membuat Bara langsung meminta maaf pada keduanya.
Keduanya pun akhirnya memaafkan Bara, karena sesungguhnya mereka tidak benar-benar marah pada sahabat mereka itu. Keesokan harinya, Sadira tampak sedikit lega saat melihat Bara ada diantara para senior. Tapi ia kembali merasa resah saat Bara sama sekali mengabaikannya. Sebenarnya Sadira sudah berencana untuk meminta maaf pada Bara saat melihat cowok itu ada di sekolah. Namun setiap kali Sadira berusaha untuk mendekat, Bara langsung menghindar dengan lebih memilih berkumpul dengan teman-teman seangkatannya. Hal ini membuat Sadira mengurungkan niatnya.
__ADS_1
Hari terakhir orientasi pun tiba... sebagai penutup para senior telah merencanakan acara camping bersama selama dua hari. Hal ini memang sudah menjadi tradisi di sekolah tersebut. Acara ini juga acara yang paling ditunggu oleh para siswa baik para senior maupun junior. Saat sesama teman sekelasnya bersemangat membicarakan acara camping tersebut, tapi tidak dengan Sadira. Gadis itu tampak tidak begitu bersemangat.
"Kamu kenapa Ra? kok kelihatannya kamu ga begitu semangat?" tanya Hana yang sedari tadi memperhatikan temannya itu.
"Ehm... ga kok Na... cuma ini acara camping pertamaku... aku takut jika kedua orangtuaku tidak mengizinkan aku ikut..." ujar Sadira memberi alasan.
Padahal sebenarnya gadis itu masih merasa canggung jika harus bertemu dengan Bara di acara tersebut.
"Masa sih? bukannya kau termasuk gadis yang sangat mandiri? jadi aku rasa kedua orangtuamu tidak akan begitu khawatir jika mengikuti acara seperti ini..." ucap Hana sedikit bingung.
"Ah sudahlah... nanti akan aku coba membujuk kedua orangtuaku..."
"Nah begitu dong... semangat! lagi pula aku sudah membayangkan kita akan tidur di tenda yang sama... jadi kita bisa lebih dekat lagi..."
Sadira hanya tersenyum menanggapi tingkah Hana yang begitu antusias. Sesaat Sadira merasa ikut bersemangat karena melihat tingkah polos teman barunya itu. Namun ia kembali resah saat tidak sengaja pandangan matanya bertemu dengan mata Bara. Entah mengapa hatinya terasa sakit saat Bara memutuskan pandangannya terlebih dahulu. Wajah gadis itu pun langsung kembali murung.
Di rumah Amira sibuk membantu Sadira untuk menyiapkan perlengkapan putri bungsunya itu untuk mengikuti kegiatan camping di sekolahnya. Meski Sadira mengatakan jika ia bisa menyiapkannya sendiri, namun sebagai ibu yang belum pernah melepaskan putrinya itu untuk pergi sendiri ia tetap saja memeriksa kembali apa saja yang sudah dibawa oleh putrinya itu agar tidak ada yang tertinggal.
"Perasaan bunda dulu tidak seheboh ini deh saat kita ikut camping pertama kali..." ujar Samir saat melihat kesibukan sang bunda.
"Itu dalam fikiranmu saja... apa kau lupa jika bunda sampai ingin ikut menginap karena saat itu kamu baru saja sembuh dari demam?" ungkap Sahir.
"Hem..."
"Ah sudahlah... bunda kan memang selalu begitu jika sudah menyangkut kita anak-anaknya..." ucap Sahir sambil menepuk pundak saudara kembarnya itu pelan.
"Kau benar kak..." ujar Samir setuju.
Sementara tuan Sam hanya memperhatikan perbincangan kedua putranya itu dari tempatnya membaca buku. Dalam hati ia bersyukur jika anak-anaknya bisa berfkir dewasa dan saling mengingatkan antara satu dengan yang lainnya. Rasanya bangga bisa melihat hasil didikannya bersama Amira tidak sia-sia.
Keesokan harinya...
"Ingat pesan bunda ya sayang... jika disana jangan pergi sembarangan tanpa pamit pada senior kamu disana, apa lagi sendirian..." pesan Amira saat mengantarkan Sadira di sekolahnya.
"Iya bunda..." sahut Sadira patuh.
Amira lalu memeluk putrinya itu erat. Rasanya baru kemarin ia menimang Sadira dalam gendongannya... tapi kini bayi mungilnya sudah beranjak remaja...
"Sudah Meyaa... jangan berlebihan... putri kita hanya pergi camping bersama teman sekolahnya dan bukan pergi ke luar negeri..." kata tuan Sam mencoba membuat istrinya itu tidak terlalu bersedih.
"Aku tahu Db... tapi lihatlah... bayi mungil kita sudah beranjak remaja... dan sebentar lagi kita akan kehilangan dia jika menemukan jodohnya..."
"Hush! putri kita baru akan berusia 16 tahun Meyaa... dia masih lama untuk menikah..." sergah tuan Sam menghentikan fikiran Amira yang sudah kemana-mana.
"Maaf..." ucap Amira lirih.
__ADS_1
Entah mengapa merasa ia takut jika kejadian yang menimpa Anna terjadi juga pada putrinya. Jatuh cinta dan menikah diusia yang masih sangat muda. Meski pernikahan Anna sampai saat ini masih baik-baik saja... namun melihat ujian yang dialami Anna dan Raja sebelum benar-benar bahagia membuat Amira tak ingin putrinya juga mengalaminya. Tuan Sam yang mengerti kegelisahan istrinya itu pun memeluk erat tubuh Amira mencoba memberi kenyamanan agar istrinya tidak berfikir macam-macam.
Sementara di dalam bus yang akan membawa rombongan siswa menuju tempat camping, Sadira terkejut saat mengetahui jika ia mendapatkan tempat duduk di bagian belakang. Apa lagi ternyata yang duduk disebelahnya adalah Bara. Rasa bersalah dan gugup membuat Sadira merasa canggung. Apa lagi ia juga merasa sedikit aneh dengan pengaturan tempat duduk di dalam bus. Karena biasanya kursi belakang merupakan kursi para senior dan guru. Ini mengapa bisa ia yang siswa baru bisa berada di sana. Untung saja ia duduk di sebelah jendela sehingga bisa mengalihkan pandangannya pada sisi luar bus.