
Sudah hampir dua bulan tuan Sam berada di London mengurus semua keperluan perusahaan. Dan hari ini ia pun sudah bisa pulang untuk segera melangsungkan pernikahannya dengan Amira. Begitu pesawat yang ditumpanginya mendarat di bandara ia langsung menaiki mobil yang sudah menunggunya. Ia memang sengaja tak memberitahu kepulangannya pada Amira hanya Sarah dan suaminya yang tahu juga sopir yang bertugas menjemputnya di bandara. Ia ingin memberikan kejutan pada gadis itu.
Lukas yang selalu setia disampingnya pun sudah hafal dengan kelakuan bucin tuannya itu. Sehingga ia tak lagi kaget dengan tingkah tuannya saat memberi perhatian pada Amira. Saat mobil yang mereka naiki sampai di depan rumah nyonya Sarah ia pun segera masuk untuk mencari gadisnya. Namun betapa kecewanya ia saat Amira tak ditemukannya dimanapun.
"Amira dimana bik?" tanyanya pada bik Murni yang ditemuinya di dapur.
"O... Amira tadi keluar dengan nyonya Sarah, tuan" terang bik Murni yang melihat wajah panik tuan Sam.
"Kenapa sih Sarah mengajak Amira keluar tanpa memberitahu padaku? Padahal kan dia tahu jika hari ini aku pulang" runtuk tuan Sam dalam hati.
Dengan gontai ia pun melangkah menuju kamarnya. Ia memilih untuk istirahat sebentar. Sementara Lukas yang melihat kelakuan tuannya hanya bisa menghela nafas kasar.
"Dasar bos bucin ... pulang-pulang langsung cari Amira. Gak ketemu langsung loyo" cibirnya dalam hati.
Setelah memasukkan koper ke kamar tuan Sam, Lukas pun bergegas menuju apartemennya supaya tak disuruh tuannya untuk mencari Amira dan dirinya bisa istirahat. Di tempat lain Amira dan nyonya Sarah baru keluar dari butik untuk mencoba baju yang akan digunakannya saat pernikahan.
"Ra... kamu sekarang kurusan ya..."
"Eum iya kak ga tahu apa karena aku lagi banyak fikiran ya..."
"Hemm... menurut aku sih bukan itu sih... tapi karena kamu kangen sama kak Sam...." ucap nyonya Sarah sambil mengedipkan matanya.
"Ih...kakak ini..." kata Amira malu.
"Eh Ra... mungkin mulai sekarang kita rubah nama panggilan kita soalnya kan kamu akan jadi istri kakakku, seharusnya aku yang memanggilmu kakak bukan sebaliknya..."ucap nyonya Sarah.
"Tapi aku kan sudah terbiasa memanggilmu kakak" kata Amira.
"Iya... tapi nanti bisa-bisa kak Sam marah menganggap aku tak sopan pada kakak iparku..." sambung nyonya Sarah sambil menaik turunkan alisnya.
Amira pun semakin tersipu malu dengan tingkah nyonya Sarah.
"Iya deh... tapi hanya di depan orang lain saja ya... jika sedang berdua seperti ini bolehkan aku tetap memanggil kakak?"
"Ok... deal" ucap nyonya Sarah sambil menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Amira. Keduanya pun tersenyum bersama. Tiba-tiba nyonya Sarah menepuk jidatnya pelan, karena ia baru ingat jika kakaknya hari ini pulang dan pasti sekarang sudah sampai di rumah. Pasti pria itu sudah uring-uringan sekarang karena tak menemukan Amira di rumah.
"Ada apa kak?" tanya Amira yang melihat nyonya Sarah menepuk pelan jidatnya seperti baru teringat sesuatu.
"Ah... iya Ra, baru saja aku ingat jika habis ini aku ada janji bertemu dengan teman lamaku. Jadi kamu pulang saja dulu ke rumah dengan pak sopir" kata nyonya Sarah beralasan.
"Lalu kakak dan anak-anak bagaimana?" tanya Amira.
"Nanti mereka pulang denganku. Setelah bertemu dengan temanku aku akan langsung menjemput mereka"
"Biar aku naik taxi online saja ya kak... biar pak sopir yang mengantar kakak"
"Tapi Ra..."
"Ga pa-pa kak... lagi pula jika aku yang pulang dengan pak sopir nanti dia harus bolak balik menjemput kalian" terang Amira.
"Ok baiklah..." ucap nyonya Sarah akhirnya agar Amira tak curiga jika tuan Sam sudah ada di rumah.
Setelah taxi online yang ia pesan datang ia pun pamit kepada nyonya Sarah. Ketika Amira sudah pergi naik taxi, nyonya Sarah pun naik ke dalam mobil dan menyuruh pak sopir pergi ke toko perhiasan langganannya. Ia ingin membeli sesuatu yang sudah lama ia pesan pada toko langganannya itu.
__ADS_1
Amira yang baru sampai di rumah nyonya Sarah segera mencari bu Wati yang sekarang tinggal bersama dengan Amira.
"Bu..." sapanya pada bu Wati yang sedang berlatih berjalan di halaman belakang di dampingi seorang terapis.
"Ah... Ra... kamu baru pulang?" tanyanya.
"Iya bu..."
"Bagaimana gaunnya apa sudah pas?"
"Sudah bu..." jawab Amira sambil tersenyum.
"Syukurlah ini berarti tinggal menunggu calon suamimu pulang saja..." kata bu Wati sambil tersenyum lega.
"Bagaimana dengan ibu? Apa masih sakit saat berjalan?"
"Alhamdulillah... sudah nggak Ra"
Amira pun tersenyum senang karena ini berarti jika bu Wati akan segera sembuh sepenuhnya dan bisa berjalan kembali.
"Syukurlah bu... Amira senang sekali"
"Sudah sana istirahat dulu biar ibu melanjutkan latihan" kata bu Wati pada Amira.
"Baiklah bu... aku masuk dulu ya...". Bu Wati pun mengangguk.
Setelah berpamitan juga pada sang terapis, Amira pun pergi ke kamarnya. Saat ia baru membuka pintu kamar terdengar suara yang selama dua bulan ini ia rindukan.
Dengan cepat ia berbalik dan tampak olehnya tuan Sam yang sudah berdiri dihadapannya. Amira tercekat tak percaya jika dihadapannya itu benar tuan Sam. Lidahnya kelu tak mampu berbicara padahal selama ini banyak yang ingin ia ucapkan jika pria itu sudah ada disampingnya. Namun saat hal itu benar terjadi ia malah tak bisa berbicara.
"Ra..." ucap tuan Sam lagi kali ini pria itu mendekat dan membelai lembut ujung kepala Amira yang tertutup hijab.
Amira pun langsung menghambur kearah tuan Sam dan memeluknya. Tuan Sam pun langsung membalas pelukan Amira. Untuk sesaat keduanya berpelukan tanpa mengucapkan sepatah kata.
"Kapan pulang?" tanya Amira setelah beberapa saat.
"Baru saja..." jawab tuan Sam yang masih betah memeluk Amira.
Bahkan ujung dagunya diletakkan diatas kepala Amira.
"Bagaimana urusan disana? Apa sudah selesai semua?" tanya Amira lagi.
"Sudah... karena itu aku langsung pulang kemari" kata tuan Sam.
"Kamu dari mana tadi?" tanya tuan Sam lagi.
"Dari butik..." jawab Amira yang masih membenamkan wajahnya didada tuan Sam sambil menikmati aroma tubuh pria itu.
"Bagaimana? Kau suka gaunnya?"
"Hemmm... iya" jawab Amira sambil mengurai pelukannya.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Kenapa apanya?" tanya Amira tak mengerti.
"Kenapa kau melepas pelukanmu?" ucap tuan Sam berusaha menarik tubuh Amira kembali kedalam pelukannya.
Namun gadis itu menahannya lembut.
"Jangan B... nanti ada yang melihat..." ujarnya.
"Ck... biar saja kan sebentar lagi kita nikah" ucap tuan Sam ngeyel.
"Jangan begitu... oh iya apa kau lapar?" kata Amira berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Hemmm iya ... aku baru ingat sejak tadi perutku sudah kelaparan" sahut tuan Sam sambil memegang perutnya.
"Ayo... aku buatkan makanan, kau mau makan apa?" tanya Amira sambil menarik tangan tuan Sam ke arah dapur.
"Hemmm... apa saja asal kau yang memasaknya sendiri" kata tuan Sam manja.
"Baiklah kau tunggu sebentar aku akan memasaknya ... atau kau ingin mandi dulu?" tanya Amira.
"Dari mana kau tahu jika aku belum mandi hah?".
"Kan tadi aku menciumnya waktu kau peluk" sahut Amira sambil tersenyum.
"Hei ... yang memeluk itu aku atau kamu?" tanya tuan Sam sambil mendekat ke arah Amira yang membuat gadis itu spontan mundur ke belakang.
"Eum... iya aku yang memelukmu" ucapnya sambil menundukkan kepalanya karena malu mengingat kelakuannya beberapa waktu lalu.
"Nah itu baru benar..." bisik tuan Sam yang membuat tubuh Amira meremang.
Melihat gadis itu salah tingkah membuat tuan Sam semakin merasa gemas dan ingin kembali menggodanya.
"Lain kali tak perlu malu jika kau ingin memelukku lagi" sambungnya yang membuat wajah Amira tambah memerah.
"Sudah sana mandi..." ucap Amira sambil mendorong tubuh tuan Sam untuk menjauh darinya.
"Baiklah..." kata tuan Sam sambil tersenyum puas melihat wajah Amira yang sudah seperti kepiting rebus.
Kemudian ia pun berlalu pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Melihat tuan Sam sudah pergi, Amira pun menarik nafasnya lega. Laki-laki itu sungguh sudah membuat dadanya berdesir hebat hanya dengan berdekatan dengannya. Dengan cepat ia pun menyiapkan bahan untuk memasak kali ini ia ingin membuatkan masakan kesukaan tuan Sam yang ia ketahui dari nyonya Sarah. Setelah berkutat selama kurang lebih satu jam akhirnya ia berhasil memasak beberapa jenis masakan kesukaan kekasihnya itu dengan dibantu bik Murni. Ia sengaja membuat banyak agar semua anggota keluarga yang lain dapat ikut makan sebab ini sudah waktunya makan siang dan sebentar lagi nyonya Sarah dan kedua anaknya akan pulang. Begitu juga dengan tuan Bram yang memang kini setiap hari pulang ke rumah untuk makan siang bersama.
Saat Amira dibantu bik Murni menata meja makan terdengar suara nyonya Sarah dan kedua anaknya yang baru datang. Sedang tuan Sam sudah dari tadi memperhatikan kegiatan Amira dari ruang keluarga.
"Uncle udah pulang!!" teriak kedua keponakan tuan Sam begitu mereka melihatnya.
Keduanya langsung memeluk tuan Sam dan bergelayut manja pada unclenya itu. Tuan Sam pun tampak tak keberatan jika keduanya bersikap seperti itu padanya.
"Sudah-sudah... kalian kan sudah bertambah besar nanti uncle keberatan..." ucap nyonya Sarah saat melihat tingkah kedua anaknya.
Tak berapa lama tuan Bram juga datang dan langsung bergabung dengan mereka. Amira yang melihat keluarga nyonya Sarah kembali bersatu merasa sangat bahagia apalagi sebentar lagi ia pun akan menjadi bagian dari mereka.
"Ayah... ibu... sebentar lagi Amira tidak akan kesepian lagi karena Amira akan mendapatkan suami dan keluarga yang baik" ucapnya dalam hati.
"Ayo kita makan..." panggil Amira kepada mereka.
__ADS_1